Gadis Ceroboh

1111 Words
“Eng … Mbak, tiketnya satu ya,” Sharell akhirnya memesan tiket. “Satu orang saja Mbak?” “Iya satu.” “Untuk keberangkatan tercepat, kapal akan berangkat dua puluh menit lagi. Tapi hanya tersisa kelas ekonomi.” “Hah? Gak mau kelas ekonomi, pokoknya kelas yang paling bagus Mbak,” Sharell merengek seperti anak kecil. “Maaf Mbak, kalau mau harus menunggu keberangkatan kapal yang selanjutnya.” “Aduh, ya udah deh,” Sharell yakin sekali kalau Verrel sudah masuk ke dalam kapal yang sebentar lagi berangkat itu. Artinya mau tidak mau dia harus setuju untuk naik kapal di kelas ekonomi. Rute masuk penumpang perorangan dan penumpang yang membawa kendaraan berbeda. Jadi dia sekarang kehilangan jejak Verrel. Tapi Sharell yakin sekali kalau Verrel pasti sudah masuk kapal. Lagipula untuk apa dia masuk pelabuhan ini kalau bukan untuk naik kapal. Mengantre dan jalan berdesakan bersama para penumpang lain menuju dermaga dan bersiap masuk ke pintu kapal yang sudah terbuka. Sharell masih celingukan. Dari tempat ketinggian ini dia bisa melihat mobil-mobil yang berbaris bersiap masuk kapal. Belum juga terlihat mobil Verrel. Sharell terus mencari. Rasanya terlalu sulit menemukannya. Ia sekarang sudah diambang pintu masuk kapal. Tidak ada pilihan lain selain melangkah masuk. Beberapa orang di belakang Sharell sudah menggerutu dan minta gadis ini berjalan lebih cepat. Sesampainya di dalam kapal, Sharell coba naik ke lantai atas. Mobil-mobil terparkir rapi di sana. Kemungkinan semua pengemudi dan para penumpangnya sudah turun karena pintu kapal sudah bersiap untuk di tutup. Jangkar siap diangkat dan artinya sebentar lagi kapal ini berangkat. Sharell tidak ingat berapa nomor plat mobil Verrel. Ia hanya ingat bentuk dan warnanya. Dan sepertinya ada beberapa mobil dengan jenis dan model yang sama terparkir di kapal ini. Sedikit kesal dan putus asa Sharel coba berjalan ke pinggiran kapal. Jendela-jendela besar tanpa kaca membuatnya dapat melihat langsung pemandangan dermaga. “Hah? Itu Verrel!” pekiknya panik. Verrel belum naik ke kapal. Ia masih terlihat di bawah sana. Berdiri santai di samping mobilnya. Tidak percaya dengan penglihatannya sendiri Sharell mengucek matanya berkali-kali berharap ia salah melihat orang. Sementara kapal semakin berjarak dari dermaga. Sharell berlari kesana-kemari tanpa sedikitpun pandangannya lepas dari sosok yang ia amati sejak tadi. “Pasti salah, pasti salah! Gak mungkin!” Koper kecilnya ikut diseret kesana kemari. Berlari dari sebuah jendela ke jendela lain hingga yang paling ujung. Buih-buih ombak terlihat semakin jelas dan Verrel sudah hilang dari hilang dari pandangan. “Aku mau turun! Aku mau turun!” Sharell panik. Teriakannya sampai mengundang perhatian banyak orang. Kapal sudah melaju dan semakin jauh dari dermaga. “Mas, mas! I-itu, aku mau turun! Aku mau turun! Bisa balik lagi gak?” Salah seorang petugas di kapal tersebut hanya bisa geleng-geleng. Ia berusaha menanggapi Sharell dengan santun. Sementara si putri keraton ini sekarang benar-benar panik. “Mohon maaf Mbak, tidak bisa. Kapal ini hanya berhenti kalau sudah tiba di pelabuhan.” Jawab petugas itu. “Pe-pelabuhan?” Sharel sekali lagi menoleh ke jendela. Yang terlihat kini hanya pemandangan air laut berbuih terpecah oleh pergerakan kapal. “Berapa lama untuk sampai di pelabuhan?” “Tiga jam.” “Tiga jam?!” wajahnya langsung pucat. “Iya Mbak, mohon maaf, Mohon untuk tidak berteriak-teriak agar tidak mengganggu ketenangan penumpang lain.” Petugas itu bersiap meninggalkan Sharell. Sharell mulai sadar kalau beberapa pasang mata di sekitarnya menatap dengan sedikit tidak ramah. Ini semua gara-gara ulahnya sendiri yang membuat gaduh. “Mas, mas tunggu dulu,” Sharell memanggil petugas tadi. “Iya?” “Bisa saya pindah ke kelas VIP?” “VIP?” “Iya, eng … maksudnya kelas penumpang yang paling bagus di kapal ini.Yang ruangannya tertutup dan ada security-nya, bisa?” tanyanya penuh harap. “Maaf Mbak, penumpang hanya boleh menempati ruangan sesuai tiket yang dibeli.” “Tapi saya tadi pesannya VIP yang tersisa ekonomi. Mau gak mau saya ambil tiket ini.” “Mohon maaf Mbak, tidak bisa.” Petugas itu langsung berlalu. Sepertinya ia sadar kalau berlama-lama meladeni Sharell hanya akan membuatnya tambah masalah. “Mas,” Sharell memanggil petugas yang sudah menjauh itu dengan wajah melas dan mulai panik. Ia sekali lagi melihat ke sekeliling dan wajah-wajah sekitar benar-benar kelihatan tidak ramah. Merasa takut, ia cepat-cepat berpindah. Sementara di pelabuhan, Verrel yang sebenarnya sedang menunggu seseorang rekan bisnis yang membuat janji untuk bertemu di tempat itu seketika panik. Ia sadar sejak awal ada yang membuntutinya dan melihat jelas saat Sharell mengantri di loket untuk pembelian tiket kapal. Mata mereka saling bertemu saat Sharell melihatnya dari jendela kapal tadi. Meski cukup jauh, Verrel dapat melihat dengan jelas dan yakin kalau Sharell sudah naik kapal tadi. “Ngapain dia naik kapal?” Verrel bertanya-tanya sendiri. Ia langsung menangkap ada sesuatu yang tak beres. Kedatangan Sharell ke pelabuhan ini sepertinya bukan sengaja ingin melakukan sebuah perjalanan. Tapi gadis itu mengikutinya. “Apa dia mengira aku naik kapal itu? Dasar cewek aneh!” gumamnya. Buru-buru Verrel mengeluarkan ponsel. Dengan gelisah ia menelpon seseorang yang sudah membuat janji dengannya. “Hallo Pak, maaf meeting kita di pelabuhan kita jadwal ulang saja ya Pak, saya mendadak ada urusan.” ucapnya saat telepon itu sudah terjawab. “Lho? Tapi saya sudah menuju ke sana Rell,” “Sekali lagi maaf Pak Pram, saya akan menemui Bapak satu atau dua hari lagi.” “Tapi saya ini sekalian mau ke pulau seberang. Masa saya harus balik lagi besok? Atau kamu yang mau menyusul saya?” Verrel berpikir cepat. Bisa saja ia mengulur sedikit waktu dan tetap melangsungkan meeting itu. Tapi hatinya tidak tenang. “Ok saya yang akan menemui Bapak di pulau seberang besok.” pungkasnya. “Ok kalau begitu Rell,” Verrel cepat menyimpan ponselnya di saku. Buru-buru masuk ke mobil dan bersiap memasuki kapal yang berikutnya. Nalurinya tergerak untuk menyusul Sharell. Pertemuan resmi mereka memang baru tadi saat di rumah keluarga Sharell. Tapi diam-diam pria dingin ini sudah memperhatikan Sharell sejak di bangku sekolah dahulu. Paras ayu dengan tingkah polos dan ceplas-ceplos yang lugu itu sudah menawan hatinya dalam diam sejak lama. Sharell memang gadis yang berbeda. Di sekolah ternama berstandar internasional, dimana semua teman-teman seusianya saat itu berpenampilan banyak gaya, penuh gengsi dan suka pamer harta orang tua. Sharell adalah satu-satunya yang memilih bersikap apa adanya. Penampilannya yang berhijab, berbeda dengan teman kebanyakan. Jarang di sekolah itu yang mengenakan hijab. Membuat Sharell mudah dikenali. Sharell terlihat paling santai diantara banyak teman yang kelihatan ingin menonjolkan diri. Meski datang dan pulang selalu dijemput bibi serta sopir, gadis itu lebih memilih berteman dengan teman-teman biasa. Tidak suka dengan anak-anak populer sekolah. Itu lah salah satu alasan Verrel sejak lama mengagumi gadis ini. Sangat berbeda dengan para gadis popular sekolah yang tidak hentinya berusaha mencari perhatiannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD