Bab 23

1030 Words

Di rumah opa Malika. Oma terus menemani cucunya yang sedang menyiapkan makan malam untuk mereka. Sesekali mereka bercanda. Malika menyuapi omanya buah potong yang baru dipotongnya. "Asem!" si Oma mengerucutkan wajahnya. "Duh, serius? Maaf ya, Oma! Aku tidak tahu. Warnanya merah, bagus, tapi kenapa bisa asam ya jambunya?" "Haha, kadang begitulah. Sesuatu yang terlihat cantik, tidak semanis isinya." Malika tersenyum. "Tapi sepertinya hal itu tidak berlaku untuk oma. Dari dulu oma cantik, hatinya juga cantik, baik lagi." "Haha, kau ini-" omanya malah malu. "Opa ke mana?" tanya Malika. "Opa ke toko seberang jalan, katanya ada yang harus dibeli," jawab neneknya. "Mmh, pantesan sejak tadi opa tidak ada. Wah, Kalau sudah ke kedai itu pasti lama, diajak duduk sama bapak-bapak di sana, cur

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD