🦋Alasan

1169 Words
Alexia kembali dari restaurant setelah makan siang dengan salah satu rekan bisnisnya, dia tersenyum lebar saat masuk ke dalam kantor lalu berteriak sekuat mungkin. Daniel meringis ngeri takut takut kalau sang nona berubah menjadi hulk, nonanya benar benar sangat agresif sekali, pasalnya saat makan siang tadi rekan bisnisnya kembali mengungkit kejadian lama soal ibunya yang di tuduh bunuh diri. Sudah jelas pihak kepolisian juga mengatakan kalau itu kasus pembunuhan, namun sampai saat ini si pembunuh sendiri tidak pernah menampakkan tanda tanda sama sekali. Jelas saja Alexia kesal dengan ucapan b******n sok pintar itu. "Dasar bajingan." kesalnya melempar satu pot ke arah dinding. Pecah. Meskipun tadi dia sangat tenang saat memberi jawaban pada rekan bisnisnya, namun jauh dalam hati dia ingin merobek mulut tidak tahu sopan santun itu. Daniel memegang kedua pundak nonanya dari belakang, mendekatkan bibir ke arah telinga kanan sang nona sembari berbisik pelan. "Tarik nafasmu, buang perlahan." perintah Daniel mengiteruksi. Alexia mengikuti perkataan Daniel, menarik nafas lalu di hembuskannya pelan. Emosi masih memenuhi dadanya, dia sangat tidak menyukai orang orang bodoh yang menggunakan ibunya sebagai alat untuk membuatnya kalap dalam emosi. Banyak rekan bisnis atau musuhnya yang mengira itu salah satu cara untuk menjatuhkan Alexia, mengingatkannya pada masa lalu yang kelam. Sejujurnya tidak sama sekali, kenyataannya mereka salah, Alexia tidak mudah terkecoh di hadapan umum. Banyak dari mereka yang tidak benar benar mengenal Alexia dengan baik, bahkan Alexia sendiri tak bisa mengenali dirinya yang sesungguhnya. "Akan ku bunuh mereka." ucapnya lagi menggebu gebu, Daniel mencoba terus menenangkan nonanya. Mengajak Alexia duduk, wajah Alexia sangat ketara sekali ingin menyumpah serapah bahkan ingin melempar segala benda benda ke lawan mainnya dengan brutal. "Tidak ada gunanya membunuh mereka." setelah mendudukan sang nona, Daniel bersimpuh di lantai mulai melepas sepatu Alexia dan mengusap tumit sang nona lembut. "Mereka harus merasakan hal yang lebih dari sebatas kematian, maksudku saat mereka mati di tanganmu belum tentu mereka menyesali perkataan mereka." Daniel masih setia mengusap tumit Alexia. Melempar senyum menenangkan. "Lakukanlah apapun yang ingin kau lakukan nona, kecuali membunuh, aku tidak bisa membiarkanmu membunuh mereka." Kedua tangan putih mulus milik Alexia di genggamnya, membuat sang empunya sedikit berdebar. "Karena hukuman terberat bukan kematian, melainkan penyesalan hingga Tuhan yang memberi kematian pada mereka." Benar. Daniel benar, melihat mereka mati bersimpuh darah atau melihat anggota tubuh mereka terpisah sekalipun tidak akan membuat mereka sadar atas kesalahan mereka. Ucapan Daniel membuat Alexia berfikir pria payah yang dia temukan di pinggir pantai kala itu ternyata tidak sebodoh yang dia kira. Daniel kini paham dengan situasi buruk yang selalu membuat wajah sang nona di selimuti awan hitam sepanjang hari, dia tidak menyangka situasinya seburuk itu. Pantas saja Alexia tidak pernah senang dengan keadaan rumah saat ini, bahkan dia enggan menganggap itu rumah. Tidak pernah ada kehangatan di dalamnya, hanya pertengkaran yang setia mengisi rumahnya. "Berhenti mengasihaniku Daniel, aku benci tatapan itu." Daniel kembali mengulas senyum simpul. Dia mendekat, memajukan tubuhnya membuat Alexia refleks memundurkan tubuhnya ke sandaran sofa. Daniel mempertipis jarak keduanya, menatap wajah Alexia dari dekat kemudian memberi tatapan sayu. "Kau ingin aku menatapmu begini?." tanya Daniel pelan. Sial, b******n sekali pria tampan di hadapannya itu. Jantung Alexia sudah tidak dapat di ajak kompromi lagi, semakin lama debarannya semakin hebat. Xia mendorong Daniel pelan, wajahnya memerah semu. Daniel tertawa melihat wajah gemas Alexia, sementara sang korban mendelik galak. "Kau benar benar ingin ku bunuh?." Daniel masih setia melebarkan bibirnya. "Tentu saja tidak." "Lalu apa maumu." Daniel terdiam beberapa saat. "Bibirmu?." Ini gila, namun dia rasa tidak ada salahnya kan mulai bersikap agresif pada targetnya? ••••••• Hubungan mereka merenggang, dan Bianca dapat merekasakan itu. Tidak pernah menjawab pesan atau menerima panggilan darinya, Galen seakan menjauh dan tak mau banyak berinteraksi pada Bianca. Bianca bergegas mengganti pakaiannya, dan langsung pergi menuju kediaman sang tunangan. Jujur di kepalanya sudah banyak sekali hal hal buruk yang dia pikirkan, perkataan Xia soal Galen yang tidak benar benar mencintainya juga seolah menjadi alasan terkuat dia gelisah. Meskipun begitu Bianca mencoba terus berfikir positif, dia tidak ingin menuduh Galen macam macam. Tempo hari sang ibu mengatakan bahwa perselisihan sebelum menikah itu wajar, karena masing masing dari calon mempelai sama sama sedang di uji. Maka dari itu Bianca tidak ingin emosi berlebihan, dan menuduh Galen macam macam, dia takut menimbulkan masalah yang lebih serius dari ini. Mobilnya sudah memasuki pekarangan rumah mewah milik bungsu Gilbert, rumah dengan nuansa putih itu membuat siapapun akan memikirkan berapa harga rumah dan segala isinya. Jelas saja orang miskin seperti kalian tidak akan mampu, begitulah jawaban si empunya rumah tiap kali di tanyai. Bianca turun dari mobilnya dan segera berlari masuk ke dalam rumah sang kekasih, tidak seperti biasanya dia langsung di sambut oleh Gema, hari ini Gema dan Leon pergi untuk urusan tertentu membuat Bianca tanpa basa basi berlari menuju kamar Galen. Dengan nafas yang masih menderu, Bianca merapikan pakaiannya yang sedikit berantakan, dia memberanikan diri mengetuk pintu kamar Galen. Kata sang calon mertua, Galen memilih berkerja dari rumah beberapa hari ini. Tangannya mengetuk daun pintu yang menjulang tinggi itu, terus mengetuk menanti sang pemilik keluar menemui. Tak berapa lama Galen membuka pintu kamarnya, menatap Bianca datar tak seperti biasanya. Bianca menelan salivanya kasar, dia sedikit takut. "Ada apa?." tanya Galen langsung. Bianca melempar senyum kecewa. Ada apa? Katanya. "Aku, hanya khawatir denganmu." jujur Bianca. Galen keluar dan kembali menutup kamarnya, dia tidak membiarkan Bianca masuk, memilih mengajak sang kekasih duduk berbincang di taman rumahnya. Kembali mereka saling diam terjebak hening. Bianca meraih tangan kiri Galen, menggenggam tangan itu erat. "Apa ada masalah?." Galen menggeleng, dia melepaskan genggaman Bianca. "Aku hanya sedang sibuk, pekerjaanku menumpuk. Alexia tidak memberiku keringanan, seperti biasa dia membuatku terus berkerja." bohongnya. Dia menjadikan Alexia kambing hitam, kalau saja si bungsu tahu, Galen pasti sudah di usirnya sampai ke sss. "Maaf aku hanya terlalu khawatir, aku senang kalau kau baik baik saja." senyumnya canggung. Mendadak Galen bersikap sangat dingin padanya, jujur Bianca seperti ingin menangis namun sebisa mungkin dia menahan air matanya agar tak lolos. Otaknya semakin menjadi jadi, memikirkan bahwa Galen sebenarnya sama sekali tidak pernah mencintainya. Namun mengapa? Mengapa dia mengajak Bianca menikah kalau memang tidak memiliki perasaan sedikitpun? "Kau di sini?." Keduanya menoleh, mendengar suara yang tak asing lagi. Alexia mendekati mereka, dan duduk di sebelah Galen. "Kau pulang cepat? Ada masalah? Atau kau sakit?." Xia menggeleng. Dia bosan dengan kecerewetan Galen. Sedikit banyak Alexia bisa membaca situasi yang tidak menyenangkan di antara keduanya, namun Xia tidak mau ambil pusing. "Berhenti terus bertanya aku bosan mendengar suaramu." omel Alexia membuat Galen terkekeh. Bianca meringis, melihat Galen yang langsung merubah mimik wajahnya ketika Alexia datang. Menyakitka sekali, melihat kekasihnya sendiri tertawa saat bersama orang lain dan dingin saat bersamanya. "Tapi aku bukan orang lain di sini, aku adik tirinya." sanggah Alexia membuat wajah Bianca memerah. Alexia membaca pikirannya? Yang benar saja dia kan manusia biasa, mana mungkin bisa melakukan hal hal seperti itu. Galen menata Bianca merasa bersalah, namun suasana hatinya masih tidak baik, dia memilih memulihkan moodnya sendiri daripada memikirkan orang lain. Kadang, egois itu perlu kan?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD