Mereka terdiam. Menatap langit malam yang bertabur bintang. Bulan menampakkan diri dan seolah tersenyum pada mereka yang tengah menghabiskan malam bersama. Di saat salah satu dari mereka sibuk menyatukan beberapa bintang menjadi satu dan berceloteh ria dengan girangnya, salah satu sosok lain –Gezra dengan jaket denim favoritnya sedang asyik memandangi sosok yang duduk di sampingnya.
“Kurang kerjaan, ya?”Akhirnya Gezra membuka mulut setelah gemas dengan kelakuan gadis yang memakai hoodie putih kelabu bergambar panda. “Nggak laper? Kita makan, yuk.”
“Bentar, bintangnya masih belum selesai kuhitung.” Kyra –Sosok yang tengah sibuk menghitung sekaligus menyatukan bintang itu tak sekalipun menoleh pada Gezra.
“Kamu udah nggak marah, ‘kan?” tanya Gezra mengulang pertanyaan yang sama. “Maafin aku akhir-akhir ini jarang ada buat kamu.”
Kyra pun menatap Gezra yang mengalihkan pandangannya ke langit. Menghembuskan napas pelan seperti tengah menyesali sesuatu. Namun, sikap Gezra mengukir senyuman di bibir Kyra. Gadis itu menggeser duduknya lebih dekat dengan sang kekasih. Kemudian menyenderkan kepalanya ke pundak Gezra.
“Aku nggak marah, kok. Yang penting sekarang kita udah ketemu. Jadi, rinduku terjawab, deh.” Kyra melingkarkan tangannya ke lengan sosok berjaket denim itu. “By the way, kamu ke mana dua hari kemarin? Kayaknya sibuk banget. Terus di kampus juga nggak ada.”
Pertanyaan itu membuat Gezra menelan ludahnya berat. Ia terdiam sejenak untuk memikirkan jawaban apa yang akan dia beri untuk Kyra. Pikirannya berputar. Jika kejujuran akan membuahkan rasa sakit. Tak ada jalan lain untuk mencegah kepahitan itu datang. Hingga pada akhirnya, kebohongan adalah jalan yang terbaik.
“Aku nemenin mama semaleman. Terus aku tiba-tiba demam. Jadi, aku tiduran di rumah, deh,” bohongnya. Setelah kalimat itu terlontar, dalam hati ia memaki dirinya sendiri.
Kyra hanya membulatkan mulutnya dan ber’oh’ria. Ia tak menunjukkan rasa curiga atau bahkan tak percaya pada Gezra. Karena sejatinya, Kyra sangat mempercayai sang kekasih. Ya, gadis keturunan Indonesia-Ausie itu adalah gadis yang terkenal sangat mencintai Gezra. Sejak awal masuk kuliah, hanya Gezra yang ada di matanya. Meski dirinya memiliki puluhan penggemar rahasia yang siap mengejar cintanya.
“Ya udah, kita makan, yuk! Aku laper.” Gadis itu berdiri dari duduknya. Meregangkan tubuhnya sejenak lalu berjalan mendahului Gezra. Sedangkan, Gezra masih duduk menatap punggung Kyra yang semakin menjauh.
“Maaf, Ra. Semoga kebohongan ini nggak berlangsung lama.”
▪️▪️▪️
Di lain sisi, saat Gezra memulai sebuah kebohongan, Zevia sudah menapaki jalan itu. Sedikit demi sedikit, lama-lama menjadi bukit. Kebohongan-kebohongan kecil yang Zevia lontarkan pada para sahabat dan sang kekasih, sudah makin melebar. Kini Zevia benar-benar harus berhati-hati dalam menjalani kehidupannya yang penuh dusta. Untuk apa? Untuk menjaga hati seorang Ansel.
Entah sampai kapan semua kebohongan itu akan terjaga. Bagi Zevia, tak bisa berpikir seandainya Ansel mengetahui tentang pernikahannya dengan Gezra yang akan segera dilakukan. Apalagi sampai Ansel tau jika selama ini Zevia menyuapinya dengan benih kebohongan.
Matanya tertuju ke sebuah mini dress yang tampak mempesona. Mungkin gaun itu akan menjadi saksi bisu pernikahan tak diinginkan yang akan terjadi sebentar lagi. ingin hati ia merobek gaun itu hingga menjadi seratus helai. Akan tetapi, tak bisa dipungkiri bahwa dirinya juga sangat menyukai gaun itu.
“Kambing! Kenapa juga gue suka banget sama gaun itu? Gaunnya cantik banget! Tapi kenapa harus dipakai di acara yang gue benci?!” Zevia menutup wajahnya dengan bantal. Sehingga semua teriakannya tertahan oleh busa-busa bantal.
Drrtt
Getaran ponsel membuat Zevia langsung melepas bekapan bantalnya. Ia melirik ke arah ponsel yang layarnya menyala. Memunculkan sebuah nama yang menjadi new notif. Ia pun langsung menyambar ponsel itu dan membaca isi dari pesan yang baru saja masuk. Senyumnya mengembang meski tak sempurna. Setidaknya di sela keresahan hidupnya, ada empat sahabat yang selalu mewarnai kusamnya hidup.
*Valen : Kita jalan, kuy. Gue bete di rumah!*
*Emma : Jalan? Ogah ah. Capek.*
*Eliz : Emma nggak ikut juga bodoamat dah!*
*Emma : Sialan emang.*
*Vranda : Zevia ikut?.*
*Emma : Zevia ikut, gue juga ikut.*
*Valen : Wajib ikut. Dia udah bolos nongki sama kita dua kali.*
Zevia terkekeh membaca chat grup yang semakin ramai. Keempat sahabatnya itu memang paling hobby menjahilinya. Apalagi akhir-akhir ini tebakan-tebakan mereka hampir benar dan hampir menguak semua fakta. Meski Zevia tetap lebih pandai menyembunyikan kebenaran.
*Zevia : Cus! Gue udah rapi. Jemput ya, Girls.*
▪️▪️▪️
“Kita makan di mana, nih?” tanya Valen sebagai sopir. Mereka terus memutari alun-alun tanpa tahu ingin berhenti di mana.
Zevia menunjuk sebuah kafe yang tak jauh dari mereka berada. “Ke sana aja. Kayaknya ada wifi gratis, tuh.”
“Aelah, yang lo pikirin cuma gratisan wifi mulu, Cla!” sambar Eliz yang duduk di bangku belakang. “Tapi gue setuju, sih. Kuota lagi tipis setipis dompet gue.”
Ucapan Eliz menuai protes keempat gadis yang ada di dalam satu mobil itu. Mereka pun langsung menuju ke kafe yang dimaksud dan mulai memanjakan diri dengan waktu. Sudah dua hari pikiran Zevia dibaluti keresahan dan sekarang mulai rileks dengan candaan garing para sahabatnya.
Kafe dengan nuansa remaja kekinian ini dipenuhi dengan beberapa pasangan sejoli yang tengah asyik memadu kasih. Saling bergurau dan tampak saling bergai cerita. Tawa-tiwi mereka mengundang rasa rindu Zevia pada sang kekasih. Tak hanya rasa rindu, rasa sendu dan gelisah juga kembali menghantui.
Akan tetapi, matanya menangkap sepasang sejoli yang baru saja memasuki kafe. Seorang gadis dengan rambut hitam legam sepunggung dan memakai hoodie putih bergambar panda. Di belakangnya ada seorang lelaki berjaket denim yang berjalan sambil memasukkan kedua tangannya ke saku jaket.
“Uhuk!” Zevia langsung tersedak saat mengenali wajah kedua orang itu. Tanpa menghiraukan kekhawatiran keempat sahabatnya, Zevia langsung pergi ke toilet meninggalkan meja dimana mereka asyik melahap makanan ringan.
Saat di toilet, Zevia mencuci wajahnya dan bercermin. “Sial, kenapa gue lari? Kayak liat siapa aja, deh. Harusnya gue tenang aja. Bisa jadi mereka malah curiga kalau liat gue lari pas ngeliat ada Gezra. Haduh!” Zevia memijat batang hidungnya gelisah.
“Hai, Zevia?”
DEG
Suara itu membuat Zevia langsung membalikkan badan. Melihat sosok yang sudah berdiri tepat di belakangnya. Jantungnya bergetar hebat melihat senyuman itu. Zevia terbengong hingga lupa membalas sapaan si gadis –Kyra.
“Kyra? H-hai! Lo sama Gezra?” Pertanyaan itu langsung meluncur tanpa disaring. “Kenapa gue tiba-tiba nanyain Gezra. Pasti dia sama Gezra, lah! Dasar Zevia b**o!” cacinya dalam hati untuk dirinya sendiri.
“Iya, Zev. Kenapa? Mau ketemu sama dia, ya?”
“A-ah! Enggaklah! Ngapain?” jawab Zevia kikuk. Ia menggaruk tengkuknya yang tak gatal itu dan berusaha bersikap normal. Ya, sudah pasti Kyra berpikir bahwa sikapnya kali ini di luar batas normal. “Emh, gue duluan ya, Ra.” Baru saja Zevia ingin keluar dari toilet, tiba-tiba Kyra menahan lengannya.
“Wait, Zev. Aku mau tanya sesuatu ke kamu.”
Zevia mengangguk kecil. “Apa?”
“Kamu masih berhubungan sama Ansel?”
Anggukan menjadi jawaban dari Zevia. Ia tak melontarkan sepatah kata pun hingga Kyra melepas genggamannya di lengan Zevia.
“Oke. Aku cuma mau nanya itu doang, kok.” Senyuman Kyra mengembang kembali. Meski ada sebuah keanehan di senyuman itu. Namun, Zevia tak ingin banyak berpikir. Berpikir membuatnya semakin lelah. Ia pun keluar dari toilet dan meninggalkan Kyra dengan jawaban atas pertanyaan aneh tadi.
“Emangnya kenapa kalau gue masih sama Ansel?”
▪️▪️▪️