Tubuhnya kembali segar. Meski hatinya masih terasa kesal dengan semua sikap menyebalkan seorang Gezra. Ia mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil sembari terus melempar tatapan sinis ke sosok yang tengah asyik bermain rubik.
Tak merasa mendapat death glare dari Zevia, Gezra dengan datar mengalihkan fokusnya dari rubik ke gadis yang masih berdiri sembari menyisir rambut. Tatapan mereka beradu sesaat sampai akhirnya seseorang muncul dari balik pintu.
“Waw, kayaknya kehadiran Papa mengusik acara adu tatap kalian, ya?”
Mendengar kalimat itu terlontar dari mulut Ganiel, Zevia dan Gezra langsung mengalihkan perhatian mereka ke arah lain. Gezra dengan rubiknya. Zevia dengan rambutnya. Ganiel ... dengan ide jahilnya.
“Kayaknya pernikahan kalian harus segera dipercepat. Kita nggak tau ada setan lewat terus kalian ngapain aja daritadi. Apalagi Mama Fraya kondisi tidur. Dan kalian ... cuma berdua.” Senyum jahil itu terlontar dari mulut Ganiel. Membuat Gezra dan Zevia membantah mentah-mentah.
“Kami nggak ngapa-ngapain, kok, Om!” bantah Zevia tak terima dengan tuduhan Ganiel.
“Papa nggak usah iseng, deh. Males tau kalau dituduh ngapa-ngapain sama Zevia.” Gezra tak mau kalah saat menyerang sang Papa. Kemudian ia melempar rubiknya ke sisi kanan sofa dan hampir mengenai Zevia yang baru saja mendaratkan pantatnya.
Ganiel terkekeh pelan. Setelah itu ia memberikan sekantong plastik putih berisi makanan ke Gezra dan calon menantunya. “Makan malam dulu. Setelah itu, Zevia bisa tidur di sofa panjang. Gezra tidur di kasur lantai.”
“Terus papa tidur di mana?” tanya Gezra heran.
“Papa tidur di kantor kayaknya. Soalnya ada meeting sama klien dan nggak tau sampai jam berapa. Papa pasrahin mama ke kamu untuk malam ini, ya. Jangan lupa mama dibangunin buat makan malam dan minum obat. Oke?”
Gezra dan Zevia mengangguk paham. “Papa nggak makan dulu?” tanya Gezra lagi.
“Udah,” jawab Ganiel singkat. Ia mencium kening Fraya yang masih terlelap kemudian menyambar tas kantornya. “Papa berangkat dulu. Kalian ... jangan macem-macem sebelum sah.”
Zevia dan Gezra hanya memutar bola mata mereka malas.
▪️▪️▪️
Mentari telah menjulang tinggi. Dari celah gorden, sinarnya menerobos masuk menyilaukan mata. Dalam tidur nyenyak Gezra, mentari sempat merusak mimpi indahnya. Masih dengan mata setengah mengantuk, Gezra menggeliar. Namun, ia merasa tak ada ruang untuk bergerak. Seketika ia tersadar ... dirinya tertidur di satu sofa yang sama dengan Zevia.
Mata yang awalnya terasa berat untuk terbuka, akhirnya membelalak seketika. Ia melihat wajah Zevia terlalu dekat dengannya. Wajah tenang gadis yang masih terlelap itu membuat niatnya untuk segera bangkit sempat tertunda. Sejujurnya, Gezra menikmati posisinya sekarang.
Gezra tersenyum tipis. Bahkan setipis tisu hingga tak terlihat jika ia tengah tersenyum. Dengan tangan kanan yang dijadikan bantal oleh Zevia, Gezra menggunakan tangan kiri untuk menyeka poni Zevia yang menutupi sedikit area wajah gadis itu.
“Gadis jutek, bodoh, nyebelin, kalau tidur juga keliatan cantiknya,” bisiknya pada diri sendiri.
Mungkin karena merasa terganggu dengan semua sikap Gezra, Zevia menggeliat dalam tidur. Sontak Gezra langsung bangkit dari sofa dan pindah ke kasur lantai. Saat perpindahannya ke kasur lantai, ia tersadar bahwa sedari tadi ada sepasang mata tengah mengamatinya.
“Eh? Mama udah bangun? Sejak kapan?” Meski gugup sekaligus malu, Gezra berusaha untuk menutupi semua rasa itu.
Fraya tersenyum. “Sejak kamu masih tidur sambil meluk Zevia.”
Gezra menggaruk tengkuknya yang tak gatal. “Emh, jangan salah paham dulu, Ma. Semalem aku tidur di kasur lantai, kok.”
“Terus, kok, kamu bisa sampai tidur satu sofa sama Zevia?” Pertanyaan Fraya menyadarkannya akan keanehan itu. Ya, ia mulai berusaha mengingat apa yang baru saja terjadi semalam hingga dirinya bisa berubah tempat.
Cukup lama ia mengingat, hingga akhirnya ... Gezra menepuk jidatnya sendiri. Ia menarik napas panjang dan menjilat bibir bawahnya gugup. “Ada kecoak.” Gezra menghela napas saat mengingat hal menjijikkan itu.
Fraya menahan tawanya saat melihat ekspresi muka Gezra yang benar-benar pucat setiap kali membahas tentang makhluk mengerikan saat mode terbang itu.
“Eh? Tante Fraya udah bangun?” Suara parau itu mengalihkan pembicaraan mereka. Zevia terlihat memperbaiki posisinya menjadi duduk dan menyeka bibirnya sambil mengusap mata. “Pagi, Tante.” Meski masih setengah sadar, ia berjalan menuju wastafel dan membasuh muka.
“Pagi juga, Zev. Semalam tidurnya hangat, nggak?” tanya Fraya dengan ide jahil yang terselubung.
“Ma ....” Sontak Gezra menegur mamanya agar tak memberitahu Zevia tentang apa yang sudah terjadi pagi ini.
Zevia mengernyit heran melihat Fraya terkekeh pelan. “Biasa aja, sih, Tan. AC-nya nggak terlalu kerasa dingin,” jawabnya dengan polos.
“Udah sana buruan mandi. Mama kamu nyuruh kalian ngambil cincin nikah yang kemarin udah kalian pesan,” perintah Fraya. “Oh, ya, Gez. Nanti tolong bilang ke papa, pernikahan kalian harus dipercepat.”
“HAH?! Tan, kenapa buru-buru?” Jelas Zevia terkejut dengan perintah Fraya yang terakhir.
Tak ada jawaban dari Fraya. Hanya senyuman penuh arti dimana Zevia dan Gezra tak mampu mengartikannya.
▪️▪️▪️
Cincin sudah di tangan. Sekarang mereka beranjak untuk pulang. Akan tetapi, Zevia tiba-tiba memperlambat langkahnya. Matanya tertuju di sebuah tempat dimana sepatu berjejer dengan rapi. “Gez,” ucapnya sembari menarik ujung jaket denim Gezra yang berjalan di sampingnya. Saat langkahnya terhenti, langkah Gezra ikut terhenti.
“Hm?”
Zevia menunjuk toko sepatu yang ia incar. “Ke sana dulu. Gue mau beli sepatu.”
“Males. Serasa gue sopir lo kali. Gue pulang duluan.”
Tak ingin Gezra meninggalkannya di mall sendirian, Zevia langsung menari kerah jaket Gezra dan membawanya masuk ke dalam toko.
“Lo kira gue kucing?!” kesal Gezra sembari menyeka tangan Zevia dari kerah jaketnya.
Zevia tak peduli dengan ocehan itu. Gadis berkacamata itu langsung menuju ke rak wedges dan memilih beberapa wedges sesuai seleranya. Setelah beberapa saat berkutik dengan pilihan-pilihannya, akhirnya ia menemukan satu yang terbaik dari semua pilihan terbaiknya.
Wedges bersol sekitar lima centi dengan warna dusty pink itu langsung dipakai olehnya. Ia berjalan ke arah Gezra dan berniat untuk meminta saran. Sebelum ia mengucap apa yang ingin ia utarakan, Gezra mengernyit heran.
“Buat apaan? Nggak cocok banget di kaki lo.”
Zevia mengerut heran. Ia melihat ke arah kakinya dan memang benar, ada sedikit ketidakcocokan yang tak terlalu kentara. Tanpa mengatakan apapun, Zevia langsung melepas wedges itu dan mengganti dengan pilihan yang lain. Ia yakin, pilihan keduanya akan membuat Gezra terpesona.
Tunggu?
Terpesona?
Ya, selain tujuan utama Zevia membeli wedges untuk sebuah acara, Zevia juga ingin membuat Gezra terpesona berulang kali. Ia pun memakai salah satu pilihan terbaiknya. Wedges dengan sol setinggi sekitar lima centi berwarna putih dan ada pita di ujung wedges.
“Lumayan. Udah itu aja. Keburu siang, nih. Gue ada janji sama Kyra.”
Zevia memutar bola matanya malas mendengar kata Kyra. Ia pun meng-iya-kan dan langsung melepas wedges itu untuk dibayar. Saat Zevia sibuk memakai flatshoes-nya kembali, Gezra mengambil wedges pilihan Zevia dan membawanya ke kasir.
“Heh? Nggak usah dibayarin. Gue bisa bayar sendiri,” cegah Zevia. Namun, Gezra hanya melirik sekilas. “Udah. Nggak perlu repot-repot bayarin.”
Gezra tersenyum miring. “You think, gue mau ngeluarin duit buat lo? Nggak sama sekali.” Setelah mengatakan hal yang membuat Zevia malu semalu-malunya, Gezra keluar dari toko.
“Sialan.”
Beberapa saat berlalu, akhirnya Zevia keluar dari toko dengan menenteng belanjaannya. Memang masih kesal dengan sosok berjaket denim itu. Namun, ia tak mau semakin membenci. Sebab, ia teringat dengan pepatah, benci bisa berubah jadi cinta. Well, Zevia tak mau hal itu terjadi.
“Ada cotton candy, tuh. Lo mau nggak?” tawar Gezra. Zevia melirik ke arah pandang Gezra. Ke sebuah kedai cotton candy yang menggiurkan. “Mau, nggak? Mumpung gue lagi baik hati, nih.”
“Mau, sih. Tapi katanya lo ada janji?”
“Bentar doang nggak masalah. Udah, yuk.”
Zevia pun mengekori langkah Gezra yang terangkat lebih dulu. Sosok itu memesankannya sebuah cotton candy berbentuk minions mata dua lengkap dengan kacamatanya. Sama persis dengan Zevia. Sedangkan Zevia duduk di bangku yang sudah disediakan.
“Nih, makan sampai habis dulu. Kalau lo makan di mobil gue, ntar mobil gue penuh sama semut.”
“Thanks.” Tanpa basa-basi lagi, Zevia langsung melahapnya. Seperti anak kecil yang tergila-gila dengan permen. Begitulah Zevia sekarang. “Lo nggak mau?”
Gezra menggeleng pelan. “By the way, lo beli sepatu itu buat apa?”
“Acara penting dalam hidup gue.”
Alisnya terangkat sebelah karena penasaran. “Acara apa?”
“Kepo,” balas Zevia sembari menjejalkan secuil cotton candy ke mulut Gezra. “Nih, daripada kepo mending makan permen kapas. Enak, kan? Manis kayak gue.”
“Cih, pede lo selangit. Jatoh nyungsep gue ketawain lo ntar!” Meski hinaan keluar dari mulutnya. Namun, saat cotton candy yang sudah melumer di mulutnya mengundang sebuah senyuman tipis. Setelah memamerkan kepercayaan dirinya, gadis itu kembali sibuk menghabiskan catton candy hingga menyisakan tangkainya saja.
“Thanks buat cotton candy-nya. By the way, lo mau tahu bedanya lo sama cotton candy, nggak?” Ucapan Zevia membuat Gezra mengernyit heran. “Cotton candy itu kalau dimakan langsung lumer dan manisnya kekal terasa. Beda sama lo. Kalau dibaikin langsung manis tapi manisnya cuma sekejap mata.”
“Sama, lo juga. Manis kalau ada maunya. Pahit kalau udah dapet keinginannya.”
Tanpa menunggu respon dari Zevia, Gezra langsung bangkit dan bergegas pulang. Zevia tersenyum sekilas mendengar bantahan menyakitkan itu. “Makin menarik aja, nih.”
▪️▪️▪️