Alexia tersenyum puas dalam hati ketika melihat rumahnya sudah rapih dan kembali pada keadaan semula, kekacauan pesta ulang tahun tidak berguna tadi malam benar benar sudah lenyap tanpa meninggalkan bekas sedikitpun. Itu artinya Galen benar benar merasa bersalah dengan adik tirinya, dia tidak ingin mengundang kemarahan Alexia lagi pagi ini.
Seperti biasanya mereka sarapan bersama, tidak ada yang membuka mulut. Hari ini Alexia sarapan dengan lahap, tidak seperti biasanya, tadi malam dia sudah memaki mereka dengan puas bahkan mempermalukan mereka di depan kolega bisnis yang menurut mereka sangat di hormati. Bagitulah kira kira jika mempermainkan seorang Alexia, dia itu keturuna Hellen Gilbert tidak ada kata maaf untuk satu kesalahan kecil apalagi untuk kesalahan yang sangat amat fatal seperti ini.
"Xia,,
Xia mengangkat dagunya satu kali, pertanda bertanya 'apa' tanpa harus mengeluarkan suara.
"Maaf soal tadi malam." ucap Galen bersungguh sungguh, Alexia hanya mengangguk angguk.
"Aku benar benar minta maaf, aku tidak menyalahkan ayah dan ibu tapi ini benar benar sudah keterlaluan sekali untukmu."
BAGUS KALAU KAU SADAR!
Teriak Alexia membatin kesal.
"Kalau begitu kenapa tidak mulai kau pikirkan." jawab Alexia acuh.
"Tentang?." tanya Galen tidak paham.
"Tidak mungkin kalian akan menumpang denganku selamanya, aku tidak sebaik itu untuk menampung gembel berdasi."
Satu kalimat yang di lemparkan Alexia membuat Gema dan Leon sontak saling melempar pandangan, Gema memberi kode pada Leon untuk meminta maaf pada Alexia.
"Xia,,,
Panggil Loen lembut, Alexia memutar bola matanya malas pasti ada maunya.
"Kalian membuang waktuku begitu banyak, dan untukmu ayah, jangan terlalu banyak tingkah aku hanya masih berbaik hati padamu karena ibuku dulu sangat mencintaimu." Alexia mengatakan hal itu sembari menahan emosinya yang begitu menggebu.
"Maafkan ayah." pungkas Leon pada akhirnya, dia sudah sangat keterlaluan pada anaknya sendiri.
"Aku sudah memaafkanmu, meski hanya dimulut saja, munafik kalau aku bilang aku sudah memaafkanmu dari dalam lubuk hatiku. Tidak ada seorang anakpun yang bisa memaafkan ayahnya ketika mereka tidak di anggap ada dan ucapannya tak pernah di dengarkan sekalipun." jawab Alexia jujur, dia tidak mau berbasa basi baginya hal terbaik adalah selalu mengutamakan kejujuran.
"Nikmati sarapan kalian, aku tidak punya banyak waktu untuk bersantai seperti ini." ucap Alexia kemudian beranjak dari kursinya.
Gadis cantik itu melenggang meninggalkan ruang makan dengan wajah angkuhnya, tak lama kemudian Galen juga ikut menyusul Alexia untuk berangkat bekerja.
Alasan mengapa Alexia selalu saja emosi ketika Leon memperlakukannya sesuka hati adalah karena kebaikan Alexia di balas keburukan, Alexia membiarkan Galen bekerja di salah satu perusahaan miliknya, secara tidak langsung Alexia adalah atasan Galen dan mereka hidup masih setia menumpang pada Alexia. Lalu apa yang bisa Leon banggakan hingga begitu mudah mengata ngatai putrinya sendiri yang begitu sempurna itu?
Alexia masih membiarkan mereka tinggal di rumahnya karena alasan yang sangat konyol, baginya tidak apa apa jika dia membenci mereka setidaknya dia memiliki sasaran untuk di jadikan bahan omelan serta kejahilannya.
Lucu bukan?
"Katakan pada Daniel aku ingin pergi berbelanja, minta dia menyusul ke mall dalam waktu 15 menit." titah Alexia pada sang sekertaris di ujung sana, Windi langsung mengiyakan titah dari sang bos.
Akhir akhir ini dunia sangat menyebalkan bukan?
~
~
~
~
Savana dan beberapa temannya hari ini memutuskan untuk menikmati libur kuliah mereka dengan bermain dan juga belanja, aslinya Savana bukan tipikal gadis yang senang menghamburkan uang demi kegilaan berbelanja seperti gadis gadis pada umumnya, namun berhubung teman teman satu fakultasnya memaksa akhirnya dia mau.
Mereka memulai dari mencari cafe untuk berkumpul bersama, setelah itu lanjut mereka menyambangi sebuah restoran korea yang menyediakan berbagai makanan khas korea serta makanan yang sering muncul di drama korea kesukaan remaja sekarang.
"Aku mau pesan odeng, ya odeng!." teriak Melisa girang karena dia sangat ingin mencicipi makanan yang sering kali membuatnya ngiler ketika menonton drama Korea.
"Aku pesan ramen, yang lain apa?." tanya Savana pada teman temannya.
"Samakan saja Sa." ucap mereka serentak, Savana mengangguk.
Setelah makan mereka berkeliling mall, mereka melewati salah satu butik terkenal yang menyediakan baju baju mahal, sudah jelas hanya deretan kaum belanja tak melihat harga saja yang bisa memasuki tempat itu.
"Sa, bukankah itu Daniel?." panggil Clara heboh melihat Daniel di dalam butik bersama seorang wanita.
Savana menoleh, mencoba memperhatikan dengan jelas, sedikit merasa sakit tapi tanpa alasan yang jelas. Daniel terlihat tersenyum kecil ketika nonanya menunjukkan baju yang ingin dibelinya, Savana berdehem.
"Itu memang sudah menjadi tugasnya." jawab Savana, ketiga temannya menoleh tidak paham.
"Maksudmu? Itu majikannya?." tanya Dhea kemudian, Savana mengangguk.
"Nona Alexia Maurellin Gilbert." ketiganya langsung melongo tidak percaya, jadi itu wanita yang selama ini selalu menjadi topik utama ketika para kolega bisnis berkumpul.
"Wah, aku sungguh tidak percaya ini. Tapi dia benar benar cantik, sungguh." aku Cellin tidak sadar.
Savana tersenyum kecut, benar dia tidak ada apa apanya jika di bandingkan oleh seorang Alexia.
"Bagaimana Daniel bisa berkerja dengannya? Dia sangat selektif saat memilih bawahan." tanya Dhea penasaran.
"Daniel bilang nona Alexia sendiri yang menawarinya pekerjaan." jelas Savana.
Cellin melirik Savana, dia melihat rasa kesal di balik tatapan sok biasnaya.
"Ini bukan masalah sepele, dia menyukai Danielmu." celetuk Clara, Savana terkekeh pelan.
"Itu urusan mereka berdua, aku tidak ikut campur." kata Savana mencoba menghilangkan rasa cemburunya.
"Hanya orang bodoh yang bisa mempercayai ucapanmu Sa, akuilah dia cinta pertamamu hingga saat ini." ejek Cellin, Savana menoleh menatap Cellin.
"Itu dia permasalahannya, aku ingin menunjukan seberapa bodoh Daniel yang tidak menyadari perasaanku." ketiganya tertawa, mereka memutuskan untuk kembali kerumah.
♣
Xia menatap Daniel yang tengah menjilati ice creamnya, dia berdecak pelan.
"Harusnya kau meminta sesuatu yang lebih dari ini, jam Rolex misal atau sepatu Gucci." desis Alexia jengkel.
Daniel terkekeh, dia kembali menjilat ice creamnya.
"Seperti ini sudah cukup, bisa menenangkan pikiran dan juga menambah mood."
Setelah berbelanja Alexia memberikan Daniel satu permintaan karena dia sudah menemani Alexia berbelanja hampir satu hari penuh, dengan santainya Daniel meminta ice cream. Berakhirlah mereka di tepi pantai, memandangi cahaya mentari yang semakin lama semakin merunduk malu.
"Hah, terserah dirimu saja Daniel. Kau orang pertama yang membuatku harus menjilat ice cream seperti ini." jujur Alexia sedikit jengkel, karena sebenarnya dia membenarkan ucapan Daniel, pikirannya sedikit lebih rileks ketimbang sebelumnya.
"Terimakasih nona atas pujiannya." kekeh Daniel, Alexia mendesis.
"Kenapa mentari hanya indah saat akan tenggelam?." tanya Alexia tanpa sadar.
Daniel menoleh, menatap wajah cantik ukiran Tuhan itu.
"Karena dia menunjukkan bahwa sesuatu yang indah akhirnya juga akan pergi." jelas Daniel singkat namun memiliki makna yang dalam.
"Sesekali sempatkan dirimu untuk bersenang senang nona, aku tau mungkin aku lancang tapi bekerja saja tidak cukup untuk membuatmu melupakan masalah yang kau punya." Xia diam diam mencerna ucapan Daniel.
Xia menjilat ice creamnya beberapa kali, Daniel memperhatikan tatapan langka dari nonanya itu, dia tidak pernah melihat mata sayu seorang Alexia seperti saat ini.
"Demi apapun, apa aku secantik itu Niel?." tanya Alexia balas melirik Daniel.
Laki laki itu langsung berdehem, dia buru buru mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Sebenarnya aku juga bingung, kenapa aku bisa secantik ini." sambung Alexia tertawa, terkesan sombong namun memang begitulah faktanya.
~
~
~
Savana berjalan menyusuri trotoar jalanan, pandangannya lurus kedepan, entah sudah berapa jauh jarak yang ia tempuh, perasaannya kini sedikit kacau setelah melihat Daniel dengan Alexia di mall tadi. Gadis itu tiba tiba menjatuhkan air matanya tanpa sadar, dia mendudukan diri di kursi halte, menundukkan kepalanya.
Gadis itu menjambak rambutnya sendiri, dia menegakkan punggung dan mengusap air matanya kasar, ia memukul dadanya sendiri. Sesak terasa memenuhi rongga dadanya, nafasnya seakan tercekat.
"Ini terlalu berlebihan, mereka hanya berteman." ucapnya meyakinkan dirinya sendiri.
"Benar mereka hanya sebatas atasan dan bawahan saja, tidak ada yang lain, aku tidak seharusnya berfikir sejauh itu."
Savana menarik nafas panjang, ia berdiri lalu mengumpat kasar atas dirinya sendiri, ia akhirnya memutuskan untuk pulang kerumah.
~
~
~
~
Masih menggunakan piyama tidur Alexia keluar kamar pagi ini menuju meja makan, hari ini dia memilih untuk libur bekerja dan bersantai seharian di rumah. Seluruh pelayan membungkuk ketika Alexia melewati mereka, ia terlihat cantik meskipun wajahnya tidak di poles make up sama sekali karna baru bangun tidur.
Kaki jenjangnya menuruni anak tangga satu persatu, terlihat dari atas keluarganya sudah berkumpul di meja makan, Xia memasang senyum lebar sebelum sampai di meja makan.
"Selamat pagi Xia." sapa Gema dengan suara lembut, Alexia hanya mengangguk sembari mengangkat tangan pertanda dia tidak ingin mendengar basa basi Gema lagi.
Galen melirik Alexia yang duduk di sampingnya, Alexia balas menatap Gallen, pria itu tidak tampak canggung, dia bahkan sengaja menatap netra abu milik adik tirinya lama. Leon berdehem pelan, sontak Galen menghentikann acara tatap menatapnya dengan Alexia.
"Tumben kau belum siap siap." ucap Leon membuka pembicaraan, Alexia meneguk air putih dari gelasnya, membiarkan para pelayan menyiapkan sarapannya di piring.
"Uangku sudah terlalu banyak, jadi aku sedang memikirkan bagaimana caranya menjadi pemalas dalam sepekan." jawabnya enteng sembari tersenyum lebar.
Gema tersenyum hangat pada Alexia "Ibu senang kau mau memikirkan kesenanganmu Xia, selama ini kau selalu sibuk bekerja sampai tidak pernah punya waktu untuk bersantai dirumah."
Alexia mulai memasukan potongan daging kedalam mulutnya, mengunyah pelan dan menelannya. Ia melirik Galen lagi sembari mengatakan "Kau harus libur hari ini, aku ingin mengajakmu ke suatu tempat" titah Alexia.
Galen tersedak makanannya, dia buru buru minum.
"Kau bercanda?." tanya Galen tidak percaya.
"Apa menurutmu ekspresiku menunjukkan wajah bercanda?" jawab Alexia langsung.
Gema dan Leon saling berpandangan, mereka tersenyum kecil, pagi ini sepertinya mood Alexia sedang baik.
Tidak berselang lama setelah sarapan, Alexia dan Galen bergegas untuk menuju ke salah satu villa pribadi mereka, di sepanjang jalan Galen hanya menatap wanita pujaannya yang kini tengah menumpukan pandangannya pada jalanan yang cukup sepi.
Sesekali Alexia memainkan ponselnya, meskipun akhirnya dia kembali lagi menikmati suasana jalanan perdesaan yang tenang dan nyaman.
"Jangan di buka terlalu lebar kacanya, udara di sini sedikit sejuk." peringat Galen, Alexia menoleh namun tidak menghiraukan ucapan Galen. Galen mengela nafas pelan, dia memasangkan jaket di bahu Alexia takut takut kalau adik tirinya itu sakit.
Alexia hanya diam, dia melirik Galen sekilas lalu kembali lagi memperhatikan hamparan kebun teh di sepanjang jalan.
Tempat yang mereka tuju adalah villa pribadi milik keluarga besar Alexia, sudah sangat lama sejak terakhir kali Alexia mengunjungi tempat itu sendirian, banyak kenangan tentang ibunya di villa itu terlebih memang villa tersebut memang sengaja di bangun oleh sang kakek untuk mendiang ibunya.
Setelah 3 jam akhirnya mereka sampai di villa, Galen membukakan pintu mobil Alexia, gadis itu turun lalu berdiri diam beberapa saat sembari menghirup udara sejuk di tempat itu.
Kedatangan keduanya langsung di sambut oleh tukang kebun yang sudah sangat lama bekerja dengan keluarga Gilbert.
"Apa kabar nona, sudah sangat lama anda tidak berkunjung." Alexia tersenyum tipis.
"Sudah sangat lama, akhir akhir ini aku sangat stress jadi aku butuh udara segar." Hendro sang tukang kebun mengangguk senang, dia tidak pernah melihat nonanya sejak terakhir kali saat Alexia masih kanak kanak.
"Bawakan barang barang Alexia ke kamarnya." perintah Galen pada Hendro, Hendro langsung bergegas mengambil barang barang milik Alexia yang berada di bagasi mobilnya.
"Masih terlihat sama." gumam Galen memandang jauh hamparan kebun teh dan juga kota yang hampir tak terlihat, bibirnya melengkung ketika mengingat masa kanak kanaknya yang selalu ia habiskan bersama gadis yang kini menjadi adik tirinya.
Alexia menyusul, dia berdiri di samping Galen, memandangi hamparan kebun teh dengan tatapan kosong.
"Tidak ada yang berubah dari tempat ini, kita yang sudah terlalu banyak berubah." jawabnya membuat Galen menoleh ke arah Alexia.
"Bukankah ada danau kecil di sekitar villa? Kau mau pergi bersamaku?." Alexia mengangguk, dia masuk kedalam villa untuk mengganti pakaiannya.
~~~
"Kurasa ini agak gila." ucap Savana tidak jelas karena tengah mabuk, dia sudah menghabiskan beberapa kaleng bir dan juga 2 gelas vodka.
"Sadarlah gadis pink, tidak biasanya kau seperti ini." hardik Daniel sambil menguyah ayam gorengnya.
"K-kau tau Daniel, dia itu gadis yang penuh masalah... Ya aku sangat paham, tidak ada gadis cantik yang tidak terkena masalah." oceh Savana lagi semakin melantur.
Daniel tertawa pelan, kemudian dia menatap Savana "Jadi selama ini kau gadis jelek?." Savana mengedipkan matanya beberapa kali, wajah linglungnya begitu menggemaskan bagi Daniel.
Savana menggeleng gelengkan kepalanya tidak setuju.
"Tentu saja aku gadis yang cantik, buang omong kosongmu itu Daniel." marahnya sambil menggebrak meja, tidak sadar bahwa dialah yang sedari tadi berbicara omong kosong.
"Nonamu itu, dia... Dia sangat mengerikan, bukankah cantiknya tidak manusiawi Daniel?." Daniel meneguk minumannya kembali, tugasnya hanya mendengarkan ocehan Savana yang tidak sadarkan diri ini atau lebih tepatnya setengah sadar.
"Hm, aku setuju." pungkas Daniel kemudian terdiam beberapa saat membayangkan wajah cantik bosnya.
"Dia benar benar sangat cantik." lanjut Daniel lagi, Savana melempar bekas kaleng birnya ke arah Daniel, dia kesal mendengar Daniel yang selalu saja memuji Alexia melebihi pujiannya pada Savana.
"Apa aku tidak secantik dia Daniel? Sampai sampai kau hanya memujinya? Apa aku terlihat jelek? Tatap aku!." Savana menangkup wajah Daniel, mata sayunya bertubrukan dengan netra biru milik Daniel.
"Bukankah aku.. ak - HUEKK.....
Daniel melongo, Savana memuntahkan isi perutnya tepat di bajunya.
"DASAR KEBIASAAN BURUKMU GADIS PINK!." teriak Daniel emosi.