Dengan bermodal keberanian Daniel mengajak gadis paling sombong bernama Alexia itu ke rumahnya atau lebih tepatnya kos kosan miliknya, bukan miliknya juga karena dia hanya seorang penyewa. Wajah Alexia melongo tidak percaya dengan keadaan rumah yang di tempati oleh Daniel, Xia hanya berdiri diam sembari mengamati tempat itu.
"Kau benar benar tinggal di tempat ini?." Daniel mengangguk sambil bergumam pelan.
Alexia meringis memandangi plafon yang sudah tak lagi berwarna putih bersih, lebih ke putih tulang dengan bercak bercak bekas kebocoran yang sudah mengering.
"Sepertinya rumah pembantuku lebih layak daripada tempat ini." lanjutnya membuat Daniel hanya tersenyum kecut, sudah biasa mendengar perkataan dari sang nona yang nyelekit.
"Hanya tempat ini yang mampu ku tempati, pendapatnku sebelumnya saja hanya cukup untuk mengisi perutku sampai akhirnya Ibu kos sering kali menggedor pintu untuk menagih uang bulanan." jelas Daniel apa adanya, Alexia makin tercengang wajahnya berubah menjadi kesal.
"Dimana rumah Ibu kosmu itu?." sudah menduga akan ada peperangan Daniel tidak mau memberitahu dimana rumah pemilik kos kosan tersebut.
"Rumahnya sangat jauh dari tempat ini." bohong Daniel yang beruntungnya berhasil membuat Alexia percaya.
"Nona silahkan duduk dulu." ucap Daniel mempersilahkan Alexia duduk di kursi makannya yang terlihat sedikit usang, dengan ekspresi yang di tunjukkan Alexia, Daniel mengangguk kemudian duduk di kursi itu lalu menepuk pahanya beberapa kali.
Wajah Alexia cengo, dia tidak mengerti apa maksud Daniel.
"Aku tau kau keberatan duduk di kursi kotor ini, maka dari itu aku memintamu duduk di pangkuanku." wajah tampan itu melempar senyum kecil pada Alexia, sontak wajah Alexia sedikit memunculkan semburat merah.
Di dalam hati Daniel menahan tawanya melihat wanita seperti Alexia bisa menunjukkan wajah malu malu seperti itu, sangat menggemaskan.
Alexia berdehem, dia kemudian membuka satu kancing bajunya.
"Rumah jelek ini begitu panas, kau harus cepat mengemasi barang barangmu, aku akan menunggumu di dalam mobil." setelah mengucapkan kalimat itu Alexia langsung keluar dari kamar kos Daniel, Daniel langsung tersenyum geli. Entah mengapa wajah Alexia benar benar tampak lucu tadi, buru buru Daniel menyadarkan dirinya kemudian mengemasi barang barangnya sesuai keinginan nona mudanya.
Sampai di parkiran mobilnya Alexia mendumal kesal, bisa bisanya dirinya merasa malu malu seperti tadi di hadapan Daniel.
"Laki laki itu memang sudah gila, aku yakin dia yang gila bukan diriku." kesalnya.
"Berani beraninya dia memintaku duduk di pangkuannya, wahh." lanjutnya lagi bertolak pinggang.
"Sudah tidak waras."
"Siapa yang memintamu duduk di pangkuannya?." suara lembut itu membuat tubuh Alexia sedikit tersentak kaget, di lihatnya gadis berambut panjang dengan celana levis serta cardigan berwarna pink menenteng sebuah kotak yang sepertinya berisi makanan.
Alexia memandanginya dari ujung kepala sampai ke ujung kaki, membuat gadis yang tak lain adalah Savana itu berdehem tidak nyaman.
"Kau tidak seharusnya memandangiku seperti itu." ucap Savana dengan nada sedikit kesal.
Alexia tersenyum miring, dia menatap mata Savana datar.
"Lalu apa menurutmu kau berhak bertanya padaku seperti itu?."
Tepat.
Savana tampak bodoh, dia kesal dengan jawaban Alexia, gadis di hadapannya ini memang sangat pintar.
"Sebelum melakukan sesuatu setidaknya berfikirlah terlebih dahulu, jika kau tidak ingin menunjukkan betapa bodohnya dirimu."
Savana meremas kuat kotak makan yang berada di tangannya, sebenarnya dia sangat ingin memukulkan kotak itu ke kepala Alexia kalau saja dia tidak sadar siapa gadis di hadapannya itu.
"Kau...
"Savana?." belum sempat Savana membalas kata kata Xia, Daniel sudah muncul dengan tas besarnya.
Wajah Savana semakin menunjukkan kekesalan sekaligus kebingungan.
"Daniel, maaf tidak menelponmu terlebih dahulu, malam ini aku ingin mengajakmu makan bersama." senyum Savana lebar.
Daniel menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, bagaimana ini? Dia akan menghadiri acara dengan Alexia beberapa hari kedepan.
"Maaf tapi aku tidak bisa malam ini Sa, aku memiliki beberapa pekerjaan dengan nona Alexia."
Rasa kecewa tampak jelas di wajah Savana, sejauh ini Alexia hanya menyimak percakapan keduanya.
"Padahal aku sudah membawakanmu makanan." ucap Savana lirih.
"Berikan padaku saja." jawab Alexia sembari tersenyum lebar, namun terkesan mengejek Savana.
Savana menggeleng, namun Alexia memang manusia yang tidak pernah suka jika kemauannya di tolak, dia merebut kotak makan itu lalu mengangkat tinggi kotak itu memfokuskan pandangannya pada kotak berwarna pink kemudia ke wajah Savana.
"Aku akan mencoba makanan rakyat miskin seperti kalian." lanjutnya masih memamerkan senyum seolah olah dia benar benar ingin mencoba makanan di dalam kotak itu.
Daniel tidak yakin, namun daripada makanan itu di buang sia sia maka lebih baik Alexia mencobanya.
"Tapi...
"Tidak apa Savana, aku akan memakan itu nanti jangan khawatir." ucap Daniel memotong ucapan Savana lagi, Savana hanya bisa mengangguk sembari tersenyum kecut.
"Waktuku sudah hampir habis, aku tidak ingin terlalu lama berada di tempat ini kemudian mobilku yang mahal ini berubah menjadi labu milik cinderella." canda Xia tidak lucu sama sekali.
Alexia memberi kode pada Daniel, kemudian masuk ke mobil terlebih dahulu. Daniel mendekati Savana kemudian mengusap rambutnya pelan sambil melempar senyum kecil.
"Aku harus bekerja, maaf mengecewakanmu malam ini gadis pink."
Savana mengangguk membalas senyuman Daniel, wajahnya tampak tidak suka dengan keputusan Daniel malam ini, namun mau bagaimana lagi?
Daniel berpamitan pada Savana, dia kemudian menyusul Alexia masuk ke dalam mobil meninggalkan Savana yang mengepalkan tangannya kuat.
Di tengah jalan Alexia membuka kaca mobilnya, kemudian melempar kotak makanan pink milik Savana tadi ke jalanan, wajah Daniel tampak terkejut dia sangat ingin marah pada Alexia.
"Kenapa? Kau keberatan?." dengan napas sedikit memburu Daniel berusaha tidak menjawab pertanyaan yang sudah jelas bagaimana jawabannya.
"Harusnya kau belajar Daniel." lanjut Alexia memamerkan wajah sinisnya.
"Manusia tidak pernah menjadi manusia, seringkali memakai wajah polos yang di beri Tuhan untuk menyembunyikan sifat iblisnya."
Daniel tidak paham dengan ucapan Alexia, dia masih saja ingin memprotes tindakan Alexia tadi.
"Aku mengajakmu bekerja untuk membantu dirimu dan keuanganmu, jangan salahkan tangan cantikku yang sudah melempar makanan tadi karena wajah gadis itu membuatku geli, dia merasa kecewa karena kau memilih pergi bersamaku." Alexia menjeda ucapannya, dia tertawa geli.
"Dia menyuguhkanmu cinta tapi tidak dengan kecukupan, jangan bodoh Daniel hidup akan terus seperti alas kaki jika kau memprioritaskan hal yang tidak seharusnya."
Untuk sesaat Daniel memahami semua perkataan Alexia, wanita di sampingnya ini benar benar tidak pernah salah, dia baik hanya saja tidak bisa bersikap lebih baik untuk menunjukkan niat baiknya. Kemarahan Daniel seketika hilang, dia tidak menjawab sama sekali, mereka melanjutkan perjalanan mereka menuju sebuah hotel.
~~~
Dengan langkah sedikit jengkel Galen membanting pintu kamar Alexia, manusia serta barang barangnya sudah hilang tanpa jejak membuat Galen emosi pada adik tirinya itu. Dengan tergesa Galen mengemasi barang barangnya dan ikut kembali ke Jakarta saat detik itu juga, tidak perduli dia akan melewati jalan yang rawan dan juga hutan belantara, entah bagaimana pemikiran sulung Leon itu, yang ada di pikirannya hanyalah cepat kembali dan memarahi gadis itu.
"Tuan muda, anda akan kembali selarut ini?." tanya Hendro khawatir.
Galen mengangguk.
"Saya harus kembali, Alexia benar benar membuat saya emosi." jawab Galen menenteng jaketnya berjalan keluar.
"Pertimbangkan kembali Tuan muda, sekarang sudah terlalu malam." mohon Hendro takut takut kalau saja di jalan ada orang yang ingin menjahati Tuan mudanya.
Tidak mendengarkan Hendro, Galen langsung memasuki mobil dan bergegas kembali ke Jakarta.
Setelah menempuh perjalanan 2 jam kurang akhirnya Galen sampai di rumah, dia memarkirkan mobilnya di halaman depan rumah, lalu cepat cepat masuk kerumah.
Karena sudah terlalu larut tidak ada satupun orang yang mengetahui kepulangan Galen, dia kembali bergegas ke kamar Alexia, di buka pintu kayu jati itu dan, kosong. Tidak ada tanda tanda jika adik tirinya kembali kerumah, Galen semakin bingung meskipun dirinya sendiri juga tidak mengetahui kebingungannya atas dasar apa.
Galen mengacak rambutnya kasar, dia memilih kembali ke kamarnya, membanting pintu sedikit keras. Galen berjalan lesu ke arah ranjangnya, tubuhnya sedikit penat, entah karena perjalanan panjang yang dia tempuh atau karena tidak bekerja beberapa hari terakhir.
Galen menjatuhkan tubuhnya ke atas ranjang, matanya menatap langit langit kamar dengan samar, perlahan rasa lelahnya berubah menjadi kantuk, dia memejamkan matanya mengistirahatkan tubuh lelahnya.
~~~
Alexia dan Daniel saling melempar pandangan, wajah Alexia benar benar tampak menahan tawa gelinya, sampai sejauh ini gadis pembawa kotak pink itu mengikuti Daniel.
Daniel hanya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, merasa malu karena pekerjaan mereka akhirnya sedikit terganggu, tampak Savana sedang berusaha menyamarkan diri di balik buku menu yang tengah di pegangnya.
"Luar biasa." ucap Xia sembari menutup mulutnya menahan.
Xia kembali memandang Daniel, kali ini dengan wajah mengejek.
"Aku rasa aku bisa menyelesaikan pekerjaan hari ini sendirian, kau tau kan Daniel aku tidak bisa di ikuti oleh siapapun, kawasan pekerjaanku adalah privasi."
Xia melempar kunci mobil miliknya pada Daniel.
"Pulanglah aku tidak suka di buntuti, sebagai gantinya aku akan memberi teguran padanya."
Alexia langsung berjalan menuju meja tempat dimana Savana duduk, Xia ikut duduk di hadapan Savana bahkan dia memesan segelas coklat hangat untuk membasahi tenggorokannya pagi ini.
"Apa yang kau pikirkan sampai membuntutiku kemari?." masih pura pura tidak kenal, Savana tidak menurunkan buku menunya sama sekali, Xia kali ini benar benar kelepasan. Dia tertawa nyaring, seluruh pengunjung resto pagi itu memusatkan pandangan mereka pada Alexia.
"Nona Savana yang terhormat, bukankah kau putri seorang pengusaha yang cukup terkenal?." mendengar itu Savana langsung menurunkan buku menu yang sedari tadi menutupi wajahnya, ekspresi Savana tidak dapat di tebak, antara malu karena ketahuan dan bingung kenapa Alexia bisa mengetahui keluarganya.
"Aku rasa ayahmu juga memiliki hubungan baik denganku, lantas bagaimana jika mereka mendapat kabar jika anaknya menguntit rekan bisnis mereka? Apa menurutmu itu suatu kabar baik?."
"Jangan bicara macam macam, aku tidak mengikutimu." sanggah Savana dengan nada sedikit meninggi.
Pesanan Alexia sudah sampai, dia menyeruput coklat panasnya terlebih dahulu.
"Em em em, aku ini tidak bodoh, kau seharusnya tidak setengah setengah dalam melakukan sesuatu." balas Xia dengan wajah mengejek.
"Harusnya kau mengikutiku sampai ke dalam kamar hotel, siapa tau kau melihat hal yang seharusnya tak terlihat." melihat ekspresi Savana yang semakin kesal Alexia tertawa puas.
Seperti bersaing namun tidak jelas apa yang mereka perebutkan, Alexia tidak pernah ingin tahu dengan gadis bernama Savana itu, namun sepertinya Savana sangat tertarik dengan Alexia.
"Aku tidak suka dengan sikap bocahmu itu, lain kali berfikirlah terlebih dahulu, jangan mempermalukan dirimu sendiri terlebih kau adalah anak seorang yang terpandang."
Alexia berdiri dari duduknya.
"Soal Daniel, kalau kau memang mengikutiku karena dia, aku tidak pernah berusaha membuatnya menyukaiku. Tapi aku juga tidak pernah melarangnya untuk menyukaiku." lanjut Alexia tersenyum miring.
Alexia meninggalkan Savana lagi seperti kemarin, masih sama dengan wajah kesalnya, tak kalah kesal Alexia juga merasa jengkel dengan gadis itu. Pekerjaannya tidak berjalan lancar gara gara aksi sok kerennya menjadi penguntit gadungan.
Alexia melupakan Daniel, dan dia tidak perduli kemana Daniel pergi, Alexia memilih kembali ke kamarnya. Sampai di kamarnya, Xia membanting tasnya ke sofa, dia juga membuang sepatunya sembarangan.
"Hah, kenapa ada manusia seperti itu." ucapnya kesal sembari menendang ujung sofa.
Alexia kemudian merising merasakan sakit pada ujung kakinya, Xia berjalan pincang ke arah ranjangnya dan duduk di tepian ranjang.
Daniel yang sedari tadi berada di dalam kamar itu tertawa pelan, dia kemudian memilih mendekati Alexia, tidak kembali kerumah Daniel ingin menyesuaikan pekerjaannya dengan Alexia.
"Sudah ku katakan hati hati Nona." Alexia berjengit kaget, dia menatap sinis Daniel.
"Ku bilang pulang, kenapa kau masih ada di sini? Ajak pulang gadis pengantar makananmu itu, menjengkelkan sekali." cecar Alexia mengomel tidak karuan, Daniel tidak menggubris dia mendudukan diri di hadapan Alexia dan mulai memijat kaki majikannya.
"Pekerjaanku belum rampung, aku harus profesional bukan?." jawabnya pelan.
"Terserah!."
Suasana kembali hening, Xia melipat kedua tangannya di depan d**a.
"Pacarmu itu sangat berlebihan." ucap Alexia.
"Siapa?." tanya Daniel tidak paham.
"Siapa lagi kalau bukan gadis tadi."
Membuang nafas pelan, Daniel masih memfokuskan memijat kaki Alexia.
"Dia bukan pacarku, kami berteman cukup lama, bisa di katakan sejak kecil."
Jelas Daniel pada Alexia.
"Lagipula siapa yang perduli, sikapnya melebihi seorang ibu kepada anaknya, bukankah dia terlalu berlebihan? Atau dia memang terobsesi padamu? Ah ya aku tau, dia sangat menyukaimu hingga dia takut aku mengambilmu darinya."
Daniel tertawa, Alexia tampak seperti gadis lainnya saat mengoceh kesal.
"Silahkan jika kau ingin."
Tidak paham dengan jawaban Daniel, Alexia memutar matanya malas, memilih kembali diam.
Interaksi keduanya tidak lagi seperti bos dan anak buah, Daniel bahkan seperti lupa dengan Alexia si gadis sombong dan angkuh, karena semakin lama Alexia semakin menunjukkan sikap naturalnya seperti gadis pada umumnya.
"Kau ingin sarapan?."
"Tidak." jawab Alexia ketus.
Daniel mengangguk sambil memasang senyum kecil, bukanlah nonanya menggemaskan?