Semakin kelam masa lalu seseorang maka akan semakin sulit untuk mereka membuka hati atau sekedar percaya dengan orang lain, yang mereka pikirkan setiap kali menemui orang baru adalah ketakutan akan penghianatan. Tidak ingin di sakiti dan mencoba membangun benteng yang tinggi pada diri mereka sendiri, terkadang mereka terlihat sangat normal seperti manusia lainnya, seakan akan bisa jatuh cinta, memberi kasih dan tampak bahagia.
Pada kenyataannya mereka menutupi segala kecemasan mereka di balik topeng yang sangat kokoh, mungkin orang terdekat mereka saja tidak cukup pantas untuk mendengar jerit ketakutan akan masa lalu yang mereka alami.
Terlalu sering di jadikan boneka membuat Alexia mahir memerankan peran tersebut, dia selalu menurut, meski di bentak, di pukul, bahkan dikunci dalam kamar yang gelap nan dingin.
Berkali kali hampir mati, dan kembali sehat hanya untuk mengulang di sakiti.
Sebenarnya yang sering egois bukan anak, namun orang tua mereka sendiri. Sering kali menuntut tanpa melihat batas kemampuan yang di miliki anak mereka, dan menyalahkan kegagalan itu lagi pada sang anak. Sejenak pun mereka tidak akan pernah merenungi kesalahan mereka pada sang anak, merasa kedudukan mereka tinggi dan berhak melakukan apapun pada anak mereka.
Ya, seegois itulah mereka.
"Menurutmu apa artinya hidup?."
Alexia tertawa hambar.
"Balas dendam." jawabnya membuat Windi mengerutkan keningnya bingung..
"Bukankah tidak semua orang memiliki dendam?."
Xia menggeleng.
"Kau salah, karena tiap orang memiliki dendam hanya saja beberapa dari mereka berbaik hati untuk melupakan, dan mencoba membuka lembaran baru." Xia menjeda, membalik halaman buku yang tengah di bacanya.
"Tapi aku tidak sebaik mereka untuk melupakan rasa sakitku, sebenarnya menurutku pribadi mereka juga tidak melupakan hanya saja memilih kalah dan tidak memiliki keberanian untuk membalas."
Windi paham, memang benar balas dendam tidak harus di lakukan karena yang berhak menghukum manusia hanyalah Tuhan sebagai penciptanya. Namun tidak sedikit pula manusia yang rela mendapat hukuman dua kali lipat dari Tuhan hanya karena ingin melihat orang yang menyakiti mereka menderita, antara bodoh dan berani.
"Kalau bagiku tujuan hidup adalah untuk mati." Alexia tertawa, konyol sekali hidup Windi.
Kenapa harus mengatakan tujuan hidup untuk mati sementara Tuhan memberi banyak pilihan untuk hamba-Nya menjalani hidup, dari yang baik sampai yang terburuk sekalipun.
"Jawaban yang sangat bodoh." hardik Alexia membuat Windi melengos sinis.
Perbedaan pendapat di antara keduanya sudah jelas menunjukkan siapa yang berambisi dan siapa yang menikmati hidup sesuai alurnya.
Alexia tidak pernah menutupi soal kebencian dan niat balas dendamnya pada sang ayah, dia ingin membuat sang ayah mati menjemput ajalnya sendiri tanpa repot repot mengotori tangannya.
Alexia menutup buku tebal berjudul 'NERAKA DAN IBLIS' yang sedari tadi di bacanya, berniat melakukan hal yang sama pada sang ibu, namun sepertinya sudah terpenuhi.
"Kau tau makhluk apa yang paling bodoh di dunia ini?." Windi menggeleng, di dalam otaknya hanya ada kata manusia.
"Jawabannya adalah iblis." Xia menunjuk nunjuk buku yang ada di tangannya.
"Jelas saja Tuhan menyayangi manusia, memaafkan segala kesalahan mereka di setiap tobatnya namun iblis tetap berfikir bahwa mereka bisa menyeret manusia masuk ke dalam neraka bersama sama. Ibarat kata mereka menarik kaki manusia namun Tuhan menggenggam erat tangan manusia, sebagai makhluk hina yang menolak sujud pada adam sudah dapat di pastikan mereka akan membusuk di neraka tanpa bisa membawa kita."
Windi semakin terheran heran dengan Alexia, dia emosi dan menghina iblis sejadi jadinya setelah membaca buku tadi.
"Lalu apa hubungannya dengan balas dendam?." tanya Windi akhirnya.
Xia menggendikkan bahunya.
"Jelas saja, untuk seukuran manusia yang gila akan balas dendam mereka sering kali membutuhkan iblis sebagai pasukan penyerang. Tapi karena aku waras aku sama sekali tidak butuh makhluk rendahan itu."
Bibir Windi membulat, memberi isyarat kalau dia paham.
Dari balik pintu Daniel mendengarkan percakapan antara kedua sahabat itu, sulit di tebak pembicaraan mereka benar benar sangat acak.
•••••
Alexia memandang jauh ke depan, dari posisinya saat ini dia dapat melihat seluruh keluarga besar Gilbert berkumpul. Bukan acara yang serius, mereka memang selalu mengadakan perkumpulan keluarga tiap dua bulan sekali. Alasannya agar hubungan mereka tetap terjaga baik, semua hadir menyempatkan diri kalaupun mereka sibuk.
Alexia hanya menatap tanpa minat, meskipun seluruh keluarga besar dari sang mama mencintainya begitu hangat. Hanya Alexia yang tersisa dari si bungsu Gilbert, terlebih dia satu satunys cucu perempuan membuat sang kakek memperlakukan Alexia dengan berbeda.
Clay menyenggol lengan Xia pelan, memberikan segelas minuman. Dari banyaknya sepupu Alexia, Clayton yang paling dekat dengannya, berusaha menjadi figur kakak yang baik meskipun Alexia tidak pernah menyadari.
"Terimakasih, untuk ukuran manusia kau layak menjadi seorang pelayan." ucap Alexia tertawa garing.
Clayton hanya mendesis sinis.
"Tidak ada pelayan setampan diriku." sanggah Clayton tidak terima.
"Maka kau akan menjadi yang pertama." tawa Alexia semakin menjadi, wajah kesal Clayton membuat suasana hatinya membaik.
Untuk menghargai kerabatnya Clayton mengajak Alexia bergabung dengan mereka, sebenarnya dia memiliki alasan mengapa dia tidak suka terlalu dekat dengan mereka. Meskipun terlihat penuh cinta, namun tetap ada beberapa keluarganya yang sering berkata tidak sopan pada Xia.
"Ah cucuku yang cantik." Gilbert memeluk Alexia, menepuk punggung Xia pelan.
Alexia mengukir senyum simpul, kakeknya adalah yang terbaik saat ini. Dia selalu menjadi orang pertama setelah Clayton yang akan mendukung segala keputusan Alexia.
Gilbert melepas pelukannya, dia menggenggam tangan cucunya hangat.
"Semakin hari kau semakin cantik persis ibumu." beberapa kerabatnya mendekat, ikut dalam obrolan mereka.
"Aku setuju, Xia semakin mirip dengan mendiang ibunya." Dimas si menantu tertua ikut berkomentar.
Xia hanya membalas dengan senyum tipis, entah itu pujian atau ejekan.
"Benar benar cantik yang tidak manusiawi, padahal ayahmu biasa saja tampilannya." sesaat senyum Alexia berubah muak, kali ini dia menatap Handoko malas.
"Tapi syukurnya ayahku lebih tampan darimu."
Gilbert dan Clayton saling melempar pandangan, mereka berusaha menahan tawa. Sesekali memang harus ada yang berani membalas sikap sok Handoko sebagai menantu ketiga keluarga itu.
"Ku rasa sejak kematian ibumu, kau kurang mendapat kasih sayang dan juga kurang di didik."
Uh, culas sekali mulut si tua itu. Melihat Gilbert yang hampir emosi membuat Clayton berusaha menenangkan sang kakek, memintanya untuk tetap tenang. Karena Clayton tahu, Alexia pandai mengenali situasi.
"Tidak masalah, aku menjalani takdirku dengan baik. Aku selalu melihat lawan bicaraku sebelum menguarkan kata kata, ketika lawan bicaraku menyalak tidak mungkin aku membalas dengan bahasa manusia."
Xia menjeda, menatap wajah Handoko yang tersulut emosi.
"Bicaramu tidak memperlihatkan kau orang yang berpendidikan tinggi, menantu keluarga terhormat. Lebih mirip seperti bahasa preman, atau mungkin bahasa preman lebih baik dan sopan."
Dimas menatap keponakannya, sudut bibirnya mengukir senyum tipis.
"Tolong jaga sikapmu selagi aku menghargai dirimu, kau bukan orang penting yang harus aku hargai. Sistemku yang menghargai akan ku hargai."
Suasana menjadi canggung, wajah Alexia tampak tidak menikmati pesta keluarga itu. Handoko kikuk, dia mencoba mencari pengalihan.
"Padahal om hanya bercanda." ucapnya membela diri.
Tawa Alexia meledak, dia menepuk tangan beberapa kali.
"Apa menurutmu saat aku melemparmu kedalam kandang singa itu sebuah lelucon?."
Lelucon macam apa yang di maksudnya, benar benar gila.
Semakin hari manusia semakin lupa akan adanya buku catatan dosa, mereka dengan mudahnya berkata bahwa tindakan mereka hanyalah sebuah guyonan setelah menyakiti hati lawan bicaranya. Tidakkah manusia terlalu melupa?
••••••
Leon tersenyum manis ketika sang putri kembali dari rumah kakeknya, berharap sang putri membuka suara dan bercerita tentang apa saja yang mereka lakukan. Sejak Hellen meninggal, Leon tidak pernah lagi menghadiri acara itu, sadar akan posisinya saat ini. Dia hanya sebatas ayah dari keluarga itu, dan tidak lagi memiliki hubungan dengan mereka setelah dia menikahi Gema.
"Bagaimana kabar kakekmu?." tanya Leon mulai bicara.
Alexia menggeleng, sedikit membingungkan Leon.
"Kenapa ayah tidak menanyakan sendiri pada kakek? Aku rasa dia akan senang."
Sebenarnya Alexia sudah tahu kalau Gilbert juga memiliki rasa kesal pada mantan menantunya itu, jelas saja Gilbert tidak setuju dengan keputusan Leon yang tiba tiba ingin menikahi pelayannya sendiri.
"Ayah..."
"Tidak perlu malu, Tuhan saja maha pemaaf jadi kurasa kakek juga bisa memaafkanmu ayah. Pengecualian untuk diriku sendiri, aku masih tidak sudi memaafkanmu."
Senyum manis yang terukir di bibir putrinya membuat hati Leon seakan tersayat, di abaikan sejak kecil, ditinggal ibunya meninggal, dan dipaksa menerima keputusan ayahnya yang menikahi pelayannya. Semua terasa sangat berat, Leon menyadari itu semua, namun keadaan sudah tidak dapat di kembalikan lagi seperti semula. Semua sudah terjadi, sekeras apapun usaha Leon kini dia hanya bertumpu pada Alexia sendiri. Dia tidak bisa memaksa putrinya untuk memaafkan sikap egoisnya.
"Maaf." ucap Leon penuh sesal.
Alexia menggeleng gelengkan kepalanya pelan, tangannya menunjuk d**a sang ayah.
"Coba tanyakan pada hatimu, apa kau sungguh menyesal? Atau hanya takut akan murka Tuhan? Aku sendiri masih takut dengan murka Tuhan atas perlakuan burukku padamu, tapi aku tidak akan pernah berhenti melakukannya. Jadi nikmatilah segalanya, hartaku dan juga sikap burukku."
Xia melenggang pergi, membiarkan Leon meratapi kesalahannya. Lagipula Xia tahu, tak lama setelah ini Leon akan kembali menjadi Leon, ayah pemilih yang lebih memikirkan anak tirinya dan sialnya orang itu adalah sahabat kecilnya.
"Harus dengan cara apa agar kau mau memaafkan ayah?." tanya Leon pada keheningan yang menjebaknya.
Terkadang orang tua tidak mengerti betapa sulit seorang anak mempertahankan diri mereka untuk tidak menyerah, mereka hanya melihat pada satu sisi keburukan bahwa yang mereka lakukan adalah sebuah kesalahan, tidak sesuai dengan harapan.
Mereka di lahirkan bukan untuk menjadi alat, sebagai orang tua mereka berhak menempa anak layaknya besi namun mereka tidak berhak menghakimi dan membuang mereka yang bentuknya tidak sesuai dengan keinginan orang tua itu sendiri. Banyak yang melupakan satu hal ini, mereka juga manusia, yang butuh banyak dukungan dan juga cinta.
•••••