Setelah menurunkan Wendi di tempat kerjanya, Frans kembali melaju menuju-entahlah, kemanapun untuk berpikir sejenak. Mendengar semua dari Wendi, membuat Frans baru menyadari betapa dirinya begitu jahat terhadap Farah. Jika diingat-ingat, Frans tidak bisa mengingat hal baik apapun yang diucapkannya untuk Farah. Hanya kekesalan yang terluapkan setiap kali gadis itu mendekat padanya.
Laju mobil yang stabil akhirnya berhenti di satu tempat yang sebelumnya tidak pernah dibayangkan oleh Frans. Mobilnya kembali ke komplek perumahannya, tapi tidak berhenti di depan rumahnya. Frans turun dari mobil, lalu mengintip sejenak melalui celah-celah pagar rumah Farah. Biasanya akan ada Mbak Yum di sana sedang menyiram tanaman, mengepel lantai, maupun menyiangi rumput di halaman yang mulai memanjang. Kemudian dari dalam rumah-walaupun samar-akan terdengar teriakan Farah memanggil Mbak Yum, biasanya menanyakan s**u coklat panas favoritnya yang belum diseduh untuk sarapan. Teriakan melarang Mbak Yum memasak, karena gadis itu tidak mau Mbak Yum kelelahan. Lalu terkadang kekehan geli Farah dan Mbak Yum, saat mereka sedang menonton film komedi ataupun kartun di kamar Farah.
Rumah besar yang dulunya sepi-karena hanya ada Farah dan Mbak Yum-kini mati, ditinggalkan oleh penghuninya. Sudah hampir dua tahun berlalu-waktu memang cepat pergi-dan baru dua kali Frans kembali menginjakan kakinya di lingkungan rumah Farah lagi. Pertama saat kemarin dirinya mabuk, lalu saat ini.
"Kamu ngapain?" tanya Mama Karina yang tiba-tiba muncul, "Kok nggak ngantor? Bukannya tadi kamu udah berangkat?"
"Ma, Frans udah tahu semuanya. Frans salah, Ma. Frans yang bikin Farah pergi, kan?"
Mama Karina tersenyum, kemudian mendekati anak sulungnya itu dan mengelus pundak anaknya sayang. Diapitnya lengan Frans, dan mengajaknya pulang ke rumah.
"Ini," ujar Mama Karina sembari menyerahkan selembar kertas pada Frans, "Alamatnya Farah."
"Malam itu, Frans panik, Ma. Frans nggak bermaksud ngomong kayak gitu ke Farah. Frans panik karena Mama kecelakaan. Frans ..."
Mama Karina beringsut duduk di sebelah anaknya, kemudian memeluknya erat.
"Mama juga salah. Seharusnya Mama malam itu nggak langsung lari nyari dia. Seharusnya Mama minta kamu nemenin Mama cari dia."
"Ma, memangnya malam itu kenapa Mama sampai mirip orang kesetanan nyari Farah? Mama nggak pernah cerita, bahkan setelah Mama sembuh dan tahu Farah ngilang, Mama makin menjadi-jadi."
Mama Karina menghela napas pelan. "Mama sudah gagal nepatin janji Mama, Frans. Janji Mama ke mamanya Farah."
Frans mengernyit bingung dengan tatapan yang tak lepas dari netra Mama Karina.
"Kamu inget waktu Farah sakit di rumah sakit? Yang kamu nungguin sampai hampir seminggu lebih?"
Frans mengangguk.
"Kamu ingat waktu kita nggak sengaja dengerin pembicaraan Mama Farah dengan seorang pria?"
Frans kembali mengangguk. "Papanya?"
"Iya. Papanya nggak pernah mengharapkan kehadiran Farah. Sebelum mamanya Farah meninggal, dia pesan sama Mama untuk jagain Farah. Nggak ngebiarin Farah berada di dekat keluarga dari pihak papanya, kecuali si Kakek. Karena, sejak diusir dari rumahnya, hanya kakeknya yang masih berhubungan dengan Mama Farah di sini, dan menanggung semua keperluan Farah. Diam-diam."
"Kenapa gitu?"
"Farah lahir bukan karena cinta, Frans. Dia ada karena papanya memerkosa mamanya saat mereka masih kuliah. Bisa apa mamanya yang saat itu hanya gadis yatim piatu yang berhasil mendapatkan beasiswa ke Barcelona. Lalu, papanya dipaksa untuk bertanggung jawab, marahlah dia. Tapi mereka tetap menikah. Sampai setahun kemudian, beberapa bulan setelah Farah lahir, tiba-tiba papanya Farah marah besar dan mengusir mamanya pergi, kembali ke Indonesia.
Lalu, saat Farah sakit. Entah darimana papanya tahu kalau mamanya Farah masih berhubungan dengan mertuanya. Dia marah besar dan datang ke Indonesia, memberi peringatan untuk menjauhi keluarganya. Dan sampai malam itu, Mama mendapat kabar kalau Mama-nya Farah kecelakaan dan ada lelaki b***t itu di sana. Mama langsung usir dia!"
"Ngapain dia ada di sana?"
"Entahlah. Mama juga nggak paham. Mengingat pesan terakhir Mama Farah yang meminta Mama untuk menjauhkan Farah dari keluarganya, langsung aja pria itu Mama usir! Makanya, waktu ulang tahun kamu yang lalu, Mama dikasih tahu Mbak Yum kalau Farah bakal dateng telat ke pesta. Alasannya karena dia mau ketemu sama kakaknya yang ternyata sudah beberapa hari sering dateng ke rumah dan meminta Farah untuk kembali ke Spanyol! Gimana Mama nggak emosi!? Mama nggak mau Farah disakiti sama papanya."
"Tapi mereka adalah keluarga Farah, Ma. Farah akan baik-baik saja. Buktinya sampai sekarang dia masih di sana, kan?"
"Frans! Kita nggak pernah tahu apa yang terjadi pada Farah. Bisa aja dia disiksa di sana."
"Nggak mungkin. Dia baik-baik aja. Frans yakin. Hal yang terpenting sekarang adalah Frans harus bener-bener minta maaf sama dia. Karena sudah nyakitin perasaannya, menghina mamanya. Frans nggak tahu kalau kehidupan Farah dan mamanya seperti itu."
Mama Karina mengangguk setuju.
"Lalu, sekarang kamu mau apain alamat ini?"
"Frans akan telepon nomor ini," ujar Frans seraya mengambil potongan kertas di hadapannya, "Frans bakal minta maaf."
--------------------------------------
"Kamu mau langsung pergi?"
"Sí. Untuk beberapa hari kedepan, sepertinya aku tidak akan datang ke kantor. Aku juga sudah meminta izin tidak datang ke kampus untuk beberapa hari."
"Ayahmu?"
Farah mengangguk, seraya tangannya terus bergerak membereskan diktat kuliahnya.
"Adiós, Thiago," (Bye, Thiago) ujar Farah sembari mengecup singkat bibir pemuda yang terduduk lemas, "Hasta luego." (sampai jumpa lagi)
"Hmm ..."
"Hei, jangan murung. Aku hanya beberapa hari di Rioja."
"Cepatlah kembali, Barcelona akan sangat merindukan salah satu calon arsiteknya."
Farah tergelak, "Ya me despido. Cuídese." (Aku pergi dulu, jaga dirimu)
"Hmm ... Igual usted. Adiós." (Kamu juga. Bye.)
Farah gegas keluar dari ruang kuliahnya, kemudian berlari menuju area parkir kampus. Di sana, dia menemukan Esteban-supir pribadi kakeknya-sudah menunggu.
"Maaf membuatmu menunggu lama, Es. Kita langsung ke la bodega?"
"Sí, Señorita," jawab pria berkulit coklat dan jambang di wajahnya.
Esteban segera melajukan mobilnya menuju salah satu la bodega-tempat penyimpanan atau gudang minuman anggur terbesar di kota Barcelona. Setelah 30 menit perjalanan menuju la bodega de Avilla, Farah gegas turun dan berjalan melewati beberapa pekerja gudang yang sedang sibuk melakukan pengecekan kualitas anggur sambil sesekali tersenyum dan menunduk untuk menyapa Farah. Semakin masuk, semakin dingin dan banyak tong dari kayu oak berderet rapi di bagian kanan dan kiri bangunan. Di tengahnya ada meja panjang dan beberapa alat laboratorium yang digunakan pekerja untuk mengecek kadar keasaman dan kualitas anggur di dalam tong penyimpanan.
"Anda mau berangkat sekarang?" tanya seorang wanita paruh baya dengan kemeja kerjanya yang licin, dia Emilia. Asisten pribadi yang dipekerjakan oleh keluarga De Avilla untuk mengurus semua kebutuhan Farah. Tidak ada yang salah dengan Emilia, dia wanita yang bisa diandalkan setiap waktu, kerjanya juga rapi. Tapi ada satu hal yang tidak disukai Farah dari Emilia, wanita itu terlalu kaku. Hanya dua kali Farah pernah melihatnya tersenyum sejak pertama kali mereka bertemu. Pertama saat mereka berkenalan untuk pertama kalinya, kedua adalah saat Farah ulang tahun. Dimana Mbak Yum memaksa Emilia untuk tersenyum sebagai kado untuk Farah.
Deru angin dan beberapa daun memasuki musim gugur beterbangan karena baling-baling helikopter, langsung menyambut Farah begitu dirinya keluar dari bangunan utama la bodega de Avilla. Farah dan Emilia langsung masuk ke helikopter dan memasang peralatan keselamatan. Tak lama setelahnya, mereka mengudara menuju kota kelahirannya.
Tak pernah terlintas dalam benak Farah, dirinya akan sering terbang dengan helikopter untuk sekedar pulang ke 'rumahnya' setiap akhir pekan. Memang keadaan yang memaksa, Kakek tidak mengizinkan Farah untuk meninggalkan la Rioja terlalu lama. Namun, keinginan kuat Farah untuk kuliah arsitektur di salah satu kota yang terkenal akan keunikan arsitekturnya-Barcelona-membuat Sang Kakek mengatur hal seperti ini. Setiap akhir pekan, Farah wajib untuk pulang!
Hampir satu jam perjalanan, helikopter mulai mengurangi ketinggiannya. Perlahan, hingga bagian landing skids menyentuh landasan heli (helipad). Farah turun dari helikopter, dan seseorang yang selalu bersamanya semenjak kecil sedang menyambutnya dengan senyum lebar.
"Ada apa? Kenapa Kakek minta aku pulang dan nginep lama di sini?"
Bukannya menjawab, Mbak Yum hanya tersenyum sambil menggamit lengan Farah dan menuntunnya untuk segera masuk ke rumah. Di sana, sudah disediakan makan malam favorit Farah, nasi goreng dengan citarasa Indonesia. Tanpa ada Mbak Yum di sisinya, mungkin Farah akan sangat merindukan salah satu makanan favoritnya ini.
"Makan dulu, Non. Habis itu mandi ya, terus siap-siap."
"Siap-siap? Mau ngapain?" tanya Farah dengan mulut penuh makanan.
"Makan malam."
"Lho, ini aku lagi makan. Kenapa mau makan lagi?"
Mbak Yum memukul lengan Farah gemas, Nona Mudanya ini memang bisa saja kalau menyanggah omongan orang-orang di sekitarnya.
"Kalau nasi goreng ini kan Mbak Yum masakin khusus buat Non Farah. Mbak Yum tahu, kalau Non pasti capek kan? Belum sempet makan tadi kelar kampus."
"Hai Farah," sapa seorang, lalu mengecup pipi Farah, "Bagaimana kuliahmu? Kantor?"
"Baik, dan aku tahu apa yang kamu lakukan."
"Apa memangnya?"
"Kamu sengaja memberi kantorku pekerjaan, agar kami tetap bisa beroperasi."
"Apa yang salah dengan itu? Bukankah itu malah bagus? Bisa kamu jadikan portfolio di hari mendatang. Lagipula proyek yang aku berikan padamu adalah proyek kecil, seperti renovasi la bodega milik papa dan beberapa pembangunan kafe."
"Baiklah, aku menyerah jika kamu sudah membawa nama papa," ujar Farah seraya mengangkat kedua tangannya tanda menyerah, "O iya, apa kamu tahu nanti malam ada acara?"
"Tau."
"Acara apa? Kenapa aku sampai harus menginap di sini beberapa hari?"
"Kenapa? Kamu tidak merindukan kami yang ada di sini?"
"Bukan begitu. Aku merindukanmu, papa, dan kakek. Tapi ini aneh sekali."
"Nanti kamu-"
"Farah!" panggil seorang pria tambun dengan brewok panjang dan rambut gondrong yang dikuncir kuda. Oh, jangan lupakan apron yang selalu bertengger manis di leher dan perutnya. Dia adalah Mateo, juru masak keluarga De Avilla dan juga suami Mbak Yum. Benar, kalian tidak salah membaca. Pria berusia hampir 50 tahun ini jatuh cinta pada Mbak Yum pada pandangan pertama, saat Farah dan asistennya itu pertama kali menginjakan kaki di la Rioja.
"Mateo!" pekik Farah senang, lalu menghambur memeluk Mateo, membuat semua orang yang ada di ruang makan tersenyum. "Apa menu makanan penutupku?"
"Crema catalana? Kau suka?"
Farah mengangguk cepat.
"Aku akan buatkan tiga buah untukmu, jika kamu bisa menebak kuis dariku."
Kedua netra Farah menyipit. Inilah kebiasaan Mateo, pria itu memiliki peraturan khusus untuk Farah. Gadis itu hanya bisa menikmati satu buah makanan penutup setiap kali acara makan. Jika ingin lebih, maka Farah harus benar menjawab kuis yang diberikan Mateo, dan itu bukanlah kuis biasa.
Mateo kembali menuju dapur, tak berapa lama dia sudah kembali dengan gelas anggur bulat yang terisi seperempat penuh anggur merah. Farah menggapai uluran gelas Mateo, lalu menggoyangkan pelan gelas itu, seolah ingin agar apapun kandungan yang ada di dalam anggur itu tercampur dengan sempurna. Kemudian dihirupnya aroma yang sedikit menyengat dari dalam gelas itu. Baru Farah mencecap rasanya.
"Sedikit asam, jenis anggur baru, tidak terlalu istimewa, jenis Maturano. Ada sedikit kandungan kulit lemon di dalamnya. Rasanya ringan. Jika aku tidak salah mengingat, dalam sejarah De Avilla sekitar tahun 2000-an, panen anggur De Avilla tidak terlalu baik." Farah menghela napas sejenak untuk menyakinkan dirinya. "Baiklah, ini adalah Descendientes de J. Luis. Anggur milik papa," lanjut Farah lirih dan ada perasaaan tak enak menyelip di sana, setiap kali mencicipi anggur yang diproduksi di kebun milik papa.
"Bravo!" teriak Mateo yang langsung membuat Farah terduduk kembali di kursinya. "Duduklah, nikmati, aku akan siapkan dessert-mu."
Farah tersenyum tipis mendengar ucapan Mateo. Lalu sekilas dia melirik pria yang masih duduk di seberangnya dan menikmati buah apel.
"Kenapa semua anggur papa seperti ini? Kupikir dia orang yang pandai dan tau bagaimana membuat wine yang enak."
"Sejak ada masalah dengan kesehatannya, kakek tidak pernah mengizinkan papa untuk minum anggur, meskipun itu hanya sekedar mencicip. Jadi, dia hanya bisa bergantung pada orang lain untuk menilai kualitas anggur dari kebunnya."
Farah menunduk lesu mendengar jawaban dari sosok di hadapannya.
"Farah."
"Ya?"
"Apa seseorang meneleponmu?"
"Maksudmu?"
"Tidak ada. Akhir-akhir ini ada telepon aneh yang masuk kemari. Setiap kali diangkat, dia selalu memutuskan sambungan. Apa mungkin kekasihmu, Thiago?"
"Thiago?"
"Ya, kamu tahu sendiri bahwa di rumah ini dia tidak diterima. Kakek tidak menyukainya."
"Untuk apa dia menelepon kemari? Aku ada bersama dia di Barcelona."
"Entahlah. Tapi jika kamu bertemu orang aneh di jalan atau dimanapun, kamu harus segera memberitahu kami."
Farah mengangguk.
Tidak ada yang menyangka, hidup seorang Farah De Avilla akan berubah 180 derajat saat dirinya memutuskan menerima tawaran dari pria di restoran dua tahun yang lalu. Farah yang biasanya hanya tinggal bersama Mbak Yum, kini dia tinggal bersama orang asing yang kini-mungkin-bisa disebut sebagai keluarga. Tak lagi merasa kesepian, karena mereka begitu menyayangi Farah, sehingga kapanpun Farah membutuhkan mereka, pasti selalu ada. Namun, memang ada yang harus dikorbankan untuk mendapatkan semua itu. Kebebasan Farah dan segala kenangannya tentang Indonesia harus dia relakan, ketika kakinya melangkah masuk ke dalam kabin jet pribadi hampir dua tahun yang lalu.
Continuará