Besok adalah hari yang paling bersejarah untuk Zevia. Mencetak sebuah kenangan terburuk dalam hidupnya –mungkin. Sebab, besok adalah hari pernikahannya dengan sosok yang tak ia inginkan. Sosok yang hatinya telah dimiliki orang lain. Adelardo Gezra.
Bukan hanya Gezra yang hatinya masih teraput dengan hati lain, hatinya sendiri pun sama. Masih terpaut dengan sosok yang sekarang menggandengnya erat menuju kelas. Ansel Gliseo.
Zevia lega, setidaknya sosok yang sekarang berjalan beriringan dengannya sudah melupakan kejadian semalam. Kejadian menyebalkan di mana semua tentang Gezra berhasil merusak mood Ansel hingga hancur berkeping-keping. Menggagalkan acara dating yang seharusnya sangat berkesan untuknya.
“Cla!”
“Zev!”
Teriakan-teriakan itu sudah hampir terdengar jelas di telinga Zevia. Mengusik kemesraan yang tengah terjalin antara dirinya dan Ansel. Melihat kedua sahabatnya –Eliz dan Valen melambaikan tangan ke arahnya, Ansel langsung melepas genggaman tangan mereka.
Sosok itu menahan bahu Zevia dan membuat posisi mereka menjadi bertatapan. Zevia yang ukuran tubuhnya lebih pendek dua puluh centi dari Ansel membuat si Jangkung itu sedikit membungkuk. “Semangat kuliahnya, ya, Sayang. Nanti pulang kuliah, kita lunch. Sebagai ganti dinner semalam yang udah gagal total. Oke?”
Zevia tersenyum lebar. Ia langsung mengangguk semangat dan mencubit pipi Ansel dengan manja. “Siap, Beb. Aku tunggu setelah kuliah selesai, ya.”
Ansel tersenyum. ia mengacak lembut pucuk kepala Zevia kemudian melanjutkan langkahnya meninggalkan Zevia dengan kedua orang yang menatap mereka risih.
“Pagi-pagi udah lovely dovey di depan kita. Astaga. Kalian ini nggak tau tempat banget, sih!” nyinyir Eliz sembari merangkul bahu Zevia. “Gue denger, kalian mau makan siang bareng, ya? Kita nggak bisa nongki sama lo lagi, dong?”
Ucapan Eliz diangguki oleh Valen yang melipat tangannya di d**a. “Makin hari lo makin sibuk, Zev. Sampai nongki sama kita-kita aja susahnya minta ampun,” keluh Valen.
“Girls, emangnya nggak bosen nongki sama gue mulu? Kalian berempat aja, ‘kan, udah rame?”
Eliz dan Valen menggeleng bersamaan. “Nongkrong tanpa lo, berasa minum kopi tanpa kopi. Hambar.”
“Perumpamaan lo nggak sinkron, Liz. Harusnya sayur tanpa garam. Hambar!” bantah Zevia sedikit terkekeh.
“Suka-suka gue, dong.”
“Pagi, Girls!” Kehadiran Emma mengalihkan perhatian ketiga gadis yang asyik bercakap di depan kelas. “Seru banget kayaknya, ngomongin siapa, nih?”
“Kepo!” jawab Eliz dengan wajah menyebalkannya.
“Tumben sendirian? Vranda mana?” tanya Zevia yang celingukan mencari sosok lain yang selalu nempel dengan Emma. “Nggak berangkat?”
Emma mengedikkan bahunya. “Kayaknya berangkat, sih. Mungkin telat. Dia nggak bilang apa-apa ke gue soalnya.”
“Ya udah, kita tunggu di dalam aja. Sekalian cariin bangku buat Vranda.”
▪️▪️▪️
Zevia gelisah. Hanya mencoret-coret buku catatannya dengan gambar-gambar tak jelas. Satu hal yang jelas ia pikirkan. Gezra. Entah kenapa sosok itu selalu hadir dalam pikirannya akhir-akhir ini. mungkin karena pernikahan mereka yang akan terlaksana sebentar lagi.
Melepas status lajang dengan orang yang tak ia cintai, membuat masa depannya seolah menjadi suram. Ia tak tahu apa yang akan terjadi di kemudian hari jika pernikahan yang sakral itu mengikat dua orang dengan hati yang berlawanan. Hati sang pengantin lelaki untuk gadis lain. Hati sang pengantin perempuan juga untuk orang lain.
“Sebentar lagi, ya?” gumamnya melirik jemari yang masih bersih tanpa cincin dan sebentar lagi akan memakai sebuah cincin.
“Sebentar lagi?” sahut Emma lirih. Hampir berbisik di telinga Zevia.
Hal itu membuat Zevia yang tengah memangku kepalanya langsung melirik Emma gugup. “Hm?” dehamnya seolah tak mendengar apa yang dikatakan Emma. Padahal ia sangat jelas mendengarnya.
“Sebentar lagi lo mau ngapain? Jari lo kenapa?” lirih Emma lagi. Jelas membuat Zevia makin kalang kabut.
Kemudian terlintas satu ide di tengah kepanikan. Ia mendekatkan diri ke Emma dan berbisik di telinganya, “Sebentar lagi tangan gue melayang ke pipi lo kalau lo kepo.”
Emma langsung menahan tawa. Mengundang perhatian beberapa mahasiswa yang tengah fokus mendengarkan mata kuliah yang membosankan. Sedangkan Emma yang mendapat perhatian itu langsung tersenyum memamerkan rentetan giginya.
Ia mendekatkan wajahnya ke sisi wajah Zevia. “Sadis amat, Neng.”
▪️▪️▪️
Setelah jam kuliahnya berakhir, Zevia sudah disambut dengan sosok Ansel yang tengah berdiri sambil menyenderkan punggungnya di tembok. Kedua tangannya masih ke dalam saku celana dan tasnya hanya diselempangkan di sebelah bahu.
Ketiga sahabatnya langsung berlomba untuk menggoda. Mereka terlalu berisik hingga akhirnya Zevia menarik lengan Ansel untuk segera menjauh. Setelah dirasa sudah menjauh dari ketiga sahabatnya yang super rewel, Zevia menghela napas lega.
“Kok tadi cuma berempat? Vranda ke mana?” tanya Ansel yang menyadari bahwa personil Geng Gadis Angkuh kurang satu.
Zevia menggeleng pelan. “Nggak tau. Nggak berangkat dan nggak ada kabar. Mungkin ketiduran.”
Ansel hanya membulatkan mulutnya setelah mendengar jawaban Zevia. Ia meraih tangan Zevia dan menggenggamnya saat mulai menyeberang jalan. Kemudian membukakan pintu mobil untuk sang Kekasih dan mulai melesatkan mobilnya ke cafe yang sudah ia booking untuk lunch mereka berdua.
Gloomy Cafe, tempat tujuan Ansel yang sudah ada di depan mata. Mereka turun dari mobil dan langsung masuk ke dalam kafe. Selain perut yang sudah meronta kelaparan, Zevia juga sudah tak sabar menikmati hari berdua dengan Ansel.
“Beb, aku ke toilet bentar, ya.” Ansel berlalu begitu saja dan meninggalkan Zevia yang mengantri di tempat pemesanan.
Zevia hanya mengangguki dan langsung maju satu langkah setelah antrian paling depan mendapatkan pesanan mereka. Ia mengeluarkan ponsel sembari menunggu satu pemesan lagi mendapatkan pesanan. Beberapa saat kemudian, antrian ketiga yaitu dirinya dipanggil untuk segera memesan.
Duk!
Kepalanya menyundul punggung seseorang yang menyerobot antriannya. Tak terima karena sosok itu melanggar tata tertib untuk antri, Zevia memasukkan ponselnya dan langsung mempersiapkan ancang-ancang untuk menegur.
“Heh! Bisa baca tulisan antrian, nggak, sih?!” kesalnya sembari menarik bahu sosok itu hingga mereka bertatapan. “What! Elo?!”
“Iya, gue. Kenapa? Nggak terima?”
Gezra –sosok yang menyerobot antriannya itu hanya memasang wajah tak berdosa. Ia kembali melanjutkan pesanannya tanpa mempedulikan kekesalan Zevia yang sudah memuncak.
“Gez, lo bisa baca, kan? Tulisannya ‘harap antri’ dan kenapa lo masih aja nyerobot antrian gue?!” kesal Zevia sembari terus melayangkan cubitan ke lengan Gezra. Menuai pekikan kecil dari sang pemilik lengan.
“Sakit, Woi. Lo kira kulit gue itu kulit badak?!”
Zevia memutar bola matanya malas. “Bukan cuma kulit lo yang kulit badak. Muka lo juga sama kayak badak!”
“Ehem, Mas, Mbak, tolong jangan membawa masalah hubungan ke sini, ya. Antrian lain masih menunggu.” Seorang pelayan yang bertugas di meja pemesanan menegur mereka dengan kalimat yang agak membingungkan.
Hubungan?
Zevia mendesah pelan. “Hubungan? Mbak, saya ini –”
“Maaf, Mbak. Dia emang orangnya bawel, berisik, dan nggak kenal tempat kalau mau marah-marah. Maaf ya,” sahut Gezra dengan tenang. Membuat Zevia makin menjadi-jadi.
“Sembarangan aja lo ngomong. Lo kira gue nggak punya attitude gitu? Yang melanggar aturan ‘harap tertib’ itulah yang nggak punya attitude.”
“Aduh, Mas, Mbak, jangan bawa masalah hubungan ke sini, dong! Kita laper, nih!” sahut pelanggan lain yang berada di belakang antrian mereka. Satu sahutan itu membuat cemooh lain berdatangan dari pelanggan yang lainnya. Membuat Zevia semakin kesal dan melirik Gezra dengan tajam. Sosok itu hanya memasang wajah santai dan seolah tak menganggap ada cemooh yang menghujaninya.
“Ada apa, nih?” sahut seseorang yang baru datang dan langsung menggandeng Zevia. Menyembunyikan gadis itu di belakang tubuhnya.
“Ini, loh, Mas. Mas sama Mbaknya ini bawa-bawa masalah hubungan mereka sampai membuat antrian makin panjang,” jawab pelayan yang sedari tadi berusaha melerai pertengkaran Zevia dan Gezra.
“Hubungan?” Ansel tersenyum kecut. Akan tetapi, senyuman itu luntur seketika dan raut wajahnya berubah muram. “Gadis ini adalah pacar saya. Bukan pacar dia!” ucapnya penuh penekanan sekaligus melempar tatapan sinis ke arah Gezra.
“Hah? Padahal Mbak sama Mas ini adalah pasangan perfect. Ternyata Mbak ini bukan pacarnya Mas ini, ya? Duh, maaf.” Pelayan itu terus menunjuk ke arah Zevia dan Gezra dan pernyataannya diangguki oleh beberapa pelanggan lain ketika si Pelayan menyebut Gezra dan Zevia adalah pasangan perfect.
Ansel mendengus kesal. “Zev, kita pulang sekarang."
“Tapi, kita, ‘kan, mau lunch?”
“Aku nggak mood makan lagi.”
Zevia terdiam. Sebenarnya ia tak rela jika lunch-nya kembali gagal.
“Kamu mau ikut aku pulang atau kamu mau terus-terusan di sini sama dia?!” Ucapan Ansel mulai sedikit meninggi. Bola mata Ansel yang masih menatap tajam ke arah Gezra hanya dibalas tatapan malas dari sosok itu.
“Iya-iya, kita pulang.” Tanpa mengatakan apapun lagi, Ansel langsung menarik tangan Zevia dan pergi dari tempat kejadian perkara.
Dan lagi, lunch mereka gagal karena ... Gezra.
▪️▪️▪️