"Ngapain dimatiin lagi, sih?" geram Ken, "Lo itu sebenernya niat telepon nggak?"
"Niat kok!"
"Trus ngapain lo matiin, Cumi!?"
"Masalahnya, gue nggak bisa Bahasa Spanyol, Ken! Lha, setiap gue nelpon, jawabannya 'hola', trus gue mesti ngomong gimana?" kesal Frans. "Lagian gue juga nggak tahu mesti ngomong apaan ntar. Masa gue tiba-tiba nanya dimana Farah?"
"Ya terus? Masa lo mau nanya dimana Munaroh?"
"Sat! Tolong istri lo suruh diem, dong."
Satria menengok sebentar ke arah dimana Frans duduk. Pria yang sedang menggendong bayi dalam balutan selimut itu tampak tak peduli dengan nasib sahabatnya yang sedang dalam tekanan, karena memikirkan cara untuk minta maaf.
"Kalau lo bingung, pergilah ke Spanyol. Seminggu, ketemu langsung biar cepet kelar. Daripada kayak gini, yang ada gila sendiri lonya."
"Semudah itu?"
"Tentu aja nggak!" sergah Ken. "Lo pikir Farah bakalan dengan sukarela nemuin lo?"
"Trus gimana?"
"Frans, lo kenapa kalau udah kayak gini, jadi begonya nggak ketolong ya? Kasihan gue sama lo," kekeh Satria. "Apa yang lo tahu tentang keluarga Farah?"
"Kemarin gue coba cari di internet, mereka termasuk keluarga terpandang dengan segudang prestasi. Salah satu produsen anggur terbesar dari Spanyol. Gue ngeri aja, sampai sana langsung ditembak mati sama kakeknya."
"Baguslah, biar lo mati sekalian," kesal Ken. "Anak orang dibikin sakit atinya kebangetan."
Frans melengos mendengar kalimat Ken.
"Gue kepikiran satu rencana sih. Tapi nggak tahu berhasil atau nggak."
"Apaan?" tanya Ken dan Satria bersamaan.
***
Dua minggu setelah pertemuanya dengan Satria dan Ken di rumah sakit bersalin, Frans mempersiapkan segala kebutuhan yang diperlukannya selama berada di Spanyol. Termasuk menitipkan operasional perusahaannya untuk beberapa hari pada adik tercinta dan sahabatnya.
Naik penerbangan sore, Frans tiba di Bandara El Prat pagi hari waktu setempat setelah melalui kurang lebih 20 jam perjalanan. Semilir angin menyapa Frans ketika melangkah keluar pintu kedatangan bandara. Langkah lebarnya langsung menuju ke salah satu taksi yang berderet menanti penumpang.
"Hola, Señor." (Hai, Tuan) Sapa seorang supir taksi bertubuh sedikit subur dengan senyum lebar di wajahnya.
"Hola ... hola ..." jawab Frans, tentu saja itu adalah kata dalam Bahasa Spanyol yang paling mudah dihafal dan paling melekat di otaknya setelah dua minggu berusaha mempelajarinya.
"A dónde quieres ir, Señor?" (Kemana Anda ingin pergi?)
Frans menggaruk tengkuknya, tak mengerti maksud supir taksi. "Aduh, lo ngomong apaan dah! Here ... here ..." jawab Frans sembari menyerahkan secarik kertas. "I want to go there, please."
Pak Supir ramah itu langsung membaca dan berseru, "Aa ... Sí, Señor!" lalu mengembalikan kertas milik Frans.
Selama hampir tiga puluh menit perjalanan, Pak Supir taksi itu tidak berhenti mengoceh dengan bahasa campur aduk antara Bahasa Inggris dan Bahasa Spanyol. Membuat Frans yang duduk di kursi penumpang belakang memijat pelipisnya pelan. Pak Supir taksi baru berhenti bicara, ketika dia membelokan setirnya memasuki jalanan tak rata di sebuah pekarangan rumah.
"Al Señor Frans!" seru seseorang saat Frans sedang bersusah payah menurunkan kopernya.
Seorang pria dengan kemeja putih yang lengannya digulung hingga siku, sepatu boots, dan topi menyambutnya.
"Oh, Hai," balas Frans sekenanya, seraya menjabat kembali uluran tangan pria paruh baya di depannya.
"How's your flight?"
"So-so," jawab Frans, lalu mengeluarkan beberapa lembar Euro untuk diberikan pada Pak Supir taksi.
"Sudah lama la bodega ini tidak kedatangan tamu asing."
"Kenapa begitu?"
"Karena ... Oh, aku belum memperkenalkan diri. Aku Pablo, Manajer di la bodega de Avilla cabang Barcelona. O iya, tadi kamu menanyakan apa?"
"Mengapa di sini tidak banyak tamu."
"O, itu karena di sini hanya gudang penyimpanan. Tidak banyak yang bisa dilihat di sini. Hanya ada aku dan beberapa pekerja gudang. Jika beruntung, kamu akan bertemu dengan cucu sekaligus pewaris satu-satunya kekayaan keluarga De Avilla. Dia sangat manis," jelas Pablo sambil terus melangkah menuju bangunan utama penyimpanan anggur, lalu berbelok di bagian kanan bangunan menuju kantornya.
"Silakan duduk, aku akan mengambilkan salah satu anggur koleksi Nona Muda yang pasti akan membuatmu jatuh cinta dengan La Rioja, atau mungkin pada Nona Muda," goda Pablo.
Frans tersenyum tipis, Nona Mudanya? Farah maksudnya? Nggak mungkinlah! "La Rioja?"
"Ya, di sanalah anggur-anggur terbaik kami dipanen," jawab Pablo, lalu meninggalkan Frans sendiri di ruangan kantornya.
Dalam kesendiriannya, Frans memilih untuk bangkit dan melihat suasana kantor Pablo yang luas—bahkan lebih luas dari kamarnya dan Tama bilang digabung. Di sebelah kiri pintu masuk—di dinding—tergantung banyak bingkai foto yang bercerita tentang awal berdirinya perusahaan anggur milik keluarga Farah. Di seberangnya, terdapat laci penyimpanan built in yang dilengkapi fasilitas pendingin berisi anggur yang diproduksi oleh De Avilla Winery.
Di bagian belakang kursi kerja, tergantung lukisan dari cat. Lukisan keluarga, seorang kakek dengan jenggot putih dan tulang pipi yang sudah menonjol, di sebelahnya seorang pria yang terlihat lebih muda dari si Kakek dan mereka mirip. Di belakangnya, sepasang pria dan wanita, dimana si Pria sepertinya seumuran dengan Frans. Alis Frans bertaut saat mencoba mengingat dimana dia pernah melihat pria dalam lukisan itu. Lalu yang terakhir, tidak perlu ditanya siapa. Frans tahu benar wanita bergaun merah tanpa lengan itu.
"Hmm ... dia sudah besar."
"Maaf membuatmu menunggu," ujar Pablo, lalu menyerahkan satu gelas anggur bulat pada Frans. Kemudian menuang salah satu produk anggur De Avilla ke dalam gelas milik Frans. "Ini produk baru, belum lama. Nona muda yang membuatnya, Primer Amor de Farah—her First Love, dibuat hampir dua tahun yang lalu. Saat pertama kali Nona Muda datang kemari."
Frans mengangguk. Lalu perlahan menyesap rasa minuman anggur merah dari gelasnya. Manis, tapi lebih dominan pahit.
"Pahit?"
Frans mengangguk.
"Mungkin kisah cinta pertamanya tidak berakhir dengan baik. Tapi enak, kan? Meski pahit, tapi setelah berulang kali menyesapnya, kamu akan merasakan manis." Pablo menuang sendiri anggur dalam gelasnya. "Aku sangat kagum dengan keahlian Nona dalam mencecap anggur, tidak usah diragukan lagi. Aku yakin itu menurun dari ayahnya, Tuan Juan Luis."
Frans mengangguk, sembari mengingat informasi-informasi kecil tentang Farah yang terlontar dari mulut Pablo. Namun, kedua netranya masih belum lepas dari lukisan keluarga De Avilla.
"Manis sekali, kan?"
"Ya, dia sangat manis. Kenapa gue baru nyadar sekarang?"
"Hah?"
Frans berdeham saat menyadari kebodohannya. "Oh, tidak, maksudku, aku baru sadar kalau wine ini sangat manis."
Pablo mengangguk. "Nona Muda juga datang dari Indonesia."
"Benarkah?" tanya Frans pura-pura terkejut.
Pablo kembali mengangguk. "O iya, aku sampai lupa tujuanmu kemari. Mari kita bicara tentang rencanamu menjadi produsen anggur. Apakah di Indonesia banyak petani anggur?"
Sepanjang pagi itu, Frans berusaha mengingat apapun yang dipelajarinya sebelum berangkat tentang perkebunan anggur—agar terlihat menyakinkan sebagai seorang investor wine.
"Seharusnya kamu datang ke perkebunan anggur kami di Rioja. Kamu bisa melihat langsung proses dari awal sampai akhir. Juga bisa bertemu dengan keluarga De Avilla. Besok pagi kamu bisa ... tunggu, ini akhir pekan."
"Memangnya kenapa?"
"Kamu bisa bertemu dan pergi bersama Nona Muda ke Rioja dengan menumpang helikopternya."
"Hah?!"
Entahlah, tidak pasti untuk apa Frans terkejut mendengar kalimat Pablo. Apakah dia terkejut karena tidak menyangka akan bertemu Farah secepat ini, ataukah terkejut dengan kata terakhir Pablo, helikopter.
***
"Apa aku salah baca ini?" tanya Thiago, seraya melemparkan koran di meja kerja Farah. "Jadi dua minggu lalu saat kamu pulang untuk waktu yang lama adalah untuk ini?"
"Thiago, aku bisa jelaskan. Ini tidak seperti—"
"Apa seluruh media di negara ini sedang melakukan kebohongan? Kamu tidak perlu menjelaskan, semuanya sudah jelas, Farah. Kau sungguh hebat, bisa menyembunyikan berita ini sangat lama," ujar Thiago seraya menggeleng tak percaya.
"Ini semua rencana Kakek. Aku juga tidak tahu kalau kepulanganku dua minggu lalu adalah untuk ini. Aku tidak setuju, aku menyayangimu."
"Kamu hanya sayang padaku. Tidak pernah mencintaiku."
"Aku—"
"Setiap hari aku mengatakan kalau aku mencintaimu. Sekalipun kamu tidak pernah mengatakan hal itu padaku."
"Kurasa apa yang kulakukan sudah lebih dari itu."
"Yang kamu lakukan? Memangnya apa yang kamu lakukan? Selama hampir setahun bersama, kamu lebih memikirkan keluargamu, pekerjaanmu, dan aku juga sering melihatmu melamun—entah apa. Aku yakin bukan melamunkanku."
"Thiago, hentikan. Jangan seperti anak kecil." Farah meraih koran yang tergeletak di meja, mengangkatnya sejajar dengan wajah Thiago. "Berita ini memang benar. Aku bertunangan dengannya, tapi ini semua demi kesembuhan ayahku. Percayalah."
"Aku tidak percaya. Sudahlah, lebih baik kita tidak usah bertemu untuk sementara waktu. Kamu selesaikan dulu masalahmu," putus Thiago, lalu beranjak meninggalkan Farah.
Farah menghela napas lelah memandang kepergian Thiago. Dirinya juga tidak mengerti dengan apa yang dia lakukan saat ini. Menjadi pacar Thiago, tapi menyetujui rencana pertunangan yang diminta oleh kakek dan ayahnya.
"Kalian baik-baik saja?" tanya Olivia, sahabat, teman kuliah, sekaligus rekan kerjanya.
"Thiago marah karena berita ini."
Farah menyerahkan koran di tangannya, dan Olivia langsung melotot tak percaya.
"Kalian berdua?"
"Ini hanya sementara. Kami akan membatalkannya, saat kondisi Papa sudah membaik," jelas Farah.
"Kenapa tidak kamu katakan pada Thiago?"
"Bagaimana aku akan menjelaskannya? Dia sudah terlanjur marah, menolak semua penjelasan yang belum aku katakan."
Farah hendak kembali menjelaskan pada Olivia, tapi ponselnya berdering karena Emilia. Asisten pribadinya menelpon untuk menanyakan jam kepulangannya, untuk mempersiapkan semua kebutuhan Farah selama berakhir pekan di La Rioja.
"Aku sudah menghubungi Esteban, dia akan datang lima—" Farah melongok keluar, dan dilihatnya mobil sedan berwarna hitam yang biasa dikendarai Esteban sudah berhenti di depan kantor. "Aku pulang sekarang. Esteban sudah datang. Oliv, aku harus pergi. Sampai jumpa," pamit Farah, lalu membereskan semua tas dan dokumennya.
"Ada berita apa hari ini, Esteban?" tanya Farah setelah di dalam mobil.
"Tidak ada, semuanya berjalan dengan baik, Nona. Oh, la bodega kita kedatangan tamu."
"Tamu?"
"Benar. Seorang investor yang tertarik dengan bisnis anggur."
"Bukankah lebih baik jika dia langsung ke Rioja? Kenapa masih di la bodega Barcelona?"
"Saya kurang tahu pasti."
"Baiklah, katakan pada Pablo, tamu kita bisa pergi bersama denganku."
"Baik, Nona."
***
Continuará
.
.
Untuk Bab Ekstra dari Tuan Landak dan Nona Kura-Kura hanya tersedia di aplikasi K A R Y A K A R S A.
Silakan instal aplikasi atau buka di website K A R Y A K A R S A, lakukan registrasi. Setelah itu cari akun / username dengan nama KOMOREBI. Pilih cerita yang ingin kalian baca. Lakukan pembayaran, lalu kalian sudah membaca bab ekstra TLNK di sana. O iya, TLNK versi K A R Y A K A R S A, itu beda dengan versi Innovel (untuk beberapa bagian). TLNK di K A R Y A K A R S A adalah versi cetak.
Ciao!