Suara burung saling bersahutan, matahari mulai merobek kegelapan masuk ke celah celah jendela kamar villa Alexia, gadis itu masih tertidur pulas di bawah gulungan selimut tebalnya. Tidak berselang lama dia terbangun mendengar suara Galen yang tengah mengobrol dengan Hendro, tukang kebun mereka. Alexia mengucek matanya pelan, dia membuka matanya perlahan kemudian menguap lalu merenggangkan tubuhnya, terdiam beberapa saat sambil memandangi plafon putih kamarnya, Alexia tersenyum kecil mengingat dulu dia tidur di kamar ini dengan sang ibu.
Lamunan Alexia buyar ketika mendengar ketukan di pintu kamarnya, Ia memandang malas ke arah pintu kamarnya.
tok tok tok tok
"Nona, saya ingin mengantarkan teh hangat untuk nona." suara kecil di balik daun pintu itu terdengar sangat lirih.
"Masuklah." perintah Alexia memberi izin.
Gadis muda yang tampak seperti gadis perdesaan itu masuk, berjalan ke arah meja sembari menundukkan kepalanya, Alexia tak ambil pusing dia bangun kemudian turun dari ranjangnya. Alexia membuka lebar tirai kamarnya, tampak jelas Galen dan Hendro tengah membicarakan sesuatu di sekitaran taman dekat kamarnya.
"Kau sudah bangun? Nikmati teh mu sebelum dingin." ucap Galen tersenyum tipis, Alexia tak menanggapinya sama sekali, dia mengambil tehnya dan kembali lagi berdiri di depan jendela kamarnya.
Di liriknya gadis muda tadi masih berdiri menunduk di dekat meja kamarnya.
"Kau boleh keluar." titah Alexia.
"Apa? Aku kurang dengar." sahut Galen, Alexia menoleh ke arah Galen.
"Aku tidak bicara denganmu!." teriaknya setengah kesal.
"Lalu kau bicara dengan siapa? Pak Hendro?." taya Galen lagi.
"Aku bicara dengan gadis yang baru saja mengantarkan teh ini bodoh!." Galen dan Hendro saling berpandangan, Hendro kemudian tersenyum manis ke arah nonanya.
"Nona bisakah anda menutup pintu kamar anda sekarang?." Alexia tidak paham, dia langsung saja menutup pintu kamarnya lalu kembali ke arah jendela.
"Tidak ada gadis muda di sini nona, hanya ada saya yang merawat villa ini sejak kematian mendiang nyonya Hellen."
Sial-
Tidak mungkin ada setan di pagi pagi buta.
Kesal Alexia di dalam hatinya.
~~~
Daniel mengedipkan matanya beberapa kali dengan wajah datar, dilihatnya kursi kebesaran sang bos masih kosong hingga jam 11 siang, Ia kemudian menghela nafas lelah dan memilih duduk di sofa yang tersedia di ruang kantor sanf nona.
Hari ini dia berangkat sangat terburu buru karena dia bangun terlambat gara gara acara minum minumnya dengan Savana malam itu, kepalanya sedikit berdengung berat, Daniel memijat pangkal hidungnya pelan sembari menyenderkan tubuhnya lemas ke sofa.
Hampir saja tertidur suara cempreng Windi membuat Daniel yang sudah hampir terbawa ke alam mimpi kembali membuka matanya lebar lebar, dengan wajah linglung dan gelagapan Daniel duduk sesopan mungkin, gelak tawa Windi terdengar nyaring melihat tingkah konyol bodyguard bosnya itu.
"Apa aku tampak seperti setan Niel?." Daniel berdecak kesal, sejak bekerja di kantor itu dia dan Windi menjadi cukup akrab, bahkan Windi seringkali makan siang bersama Daniel.
"Sebenarnya kau lebih mengerikan." jawab Daniel asal, gadis 22 tahun itu langsung memasang wajah kesal, Windi mendudukan diri di samping Daniel.
"Sepertinya kau tidak di beri tahu nona tentang liburannya seminggu kedepan."
Daniel melotot, dia kemudian menghadapkan tubuhnya ke arah Windi.
"Liburan? Yang benar saja, kenapa nona tidak menghubungiku terlebih dahulu?."
Windi menjitak kepala Daniel, pria jangkung itu mengaduh kesakitan.
"Memangnya dia harus memberitahumu? Memangnya kau sepenting itu untuk nona Xia? Atau jangan jangan...."
Windi menggantung ucapannya, Daniel menatap wajah Windi menelisik.
"Jangana berfikiran macam macam, aku hanya terlalu lelah untuk bekerja hari ini, kalau saja nona memberitahuku pasti saat ini aku bisa tidur nyenyak dirumah." jawabnya kemudian membuang nafas lelah, Windi hanya mengangguk angguk.
"Tapi siapa bilang kau bisa libur?." gelak Windi sambil memasang wajah mengesalkan, Daniel berdecak.
"Kau harus menyusul nona besok, itulah perintahnya." Daniel hanya bergumam menjawab perkataan Windi.
"Baiklah demi uang aku harus semangat."
"Demi uang atau demi uang?." goda Windi kemudian tertawa puas.
~~~
"Jangan terlalu dekat, kau bisa jatuh ke danau." peringat Galen pada Alexia yang tengah berdiri di atas batu pinggiran danau.
Tidak menghiraukan ucapan Galen, Alexia semakin mendekat ke bibir danau kemudian dia merentangkan tangannya sembari menutup mata, merasakan udara segar yang jarang dia dapatkan.
Galen mendekat kearah Alexia, berjaga jaga agar Alexia tidak terjatuh.
"Udara di sini begitu segar, tidak seperti dirumah."
Galen menoleh ke arah Alexia, mencoba mencerna ucapan Alexia.
"Tapi rumah kita juga di dalam hutan, bukankah udaranya cukup baik?."
Alexia tertawa.
"Kau pikir ini hanya soal udara yang ku hirup? Ini soal dirimu, baumu yang membuat udara dirumah tidak lagi segar." senyum mengejek dari wajah Alexia membuat Galen hanya menghela nafas pelan.
"Bercanda." lanjut Alexia.
"Karena sesungguhnya kalian lebih buruk dari yang ku katakan." senyuman lebar terbit di wajah wanita cantik itu.
Sudah Galen duga, pasti akan ada hal yang lebih parah keluar dari mulut adik cantiknya itu.
Hampir saja terpeleset, Galen dengan sigap menahan tubuh Alexia, di tatapnya mata cantik bak kaca bening yang memukau, Galen menelan ludahnya.
Alexia tetap memasang wajah datarnya, dia kemudian cepat cepat melepaskan diri dari Galen.
"Beraninya kau memandangi wajahku seperti itu." dengan tidak berperasaan Alexia mendorong Galen ke danau, meskipun tidak dalam namun cukup membuat sekujur tubuhnya basah kuyup.
"Dasar tidak tahu diri." ingin sekali Galen memaki Alexia, padahal tampak jelas siapa yang tidak tahu diri saat ini.
Alexia langsung melenggang meninggalkan Galen yang masih berada di dalam danau, sesaat kemudian Galen tersenyum kecil, dia tahu sebenarnya Alexia hanya malu berada di situasi canggung itu dan juga terlalu gengsi untuk mengucapkan terimakasih.
~~~
Alexia tersenyum lebar ketika melihat seonggok daging bernyawa di ruang tamu villanya, singkat saja Alexia langsung menyambut tamu tak spesialnya itu dengan senang hati.
Xia menjatuhkan bokongnya di sofa empuk bersebrangan dengan Daniel, masih tidak luntur senyuman Alexia membuat Daniel bergidik ngeri melihat bosnya itu, takut takut kalau Alexia mendadak kerasukan setelah datang ke villa terpencil itu.
"Daniel-ku." ucap Alexia membuka suara, Daniel semakin melotot di buatnya, Alexia tertawa.
"Jangan tersipu begitu, aku hanya menyebut Daniel-ku bukan berarti aku ingin memilikimu."
Daniel membuang nafas, dia kemudian mendekati nonanya, duduk di lantai villa yang dingin. Tangganya terulur menyentuh pergelangan kaki nonanya, Alexia menatap Daniel tidak mengerti, Daniel mulai memijat pelan pergelangan kaki Alexia.
"Apa kau terjatuh saat bermain nona?." tanya Daniel dengan nada santai, Xia masih menatap pria itu tak paham.
Sebelumnya sampai di sofa Alexia berjalan agak terpincang, tidak hanya tampan pria satu ini juga pintar dalam hal pijat memijat.
Alexia berdehem, membuang pandangannya dari Daniel yang masih memijat pergelangan kakinya.
"Aku hanya terjatuh ketika kembali dari danau pagi tadi, tidak ada yang seriu- AADUHH." teriak Alexia kesakitan, Daniel menahan tawanya.
"Kau-uu." Alexia memelototi Daniel, wajahnya tampak kesal.
"Tidak ada yang serius tapi kau kesakitan, ini bukan hal sepele, perhatikan setiap langkahmu nona, wanita cantik tidak boleh meninggalkan bekas luka pada tubuhnya."
Mendengar perkataan Daniel entah mengapa Alexia sedikit gugup dan tersipu, wajah mulusnya bersemu merah, dan Daniel melihat itu. Daniel menunduk sambil menahan senyumnya, tidak bisa di percaya, nonanya begitu manis ketika tersipu malu.
"Itu karna kau menekan kakiku terlalu kuat, makannya aku berteriak." elak Alexia tidak mau kalah.
Daniel mengangguk angguk seolah olah dia percaya, Daniel kembali memijat pergelangan kaki Alexia, gadis itu menatap Daniel seksama, pria tampan seperti Daniel benar benar harus di investasikan dengan benar. Menjadi bodyguardnya adalah salah satu cara yang benar untuk menginvestasikan ketampanan Daniel, gaji yang Alexia berikan tidak main main, mungkin gaji pertama Daniel bisa dia pakai untuk membeli satu mobil.
Diantara percakapan mereka Galen menatap dari ujung pintu kamarnya, wajahnya tampak begitu kesal melihat sang adik di sentuh pria lain, seperti tidak rela pewaris tunggal kekayaan Gilbert memberi senyum malu malu pada pria lain, dia meyakinkan diri kalau itu hanya kekesalannya karena takut sang adik tambah terluka, atau memang sebuah rasa kecemburuan?
~~~
"Sudah berapa lama?." tanya Lauren pada Gema.
Wanita paruh baya itu tersenyum lembut, dia meletakkan kembali figura figura berdebu ke tempatnya.
"Setidaknya sudah 7 tahun." jawab Gema tanpa melunturkan senyumannya.
Lauren berjalan mengitari setiap sudut ruangan itu, dia melempar senyum hampa, di tatapnya ranjang yang tidak pernah lagi di tempati oleh sang pemilik.
"Harusnya kau mendengarkan kata nona besarmu untuk tidak masuk." keduanya saling tatap lalu tertawa.
"Aku hanya membersihkan kamar mendiang nyonya besarku, tidak ada maksud lain dari itu." jawab Gema kemudian.
Lauren berjalan mendekati Gema, di tatapnya wajah tua yang masih terlihat segar itu.
"Atau kau hanya ingin mengenang bagaimana caramu melakukannya dulu?." senyuman Gema luntur, dia kemudian memberi Lauren tatapan sengit.
"Seburuk apapun dia memperlakukanku, aku tidak pernah berniat untuk membunuhnya sedikitpun."
Lauren tertawa sangat keras, dia menjatuhkan dirinya di ranjang mendiang kakaknya, dengan mata masih tertuju pada Gema.
"Mana mungkin wanita yang sudah menyukai kakak iparku dari semasa menjadi karyawan tidak berfikiran untuk membunuh istri sah laki laki pujaanya? Apa kau sedang bermain drama Gema?."
Gema menggertakkan giginya, dia memutar bola matanya.
"Kakaku yang malang." ucap Lauren memejamkan matanya, bibirnya mengukir senyum miring.
"Kau harus mulai berkaca Lauren."
Keduanya lagi lagi tertawa bersama memecah keheningan kamar yang sudah 7 tahun hampa.
~~~
"Aku tidak mengatakan kau bisa memakainya untuk bekerja Daniel, itu adalah hadiahku untukmu tapi tidak untuk bekerja Daniel."
Suara Savana di ujung sana terdengar begitu nyaring, Daniel menjauhkan ponsel dari telinganya.
"Aku memakainya karena cuaca di tempat ini begitu dingin gadis pink." jawab Daniel beralasan.
Terdengar helaan nafas di ujung sana, Savana tidak bisa mengatakan apapun lagi.
"Aku janji akan memakainya ketika kita bertemu lagi, kali ini tubuhku benar benar kedinginan gadis pink." lanjut Daniel.
Savana masih diam, dia kesal mengetahui hoodie yang dia beli sebagai hadiah ulang tahun Daniel 3 bulan lalu di pakai pria itu untuk bekerja, padahal Savana sudah mengakatan harus dia orang pertama yang melihat daniel menggunakan hoodie itu.
"Aku sangat suka dengan hoodie ini gadis pink, sampai sampai aku memakainya ke tempat kerja." hibur Daniel agar Savana tidak lagi marah.
Berhasil Savana tersenyum di seberang sana, Daniel ikut tersenyum.
"Baiklah kali ini ku maafkan kau tuan Daniel." Daniel terkekeh pelan.
"Betapa baik hatinya kau gadis pink."
Suara tawa Savana membuat senyum Daniel semakin lebar, dia kemudian berpamitan untuk menutup teleponnya karena masih ada pekerjaan yang harus dia lakukan.
Daniel hampir saja kehilangan detak jantungnya ketika berbalik dan mendapati nona mudanya sudah berada di belakangnya sambil memegang secangkir teh.
"Astaga."
Daniel melihat Alexia tersenyum lebar, dia merasa ada yang tidak beres.
"Nona apa kau baik baik saja?." Alexia mengangguk sambil menggoyang goyangkan cangkir tehnya.
"Tidak ada yang buruk, kecuali beberapa saat tadi." Daniel berkedip tidak paham.
"Hoodiemu jelek, sangat jelek." lanjut Alexia sembari tersenyum mengejek.
Sudah Daniel duga, nonanya menghinanya lagi seperti sebelum sebelumnya.
"Ini hadiah dari temanku, dan menurutku ini bagus."
"Tidak ada yang memintamu menjelaskan Daniel, pendapatmu itu tidak ada gunanya karena standar kita berbeda, menurutku hoodiemu itu jelek." Alexia mendudukan diri di sofa.
Daniel hanya tersenyum kecut, benar juga selera orang kaya tidak akan sama dengan seleranya barang terbaik sekalipun bagi orang miskin tidak akan ada harganya di mata mereka si kaya.
"Baik nona."
"Apa kita perlu kembali sekarang juga?." tanya Alexia pada Daniel, Daniel tampak bingung.
"Untuk memebeli hoodie yang lebih bagus dari itu." senyum Alexia lebar, Daniel menggeleng menolak.
"Tidak perlu nona, kau harus menikmati masa liburanmu."
Alexia mengacungkan jari jempolnya pertanda setuju, dia kembali menyesap tehnya.
~~~
Melisa tersenyum mengejek melihat wajah kesal Savana, jelas saja gadis cantik itu kesal pasalnya hadiah yang sudah di beli olehnya untuk Daniel di pakai bekerja padahal Savana sudah meminta Daniel memakainya pertama kali untuk dirinya sendiri.
"Buang jauh jauh rasa kesalmu Sa, bukankah kau mendengar jawaban Daniel tadi? Dia sangat menyukai hadiah darimu hingga akhirnya dia memakainya untuk bekerja."
Savana melempar ponselnya ke ranjang kamarnya, tak lama tubuhnya juga dijatuhkan ke ranjang, kedua tangannya mengusap wajah sedikit kasar, pikirannya sudah mulai tidak singkron. Siapa perempuan yang tidak was was jika saingan mereka adalah seorang Alexia Maurellin Gilbert? Meskipun Alexia tidak pernah mau bersaing dengan orang lain namun semua gadis gadis di penjuru kota itu menganggap Alexia adalah saingan terberat mereka.
"Aku hanya takut kalau Daniel lupa akan siapa dirinya." jawab Savana dengan nada tenang meskipun wajahnya tampak sedikit berantakan.
"Tidak mungkin, untuk mendekatimu saja ku rasa dia membutuhkan keberanian yang besar apalagi mendekati seorang Alexia Maurellin? Pasti dia sudah tidak waras sama sekali." sahut Melisa.
Savana tersenyum kecut.
"Itu dia masalahnya, cinta memang membuat seseorang tidak waras bahkan kehilangan dirinya sendiri dengan mempertaruhkan segalanya untuk seseorang yang di cintainya, tidak perlu bermodalkan harta berlimpah jika memang mereka saling jatuh cinta maka mereka akan tetap bersama. Sangat bodoh dan tidak realistis."
Jelas Savana panjang lebar, Melisa menatap temannya itu dari samping sembari melempar senyuman geli.
"Kau sebenarnya sedikit menjijikan." sarkas Melisa membuat wajah murung itu tambah kacau.
Savana membalas tatapan Melisa dengan wajah yang berubah sengit.
"Aku hanya mendefinisikan...
"Dirimu sendiri." potong Melisa membuat Savana hampir saja menetertawakan kebodohannya.
"Dasar bodoh." tawa Melisa melempar bantal ke wajah Savana.