▪️13▪️Not A Double Date

1349 Words
Zevia sudah tampil cantik dengan minidress warna maroon. Rambutnya hanya tergerai dan tertata rapi seperti biasa. Kali ini Zevia meninggalkan kacamata dan memakai soflens yang jarang ia pakai. Ia merasa, dating-nya dengan Ansel malam ini akan menjadi dating paling menyakitkan jika diingat. Sebab, bisa jadi dating itu adalah dating terakhirnya dengan Ansel setelah ia menikah dengan Gezra. Ia melirik ke arah wedges yang ia beli tadi siang. Wedges yang akan ia gunakan dalam acara terpenting dalam hidupnya. “Terlalu indah untuk dikenang.” Drrtt Ponsel yang ada di dalam tasnya bergetar. Ia langsung mengambilnya karena berpikir bahwa pasti Ansel yang mengirimi pesan. Namun, dugaannya salah. Ia mendapatkan notif dari sosok yang membuatnya kesal tadi siang. Gezra. “What the –? Ah! Kenapa malah Gezra yang ngechat, sih?” gerutunya sembari membuka pesan itu. *Gezra : Woi, Jum.* *Zevia : Jum? Sorry salah orang.* Belum lama Zevia mengirim balasan, ponselnya sudah bergetar lagi. ia hanya memutar bola matanya malas. *Gezra : Sepatu lo buat acara apa?* Alisnya terangkat sebelah membaca pesan itu. Alih-alih menyahuti balasan pesannya, justru Gezra blak-blakan menanyakan tentang untuk apa sepatu yang ia beli tadi siang. *Zevia : Lo bakal tau sendiri ntar.* Setelah Zevia membalas pesan itu, beberapa menit berlalu tak ada jawaban lagi dari Gezra. Menyebalkan memang. Sosok itu selalu berhasil membuatnya penasaran. Entah apa yang ada di pikiran sosok itu, Zevia masih tak mampu menerka bahkan menebaknya. “KAKAK! BANG ANSEL DATENG, NIH!” Well, daripada sibuk memikirkan si Kutu Kupret, Zevia langsung bergegas menuruni anak tangga dan melihat Ansel tengah disidang oleh sang Mama. BLAM! Zevia tertegun saat melihat wajah Ansel yang berubah muram. “Mama ngomong apa ke Ansel. Astaga ... semoga mama nggak bilang aneh-aneh ke Ansel.” ▪️▪️▪️ Di lain sisi, Kyra sibuk memandangi Gezra yang sibuk dengan ponselnya. Ponsel itu berdering beberapa kali dan Gezra selalu membalasnya dengan cepat. Meski ada sang Kekasih duduk di depannya, Gezra tampak sibuk dengan yang lain. Jelas hal itu menuai protes dari Kyra. “Kamu kayaknya lagi sibuk banget, ya? Chatting sama siapa, sih?” YAP! Gezra terdiam. Ia langsung meletakkan ponselnya di meja. “Emh, aku ke toilet bentar, ya.” Baru saja Gezra meninggalkan meja, ponsel miliknya kembali bergetar. Sontak Kyra langsung melihat siapa yang mengirimi kekasihnya itu pesan singkat. “Zevia?” gumamnya membaca nama kontak yang tertera. Ia tak melihat apa isi pesan itu karena ia tak mengetahui apa password dari ponsel milik Gezra. Kyra menarik napas panjang dan menghelanya pelan, kemudian meletakkan ponsel itu ke tempat asal. Ia kembali melanjutkan menulis pesanan dan memanggil waiter yang bertugas. Setelah bercakap singkat dengan waiter tentang apa yang ia pesan, matanya menangkap dua sejoli yang baru saja masuk ke dalam resto. Zevia dan Ansel, ya, dua orang yang sekarang menjadi titik perhatian Kyra. Terlihat Ansel meninggalkan Zevia berdiri seorang diri dan sepertinya mengarah ke toilet. Melihat Zevia bingung mencari tempat duduk, Kyra langsung melambaikan tangan dan memanggil nama Zevia. “Zevia!” Sang pemilik nama pun menoleh. Sedikit ada raut wajah terkejut yang terlukis di wajah Zevia. Namun, Zevia langsung menghapusnya dengan senyuman. Ia tampak berjalan mendekati Kyra. “Hai, Ra.” “Hai! Sama Ansel, ya?” Zevia mengangguk pelan. “Lo sama Gezra?” tanyanya basa-basi meski sudah tau bahwa jawabannya adalah iya. “Pasti, dong. Kamu lagi nyari tempat duduk? Gimana kalau sama kami aja?” tanya Kyra tepat saat Gezra sampai di meja mereka kembali. Sesaat pandangan Gezra terkunci pada Zevia dari ujung kepala hingga ujung kaki. Tanpa kacamata, rambut tergerai, minidress warna maroon, dan high heels warna hitam. Ya, setelah memastikan penampilan Zevia yang tampak berbeda, Gezra kembali duduk. Ia tak mengatakan apapun dan membuat Kyra semakin heran. “Gimana, Zev?” “Sayang!” Belum sampai Zevia menjawab, Ansel memanggilnya dari kejauhan. Sosok itu berjalan mendekati Zevia yang berdiri di samping meja Kyra-Gezra. “Kita duduk sana aja. Kita mau dating berdua. Bukan double date.” Ansel menekankan kalimat terakhir sembari melirik sinis ke arah Gezra. Ya, tanpa sepengetahuan Gezra, Ansel melihat apa yang sudah dilakukan sosok itu. Melihat kekasih orang lain dengan begitu intens jelas membuat hati merasa kesal. “Sel, kenapa nggak di sini aja? Lagipula tempat yang kamu pilih udah ditempatin sama orang lain, tuh.” Benar kata Kyra. Baru saja Ansel menunjuk sebuah meja kosong, sekarang meja itu sudah dipenuhi dengan dua sejoli lainnya. Ansel menggerutu kesal. “Apa kita pindah ke resto lain?” “Kita di sini aja. Sekalian aku mau mendekatkan diri sama calon sepupuku,” jawab Zevia sambil melempar senyum ke arah Kyra. “Iya, ‘kan, Ra?” Kyra tersenyum lebar. “Betul! Udahlah, Sel. Di sini aja. Biar aku sama Zevia makin deket.” Ansel melirik Kyra dan Zevia bergantian. Kemudian lirikannya tertuju pada Gezra yang sibuk memainkan ponsel tanpa berkomentar apapun. “Oke, tapi gue nggak mau sebelahan sama dia.” Merasa disinggung, Gezra pun memindah tempat duduknya menjadi berdampingan dengan Kyra. Kemudian, Ansel duduk di depan Kyra dan Zevia duduk di depan Gezra. Suasana tampak sedikit canggung, mungkin atmosfernya sudah terasa berbeda dari yang diinginkan Zevia. Ia mengharap bahwa dating-nya dengan Ansel malam ini akan lebih ke hal romantis. Namun, kehadiran Kyra dan Gezra merubah ekspektasinya. “Sel,” bisik Zevia. “Apa?” “Kamu pesen apa?” Suaranya hampir tak terdengar karena terlalu pelan. Ia menyodorkan menu ke arah Ansel. “Nggak mood makan. Kita pulang aja gimana?” “Jangan gitu, dong. Aku pesenin udang bakar asam manis kesukaanmu aja, ya?” tawar Zevia. Ia tak mau malam spesial itu berakhir sangat cepat. Sebab, ia tak tahu apakah malam-malam selanjutnya ia bisa bertemu Ansel atau tidak. “Aku udah bilang nggak mood makan, ya, nggak mood. Jangan dipaksa.” Zevia terdiam. Ia menarik napas dalam dan melepasnya pelan. Kemudian menganggukinya pelan. “Nggak usah terintimidasi adanya gue sama Kyra. Anggep aja kami nggak ada.” Akhirnya Gezra angkat bicara. Tanpa membalas ucapan Gezra, Ansel bangkit dari duduknya. Ia langsung menarik Zevia untuk bangkit dengan sedikit kasar. “Kita pulang.” Namun, belum sampai mereka beranjak pergi, Gezra menahan lengan Ansel yang menggenggam tangan Zevia dengan erat. Tatapan mereka beradu. Saling melempar ketajaman mata elang yang mereka punya. “Kalau lo kesel sama gue, jangan lampiasin ke orang lain.” Ansel tersenyum kecut. Ia menghempaskan tangan Gezra bersamaan melepas tangan sang Kekasih. “Nggak usah ikut campur urusan gue.” Setelah itu, Ansel kembali merengkuh tangan Zevia dan mengajaknya pergi meninggalkan Gezra dan Kyra. Kepergian kedua sejoli itu membuat Gezra kembali duduk. “Ra, maaf, bukannya aku –” “No problem. Aku setuju sama kamu. Nggak seharusnya Ansel bertindak kasar sama Zevia dan ... seharusnya aku yang minta maaf. Dinner kita berantakan karena aku maksa mereka buat du–” Gezra menggenggam erat tangan Kyra. Bola matanya terpusat di manik mata hitam kecoklatan milik Kyra. “Nggak perlu dibahas lagi. Kita lanjutin dating kita. Karena sebenernya kita nggak ada tujuan buat double date sama mereka. Oke?” Anggukan singkat menjadi jawaban dari Kyra. Mereka melanjutkan dinner yang sempat terganggu. Meski sebenarnya, Kyra merasa sudah tak nyaman dengan atmosfer di sekitar mereka. Sedangkan Gezra, merasa sedikit lega. Sebab ia mendapat sebuah kenyataan tentang alas kaki yang Zevia pakai malam ini. ▪️▪️▪️ “Sel? Kenapa?” Zevia menghentikan langkahnya. Membuat Ansel yang berjalan terlebih dulu juga langsung berhenti tanpa berbalik menatap Zevia. “Kamu marah sama aku?” Ansel terdiam sesaat. Sebelum akhirnya membalikkan badan dan menatap Zevia datar. “Kita pulang. Aku ada urusan mendadak.” “Tapi –” “Pulang.” Tanpa menunggu penolakan lagi dari Zevia, Ansel kembali melanjutkan langkahnya dan langsung membukakan pintu mobil untuk Zevia. Kecewa. Pasti. Zevia masuk ke dalam mobil dengan raut wajah kecewa. Malam yang seharusnya berkesan, berubah menjadi malam menyebalkan. Selama di perjalanan, mereka hanya saling diam. Ansel tampak benar-benar kesal. Mungkin karena kejadian tadi di resto. Meski sedikit takut untuk melontarkan sebuah pertanyaan yang bersarang di otaknya, Zevia memberanikan diri di tengah kekhawatiran yang menghantui. “Sel, tadi ... mama ngomong apa ke kamu sebelum kita berangkat?” Tiba-tiba Ansel menginjak rem. Membuat Zevia terkejut dengan hal itu. Mereka memang berada di lampu merah sekarang. Namun, tak biasanya Ansel megendarai sambil melamun hingga menginjak rem secara mendadak. “Ansel? Kamu ngelamunin apa, sih? Aku hampir jantungan!” kesal Zevia tak tertahankan lagi. “Kalau kamu marah sama aku, bilang aja!” Beberapa detik Ansel terdiam. Ia fokus melihat detik mundur di lampu merah yang akan menuju hijau. Dalam sepuluh detik terakhir, Ansel melempar tatapan ke arah Zevia. “Mama kamu, cerita tentang kamu dan Gezra.” Mata Zevia membulat total. “A-apa?” ▪️▪️▪️
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD