Bab 1: Aku, Istrinya yang Tak Diakui
Alluna berdiri terpaku di depan kelas. Matanya membulat saat melihat sosok pria yang berdiri di depan papan tulis.
Dingin. Tenang. Wibawanya menusuk.
Tapi yang paling mengejutkan… pria itu adalah suaminya sendiri.
"Silakan duduk. Jangan banyak buang waktu," suara pria itu terdengar datar, matanya menatap semua orang… termasuk Alluna. Tapi tak ada pengakuan. Seolah mereka tak pernah saling kenal.
Alluna menunduk, duduk di bangkunya dengan jantung berdebar.
Apa-apaan ini? Kenapa dia ada di sini?
Setelah kelas selesai, Alluna berusaha mengejarnya di lorong.
"Kenapa kamu ngajar di sini? Kenapa kamu nggak bilang—"
"Jangan mulai drama, Alluna," potong pria itu dingin.
"Mulai hari ini, aku dosenmu. Jaga sikapmu. Jangan pernah berpikir untuk mengaku kalau kita menikah. Aku nggak ingin skandal."
Alluna menggigit bibir bawahnya, menahan air mata yang mulai menggenang. Bukan karena bentakan itu, tapi karena harapan kecil di hatinya… hancur.
Sudah satu tahun sejak mereka menikah atas permintaan orang tua. Selama itu pula, mereka tinggal serumah tapi seperti orang asing. Saling diam. Saling menghindar.
Alluna pikir, mungkin… suatu saat nanti akan ada perubahan. Tapi ternyata dia salah besar.
"Kamu tega banget," bisiknya lirih saat pria itu berlalu begitu saja, meninggalkannya di lorong yang sepi.
Malam itu, Alluna pulang lebih dulu dan bergabung di meja makan bersama ibunya dan Lucian.
"Alluna, kamu cocok nggak sih di kampus barumu?" tanya ibunya sambil menyendok sayur ke piringnya.
"Cocok, Ma..." jawab Alluna pelan, tersenyum paksa. "Dosen-dosennya baik, kok."
Dari arah dapur, suara langkah kaki mendekat. Alluna menoleh dan matanya bertemu pandang dengan pria yang sama. Dingin. Tenang. Tapi saat melihat keluarga, dia tersenyum tipis, duduk di sebelahnya, berpura-pura seperti suami sempurna.
"Hari pertama kuliah gimana?" tanyanya datar.
Alluna menelan ludah. "Baik."
Ibunya melirik Lucian sambil tersenyum. "Lucian, kamu ngajar juga di kampusnya Luna, ya? Tapi kamu ngajar nggak dikelasnya?"
Lucian menggeleng pelan. "Nggak, Tante. Saya ngajar di jurusan lain."
Ibunya Alluna menaikkan alis, lalu menatap Lucian sambil tertawa kecil.
"Masih aja manggil Tante. Kamu itu udah jadi suaminya Luna, lho. Bilangnya Mama, bukan Tante."
Lucian tersenyum sekilas. "Hehe... iya, Ma."
Alluna melirik sekilas ke arah Lucian, tapi kembali menunduk. Suasana di meja makan memang tak sehangat yang terlihat dari luar.
Dalam hatinya, ia mengerutkan kening.
Ngajar di jurusan lain? Lah, bukannya tadi pagi kamu masuk ke kelas aku?
Kenapa harus bohong sih?
Alluna menghela napas pelan. Tidak ingin memperpanjang pikiran itu di depan ibunya, tapi rasa janggal itu menempel di dadanya, seperti noda samar yang susah dihapus.
Lucian, yang duduk di sampingnya dengan wajah datar dan sikap tenang, makin sulit ditebak.
Malam itu, setelah ibunya masuk ke kamar, Alluna pun masuk ke kamarnya, kamar yang kini ia tempati bersama Lucian.
Kasur besar di tengah ruangan hanya digunakan oleh Alluna. Lucian tidur di kasur lipat yang ia letakkan di sisi dekat jendela. Tidak ada percakapan. Hanya suara AC dan detik jam dinding yang terdengar.
Lucian baru masuk setelah mengganti bajunya di kamar mandi. Ia berjalan melewati Alluna yang duduk di tepi ranjang, tanpa menoleh sedikit pun.
"Aku tahu kamu nggak suka ini semua," ucap Alluna pelan, mencoba membuka suara.
Lucian tak menjawab. Ia hanya menarik selimutnya dan berbaring membelakangi Aruna.
"Tapi kamu nggak harus bersikap seolah aku ini beban," lanjutnya dengan suara lebih lirih.
Masih tak ada jawaban. Dan Alluna tahu tak akan ada.
Ia menghela napas panjang, lalu mematikan lampu kamar. Dalam gelap, ia menatap langit-langit, menahan tangis yang sudah mengering karena terlalu sering jatuh.
Besoknya di kampus…
Alluna berjalan memasuki kelas dengan mata yang sedikit sembab. Beberapa mahasiswa yang sudah duduk lebih dulu langsung menyambutnya dengan senyum hangat.
"Hai! Kamu duduk di sini juga, ya? Aku Vania," ucap salah satu gadis yang duduk di sebelah bangku kosong.
Alluna mencoba tersenyum kecil.
"Aku Alluna."
"Baru beberapa hari, tapi udah berasa banget ya tugasnya," sahut Vania sambil menghela napas.
Alluna tersenyum kecil, mencoba bersikap biasa. Tapi detak jantungnya kembali berdebar saat langkah sepatu terdengar memasuki ruangan.
Lucian.
Dengan kemeja putih rapi dan ekspresi datar yang sangat ia kenal, pria itu berjalan menuju meja dosen. Sekilas mata mereka bertemu, tapi hanya sesaat.
"Hari ini kita mulai materi pertama. Buka slide di portal kampus," ucapnya tegas.
Bagi mahasiswa lain, mungkin Lucian adalah dosen muda keren dan cerdas. Tapi bagi Alluna, dia adalah teka-teki yang tak pernah bisa dipecahkan.
---
Istirahat siang di kantin kampus
"Luna, sini duduk bareng kami!" Vania melambaikan tangan ke arah Alluna, yang baru membawa nampan makan siang.
Ia tersenyum dan bergabung di meja. Meskipun masih canggung jadi anak baru, setidaknya beberapa teman sudah mulai akrab.
"Gimana kelas Pak Lucian? Tegang banget nggak sih?" tanya Rina sambil membuka tutup botol minumnya.
Alluna tersenyum kaku. Kalo kalian tahu dia suamiku…
"Serius sih, tapi ya… wajar, dosen baru juga kan," jawabnya kalem.
"Baru tapi udah dapet banyak fans tuh," timpal Vania.
"Tadi anak kelas lain sampe ngintipin kelas kita cuma pengin liat mukanya."
"Iya, cakep sih. Tapi kayak… ada aura nggak bisa didekati gitu."
"Eh, Luna, kamu dari SMA mana emangnya?" tanya Rina sambil menyeruput jus.
"Dari SMA 5," jawabnya.
"Oooh, jadi ini kampus pilihan pertama ya?"
"Iya."
Tiba-tiba, seorang cowok berseragam kampus dengan ID card senior menggantung di leher datang menghampiri meja mereka.
"Boleh duduk sini?"
"Eh Kak Ares, duduk aja!" kata Vania antusias.
Ares, kakak tingkat yang terkenal ramah dan mudah bergaul, menaruh nampannya lalu duduk di sebelah Alluna. Matanya melirik ke arah gadis itu dengan senyum tipis.
"Kamu mahasiswi baru ya?"
"Namanya siapa?"
"Alluna."
"Nama yang bagus. Alluna Callista, ya?"
"Kok tahu?"
Ares tersenyum. "Aku panitia OSPEK. Paling nggak hafal beberapa nama. Tapi yang paling gampang diinget itu yang mukanya kalem tapi ngumpet terus."
Teman-teman di meja langsung cekikikan. Alluna menunduk malu.
"Kalau ada yang bingung soal kampus, atau tugas-tugas awal, boleh tanya aku ya," kata Ares dengan ramah.
"Aku biasa nemenin anak baru yang nyasar, secara literal maupun mental."
Alluna tertawa kecil. Tapi di dalam hati, dia bisa membayangkan ekspresi Lucian jika tahu ini.
Lucian… kamu yang bilang jangan dekat-dekat. Tapi dunia kita makin sempit. Gimana kalau semuanya lepas kendali?
Sore hari, koridor fakultas.
Lucian berjalan dengan langkah tenang menyusuri lorong kampus. Di tangannya ada beberapa berkas nilai mahasiswa, tapi langkahnya terhenti saat melihat sekelompok mahasiswa baru duduk-duduk di tangga dekat taman samping gedung.
Mereka tertawa. Ramai. Tapi hanya satu orang yang membuat matanya tertahan.
Alluna.
Duduk di sisi Ares.
Tertawa kecil saat pria itu menunjukkan sesuatu di layar ponselnya. Jarak mereka cukup dekat. Terlalu dekat.
Lucian mengepalkan tangan di balik saku celananya.
"Baru beberapa hari masuk, udah akrab banget ya."
Wajahnya tetap datar. Tapi matanya tajam, penuh tekanan yang tak dia ucapkan.
"Pak Lucian?" sapa salah satu dosen yang lewat.
"Oh, iya." Lucian mengangguk singkat dan kembali melangkah, seolah tak melihat apapun.
Namun sesampainya di ruang dosen, berkas di tangannya dilempar sedikit kasar ke atas meja. Rahangnya mengeras.
"Ares, ya? Kakak tingkat. Terlalu ramah."
Ia membuka laptop dengan ekspresi tak terbaca.
"Kalau kamu cuma mau main-main, Alluna… jangan pernah berharap aku bisa diam selamanya."
...
Malam harinya, di rumah, suasana makan malam masih sama seperti biasa. Pura-pura harmonis di depan keluarga. Tapi malam ini, ada ketegangan samar yang terasa hanya di antara mereka berdua.
Setelah makan, Alluna masuk ke kamarnya lebih dulu. Ia sedang menulis tugas saat pintu diketuk pelan.
Lucian masuk tanpa banyak bicara, meletakkan kasur lipat seperti biasanya. Tapi malam ini, dia tak langsung tidur. Justru berdiri di dekat meja belajar Alluna.
"Kamu akrab banget sama senior itu," ucapnya tiba-tiba.
Alluna menoleh pelan.
"Ares? Kami cuma ngobrol biasa."
"Sering ngobrol di kampus?"
"Baru dua kali. Kenapa?"
Lucian tidak langsung menjawab. Ia berjalan ke arah jendela, membuka tirai, lalu menutupnya lagi.
"Hati-hati."
Alluna mengernyit.
"Maksudnya?"
Lucian menatapnya. Tatapannya tidak sedingin biasanya, ada sedikit emosi yang sulit dijelaskan.
"Kamu itu… istri orang. Jangan bikin gosip," ujarnya datar, tapi tajam.
Alluna mengerutkan kening, berdiri dari kursinya.
"Aku nggak ngapa-ngapain. Kamu sendiri yang nyuruh aku bersikap seolah kita nggak saling kenal. Sekarang aku ngobrol sama orang lain aja dibilang bikin gosip?"
Lucian terdiam, rahangnya mengeras.
"Aku cuma nggak mau ada masalah," ucapnya pelan.
"Masalah atau… kamu nggak suka aku deket sama orang lain?" tantang Alluna, suaranya naik setingkat.
Lucian tak menjawab. Hanya tatapan tajam yang ia berikan, sebelum akhirnya ia berbalik dan kembali ke kasur lipatnya.
"Matikan lampunya kalau sudah selesai," katanya singkat, sebelum berbaring membelakangi Alluna.
Alluna menatap punggungnya, perasaannya campur aduk. Untuk pertama kalinya, ia merasa… mungkin Lucian menyimpan sesuatu. Tapi entah itu rasa… atau sekadar ego.
Alluna duduk kembali di kursinya. Tugas di depannya terasa kabur. Di luar jendela, bulan tampak penuh, tapi dalam dirinya ada ruang kosong yang tak bisa ia jelaskan.
Lucian memang tak pernah bicara soal hati... tapi malam itu, diamnya terasa seperti perang.