Chapter 14 - A Letter

1516 Words

“Sebab sudah terlalu sering kau menyebut nama perempuan lain di depan mataku. Hal itu seharusnya cukup untuk membuatku tersadar dari lamunan, bahwa aku memang tidak pernah berada dalam duniamu.” ~Claudya Leffan. *** Claudya mengerjapkan mata. Suara alarm dari ponselnya yang berada di atas nakas membuatnya perlahan-lahan terbangun, meski apartemen itu masih diselimuti oleh cahaya remang. Bergerak perlahan-lahan, Claudya menyadari selimut tebal masih menutupi tubuhnya, bahkan kali ini hingga sebatas bahu. Membuka matanya lebih lebar, perempuan itu mendapati Jagas masih terlelap dalam buaian mimpi. Tetapi ada yang berbeda kali ini. Jika biasanya Jagas dan Claudya selalu tidur dan mengarahkan pandangan untuk saling memunggungi, maka tidak dengan dini hari ini. Wajah lelaki itu tampak jel

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD