Bab 3 – Keputusan Kedua Calon Mempelai
"Tante ingin ... kamu menikah dengan anak Tante."
'Deg'
"A–anak Tante Fraya? Maksudnya ... Zevia nikah sama ... Gezra?!"
--000--
"Aku lagi nemenin mama, Ra. Gimana kalau aku anterin kamu ke perpustakaan besok? Mama lagi manja. Nggak mau ditinggal sama aku. Nggak masalah, 'kan?"
Dari seberang sana terdengar suara gadis yang mencoba memahami situasi kekasihnya. Bibirnya sedikit tertarik ke atas. Menampilkan sebuah senyuman tipis.
"Makasih kamu udah mau ngertiin aku. Udah dulu ya, aku hampir sampai di kamar mama, nih."
'PIP'
Ia pun memasukkan ponsel ke dalam saku jaket denimnya. Kemudian kembali berjalan sedikit cepat karena tamu sudah menunggu. Namun, dari kejauhan langkahnya mulai melamban.
Matanya menangkap bayangan seorang gadis yang baru saja keluar dari kamar 118. Langkahnya terhenti menyaksikan gadis itu bercakap seorang diri.
"Kebiasaan banget. Ngomong sendiri kayak orang gila." Senyumnya sempat mengembang sejenak namun akhirnya mengerut kembali, "Kenapa dia kayak kesel gitu?" gumamnya heran.
Ya, gadis berkacamata dan berambut kecoklatan itu tampak kesal. Entah apa yang membuatnya sekesal itu. Hanya saja, tiba-tiba sesuatu terlintar di benaknya. Ia menebak satu hal. Tentang wasiat dadakan sang mama. Pernikahan yang tak ia inginkan.
"Jangan bilang ... calon istri gue itu ... Zevia?"
--000--
"Ini nggak boleh terjadi. Gue harus cari cara biar pernikahan ini gagal. Ya kali, gue harus nikah sama Gezra? Bisa mati berulang kali gue ntar!" monolognya kesal. Pikirannya benar-benar buntu untuk sesaat.
Antara Tante Fraya, Gezra, dan penikahan tak diinginkan. Menyebalkan. Memang sangat menyebalkan.
Bayangkan saja kalian dinikahkan dengan orang yang sangat kalian benci dan juga ... membenci kalian. Mau dibawa ke mana pernikahan itu? Ke ujung jurang penderitaan? Jelas itu pasti.
Akan tetapi, Zevia tak mampu menolaknya. Tante Fraya tak pernah meminta apapun padanya. Sejak kecil ia selalu dimanja dan dicintai seperti anak sendiri. Bahkan Tante Fraya selalu memilih untuk membelanya daripada membela anaknya sendiri.
"Ah, sebel! Kenapa harus gue? Kira-kira pacarnya Gerza tau nggak, ya, soal ini? Kalau dia nggak tau, terus kalau mendadak dia tau gue nikahin pacarnya, bisa dicap pelakor, dong? Ih, amit-amit. Duh, Tante Fraya, kenapa harus Zevia?" gumamnya komat-kamit seperti membaca mantra.
Ingatan itu membuat keras hatinya melunak. Zevia seolah tengah berdiri di atas perahu yang sedang terombang-ambing oleh deburan ombak. Jika ia lengah, ia akan terjatuh dan tenggelam. Ya, karena Zevia tak bisa berenang.
"Ih, kenapa gue jadi mikir yang aneh-aneh, sih?!" Setelah beberapa saat berdiri dan mengoceh seorang diri di depan kamar 118, akhirnya ia berniat untuk menuju ke taman buatan lantai Edelweis.
Akan tetapi, langkahnya terhenti saat ia melihat sosok berjaket denim berdiri beberapa langkah darinya. Sosok itu menatapnya datar. Mungkin sosok itu memperhatikannya sedari tadi.
"Kambing! Gue malu banget, Woi!"
Sontak ia memalingkah wajah merahnya. Malu. Jelas. Tapi jika tak pandai menyembunyikan perasaan berarti bukan Zevia Claretta namanya. Dengan memasang ekspresi bodo amat, Zevia melanjutkan langkahnya dan melewati Gezra –sosok berjaket denim- tanpa meliriknya sedikit pun.
"Nggak perlu maksain diri. Cukup tolak. Semua selesai."
Samar namun pasti. Kalimat itu terucap dari mulut Gezra sebelum lelaki itu mengangkat kakinya dan membuat Zevia menghentikan langkahnya. Zevia memutar tubuhnya dan menatap punggung Gezra yang mulai menjauh.
"Tuh, 'kan, nyebelin! Bisa gila tujuh turunan kalau gue nikah sama dia!"
--000--
Akhirnya ia mendudukkan pantatnya di bangku taman lantai Edelweis. Menyaksikan para pasien dan keluarganya yang asyik bercakap. Mereka tampak ceria di balik wajah pucat yang menghiasi. Begitupun dengan keluarga yang menemani. Senyuman tak pernah luntur meski mata mereka mengatakan ribuan luka.
"Tante Fraya, kenapa wasiatnya aneh banget, sih? Jelas-jelas Gezra punya pacar. Kenapa nikahnya harus sama gue? Gue juga punya Ansel. Gimana jadinya kalau dia tau gue mau dinikahin sama rivalnya sendiri? Sumpah! Kepala gue cenat-cenut kayak orang jatuh cinta. Tapi bedanya gue lagi jatuh ke jurang putus asa," gumamnya melamunkan semua hal yang sedang terjadi hari ini.
"Jodoh itu nggak ada yang tau, Mbak. Mungkin itu udah takdir," sahut seorang pria paruh baya yang memakai baju pasien.
Zevia tertegun karena pria itu mendengar gumamannya yang mungkin hanya bisa ia dengar sendiri. Namun, dengan jarak satu meter setengah, pria paruh baya itu mampu mendengar gumaman yang cukup dibilang sangat pelan.
"Indra pendengaran saya cukup kuat, Mbak. Jangan hiraukan. Saya cuma mau kasih wejangan aja, kalau pilihan orang tua itu yang terbaik. Dan pilihan diri sendiri itu belum tentu sebaik yang kita pikirkan."
Zevia terdiam mendengarkan wejangan dari pria paruh baya yang bahkan tak ia kenali, "Makasih sarannya, Pak," ucapnya setelah sekian lama terdiam. "Tapi nggak semudah itu menerima kenyataan. Bagaimanapun juga, pilihan hati sulit terganti," lanjutnya dalam hati.
▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️
Seperti dihakimi oleh kedua bilah pihak, Gezra hanya menghela napas panjang. Ia duduk bersender di sofa dan memijat keningnya pelan.
"Gez, kamu singkirkan dulu ego yang ada di diri kamu. Demi mama." Lagi-lagi Ganiel –Papa Gezra- melontarkan kalimat bujukan agar anak semata wayangnya itu mau memenuhi wasiat sang mama.
"Tapi Kyra gimana, Pa? Kata Papa, aku harus jadi lelaki bertanggung jawab. Kalau aku tiba-tiba nikah sama gadis lain, aku berarti nyakitin Kyra," balas Gezra.
Balasan itu membuat Fraya menoleh. Menatap Gezra yang sudah menatapnya pilu, "Zevia adalah gadis pilihan mama yang tepat buat kamu. Mama yakin itu. Dan Kyra pasti bisa menerima kenyataan ini."
"Menerima kenyataan itu nggak semudah menerima kembalian dari supermarket, Ma," jawab Gezra yang sempat mengundang tawa kecil dari Fraya. Anak semata wayangnya itu memang selalu berbicara aneh. Seperti tadi.
"Gezra, apa mama pernah minta sesuatu dari kamu?" Pertanyaan Fraya hanya dibalas gelengan kecil dari Gezra, "Sekarang mama hanya minta satu hal dari kamu, Gez. Penuhi wasiat mama ya."
Lagi-lagi helaan napas panjang tetdengar dari mulut Gezra.
"Gez, bukannya Tante mau ikut campur ya. Keinginan mama kamu ini adalah keinginan yang tentunya terbaik buat kamu. Kamu harus tau, nggak ada seorang ibu yang rela anaknya menjalani hidup yang ujungnya menyakitkan," sela Grena sembari mendekatkan diri pada Gezra, "Tau nggak? Mama kamu itu mama terbaik. Karena itu, kamu mau mengecewakan mama kamu?"
Gezra terdiam. Ucapan Grena berhasil masuk ke telinga dan diolah oleh hatinya.
"Gue nggak mau ngecewain mama. Kyra ... gue minta maaf."
'Krieet'
Suara pintu terbuka. Mengalihkan semua pandangan ke seorang gadis berkacamata yang berdiri di ambang pintu. Gadis itu menatap beberapa orang yang berada di dalam ruangan satu persatu.
"Ma, Pa, Zevia udah ambil keputusan."
▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️