▪️11▪️Pinky Boy?

1207 Words
Setelah memperlihatkan liontin itu pada Zevia, Fraya kembali tertidur. Mungkin karena obat tidur yang terkandung di dalam obat-obatan sehingga Fraya takkan kuat menahan kantuknya lebih lama. Liontin itu tak langsung dipakaikan ke Zevia, karena salah satu keinginan Fraya adalah menyaksikan Gezra memakaikan liontin itu ke calon istrinya saat pernikahan tiba. Senja telah datang, tak terasa ternyata Zevia betah berada dalam satu ruangan dengan Gezra kurang lebih setengah hari. Meski tak banyak bicara, Gezra cukup membuat Zevia kesal beberapa kali. “Zev, Gez, Papa mau ambil baju dulu di rumah, ya. Stok baju papa udah abis di sini. Kalian sekalian ambilin baju, nggak?” tanya Ganiel sembari memasukkan pakaian kotor ke dalam tas. “Nggak usah, Pa. Tadi aku udah bawa sama punyanya Zevia. Masih ada di mobil. Ntar biar aku yang ambil,” jawab Gezra yan diangguki oleh Zevia. “Loh? Kamu juga mau tidur sini, Zev?” tanya Ganiel sambil melempar tatapan ke arah Zevia. Zevia mengangguk dengan senyuman terpatri sempurna. “Iya, Om. Sekali-kali Zev mau nemenin Tante Fraya. Kebetulan besok minggu. Jadi, Zev nggak ada kuliah.” “Oke, bagus, deh. Om nanti malam ada meeting bentar. Kamu bisa jagain Tante Fraya sama Gezra.” Sontak Zevia langsung melirik ke arah Gezra yang tak bergeming sedikitpun. Sosok itu sibuk mengotak-atik rubik kesayangannya. “Sama Gezra?” “Iya. Ya udah, Om pulang dulu, ya. Oh ya, Zev. Jangan sendirian di kamar ini, ya. Suka ada yang iseng.” Ganiel berhasil membuat Zevia si Penakut itu merinding secara tiba-tiba. Dalam diam, Gezra menyeringai jail saat menyadari gadis yang duduk di sebelahnya itu merasa parno. “Om Ganiel nakut-nakutin Zev doang, ‘kan?” kesal Zevia. “Jangan gitulah, Om.” Ganiel terkekeh. “Om nggak nakut-nakutin. Tanya Gezra aja kalau nggak percaya. Udah, ya. Om pulang dulu. Bye, Zev.” Akhirnya Ganiel pun menghilang di balik pintu sebelum menjelaskan semuanya. Bahwa apa yang ia katakan benar atau hanya main-main. Zevia merengkuh tengkuknya. Tiba-tiba ia merasa merinding karena cerita singkat itu. Lagi-lagi hal itu mengundang rasa jail Gezra untuk mempermainkan Zevia si Penakut. Gezra meletakkan rubiknya. Ia bangkit dari sofa dan memakai jaketnya. “Gue mau beli minum. Lo mau, nggak?” “HAH?! No! Jangan tinggalin gue sendirian!” Sontak Zevia menahan tangan Gezra dengan begitu kuat hingga Gezra kembali terduduk di sofa. Mati-matian Gezra menahan tawa melihat Zevia yang tengah ketakutan. “Gue haus, Zev. Kalau gue mati dehidrasi gimana? Lo mau tanggung jawab?” “Please, jangan tinggalin gue,” pintanya dengan menggenggam erat tangan Gezra. Benar-benar hal mengasyikkan jika berhasil menjahili gadis berkacamata yang tengah mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan itu. Seolah ia mengamati secara detail apakah ‘mereka’ benar-benar ada atau tidak. “Sebenernya yang dibilang sama papa, tuh, bener, sih. Gue pernah diseret ke kamar mandi pas gue tidur. Terus, papa pernah –” Zevia langsung mencubit mulut Gezra hingga sosok itu menghentikan cerita mistisnya. “Sssst! Lo malah makin nakut-nakutin gue, Kambing! Sengaja, ya?!” ucapnya kesal. “Gue merinding beneran, nih!” Gezra memalingkan mukanya sejenak. Ia melirik ke tangan Zevia yang masih setia menggenggamnya erat. Sebuah senyuman simpul tercetak di bibirnya. Namun, sesegera mungkin ia menghilangkannya agar gadis itu tak menyadari bahwa dirinya tengah dijahili. “Tangannya betah banget di tangan gue. Nyaman, ya? Awas baper.” Mendengar ucapan Gezra, Zevia yang baru sadar dengan tautan tangan mereka pun langsung menarik tangannya kembali. “Uh, sorry. Gue nggak sadar. Abisnya lo nakut-nakutin, sih!” Akhirnya tawanya terbebas. Meski sekilas, hal itu membuat Zevia tertegun. Setelah sekian lama, tawa itu kembali terdengar dan terlihat kembali olehnya. “Katanya ketua Geng Gadis Angkuh, tapi kok penakut,” ucap Gezra dengan wajah datar sambil menjulurkan lidahnya mengejek. Ia bangkit dari sofa lalu pergi tanpa menanggapi kekesalan Zevia. “Dasar, Gezra Kutu Kupret!” ▪️▪️▪️ Langit malam yang indah terlihat jelas dari jendela ruangan 118. Sambil menunggu kepulangan Gezra dan Ganiel, Zevia menyibukkan diri mengitung gedung tingkat yang terlihat dari jendela kamar. Ia tak ingin memikirkan hal aneh yang dibicarakan oleh Gezra ataupun Ganiel. Selama pikirannya positif, semua hal yang terjadi pasti juga hal positif. “Kira-kira kalau gue terjun dari gedung ini, gue mati, nggak, ya?” gumamnya sambil melihat ke arah bawah gedung rumah sakit. Ya, lantai Edelweis berada di lantai tertinggi gedung rumah sakit. “Nggak. Paling langsung masuk ke akhirat.” Zevia menoleh melihat ke asal suara dengan wajah datar. “Sejak kapan lo di situ?” tanyanya dengan nada ketus. Tanpa mempedulikan keketusan Zevia, Gezra menaruh dua kaleng minuman dan melempar salah satu ransel hitam yang ada di tangannya ke sofa. Kemudian salah satu ransel lain yang masih ia genggam, akan dilempar ke arah Zevia. “Nggak penting sejak kapan gue di sini. Nih, tas lo!” ucapnya sembari melempar ransel itu ke Zevia. “Lo buka-buka isinya, nggak, nih?” curiga Zevia. Takut-takut jika Gezra ambil kesempatan untuk mengambil satu dari rangkaian pakaiannya. Seperti jaka tarub yang mengambil selendang salah satu bidadari khayangan. Gezra berdecih. “Ngapain juga gue buka-buka isi tas lo? Nggak ada kerjaan amat.” Ia mendudukkan dirinya ke sofa dan mengambil sekaleng minuman yang ia beli. Lalu memberikan sekaleng lainnya ke Zevia. “Nih, minum. Gue tau lo gemeteran daritadi.” Dengan sedikit kesal, Zevia menyambar sekaleng minuman itu lalu membukanya. Meneguknya hingga habis tak tersisa kemudian membuang sekaleng minuman itu ke arah Gezra. Tepat sasaran mengenai pipi Gezra yang tengah sibuk meneguk minumannya. “Woi! Lu kira gue tong sampah?!” Zevia terkekeh melihat wajah kesal Gezra yang terkena lemparan kaleng minuman Zevia. Namun, Zevia hanya menjulurkan lidahnya mengejek. Sama seperti yang dilakukan oleh Gezra sebelum ia pergi tadi. “Gue mau mandi. Jangan ngintip!” ancamnya sembari menyodorkan kepalan tangan ke wajah Gezra. Ia membuka isi tas hitam yang diberikan oleh Gezra tadi dan melongo untuk sesaat. “Ini apa?!” “Apa?” tanya Gezra sedikit cuek karena sibuk meneguk minumannya hingga tetes terakhir. “Ini!” Zevia mencubit sebuah pakaian dalam yang berwarna merah muda dan memperlihatkannya ke arah Gezra. “Ini bukan punya gue!” Melihat apa yang diperlihatkan oleh Zevia, sontak Gezra langsung merebutnya dan menarik paksa ransel yang ada digenggaman Zevia. Tak peduli seberapa kuatnya gadis itu menertawainya, ia memasukkan kembali pakaian dalam berwarna pink itu ke dalam ransel dan melempar ransel hitam lain ke arah Zevia. Zevia tak berhenti mentertawai apa yang baru saja ia temukan. Sebuah celana dalam berwarna pink dan sempat terlihat isi ransel Gezra berisi serba pink. Entah mengapa hal itu sangat menggelitik perutnya. “Astaga, gue baru tau, ternyata selama ini lo itu pinky boy? Astaga, Gez!” Malu? Jelas. Hanya Zevia yang berhasil membongkar rahasia yang selama ini ia tutup rapat-rapat. Kesukaannya pada benda berwarna pink memang terlahir sejak lama. Namun, ia menyembunyikannya dan hanya membeli barang tak kasat mata dengan warna pink agar tak ada yang tau warna kesukaannya. “Duh, ternyata ... Gezra si Pinky Boy!” PLUK! Sebuah bantal sofa berhasil melayang ke wajah imut Zevia. Tak hanya itu, Gezra langsung menggendong Zevia ala bridal style dan memasukkannya ke kamar mandi. Tanpa tanggung-tanggung, Gezra juga mengunci gadis itu dari luar. Bodo amat dengan semua teriakan kesal Zevia yang menggema dari arah kamar mandi. “Gezra sialan! Handuk sama baju ganti gue ketinggalan di luar!” teriak Zevia dari dalam kamar mandi. Sudah dipastikan gadis itu menahan kesal mati-matian terhadap Gezra di Tengil. “Nggak usah ganti baju! Nggak usah pakai handuk!” balas Gezra dengan seringai jailnya. “Dasar m***m!” Puas hatinya mengerjai Zevia hari ini. Bahkan rasanya, ia tak ingin momen ini terlewat dan digantikan oleh hari esok. ▪️▪️▪️
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD