Selalu ada rasa takut yang menyelimuti diri Leon, begitulah kenyataannya. Sejak kematian Hellen, Leon merasa segalanya berubah entah sesuai harapan atau tidak dia masih berusaha meyakinkan dirinya sendiri, putri semata wayangnya bahkan tak lagi mau menghormati dirinya. Sebab Leon lah yang pertama kali tidak mau mendengar keinginan putrinya, hingga akhirnya kini hubungan mereka tidak berjalan baik.
Pernikahannya dengan Gema tak hanya di tentang oleh Alexia kala itu, namun juga seluruh keluarga besarnya dan keluarga besar mendiang Hellen. Namun entah apa yang terjadi setelah tiga tahun pernikahannya dengan Gema, keluarga Leon menjadi sangat baik pada Gema bahkan mereka mulai membangga banggakan anak tiri Leon, Galen.
Alexia tidak mau mengambil pusing, dia tidak butuh di banggakan, dia tidak butuh pengakuan dari orang lain, yang dia butuhkan adalah dirinya sendiri.
Leon tidak pernah lagi memasuki bekas kamarnya dan mendiang sang istri setelah peristiwa memilukan itu terjadi, hari dimana Hellen terbaring mengenaskan dengan wajah pucat dan jubah tidur yang sudah berlumuran darah, dia merasa bersalah meninggalkan Hellen malam itu, harusnya tidak terjadi meskipun sisi lain hatinya menginginkan perpisahan di antara mereka.
Hellen sosok istri yang baik bagi Leon, sejak dulu Hellen dikenal sangat cantik, kecantikan itulah yang dia wariskan kepada putri semata wayangnya, Alexia. Sering mendapat permintaan menikah dengan banyak anak pengusaha kaya, namun Hellen tidak mau menerima satupun dari mereka, dia malah memilih Leon seorang karyawan biasa di perusahaan milik ayahnya itu dengan alasan dia sudah jatuh cinta pada Leon sejak pertama kali bertemu.
Perasaan tulusnya ternyata hanya bertepuk sebelah tangan, meskipun pernikahan mereka terjadi, dan pesta megah di gelar untuk kebahagiaan keduanya namun Leon diam diam masih menyimpan nama seorang gadis di hatinya.
Itulah yang membuat hubungan mereka kian lama kian merenggang, tidak ada kata pisah namun sering kali cekcok hingga Leon sering pergi menginap dirumah ibunya.
Leon berdiri di hadapan daun pintu berukuran bersar yang menjulang tinggi berwana coklat itu, tangannya terulur menyentuh gagang pintu namun tidak digerakkannya sama sekali. Sangat ingin kembali menyambangi kamar lamanya, namun Leon tidak mau mengulas luka yang sudah terkubur cukup lama.
"Ding dong." suara yang sangat familiar di telinga Leon terdengar memecah keheningan malam, Leon menoleh mendapati Alexia dengan jubah tidurnya berwarna putih bersih.
Sangat mirip dengan ibunya.
"Kau seharusnya mengetuk pintu itu sebelum masuk, untuk memastikan apakah sang pemilik kamar ada di dalam." Alexia menyilangkan kedua tangannya di depan d**a, berjalan lebih dekat ke arah Leon.
Xia melirik jam dinding yang berada tidak jauh dari pintu kamar mendiang ibunya, pukul 00.37. Waktu yang sudah cukup larut untuk berkeliaran meskipun di dalam rumah sendiri, lalu apa yang sedang di lakukan Leon?
"Tidak akan ada yang menjawab." sahut Leon, Alexia tersenyum.
"Bukankah ibu ada di dalam?." tanyanya berhasil membuat Leon menatap putrinya tidak paham.
"Jangan mengatakan hal hal yang tidak mungkin Xia." peringat Leon dengan nada sedikit tinggi.
"Aku hanya mengatakan apa yang sering ku lihat, entahlah mungkin saja aku berhalusinasi, tapi...
Alexia menggantungkan ucapannya.
.....tidak ada halusinasi yang tampak nyata seperti itu."
Leon menatap putrinya tidak paham, apa ini sebuah gangguan mental? Sangat jahat memang namun Leon berfikir demikian setiap kali mendapati Alexia masuk ke kamar mendiang istrinya sembari tersenyum lebar.
Dalam hati Alexia tengah tertawa melihat wajah setengah ketakutan ayahnya.
"Atau jangan jangan arwah ibu masih ada di kamar ini." ucap Xia kemudian tertawa.
"Jangan takut ayah, ada aku yang tidak akan pernah menolongmu." lanjut Xia kembali tertawa.
Leon masih saja diam tak bersuara, semakin lama memang dirinya semakin mudah dijadikan sasaran empuk putrinya sendiri.
Terkadang Leon bertanya tanya apakah Alexia tidak memiliki rasa sayang sedikitpun padanya? Jawabannya jelas saja ada, tidak mungkin seorang anak perempuan tidak menyayangi cinta pertamanya, namun kembali lagi pada keadaan, Leon sendiri yang membuat putrinya kehilangan kesabaran serta rasa iba pada sesama manusia.
"Ayah akan kembali ke kamar ayah, tidurlah sudah larut." jawab Leon mengingatkan putrinya, Alexia hanya menggendikkan bahunya.
Leon berjalan meninggalkan Alexia, yang masih setia memandangi punggung sang ayah dari belakang.
"Bukankah ayah orang yang sangat menyebalkan?."
"Ibu rasa begitu." keduanya saling berpandangan dan melempar senyum lebar.
~~~
Suara kicau burung mulai terdengar ramai pagi ini meskipun mentari belum menampakkan diri, mengawali pagi dengan mencuci pakaian kotor dan membereskan rumah mungilnya membuat Daniel menyesal menolak tawaran Alexia untuk pindah kerumah yang lebih layak dengan fasilitas cukup memadai. Bosnya yang satu itu memang berbeda dari yang lainnya, ketika semua orang kaya biasanya lebih berhati hati dengan uang mereka namun tidak berlaku bagi Alexia, dia bahkan sengaja menghamburkan uangnya demi karyawan serta pekerjanya yang lain.
Sejujurnya Daniel tidak berkerja berat seperti bodyguard pada umumnya, Alexia jarang memintanya melakukan hal macam macam kecuali memintanya ikut dalam rapat atau perjalanan bisnisnya, kesan pertama Daniel tentang Alexia yang sombong dan juga angkuh perlahan mulai menghilang, Alexia akan menunjukkan sisi buruknya pada setiap orang baru dalam hidupnya, mungkin itu alasan Alexia untuk melihat siapa yang dapat menerima dirinya apa adanya.
Selesai dengan acara menjemur baju, Daniel meluruskan kakinya sembari meminum secangkir kopi, tak ada lagi suara teriakan ibu kos yang meminta tagihan sejak dirinya bekerja dengan Alexia.
"Tumben sekali kau ada dirumah, apa kau libur Niel?." tanya Raken teman kosnya sambil menjemur baju.
Daniel mengangguk.
"Aku baru saja kembali dari perjalanan bisnis nonaku, sepertinya dia butuh istirahat dirumah setelah bekerja keras." kekeh Daniel.
Jangan heran ketika melihat mereka semua menjemur pakaian, meskipun seorang laki laki namun mereka sangat rajin dan super bersih layaknya seorang gadis.
Raken mendudukan diri di sebelah Daniel, mereka berdua menikamati hangatnya mentari pagi yang sudah mulai muncul meskipun masih malu malu.
"Beberapa hari lalu ya? Ah aku ingat saat Savama kemari bukan?."
"Iya, sayang sekali aku tidak bisa menemaninya makan malam, karena nonaku tidak punya banyak waktu untuk membiarkanku makan malam dengan Savana." jawab Daniel.
Raken tertawa pelan.
"Jelas saja, pekerjaannya lebih penting daripada kencanmu itu Niel."
Daniel menoleh, menatap tidak mengerti.
"Siapa yang berkencan?."
Tanyanya pada Raken.
"Jelas kau dan Savana." jawab Raken cepat.
"Aku tidak berminat mengencani sahabatku sendiri." Daniel kembali menyesap kopinya, kejujurannya membuat hati Savana sangat hancur pastinya.
"Aku rasa tidak ada salahnya mencoba." saran Raken memberi masukan.
"Aku yakin ada banyak laki laki yang lebih baik dariku, maka sahabatku yang satu itu tidak harus hidup dan mencintai manusia biasa sepertiku ini." lagi lagi soal status sosial, Daniel tidak mau menjadi beban kekasihnya kelak, dia hanya ingin yang lebih sederhana sama dengan keadaannya.
~~~
Malam ini Galen kembali kerumah bersama dengan Bianca kekasihnya, seminggu lebih tidak pernah bertemu dengan alasan menemani Alexia berlibur cukup membuat Bianca merasa cemburu, namun kecemburuannya sesegera mungkin di obati oleh Galen.
Mendapat pacar seperti Galen memang sebuah keberuntungan, dia tampan, mapan, dan juga sangat pengertian, tidak pernah sekalipun Galen marah apalagi membentak Bianca layaknya laki laki kebanyakan di luaran sana.
Galen menggandeng tangan Bianca memasuki rumah, keduanya langsung di sambut ramah oleh para pelayan dan juga Gema serta Leon.
"Ya Tuhan sayangku, aku sangat merindukanmu gadis kecil." ucap Gema sembari memeluk Bianca, gadis itu tersenyum senang membalas pelukan calon ibu mertuanya.
"Aku juga sangat merindukanmu ibu." sudah selayaknya putri kandung dan ibu kandung interaksi mereka memang begitu.
"Ibu apa anakmu yang tampan ini tidak kau sapa?." ucap Galen sedikit cemburu, mereka bertiga tertawa dengan sikap Galen.
"Aku akan menyapamu juga anakku." Gema melepas pelukannya pada Bianca dan beralih memeluk putra kesayangannya.
Galen tersenyum lebar, dia memeluk Gema erat.
Alexia memandangi mereka dari atas tangga, merasa jenuh dan juga lapar, dia kemudian tersenyum. Sepertinya membuat keributan akan jauh lebih menyenangkan, anggap saja penyambutan darinya untuk kekasih Galen.
"WOW...!!!."
Teriak Alexia sambil bertepuk tangan, kakinya mulai turun menyusuri satu persatu anak tangga.
"Seperti drama drama yang sering ku lihat di televisi." lanjutnya sambil tertawa.
Menyenangkan sekali wajah cerah mereka tiba tiba terlihat redup karena ulahnya, Bianca masih saja teguh dengan rasa cemburuannya membuat dia kali ini memandang Alexia dengan wajah sengit.
Sampai di hadapan mereka Alexia langsung tersenyum miring dan mendekat ke arah Bianca.
"Wow wow wow ada apa ini? Kenapa tatapanmu seakan akan ingin mengulitiku?." tanya Alexia kemudian menatap Galen sekilas.
"Apa karena aku meminjam Galen seminggu?." melihat riak wajah Bianca yang makin berubah membuat Alexia semakin yakin.
"Tenang saja aku tidak mau menyentuhnya, sekalipun dia menawarkan diri, jadi...
Alexia mendekatkan wajahnya pada Bianca.
....jaga matamu sebelum aku memindahkannya ke lantai." dengan nada menyeramkan.
Tidak ada hari tanpa mengusik keluarga tirinya, bagi Alexia begitulah cara terbaik menikmati hidup selain menghamburkan uang.
"Alexia jangan memulai pertengkaran lagi, jaga sikapmu saat ada tamu." peringat Leon.
Tidak suka.
"Ku kira dia bukan tamu, dia adalah calon ladang uang kalian." tawa Alexia pecah.
Wajah Bianca tanpa bingung, Galen menggenggam tangan kekasihnya hangat dan menggeleng pelan.
Tidak mood untuk makan dirumah, Alexia langsung pergi mengambil tasnya dan memutuskan makan di luar.
~~~
"Kau akan membayar lebih dari ini." gumam Alexia sembari menggoyang goyangkan gelas cekung berisi anggur Italia yang sudah dia tenggak berkali kali sebelumnya.
"Kenapa orang tua itu begitu angkuh, hanya karena aku berbaik hati padanya."
Xia menyesap anggurnya lagi, tatapannya masih mengarah pada satu titik fokus di hadapannya, prilaku Leon tadi sudah lebih dari cukup untuk menyadarkan betapa menjengkelkan ayah kandungnya itu.
"Lihat saja bagaimana aku akan memperlakukan kalian kedepannya." bibirnya mengukir senyum lebar.
"Ini bukan lagi soal keluarga, tapi harga diri."
~~~
"Baik Pak, Ya? Terimakasih kami akan membicarakan ini pada nona Alexia."
Terdengar Windi berbicara hati hati pada penelponnya di ujung sana.
"Ya Baik Pak."
Tutup Windi sopan, sebelum akhirnya..
"Siapa." tanya Alexia datar dari meja kerjanya.
"Direktur utama CR, meminta kita datang pada acara pengangkatan anaknya senagai penerus direktur lama."
Sembari mengetuk ngetuk meja kerjanya Alexia menyeringai, mengangguk mantap.
"Baiklah kita harus menghadiri acara itu."
"Tapi nona bukankah kita dan direktur CR..
Alexia berdiri dari tempat duduknya.
"Hey hey hey, calm down Windi. Kau tau cara terbaik mengalahkan musuh adalah berpura pura kalah, dan ini awalan yang akan kita lakukan."
Alexia tertawa, berdiri di depan balkon sembari mengukir senyum lebar.
"Bukahkah mata juga harus di balas mata?." bisik Alexia pelan.
~~~
Tepat jam 8 malam Alexia sampai di Harris Vertu Hotel Harmoni dengan mobil BMW kesayangannya, gadis berusia 23 tahun itu menjadi sorotan publik karena datang dengan stelan gaun indah yang glamor tak lupa pula dengan mobil BMW i8.
Daniel keluar dari dalam mobil dan segera membukakan pintu untuk nonanya, dia mengulurkan tangan untuk membantu nonanya keluar dari dalam mobil, Alexia menatap Daniel sekilas lalu segera menyambut uluran tangan dari bodyguard pribadinya itu.
"Thank you." ucap Alexia setelah keluar dari mobil.
Alexia berjalan di depan Daniel, dan Daniel mengekor sampai di tempat acara.
Windi dan Daniel saling menatap sembari menenggak minuman masing masing, wajah Windi terlihat sedikit cemas, karena perkataan terakhir nonanya.
"Daniel." panggil Windi.
"Ssttt em tidakkah kau merasa aneh?." tanya Windi di jawab gelengan spontan oleh Daniel, sekertaris Alexia itu sudah mengangkat tangannya hampir meninju wajah Daniel.
"Dengarkan aku dulu bodoh, aku benar benar merasa ada yang aneh dengan nona Alexia...
Bisik Windi kemudian berteriak frutasi.
....arghh kenapa juga dia ingin menghadiri acara tidak penting dari antek antek musuhnya, jelaskan kenapa? Bukankah ini hal yang sangat aneh? Dan nona mengatakan "bukankah mata juga harus di balas mata?" bagaimana ini Daniel."
Ucap Windi sangat frustasi, dia takut nonanya melakukan hal di luar nalar lagi.
"Tenang saja, nonamu lebih pintar mengambil tindakan." Daniel tersenyum lalu mengalihkan pandangannya pada Alexia yang tengah berbincang dengan beberapa rekan bisnisnya.
"Bagaimana maksudnya?." tanya Windi tidak paham.
"Dia tidak mungkin melakukan hal yang dapat merugikannya di hadapan orang banyak, dia sangat cermat Windi, kalaupun harus melakukannya di hadapan publik berarti lawan bicaranya sudah tidak memiliki kesempatan untuk hidup setelah itu." jelas Daniel.
Ada benarnya juga, segala tindakan harus memiliki pertanggungjawaban, mata di balas mata.
Alexia menikmati waktunya dengan berbincang soal bisnis oleh beberapa rekannya yang datang juga ke acara itu, mata elangnya menangkap kehadiran Galen dengan kekasihnya Bianca, dia tak ambil pusing oleh kedua makhluk itu, tapi ada baiknya Alexia mencari gara gara sedikit saja dengan kakak tirinya.
Galen menyapa rekan rekan bisnis adiknya ramah, dia membungkuk sedikit menyapa adiknya sopan, Alexia hanya mengukir senyum miring dan memaki dalam hati.
Apa apaan manusia ini.
"Senang bertemu dengan anda tuan Galen, kami baru saja akan menanyakan anda pada nona Alexia." ucap salah satu rekan mereka.
"Aku juga merasa senang bertemu kalian semua di acara ini." balas Galen sopan.
"Apa dia kekasihmu?."
Galen mengangguk sambil memasang wajah ramah.
"Xia, kau cantik malam ini." ucap putri rekannya yang baru saja berbincang dengan Galen.
Alexia dan Jenna sudah saling mengenal satu sama lain sejak masa kuliah, keduanya lumayan dekat.
"Kau pun begitu Jenna." puji Alexia.
"Tapi bukankah tidak cocok memakai warna kuning di ruangan monokrom ini?." Alexia menahan senyumnya, keduanya saling melempar pandangan.
Sudah jelas mereka menyindir Bianca yang mengenakan gaun selutut berwarna kuning dengan atasan terbuka.
"Ku rasa kita memerlukan balon agar acara ini ramai seperti acara ulang tahun anak 5 tahun." Galen menggenggam tangan Bianca erat, mendengarkan tiap ejekan dari adiknya yang sedikit nyelekit.
"Jangan keterlaluan." ucap Galen memperingati.
Alexia menatap tajam kedua mata Galen.
"Kau sudah terlalu banyak menguji kesabaranku Xia." suasana berubah menjadi mencekam, mereka hanya berdiam membiarkan kakak beradik itu beradu mulut.
"Jangan besar kepala." balas Alexia dengan wajah mengejek.
"Kau sudah terlalu banyak menghabiskan uangku." sambung Alexia sarkas, Jenna tertawa lantang dia bahkan bertepuk tangan heboh.
"Ayah lihat itu?." tanya Jenna pada ayahnya, sang ayah mengangguk pelan sedikit tremor.
"Jangan berkelahi." cicit Bianca pelan.
"Aku tidak mengajak calon suamimu berkelahi nona Bianca, hanya saling bertukar kata kata."
Jenna mengangguk angguk setuju.
"Menyenangkan sekali!." teriak Jenna girang.
Jenna dan Alexia itu sama, mereka mirip, mereka juga memiliki segalanya yang sama, seperti anak kembar beda rahim.