Kedua belah pihak saling diam untuk beberapa saat. Ruang pasien VIP bernomor 118 itu memiliki beberapa sofa yang telah penuh dengan kelima orang yang sedang berdiskusi. Sedangkan ada sosok lain yang tengah duduk bersandar di katil dengan wajah pucatnya.
“Gimana, Zev? Apa syaratnya udah kamu pikirin baik-baik?” celetuk Grena setelah menunggu anak gadisnya itu berpikir beberapa menit. “Kami udah nunggu lama, nih. Kamu jangan kebanyakan mikir, dong, Sayang.”
Zevia melirik sekilas ke arah Gezra yang hanya memasang wajah datar seolah tak ada yang terjadi antara mereka. “Apa dia beneran setuju sama pernikahan ini? Gila banget!” kesalnya dalam hati.
“Zev?” tegur Vicknan membuyarkan lamunan Zevia.
Napasnya terambil perlahan lalu ia hembuskan secara berirama. Zevia menatap kedua mata calon mertuanya –Fraya dan Ganiel bergantian. “Om, Tante, Zevia akan memenuhi wasiat dari Tante Fraya,” ucapnya sambil mendesah pelan. “Tapi Zev punya syarat. Zev mohon, syaratnya dipenuhi,” lanjutnya.
“Apa syaratnya, Zev? Tante pasti setuju asal kamu mau menikah dengan Gezra,” sahut Fraya dengan suara paraunya.
“Yang pertama, Zev nggak mau pernikahannya diadakan secara besar-besaran dan sampai mengundang orang lain selain pasien dan tenaga medis di rumah sakit ini,” jelas Zevia untuk syarat pertama yang sudah ia pikirkan matang-matang. “Cukup mereka yang menjadi saksi bahwa aku dan Gezra telah menikah.”
“Lalu, yang kedua?” tanya Grena penasaran apa saja yang ada di pikiran Zevia.
“Yang Kedua, Zev nggak mau kalau sampai Ansel dan Kyra tau tentang pernikahan Zev dan Gezra.” Syarat kedua dari Zevia menuai perhatian dari Gezra sekaligus menuai penolakan dari Grena.
Grena menggeleng kuat dan melipat tangannya ke d**a seolah tengah mengeksekusi Zevia. “No! Mama nggak setuju sama syarat kedua kamu. Mereka harus tau, Zev! Mereka nggak boleh lagi deketin kalian yang udah sah jadi suami-istri.”
Zevia sudah menyangka jika mamanya akan menolak. Ia memutar kedua bola matanya malas dan memijat keningnya pelan.
“Tante, saya setuju sama Zevia. Kami juga masih ingin menghargai perasaan orang yang selama ini bersama kami. Suatu saat, jika saatnya sudah tepat, kami akan mengatakan yang sejujurnya pada mereka,” timpal Gezra.
BINGO!
“Tumben banget Gezra ngomong panjang lebar. Bermanfaat pula! Good job, Gez!” sanjung Zevia dalam hati. Untung saja Gezra menyetujui syarat yang ia berikan. Jadi, mamanya akan merasa kalah jika Gezra sudah angkat bicara. And well, Zevia melirik ke arah Grena yang sudah menyembunyikan mukanya di balik kedua tangan.
“Oke, Tante terserah mama kamu aja, Gez.”
YES!
Zevia bersorak dalam hati. Setidaknya Ansel tidak akan mengetahui tentang pernikahannya dengan Gezra yang akan dilaksanakan dalam waktu yang dekat. Sekilas ia melirik ke arah Gezra yang sudah meliriknya sejak tadi. Tatapan mata sosok itu seolah mengatakan, “Lo harus berterima kasih sama gue!” Dan Zevia hanya menyunggingkan sebuah senyuman tipis –mengejek.
“Lo cuma beruntung aja karena mama takut buat menyanggah permintaan lo. Sekalipun gue nggak akan pernah berterima kasih sama orang kayak lo,” ujarnya dalam hati sambil terus melirik Gezra dengan kesinisannya. Seolah mereka memang sudah terikat insting yang sangat kuat.
“Mama setuju. Mama yakin, kalian memang berjodoh. Mungkin saat ini hati kalian masih terikat dengan cinta semu yang kalian yakini itu adalah cinta yang nyata. Asalkan, Gezra dan Zevia bisa memenuhi wasiat terakhir mama,” sahut Fraya dengan keyakinannya. Sedangkan Gezra dan Zevia tersenyum lega. Tidak peduli apapun yang dikatakan sosok wanita paruh baya itu, karena yang mereka pedulikan hanyalah ego masing-masing.
Syarat-syarat tak masuk akal itupun akhirnya lolos review. Mereka sepakat akan melakukan pernikahan dalam waktu yang dekat. Pernikahan sederhana di sebuah rumah sakit dan hanya dihadiri oleh para pasien lain serta tenaga medis yang bertugas. Mungkin memang langka, namun begitulah adanya. Fraya lega karena mereka mau memenuhi wasiatnya yang terdengar konyol.
▪️▪️▪️
Hari yang melelahkan. Jelas. Lelah menghadapi kenyataan yang pahit sepahit empedu. Zevia merasakannya dan sebenarnya tak ingin hal itu ia rasakan. Merasa fall down dan give up.
Begitulah.
Permintaan Fraya membuatnya bimbang dan terpaksa menyetujui. Ia mencoba untuk berpikir positif dan pasti akan ada jalan keluar yang tak merugikan siapapun. Hal terpenting yang sekarang ia utamakan hanyalah mengelabuhi Ansel dan membahagiakan Fraya hingga Fraya dinyatakan membaik.
KLING!
Suara getaran ponsel membuat kedua matanya terdobrak paksa. Meski sedikit buram karena ia melepas kacamata, namun nalurinya untuk menemukan ponsel sudah sangat kuat. Ia menyambar kacamata yang ada di meja dekat ranjang dan membuka sebuah pesan yang baru masuk.
Ansel.
“Baru aja lagi dipikirin, udah langsung notif gue.” Zevia menggumam saat mengetahui ternyata notif itu dari sang kekasih hati.
*Ansel : Beb, makan yuk. Pasti belum makan, kan?*
Senyumnya mengembang sempurna. Dengan lihai, jemarinya mengetikkan jawaban untuk Ansel dan langsung mengirimnya tanpa berpikir panjang.
*Zevia : Let’s go. Aku udah siap.*
Secepat kilat dan mungkin lebih cepat dari kilat, Zevia langsung menyambar sisir dan merapikan rambutnya kemudian menyambar tas selempang yang menjadi favoritnya. Setelah dipastikan rapi dan siap, Zevia berlari keluar kamar dan menunggu di ruang tamu.
“Wih! Calon pengantin udah rapi aja. Malem-malem gini mau ke mana lo, Kak?” Aurora Borealisa, adiknya yang hobby ngeledek sekaligus membuatnya kesal itu tiba-tiba muncul dari dapur. Ia terlihat membawa mangkuk yang mengeluarkan aroma mie instan.
“Mie mulu, usus buntu ntar!” Tanpa menanggapi pertanyaan sang Adik, Zevia justru melontarkan ejekannya. “Heh, gue aduin mama kalau lo makan mie mulu.”
Aurora yang sering dipanggil Rora itu menyipitkan matanya. Seolah sedang menyelidiki sesuatu dari sang Kakak. “Wait, jangan bilang lo masih hubungan sama Bang Ansel?”
“Anak kecil nggak usah ikut campur.”
Rora merolling matanya. “Please, deh, Kak! Lo itu mau nikah sama Bang Gezra. Jaga perasaannya, dong! Dan satu lagi, gue udah tujuh belas tahun. Udah punya KTP! Jadi, gue bukan anak kecil lagi.”
“Whatever! Udah sana masuk. keburu gue aduin ke mama kalau lo masak mie instan lagi setelah lambung lo kambuh kemarin,” ancam Zevia sambil menjulurkan lidah dan melontarkan wajah datarnya.
Tanpa mengatakan apapun, Rora langsung naik ke lantai atas dan masuk kamarnya. Tinggal Zevia seorang diri di ruang tamu. Berharap Ansel datang sebelum kedua orang tuanya pulang dari rumah sakit. Ya, Zevia pulang duluan dan diantar oleh Gezra karena Rora lupa membawa kunci cadangan sehingga tak bisa masuk ke dalam rumah.
Tak lama ia menunggu, ia mendengar suara mobil terhenti di halaman rumah. Zevia pun langsung bergegas melihat siapa yang datang.
“Ansel. Sip! Untungnya mama sama papa belum pulang.” Zevia keluar dari rumah dan melihat mobil orang tuanya memasuki gerbang. “Oh My God! Nggak tepat banget, sih!” batinnya kesal. Ia menahan diri masuk ke mobil Ansel karena Ansel sudah menampakkan dirinya untuk menyambut kedua orang tua Zevia.
Grena dan Vicknan yang baru saja datang langsung menghampiri Ansel yang berdiri di samping Zevia. Raut wajah khas dari Grena yang selalu dihadapkan pada Ansel tak membuat Ansel bersikap seenaknya. Lelaki itu tetap menampilkan sopan santunnya meski jelas nyata kalau wanita paruh baya yang ia anggap sebagai calon mertuanya itu sangat tak menyukainya.
“Malam, Om, Tante,” sapa Ansel sambil menyalami keduanya seperti biasa. “Mau ijin ngajak Zevia makan malam. Boleh, kan?” sambungnya meminta ijin.
Grena mengangguk sekilas tanpa senyuman di wajahnya. Sedangkan Vicknan menyunggingkan senyuman tipis dan mengatakan, “Silakan. Tapi jangan pulang larut malam.”
“Terima kasih, Om, Tante. Saya sama Zevia berangkat dulu.”
Zevia hanya menatap sang Mama sekilas kemudian masuk ke dalam mobil saat Ansel membukakan pintu mobil untuknya. Setelah ia sempurna tertutup di dalam mobil, sang Mama tampak menahan Ansel dan mengatakan sesuatu. Zevia tak mendengarnya dengan jelas. Hanya saja, ia berharap sang Mama tak mengatakan hal aneh-aneh pada Ansel.
Jantungnya makin bergetar hebat saat melihat raut wajah Ansel berubah drastis. Senyuman Ansel mendadak luntur dan tampak frustasi. “Kenapa, nih? Jangan-jangan mama bilang tentang gue sama Gezra ke Ansel? Perasaan gue jadi nggak enak. Semoga aja mama nggak lupa sama syarat yang gue ajuin tadi.”
▪️▪️▪️