Bab 22

1487 Words

Nazmi sudah mengetahui bahwa masakan Malika enak. Dengan mencicipi sarapan hari ini, dia sedikit menyesal karena tidak merasakan bubur ayam kemarin. "Sebelum aku pergi, apa aku bisa merasakan bubur ayamnya lagi?" tanya Nazmi. Malika yang sedang memasukkan sendok ke mulut, spontan mengangguk, mengunyah sebentar lalu menepikannya ke dinding pipi. "Bisa, aku akan buatkan. Abang suka bubur ayam?" "Suka, dulu mama sering masak itu kalau aku sakit." "Ah, baiklah. Aku akan membuatnya untuk Abang, tapi aku tidak bisa jamin, rasanya bisa sama atau tidak?" "Ya, tidak masalah." Malika melihat wajahnya sedih saat mengatakan bahwa bubur ayam adalah makanan yang sering dimasak ibu angkatnya. "Abang pasti sangat sayang mereka." Nazmi diam saja menatap mangkuk sayur di depannya. Malika tersenyum se

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD