▪️8▪️Ayam Kampus

1317 Words
“Deket?” Ansel mengangguk. Sesekali arah pandangnya bergantian melihat Zevia dan Gezra dari kaca mobil. Gerza yang sudah menghilang dari balik pintu –masuk ke kediaman Romero makin mengundang rasa penasaran dari Ansel. Sejak kapan dan mengapa. Hanya itu awal pertanyaan yang menghantui pikiran Ansel. “Ya, sejak kapan kamu sama Gezra deket lagi? Kenapa dia ada di rumah kamu sepagi ini? Dan kenapa tiap ada orang tua kamu, kamu selalu aja jauhin aku dari mereka?” “Sssst.” Zevia menempelkan telunjuknya ke bibir Ansel. Interupsi agar kekasihnya itu berhenti menanyakan hal-hal aneh yang membuat jantungnya semakin terasa berdetak cepat dan membuat dadanya sesak. “Aku sama Gezra itu nggak sedeket yang kamu pikir. Gezra ada di rumah aku karena alasan apa aku pun nggak tahu. So, lupain semua rasa penasaran kamu yang nggak penting itu dan sekarang kita berangkat. Aku udah telat masuk kelas, Beb. Bisa kena marah lagi ntar.” Ansel mendesah pelan. Ia mengangguk pelan dan mulai menjalankan mobilnya. “Aku nggak suka kamu deket-deket lagi sama Gezra.” Kecemburuan yang tersirat membuat Zevia tersenyum lebar. Jiwa-jiwa jailnya kembali terpanggil. Ia menoel hidung mancung Ansel dan membuat si pemilik hidung mengernyit heran. “Cemburu, ya? Cie ... lucu, deh, kalau lagi cemburu gini.” “Aku serius, Zev. Aku nggak mau lihat kamu deket-deket lagi sama Gezra. Aku nggak peduli dia mau anak dari sahabat mama kamu atau apalah itu, aku nggak peduli. Pokoknya jangan deket-deket lagi sama Gezra, oke?” Zevia mengangguk pasti. “Iya-iya, Ansel-ku.” ▪️▪️▪️ Ansel Gliseo, rival berat seorang Adelardo Gezra. Mereka berdua adalah Most Wanted di universitas dan sempat viral karena perdebatan seru mereka saat menjadi kandidat ketua BEM. Meski pada akhirnya, mereka melepas label kandidat Ketua BEM dikarenakan ada beberapa konflik yang membuat mereka mundur. Ayam kampus adalah julukan Ansel yang datang entah darimana. Dengan wajah yang nyaris perfect, setiap mata yang melihat pasti akan terpana. Sikap hangat, loyal, dan kharisma yang terpancar membuat pesonanya semakin tersebar luas. Mungkin karena para betina di kampus selalu mencari perhatian dari Ansel dan selalu direspon baik olehnya, muncullah julukan Ayam Kampus yang hingga saat ini melekat erat di belakang namanya. Ansel si Ayam Kampus. Meski di mata Zevia, Ansel bukanlah Ayam Kampus seperti yang dipikirkan orang lain. Bukanlah sosok yang suka tebar pesona dan menggoda para betina. Bagi Zevia, Ansel adalah sosok hangat yang mampu menenangkan setiap resah yang hinggap di hatinya dan tentu saja menjadi sosok yang setia. Tak terasa, mobil sport warna silver itu terhenti di tempat parkir kampus. Ansel keluar terlebih dulu hanya untuk membukakan pintu untuk sang kekasih. Jelas hal itu menuai rasa cemburu dari setiap pasang mata yang melihat. Siapa yang tak kenal dengan pasangan populer pada masanya ini. Ansel Gliseo dan Zevia Claretta. Pasangan sejoli yang selalu mengumbar keserasian dan keimutan hubungan keduanya. Bahkan keempat sahabat Zevia pun selalu melontarkan keresahan atas kejombloan yang mereka anut setiap kali melihat kemesraaan hubungan Zevia-Ansel. “Wah, wah, wah, pagi-pagi udah nempel aja kayak sendal sama jepitnya. Nggak bosen bikin kita berempat iri?” sapa Emma pada Zevia dan Ansel yang baru saja sampai di depan kelas. “Beruntung kelasnya Pak Genta diliburkan mendadak. Kalau nggak mendadak libur, bisa kena hukuman lagi karena lo telat, Cla,” sambar Eliz yang berdiri di sebelah Emma. Zevia hanya terkekeh pelan. “Sorry, tadi ada kendala dikit. Jadi telat, deh.” “Beb, aku ke kelas dulu, ya. Ntar pulangnya kuanterin,” sela Ansel. “Girls, jagain pacar gue, ya. Jangan sampai ada cowok yang berani sentuh dia kecuali gue.” “Bisa diatur. Asal ada jaminan,” jawab Eliz dengan senyuman jailnya. Tanpa menanggapi ucapan Eliz, Ansel berlalu begitu saja. Ia tampak berjalan terburu menuju kelasnya yang ada di gedung sebelah. “By the way, kenapa kalian nggak masuk ke kelas?” tanya Zevia penasaran karena keempat sahabatnya itu hanya berdiri di depan kelas. “Sangat nggak mungkin kalau kalian menunggu kehadiran gue.” Keempat sahabatnya itu hanya menatapnya curiga. “Well, kita berempat curiga sama lo. Sekarang lo jarang ngampus. Kasih kami alasan, kemarin lo ke mana?” tanya Valen dengan mata menyipit. “Hehe, biasalah. Mama minta temenin shopping,” jawabnya berbohong. Valen melirik ke arah Eliz dan Eliz melirik ke arah Emma dan Vranda. Kemudian tatapan Eliz kembali tertuju pada Zevia. “Fix, gue mencium aroma kebohongan di sini.” Zevia tertawa sekilas. Lalu memasang wajah datar secara mendadak. “Nggak percaya, ya, udah.” “Jangan-jangan lo beneran nikah, ya, Zev?” timpal Vranda dengan polosnya. Ia menyambar tangan Zevia dan melihat ke jari-jarinya. “Nggak ada cincinnya. Pasti lo lepas terus lo umpetin, ‘kan?” “Sst, udah, deh. Jangan ngaco. Gue mau masuk kelas dulu. Ntar kalau tiba-tiba Pak Genta masuk,” elak Zevia. ia berusaha menerobos keempat sahabatnya dan masuk ke dalam kelas. Valen terkekeh pelan. “Kita, ‘kan, sekelas. So, kita bisa interogasi lo lebih dalam lagi.” Ia menggiring Zevia yang sudah pasrah hingga ke dalam kelas. Selama kelas kedua dimulai hingga berakhir, keempat sahabatnya itu tak berhenti menanyakan hal yang sama. Mereka terus menggoda dan selalu menjebaknya agar ia mengatakan yang sebenarnya. Namun, tekadnya untuk menyembunyikan rahasia itu lebih kokoh dari godaan keempat sahabat lucknut yang menyebalkan. Baru saja mereka keluar dari kelas, seorang cowok dengan tampannya tersenyum sambil melambaikan tangan ke arah mereka berlima. Lebih tepatnya ke arah Zevia. Lambaian tangan itu dibalas oleh kelima gadis yang berada di sana. “Heh! Ansel itu melambaikan tangan buat gue doang. Bukan buat kalian juga,” omel Zevia pada keempat sahabatnya yang tak mempedulikan apapun yang ia katakan. “Dasar sahabat nggak tau diri. Awas aja kalau berani nikung.” Valen, Eliz, Emma, dan Vranda terkekeh melihat kesalnya Zevia yang termakan oleh godaan mereka. “Ya, elo, sih. Punya pacar cakepnya nggak ketulungan. Jiwa penikung gue, ‘kan, jadi meronta-ronta,” goda Vranda sambil menyenggol bahu Zevia. “Duh, kayaknya kalau bagi tipis-tipis boleh lah, ya? Mubazir kalau gantengnya cuma buat lo doang, Cla.” Eliz semakin menambah kemuraman di wajah Zevia. “Bodo amat, Girls. Gue mau balik duluan. Bye!” "Bye, Zeviaaa! Anselnya digandeng, ya. Jangan sampai kena tikung!" teriak Emma dan tawaan dari kawan-kawannya. ▪️▪️▪️ Dalam perjalanan pulang, Ansel terus menggenggam erat tangan kanan Zevia. Sesekali mengelus dan menempelkan tangan itu ke pipinya. Sikap Ansel yang mendadak super romantis membuat hati Zevia semakin sakit. Teringat bahwa sebentar lagi, Ansel akan terlukai oleh kenyataan yang akan ia sampaikan. Hatinya bahkan semakin tak kuat bila harus membayangkan hal itu terjadi. “Sel.” “Hm?” “Kamu ... sayang banget sama aku ya?” Pertanyaan itu membuat Ansel terkekeh sekilas. “Kok malah ketawa, sih?” “Pertanyaanmu itu adalah pertanyaan yang jawabannya kamu udah tau sendiri, Zev. Kenapa masih tanya?” Zevia terdiam sejenak. Ia menarik tangannya yang tergenggam oleh Ansel. “Kamu selalu jawab gitu tiap aku tanya tentang perasaan kamu. Kita udah dua tahun pacaran, aku takut kalau perasaanmu berubah.” “Tenang aja. All is well.” Ansel menatapnya dan menaikkan alisnya sekilas. Kemudian ia kembali fokus menyetir dan melanjutkan ucapannya, “Kalau kita berjodoh, perasaanku ke kamu dan perasaanmu ke aku nggak akan pernah berubah. Apapun yang terjadi.” Kali ini Zevia tak ingin merespon apapun dan membuat suasana membeku seketika. Hingga akhirnya mereka sampai di kediaman Romero dan Ansel meninggalkan halaman rumah itu. Zevia mendesah pelan melihat mobil Ansel yang menghilang di balik fatamorgana. “Zev,” tahan sang Mama saat dirinya baru saja ingin menaiki tangga. “Kenapa, Ma?” “Kapan kamu putusin si Ayam Kampus?” Pertanyaan Grena membuat langkah Zevia kembali berlanjut. Si gadis berkacamata itu menaiki anak tangga satu persatu tanpa berniat menjawab pertanyaan sang Mama. “Zevia.” Langkahnya terhenti. Ia menatap sang Mama yang menatapnya dari bawah tangga. “Please, Ma. Zev capek banget hari ini. Jangan bahas itu dulu, okay? Zev cukup tersiksa sama semua kenyataan ini. Dan Zev mohon ... untuk hari ini aja, mama jangan nambahin beban pikiran Zevia.” “Mama cuma nggak mau kamu tersakiti lagi karena Ansel!” “Cukup, Ma! Berhenti jelek-jelekin Ansel. Ansel nggak seburuk yang mama pikir,” bantahnya. “Udahlah, Zev capek. Mau ke kamar.” BRAK! Grena menghela napas panjang mendengar gebrakan pintu yang hampir memutuskan engselnya. Ia memijat keningnya pelan dan berharap bahwa anak sulungnya itu segera sadar akan kenyataan pahit yang sebenarnya. ▪️▪️▪️
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD