🦋Bayang ibu

2143 Words
Gema berdiri dengan mata tertuju ke sebuah batu nisan bertuliskan Hellen Gilbert, sudah bertahun tahun namun rasanya tetap sama, ada banyak hal yang ingin Gema katakan pada mendiang nyonya besarnya itu. Banyak permintaan maaf yang ingin Gema ucapkan pada Hellen, rasa bersalahnya masih menjadi bumerang bagi dirinya sendiri, terlebih lagi sikap Alexia padanya sangat mengingatkan Gema pada mendiang Hellen. Gema meletakkan sebuket bunga di atas gundukan tanah yang sudah tampak menyatu dengan nisannya, rumput rumput liar mulai menjalari batu nisan. Sedikit menyedihkan memang mengingat bagaimana Alexia tak pernah mau mengunjungi makam ibunya sendiri, terlebih ketika di ingatkan oleh Leon yang akan terjadi hanyalah keributan. "Maaf." mulut Gema berucap ringan. Ada sejuta makna di balik kata maaf yang Gema ucapkan, entah itu sebuah ketulusan atau bukan mamun hanya kata maaf yang saat ini ingin Gema ucapkan pada Hellen. Dulu saat pertama kali Gema datang ke rumah besar mereka, dia dalam keadaan hamil muda, dia mendapat perhatian khusus dari Hellen meskipun Hellen memiliki mulut yang tajam dan juga prilakunya kasar namun dia begitu baik pada Gema saat itu. Beberapa kali dia meminta Leon untuk mengantar Gema memeriksa kandungannya karena Hellen merasa iba pada Gema yang hamil tanpa memiliki suami. Sampai akhirnya Galen lahir, dan 2 tahun kemudian Hellen menyusul mengandung Alexia. Kelahiran Alexia menjadi kebahagiaan bagi keluarga besar Gilbert karena dia adalah cucu perempuan pertama yang lahir dan satu satunya, terlebih lagi Alexia lahir setelah pernikahan Hellen dan Leon menginjak 5 tahun. Namun sifat Hellen yang kasar dan pemarah bertambah buruk saat itu, Alexia menjadi bulan bulanan Hellen yang selalu melampiaskan amarahnya pada sang putri. Alexia kecil sering kali mendapat kekerasan hanya karena hal sepele seperti tidak mau makan, tidak ingin mandi, atau hal lainnya. Alexia tidak pernah nakal namun dia selalu di perlakukan seperti anak nakal. Gema tersenyum kecil mengingat hal hal itu, dia mendekatkan dirinya ke arah batu nisan dan berjongkok. "Andai waktu bisa di ulang, aku harap kau tidak sebaik itu padaku nyonya." Manusia tidak tahu diri, mungkin itu hal yang tepat untuk menggambarkan seorang Gema, kebaikan Hellen seharusnya membuat dia malu namun Gema semakin merasa berada di atas. "Aku hanya iri." sambungnya sembari tertawa miris. "Aku memang hanya bisa iri padamu nyonya, sampai akhirnya kau mati dengan mengenaskan. Aku sangat sedih saat melihatmu, namun di lain sisi aku juga berucap syukur atas kematianmu." Gema megusap lisan batu itu, senyumnya kembali mengembang. "Kita harus berterimakasih pada seorang yang sudah mau berbaik hati membunuhmu, apa perlu aku mencarinya?." Tawa Gema terdengar menakutkan. Gema terkejut saat pundaknya di sentuh oleh tangan seseorang, Gema berbalik dan mendapati Leon tengah tersenyum manis sembari membawa sebotol minuman. "Kau terlalu lama di sini, matahari akan semakin hilang sayang, ayo kembali kerumah." Gema membalas senyum suaminya dan mengangguk setuju, Leon menggandeng tangan Gema keluar dari kompleks pemakaman keluarga Gilbert. ~~~ Dengan malas malasan Savana mengemasi barang barangnya, hari ini dia menyambangi sebuah salon miliknya, meskipun anak orang kaya namun Savana tak kalah gigih seperti Alexia, dia mencoba mengumpulkan pundi pundi kekayaan sendiri dengan alasan ingin lebih mandiri padahal uang dan seluruh kekayaan ayahnya juga akan berakhir di tangannya. Zio sang asisten menggeleng heran melihat majikannya yang lemas seperti tumbuhan kurang air. "Apa harimu tidak menyenangkan nona?." Savana melirik sinis. "Sangat sangat tidak menyenangkan, apalagi melihatmu seharian penuh membuat hariku semakin buruk." ketus Savana membuat Zio tertawa garing. Sudah biasa menadapat kata kata pedas dari majikannya membuat Zio tidak pernah memasukan hati semua ucapan Savana, toh sebenarnya Savana itu baik menurut Zio pribadi. "Sebenarnya wajahku tidak semenyebalkan itu nona, ada apa? Apa kau sedang tidak akur dengan Daniel?." Mendengar pertanyaan dari Zio, tubuh Savana seakan benar benar kehabisan tenaga, dia mendudukan dirinya di sebuah sofa tempat para pelanggannya menunggu giliran untuk di layani, Savana memijat pangkal hidungnya pelan. Otaknya seakan akan selalu memikirkan Daniel Daniel dan Daniel, bahkan saat melamun yang ada di pikirannya adalah Daniel sedang berada di hadapannya. "Tidak, aku tidak punya masalah apapun dengan Daniel." bukan bermaksud bohong namun memang dirinya baik baik saja dengan Daniel, yang kesal akibat Daniel memilih bekerja dan tidak makan bersamanya juga Savana sendiri. Daniel tidak salah sama sekali, harusnya dirinya yang mengerti akan keadaan Daniel, namun lagi lagi kecemburuan mengambil kendali. Savana tidak yakin kalau dirinya cemburu, baginya itu hanya rasa kesal biasa karena ajakannya di tolak oleh Daniel. "Lalu apa karena nona lelah? Biar ku antar nona kembali kerumah sekarang." Savana mengangkat tangannya dia memberikan kode pada Zio untuk mendekat dan ikut duduk di sofa. "Kemari Zio." Zio mendekat, dia mendudukan dirinya di sofa, Savana langsung membaringkan tubuhnya dan menjadikan paha Zio sebagai bantalan kepalanya. "Aku akan istirahat sebentar, hanya 15 menit setelah itu kita pulang." dengan wajah agak kaget dan canggung, Zio hanya mengangguk menuruti perkataan Savana. Zio menatap nonanya seksama, wajah ayu itu selalu saja mematahkan setiap pria yang ingin mendekatinya hanya karena ada seorang Daniel yang tersimpan hati Savana. Savana tak kalah dari Alexia, banyak para pengusaha yang ingin menjadikan Savana sebagai menantu keluarga mereka, melihat dari kerja keras gadis itu serta keramahannya. Namun lagi lagi kedua orang tua Savana tidak ingin memaksa mereka, membiarkan Savana memilih sendiri siapa pasangan hidup yang akan menemani putri mereka hingga tua nanti. "Andai saja aku orang kaya." gumam Zio sembari menarik nafas. "Mungkin aku berani mengungkapkan perasaanku padamu nona." lanjutnya terkekeh miris. Cinta memang agak rumit untuk di pahami, itulah mengapa beberapa orang memilih untuk sendiri dan tidak terlibat dalam urusan hati, mereka tidak ingin merasakan patah dan kehilangan meskipun pada akhirnya mereka juga membutuhkan rumah untuk pulang. ~~~ Hari ini semua kembali lagi seperti semula, Alexia kembali ke rumahnya sekitar pukul 06.38 pagi, bersama dengan Daniel, bedanya mereka kembali kerumah masing masing. Sesampainya dirumah Alexia langsung di sambut hangat oleh senyuman Gema, meskipun yang di sambut melempar tatapan datar tidak berselera namun senyuman Gema sama sekali tidak pudar. Sudah hampir seminggu lebih Alexia tidak kembali kerumah, seluruh penghuni rumah pasti merindukannya, mungkin. Sambil menuangkan teh di gelas sang suami, Gema sesekali melirik Leon dengan senyum yang sama, menyadari situasi di antara ayah dan anak itu selalu saja canggung. Alexia ikut bergabung di meja makan, perutnya belum terisi pagi ini karena tubuhnya sudah lelah dan ingin kembali kerumah. "Bagaimana liburanmu?." tanya Leon mencoba memulai pembicaraan, Alexia menganggkat bahu seolah olah mengatakan 'biasa saja'. "Dua hari yang lalu galen kembali kerumah sendirian, ibu kira kalian akan pulang bersama." mendengar Gema menyebut dirinya 'ibu' membuat Alexia menoleh ke arah Gema, Xia memasukan potongan sandwich ke dalam mulutnya, sembari mengunyah dia tersenyum lebar. "Ibu?." tanya Alexia mengulang ucapan Gema. "Kau benar benar ingin menjadi ibuku Gema?." ucapnya kembali bertanya, Gema melempar pandangan pada Leon, lalu kembali menatap Alexia dan tersenyum kemudian mengangguk. Alexia tertawa, suara tawanya memecah ruangan yang begitu luas dan sunyi itu. "Maka bersedialah mati seperti ibuku saat itu." jawab Alexia menyeringai. Terdengar suara gertakan gigi, Alexia menoleh dan ternyata sudah ada Galen yang berdiri di belakangnya, Alexia tidak ciut dia malah semakin mengembangkan senyumannya. "Jaga ucapanmu Xia." Peringat Galen dengan nada dingin, Xia mengambil potongan sandwichnya lagi, kemudian mengunyah. Walau dalam suasana seperti ini, perutnya harus tetap terisi. "Kata katamu seperti lebih ke arah menyadarkan ibumu, bahwa dia tetap tidak akan bisa menjadi seorang ibu bagiku." Galen mengepalkan tangannya, dia sangat ingin menampar mulut manis yang mematikan itu, namun lagi lagi perasaannya tidak bisa. "Tidak masalah Gema anggap saja rumah ini milikmu dan ayah, tapi jangan sampai kau lupa diri akan siapa dirimu, pelayan." tawa Alexia kembali terdengar. Leon menggebrak meja, laki laki paruh baya itu menatap Alexia tajam, sedangkan Xia membalas tatapan Leon sengit. Leon telah gagal menjadi ayah, Leon tidak perduli dengan putrinya yang dia pikirkan hanyalah bagaimana caranya menjadi aman demi Galen dan Gema. "Kalau saja keberanianmu padaku seperti caramu mentapku saat ini, mungkin kau menjadi gelandangan tuan Leon." ejek Alexia pada ayahnya. Sarapan pagi ini kembali menjadi sarapan yang penuh kekacauan, dan sayangnya Alexia tidak perduli. Galen menatap Leon dan memberikan kode untuk tidak melanjutkan perdebatan itu, Leon membuang nafas kesal terdengar jelas di telinga Alexia, dan gadis itu hanya tersenyum kesenangan melihat sang ayah kembali tidak dapat mengeluarkan satu katapun. "Duduklah Galen." perintah Gema pada sang putra, Galene mendudukan dirinya di samping Alexia. Suasana kembali hening, hanya terdengar bunyi dentingan sendok dan garpu yang saling bertabrakan. Selesai makan, Alexia meneguk air minumnya dan mengusap bibirnya menggunakan tisu, dan beranjak meninggalkan mereka semua menuju kamarnya. Seperti yang terlihat Alexia benar benar sendirian, tidak ada lagi yang bisa membela atau melindunginya kecuali dirinya sendiri, tidak ada lagi sosok ayah karena Leon berubah total sejak menikah dengan Gema. Apapun yang Alexia lakukan tidak pernah sekalipun mendapat pujian dari Leon, berbeda dengan Galen yang selalu menjadi berlian dimata Leon. Tapi tak apa, Alexia tidak keberatan, toh mereka itu tidak dapat bertahan hidup tanpa Alexia. Alexia menatap pantulan wajah dan tubuhnya yang kini tengah terandam di dalam bathtub, punggung polosnya merasakan sentuhan lembut hangat seperti tangan ibunya dulu, samar samar Alexia mendengar ibunya tengah memarahinya karena terlalu sering bermain dan sulit saat akan dimandikan. Suasana kamar mandi Alexia mendadak suram, mengikuti suasana hati pemiliknya, Alexia sadar dia tengah berhalusinasi melihat pantulan ibunya dikaca besar kamar mandi, namun setidaknya biarkanlah begitu agar kerinduannya dapat terobati. "Anak ibu sudah tumbuh dewasa." Seketika Alexia menoleh ke belakang, jantungnya berdegup lebih kencang, suara tadi terdengar sangat nyata, dia yakin itu suara ibunya. Xia mengusap wajahnya, dia kemudian menenggelamkan tubuhnya ke dalam bathtub, membiarkan nafasnya tercekat, sudah cukup tidak perlu lagi seperti sebelumnya. Cukup satu orang saja, dia tidak ingin melakukannya lagi pada orang lain. ~~~ "Kasus itu sudah di tutup sejak 7 tahun lalu." terdengar pembicaraan sekelompok karyawan di waktu istirahat. Salah satu dari mereka mengingatkan untuk tidak lagi membahas tengang hal itu lagi, namun tidak ada yang menggubris. "Jelas sekali itu semua sudah di rencanakan sejak awal, tidak mungkin si pelaku tidak meninggalkan satu jejakpun." sahut yang lain, dan mereka membenarkan pendapat karyawan tadi. "Pasti pelakunya ada di dalam rumah itu." "Aku juga merasa begitu." "Bayangkan saja tidak lama setelah kematian ibunya Nona Xia, tuan Leon langsung memutuskan untuk menikah dengan kepala pelayan mereka, bukankah itu sangat tidak wajar?." Secara tidak langsung mereka tengah menuduh Gema dan Leon. Kasus kematian ibu Alexia akhir akhir ini kembali menjadi perbincangan akibat Leon terlihat menghadiri salah satu acara bisnis bersama Gema beberapa waktu lalu. Di bandingkan dengan Hellen, ibu Xia, kecantikan Gema sama sekali kalah jauh dengan mendiang ibu Alexia, membuat mereka heran mengapa Leon mengambil keputusan yang sangat memalukan seperti itu. "Nona Xia sangat menyayangi ayahnya, tapi setelah kematian nyonya Hellen yang nona Xia dapat hanyalah keegoisan ayahnya sendiri. Diam diam Galen menyimak pembicaraan mereka, dia menahan emosinya, mendengar ibunya di tuduh atas kematian Hellen. "Bukankah kepala pelayan itu sedang melakukan pencurian pada nona Xia? Bayangkan saja bahkan tuan Galen sangat mudah mendapat posisi tinggi karena nona Xia." Mereka mengangguk serempak. "Ku harap nona Xia selalu dalam keadaan baik." Pikiran Galen kembali melayang memikirkan gadis yang selama ini dia sukai, ada berapa banyak luka yang dia sembunyikan? Kenapa tampak luarnya sangat keras dan sarkas? Namun di dalam hatinya dia menyimpan banyak luka. ~10 tahun lalu~ Di samping bangsal ruma sakit gadis mungil menangis sesegukan, mata indah yang tengah di penuhi air mata itu menatap ke arah anak laki laki yang terbaring lemah di atas bangsal ruma sakit. Sedikit terusik, anak laki laki itu terbangun dari tidurnya, kepalanya yang masih terasa berdenyut sakit membuatnya meringis. "Alen ayo bangun." gadis kecil itu berucap parau, belum sadar yang dimintanya bangun sudah membuka mata sembari memandanginya tersenyum gemas. "Aku tidak punya teman bermain selain dirimu, bukankah kau berjanji tidak akan membiarkanku bermain sendirian?." Dengan wajah basah gadis itu mengusap ingusnya, dan kembali menangis, di salah satu tangannya dia memegangi lolipop kesukaannya. Sesekali dia menjilat lolipopnya, dan kembali meracau sembari menangis. Sangat menggemaskan sekali. "Ibuku bilang, aku tidak boleh lagi memakan lolipop, gigiku akan rusak karena terlalu sering. Bukankah ibu berbohong? Aku rajin ke dokter gigi, dan dokter bilang lolipop tidak membuat gigiku rusak." gadis kecil itu kembali mengoceh, bercerita dengan teman mainnya yang tengah terbaring sakit. "Aku juga rajin menggosok gigiku." bocah itu menjilat lolipopnya lagi, tangisnya mulai reda. "Aku tidak boleh menangis, Alen akan mengejekku cengeng jika dia melihat aku menangis saat dia terbangun." "Tapi aku sudah melihatmu menangis." tawa anak laki laki yang tak lain adalah Galen kecil, Xia kecil turun dari kursinya dan mendekati Galen kemudian memeluk Galen sayang. "Alen sudah bangun." ucapnya girang, Galen mengangguk angguk sambil tertawa kecil. "Anak cengeng." ejek Galen pada Alexia, Xia membersihkan sisa sisa air matanya dia melepas pelukannya pada Galen, memasang wajah sedih. "Jangan sakit Alen, aku tidak punya teman bermain." lihatlah betapa kesepiannya Xia kecil kala itu. Galen menarik tangan Xia, dia mengangguk. "Aku sudah sembuh, hanya tinggal sedikut lagi, aku janji akan cepat pulang dan bermain bersamamu lagi." Alexia mengacungkan jari kelingkingnya untuk membuat janji pada Galen, Galen menautkan jari kelingkingnya pada jari Xia. "Jangan menangis lagi, wajahmu jelek saat menangis." Bukankah mereka sangat akrab kala itu?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD