Tiba-tiba Ansel menginjak rem. Membuat Zevia terkejut dengan hal itu. Mereka memang berada di lampu merah sekarang. Namun, tak biasanya Ansel megendarai sambil melamun hingga menginjak rem secara mendadak.
“Ansel? Kamu ngelamunin apa, sih? Aku hampir jantungan!” kesal Zevia tak tertahankan lagi. “Kalau kamu marah sama aku, bilang aja!”
Beberapa detik Ansel terdiam. Ia fokus melihat detik mundur di lampu merah yang akan menuju hijau. Dalam sepuluh detik terakhir, Ansel melempar tatapan ke arah Zevia.
“Mama kamu, cerita tentang kamu dan Gezra.”
Mata Zevia membulat total. “A-apa?”
“Tentang kamu dan Gezra.”
Zevia berusaha menutupi kegugupan yang sebenarnya sudah terlihat dengan jelas. “Ma-Mama cerita apa?”
Belum sampai Ansel menjawab, suara klakson yang berisik membuat Ansel langsung menginjak gas. Mobilnya melesat cepat hingga sampai di halaman rumah Zevia. Pertanyaan yang sempat terlontar dari Zevia, terlupakan untuk sesaat. Zevia yang takut akan jawaban Ansel, sedangkan Ansel yang malas membahas dan menjawab itu.
“Aku langsung pulang. Kamu langsung tidur dan titip salam buat Mama.”
Zevia mengulum bibirnya sendiri. Ia hanya mengangguki perintah Ansel tanpa berkomentar apapun. Sebab ia tak mau jika salah bicara dan membuat mood Ansel makin buruk.
“Makasih buat malam ini. Hati-hati di jalan, ya.”
Setelah Zevia keluar dari mobil, mobil sport warna silver itu langsung melesat meninggalkan halaman rumah Zevia. “Mama! Kenapa, sih, pengen banget ngerusak hubungan gue sama Ansel?”
Langkahnya terburu masuk ke rumah. Ia langsung disambut dengan sosok yang memang akan ia cari. Grena.
“Mama! Mama bilang apa ke Ansel sampai dia kesel gini ke Zev?” kesalnya. Ia tak sanggup lagi menahan kesal dan rasa penasarannya. “Ma, tolong jangan ikut campur sama hubungan Zev dan Ansel. Zev menerima pernikahan yang nggak Zev inginkan ini dengan syarat yang udah mama sama Tante Fraya setujui, ‘kan? Kenapa mama melanggar janji, sih?”
“Woi, Kak. Santai, dong. Dateng-dateng bukannya salam malah ngomelin mama. Kualat baru tau rasa lo!” sambar sang Adik yang baru saja menuruni anak tangga.
Zevia tak mempedulikan itu. Ia hanya fokus dengan sang Mama yang tampak santai dengan semua omelan anak sulungnya itu.
“Duduk dulu. Tenang dulu. Emangnya Ansel bilang apa ke kamu?” tanya Grena.
Helaan napas panjang terdengar dari mulut Zevia. Gadis itu berusaha untuk menetralkan rasa kecewanya agar tak ia lampiaskan pada siapapun. Ia pun duduk di sofa dan menangkup wajahnya.
“Kak? Kenapa? Tumben dinner-nya cepet banget. Biasanya jam sepuluh baru sampai rumah.”
“Gue nggak jadi dinner,” jawab Zevia dengan sedikit kesal yang tertahan. “Semua gara-gara Gezra dan yang diomongin mama ke Ansel. Sebenernya mama bilang apa ke Ansel sampai dia mendadak badmood gini?”
Grena mengerut heran hingga kedua alisnya hampir menyatu. Ia menggeleng pelan dan mengatakan, “Mama nggak bilang apa-apa, tuh.”
Lagi-lagi Zevia mendesah pelan. “Ma, jangan bohongin Zev. Mama bilang apa ke Ansel tentang Zevia dan Gezra?”
“Oh! Mama cuma bilang kalau kamu sama Gezra dulu temenan baik. Gezra sering main ke rumah sebelum akhirnya kalian terpisah karena waktu. Terus, mama juga cerita kalau sekarang Gezra sama Zevia mulai deket lagi kayak dulu.”
BLAM!
Rasanya ada yang terbanting. Tapi bukan pintu. Bukan piring atau gelas juga. Melainkan hati Zevia. Seolah Zevia dilempar ke palung lautan yang terdalam mendengar semua ucapan mamanya. Ia tak tau lagi harus merespon apa. Sudah pasti Ansel akan marah mendengar cerita itu. Apalagi posisi Gezra adalah rival terberat seorang Ansel. Huh!
Zevia memijat keningnya dan bangkit dari sofa. Ia tak mengatakan apapun lagi. Semua sudah terjawab mengapa Ansel begitu marah malam ini. Pertama, karena cerita mamanya. Kedua, karena bertemu Gezra dan satu meja dengan Gezra. Ketiga, ucapan Gezra yang sudah pasti terdengar membelanya meski tak terlalu kentara. Well, all about Gezra adalah moodbreaker bagi Ansel.
▪️▪️▪️
Denting jam terdengar jelas. Malam sudah larut namun matanya masih tak ingin terpejam. Ia duduk memeluk lutut dan memakai selimut untuk menutupinya hingga ke ujung kepala. Sedari tadi, sorot matanya tertuju pada sebuah gaun mini yang akan menjadi gaun pernikahannya. Pikirannya berkecamuk dan ingin hati melepas tangis yang ia tahan. Akan tetapi, ia tak mau matanya terlihat sembab di pagi hari. Sebab esok, ia akan berangkat kuliah dan jika matanya sembab, pasti akan menuai pertanyaan lagi dari keempat sahabatnya.
Karena merasa bosan, akhirnya Zevia menyambar ponsel dan membuka i********:. Jarinya men-scrool timeline hingga terhenti saat sebuah feed terbaru Kyra melintas. Feed itu memperlihatkan sepasang sepatu coulple. Sudah dipastikan bahwa sepatu itu adalah milik Kyra dan Gezra.
Rasa kesalnya makin meluap. “Gimana gue bisa nikah sama orang yang hatinya aja nggak buat gue? Lagipula, gimana gue bisa ngehapus perasaan gue dari orang yang pertama kali bikin gue jatuh cinta?” Ia mengacak rambutnya frustasi. Menghempaskan selimutnya ke asal tempat dan bangkit dari ranjang. Ia menyalakan lampu yang sempat dimatikan kemudian mengambil minidress warna putih bersih itu. Tangisnya ambyar seketika. Ia tak sanggup lagi membayangkan menjadi istri dari sosok yang bahkan tak melihatnya sebagai wanita.
“Tunggu.” Tangisnya tertahan kembali. “Apa gue kabur aja, ya?” gumamnya. “Gue bilang ke Ansel buat nyulik gue kemanapun dia mau. Biar gue bisa menjauh dari pernikahan ini. Terus, gue nikah sama Ansel, deh.”
Mungkin pikiran itu sempat terlintas begitu saja. Namun, resiko dari apa yang ia pikirkan juga menjadi ekor yang tiba-tiba saja datang. “Kalau gue kabur, mama sama papa bisa-bisa ngebantai gue tanpa ampun. Bagaimanapun juga, buat nikah sama Ansel, gue butuh papa buat jadi wali. Uh! Tuhan, kenapa semua ini harus terjadi? Berasa gue titisan Siti Nurbaya. Mending gue jasi Roro Jonggrang, deh. Dikutuk jadi batu nggak masalah asal nggak nikah sama si Kutu Kupret.”
Zevia kembali menaruh gaun itu ke tempat semula. Langkah gontainya tertuju ke ranjang. Namun, rasa haus yang merebak di kerongkongan membuatnya mau tak mau harus keluar kamar untuk mengambil minum.
Ia menuruni anak tangga setapak demi setapak. Tanpa sadar, ternyata ada sang Papa yang duduk manis di meja makan sambil menikmati mie instan yang masih penuh di mangkuk.
“Belum tidur, Zev?”
Zevia menoleh ke asal suara. “Hai, Pa. Papa makan mie instan?”
“Iya. Mau?” tawar Vicknan ke anak sulungnya itu. “Kamu kenapa belum tidur?”
“Emh, udah tidur tadi, Pa. Kebangun gegara haus,” alasannya. Vicknan tak mencurigai jawaban Zevia. Ia melanjutkan acara makan mie instannya dengan lahap.
Setelah Zevia meneguk air minum di kulkas, Zevia berjalan menuju meja makan. Duduk di depan Vicknan sambil memasang senyuman termanis. “Pa.”
“Hm? Mau?” tanya Vicknan sambil menyodorkan sesendok mie instan ke Zevia.
Zevia menggeleng pelan. “Zev boleh minta sesuatu yang lebih dari mie instan, nggak?”
“Mie instan pakai sayur dan telur? Bikin sendiri aja sana.” Belum sampai Zevia mengatakan keinginannya, Vicknan sudah menebak dengan tebakan yang ngawur.
“Hish, bukan, Pa.”
“Terus?” tanya Vicknan mengerutkan dahinya heran. “Jangan minta papa untuk batalin pernikahan kamu sama Gezra. Hal itu nggak akan terjadi.”
Yap, terjawab sudah keinginan Zevia yang belum sempat terungkap namun sudah terjawab. Gadis itu hanya bisa menghela napas pelan lalu beranjak dari meja makan. “Oke. Good night, Pa.”
▪️▪️▪️