“Kita makan dulu, yuk! Mama laper, nih.” Ajakan itu membuat Zevia membulatkan mata. Kemudian, ia mendengus kesal karena sudah pasti penolakannya takkan berguna. Sedangkan Gezra hanya fokus menyetir kemanapun sang Calon Mertua perintahkan. “Gez, kita ke restoran langganan mama kamu aja. Tau, 'kan?” Hanya anggukan dari Gezra yang menjawab pertanyaan itu.
Tak ada percakapan apapun setelahnya. Beberapa menit berlalu dan akhirnya mobil mereka terhenti di lahan parkir restoran langganan Fraya –Sweet Resto. Tanpa banyak menunda, Zevia langsung keluar dari mobil dan menggandeng mamanya untuk berjalan lebih cepat.
“Kenapa, sih, buru-buru banget? Gezra ketinggalan, tuh.”
Zevia tak mempedulikan sosok yang tengah berjalan santai di belakangnya. Ia terus menggandeng mamanya dan mencari tempat duduk kosong. Tempat duduk yang hanya muat untuk berdua. Jelas. Dia sama sekali tak ingin makan satu meja dengan si Tengil yang membuatnya kesal beberapa hari ini.
“Kok ambil yang dua kursi? Gezra gimana?” tanya Grena heran. “Zev, jangan gitu, dong. Kalau kayak gini terus, mama bakal bilang ke Ansel tentang pernikahan kalian. Kamu mau?”
Zevia mendesah pelan. “Ish, hobby banget, sih, ngancem Zev. Ma, Zev, tuh, males banget kalau harus makan semeja sama si Tengil Rese itu. Nanti selera makannya Zev jadi turun drastis. Mama mau kalau anak mama yang paling cantik ini jadi kurus kerontang macam ranting kayu?”
“Kamu salah, Zev. Yang pertama, dia itu bukan si Tengil Rese. Dia itu Gezra. Yang kedua, kamu nggak akan sekurus ranting kayu. Kamu aja kelebihan berat badan. Nggak selera makan sekali juga nggak ngaruh sama berat badan kamu. Dan yang ketiga, anak mama yang paling cantik itu nggak ada. Karena yang paling cantik itu mama.”
“Ih, Mama pede banget, deh. Udah, ah. Capek debat sama mama.”
Grena terkekeh melihat wajah kesal anaknya yang menggemaskan itu. Matanya langsung mencari posisi Gezra dan akhirnya menemukan keberadaan si Tengil yang dimaksud oleh Zevia. “Gez! Sini, loh!”
Gezra hanya menoleh sekilas sebelum akhirnya bangkit dari duduknya. Menunggu kehadiran Gezra di tempat duduk mereka, Grena menatap Zevia penuh selidik. “Zev.”
“Hm?” jawab Zevia dengan dehaman. Matanya fokus ke ponsel daripada harus melirik ke arah Gezra yang masih berjalan kluntang-klantung ke mejanya.
“Kenapa kamu nggak suka banget sama Gezra?”
Zevia tak terkejut sama sekali dengan pertanyaan itu. Sebab rasa tak sukanya pada Gezra memang sangat menonjol. Wajar jika sang Mama akan menyadari hal itu. “Well, Zev nggak suka sama Gezra karena dia ngeselin, sok keren, dan ... ya gitulah.”
“Tapi Gezra emang keren, 'kan? Ganteng, baik, dan nggak pernah bikin kamu nangis kayak si Ayam Kampus itu.”
Mendengar pernyataan Grena yang hampir benar meski tak sepenuhnya benar, Zevia sedikit tidak terima. Hampir saja ia ingin membantah, sosok bernama Gezra yang tengah mereka bicarakan sudah sampai di meja dan menatapnya aneh.
“Ngapain liatin gue gitu banget? Naksir?”
Gezra tersenyum miring. “Ngaca! Lipstik belepotan gitu bisa keliatan cantik dari mana coba?”
“Hah?!” Zevia langsung membuka kamera dan melihat wajahnya. Tak ada kesalahan apapun dari wajahnya. Ya, jelas hal itu hampir menyulut api perdebatan panas kembali. “Berani banget lo ngibulin gue! Dasar, Bocah Tengil!”
“Stop! Debatnya ditunda dulu. Mama udah nggak bisa nahan laper!”
Lirikan tajam terlontar ke arah Gezra. Namun, yang mendapatkan lirikan tajam itu hanya menahan tawa dan menjulurkan lidahnya mengejek. “Cie, kena prank.”
“Whatever!”
▪️▪️▪️
Embun menempel di jendela kamar Zevia yang masih tertutup rapat. Meski si penghuni kamar sudah bersiap untuk balas dendam. Zevia telah rapi mengenakan kemeja panjang dan celana jeans dengan sepatu kets putih kesayangannya. Setelah bercermin merapikan rambut, ia tersenyum licik.
“Gue bakal bales semua teriakan-teriakan lo yang bikin kuping gue sakit!”
Langkahnya langsung bergegas keluar kamar dan menuju ke kamar sebelah –kamar Rora. Saat langkahnya tepat berada di depan pintu kamar sang Adik, Zevia menarik napas dalam-dalam dan bersiap meluncurkan bom balas dendam.
Satu.
Dua.
Tiga.
“RORA! BANGUUUN, WOII!!”
“ZEVIAAA! Jangan teriak-teriak! Emangnya ini di hutan?” teriak sang mama dari lantai bawah. “Adik kamu udah bangun dari tadi. Dia bantuin mama masak. Nggak kayak kamu yang bisanya cuma ngebo terus!”
Bukan balas dendam yang berjalan lancar, justru omelan mamanya yang terlontar tanpa henti. “Sial. Gagal, deh.”
“Sini kamu turun! Bantuin mama angkatin makanan ke meja makan.”
Zevia memutar matanya malas dan menjawab, “Iya-iya, Ma.”
Setelah turun ke lantai bawah, ia sudah disuguhi wajah menyebalkan sang Adik. Gadis berusia tujuh belas tahun itu memasang wajah mengejek untuk sang Kakak yang gagal menjalankan misi balas dendam.
“Apa lo liat-liat?” sinis Zevia pada sang Adik yang menertawainya. “Pakai ngetawain gue pula.”
“Ya lo lucu, sih. Kalau mau balas dendam itu bangunnya lebih awal dari gue. Bangun aja kesiangan, gimana mau balas dendam sama gue?” ujar Rora yang semakin menyulut perdebatan.
“Heh, gue udah bangun dari tadi jam empat. Cuma gue mandi dulu,” bantah Zevia tak mau kalah.
Rora berdecih. “Jam empat? Yah, kalau jam empat, sih, gue udah rapi pakai seragam.”
“Alah, palingan lo bangun langsung pakai seragam. Nggak mandi dulu. Ih! Jorok!” Lagi-lagi Zevia tak ingin mengalah.
“Gue bawa sup panas, nih. Berani ngejek gue lagi?” Rora menyodorkan semangkuk sup yang masih mengeluarkan asap karena panasnya.
“E-e-e, malah ngelunjak. Gue aduin papa baru tau rasa!”
Rora terkekeh pelan. “Idih, anak papa ngadu.”
Vicknan yang baru saja muncul dari kamar langsung disangkut-pautkan dengan perdebatan rutin itu. “Kenapa, sih? Tiap pagi pasti kalian debat nggak penting. Mending kita makan abis itu berangkat. Udah jam enam lebih, nih.”
“Iya, kalian ini hobby banget debat nggak jelas,” sahut Grena membawa semangkuk sup lain. “Awas minggir. Mama bawa sup jagung kesukaan Zev.”
Mata Zevia berbinar melihat sup jagung favoritnya. Tanpa mempedulikan perdebatan dengan sang Adik yang masih belum tuntas, Zevia langsung mengambil piring dan melahap makanannya. Beberapa menit berlalu, hanya terdengar suara gesekan piring dan sendok. Hingga akhirnya, Zevia menjadi orang pertama yang menaruh piring di wastafel.
“Zev berangkat dulu ya, Ma, Pa,” pamitnya setelah meneguk segelas air putih.
“Berangkat sama siapa?” tanya Grena.
“Emh –” Belum selesai Zevia menjawab, Grena menyipitkan matanya seolah menyelidiki jawaban Zevia. “Ansel.”
Grena mendesah pelan. “Berkali-kali mama bilang kalau si Ayam Kampus itu nggak baik buat kamu. Masih aja ngeyel. Kalau belum sakit hati ke seratus kali kayaknya kamu belum kapok ya, Zev?”
“Zev, apa nggak lebih baik kalau hubungan kalian diakhiri sekarang? Kamu sama Gezra, ‘kan, udah mau nikah,” timpal Vicknan.
“Come on, Pa, Ma. Bisa nggak, sih? Sehari aja jangan bahas tentang nikah? Zev bakal omongin ke Ansel kalau waktunya udah tepat. Lagipula Zev sama Gezra, ‘kan, juga belum sah. So, nggak masalah kalau Zev masih berangkat atau dianter pulang sama Ansel, dong?” bantah Zevia, “Udah, ah. Itu mobilnya Ansel udah dateng. Zev mau berangkat dulu. Bye, Ma, Pa, Ra.”
Zevia langsung berlari keluar dan segera menemui Ansel sebelum Ansel masuk ke rumah dan diberitahu hal-hal aneh dengan kedua orang tuanya. Akan tetapi ...
“Aaa! Astaga!”
Teriakan Zevia membuat Vicknan, Grena, dan Rora yang masih duduk di ruang makan langsung bergegas melihat ke ruang tamu.
“Loh? Gezra? Mau jemput Zevia?” tanya Grena sedikit terkejut saat melihat sosok yang berdiri di depan pintu bukanlah Ansel melainkan calon menantunya.
“Ah, bukan, Tan. Saya mau –“
Ucapan Gezra terhenti saat mendengar suara mobil terhenti di halaman rumah. Semua mata tertuju ke sosok yang baru saja keluar dari mobil sport warna silver itu –Ansel.
“Pagi, Om, Tante, Rora,” sapa Ansel dengan menampilkan senyuman terindahnya.
“Uwaw, manteb banget lo, Kak. Disamperin dua kstaria sekaligus. Yang satu kece badai, yang satu keren abis. Pasti bingung pilih yang mana,” bisik Rora dengan nada sedikit keras. Membuat Ansel melirik ke arah Zevia yang terdiam mati kutu. Ia hanya menyikut lengan Rora sebagai interupsi agar adiknya itu mengunci mulut.
“Emh, Sel. Kita berangkat sekarang, yuk. Udah telat, nih!” Tanpa mengatakan apapun lagi, Zevia langsung menarik lengan Ansel hingga masuk ke dalam mobil. Meninggalkan orang tua, adik, dan Gezra yang menatap mereka heran.
Di dalam mobil pun sama, Ansel terheran-heran dengan sikap kekasihnya yang sedikit demi sedikit berubah aneh. Matanya tak lepas menatap Zevia yang seolah berusaha untuk bersikap normal.
“Are you okay?” tanya Ansel. “Kenapa pucet gitu? Kamu sakit?”
Zevia menggeleng. “Enggak kok, aku sehat-sehat aja. Udah, yuk. Keburu telat, nih.”
“No, aku mau tanya sesuatu ke kamu.”
Ucapan Ansel membuat jantungnya tiba-tiba bergetar hebat. Mengundang keringat dingin mengucur deras membasahi pelipisnya. “T-tanya apa?”
“Sejak kapan kamu deket lagi sama Gezra?”
▪️▪️▪️