Daniel tengah menunggu Savana datang ke rumahnya, hari ini mereka berencana merayakan hari Daniel mendapat pekerjaan. Sejak dulu Daniel dan Savana akan merayakan apapun yang terjadi pada mereka.
"Hei." Savana mengagetkan Daniel dari belakang, Daniel terkekeh.
"Kau dasar tukang terlambat." Savana menggendikkan bahunya, dia langsung duduk di sebelah Daniel.
"Aku membeli beberapa daging tambahan, ku rasa kita harus makan banyak malam ini." kekehnya sambil mengacungkan jempol.
Daniel tersenyum tipis, gadis di hadapannya ini memang tidak pernah sekalipun berubah, sejak masa kanak kanak Savana selalu bersikap baik pada siapapun. Dia bak putri dari dunia dongeng, paket lengkap ada padanya, baik hatinya, ceria dan cantik jelita. Meskipun dia anak seorang pengusaha kaya tetap saja gaya hidupnya sederhana, lebih cenderung tidak memamerkan kekayaannya seperti anak anak lain.
"Aku tau, kau pasti sedang mengagumi wajah cantikku. Iya kan?." Daniel mencubit pipi Savana gemas.
"Kau salah gadis pink." gelak tawa Daniel terdengar setelah melihat wajah kesal Savana.
"Aku bukan gadis pink lagi."
Julukan gadis pink diberikan Daniel pada Savana saat mereka masih duduk di bangku sekolah dasar, karena semasa SD Savana sangat senang menggunakan barang barang berwarna pink, dari mulai tas, sepatu, bando, kotak bekal bahkan mungkin dalamannya pun berwarna pink.
Daniel menangkup kedua pipinya sendiri, tatapannya tertuju pada Savana.
"Bagiku kau tetap gadis pink, gadis baik hati yang sudah bersedia menjadi satu satunya teman seorang Daniel." Savana mengukir senyum simpul, sekilas bayangan di masa lalu hinggap di kepalanya.
Perkenalan keduanya dimulai saat Daniel dijadikan bahan bulian oleh anak anak lainnya, dengan beraninya Savana mengatakan bahwa tidak ada yang boleh mengganggu Daniel lagi karena mulai detik itu Daniel adalah temannya.
Savana lumayan di kenal kala itu, dia siswi pindahan dan juga anak pengusaha kaya.
"Baiklah teman, jelas sekali kau sudah memujaku sejak kecil." senyuman mengembang lagi di wajah keduanya.
"Bagaimana hari pertamamu Niel? Aku sangat penasaran apa nona Xia benar benar secantik rumor yang beredar?." tanya Savana sambil sibuk memanggang daging.
"Hari pertamaku sangat baik, dia tidak banyak bicara ketika bekerja, dia benar benar sempurna seperti bayanganmu. Cantik, pekerja keras, dan juga kaya raya." Savana berdecak menaikkan sebelah bibirnya sedikit kesal dengan jawaban Daniel.
Mungkin saja dia cemburu? Mungkin?
"Ah sudahlah, aku hanya ingin mengingatkanmu. Jangan sampai kau jatuh cinta padanya, karena itu hanya akan membuatmu sakit hati, bayangkan saja sudah berapa banyak pengusaha muda yang tampan dan kaya raya ditolaknya mentah mentah." Savana menjeda ucapannya, dia menuangkan minuman kegelas Daniel.
"Apalagi dirimu, mungkin melirik saja dia tidak mau." sedikit menyakitkan memang tapi apa yang dikatakan oleh Savana adalah kenyataan, Savana memiliki standar yang sangat tinggi soal laki laki.
Daniel mengangguk dia meminum bir yang baru saja di tuangkan Savana.
"Bagiku, kau saja sudah cukup." akunya sambil tersenyum hangat, jantung Savana berdebar pipinya sedikit memerah tersipu.
Apa di antara keduanya sama sama menyimpan sebuah rasa lebih dari sayang sebagai sahabat?
~
~
~
~
Xia menenggak segelas wine, dia terlihat begitu handal dalam hal minum, ruangan privat itu berisikan kerabat kerabatnya yang setiap satu bulan sekali mereka selalu mengadakan acara kumpul bersama. Perlu kalian garis bawahi, Alexia adalah satu satunya keturunan putri di keluarga besar Gilbert, bisa di bayangkan dia menjadi ratu diantara sepupunya yang lain.
"Harusnya kau membawa Galen." ucap Zea kekasih dari kakak sepupu Xia yang bernama Clay.
Alexia menatap lurus, tangannya menggoyang goyangkan gelas berisi wine itu beberapa kali.
"Aku tidak bisa membawa hewan peliharaan di acara seperti ini." tawa Zea terdengar begitu jelas mengalihkan perhatian kerabat Xia yang lain.
"Sepertinya ada obrolan menarik di sini." Clay mengambil posisi dia duduk memangku Zea.
"Tidak ada yang menarik." jawab Xia malas.
"Aku bilang padanya seharusnya dia membawa Galen kemari, dan kau tau apa jawabannya sayang? Dia mengatakan dia tidak bisa membawa hewan peliharaan ke acara seperti ini." tawa Zea lagi disusul tawa Clay.
Sudah menjadi rahasia umum, kedua kakak adik tiri itu tidak pernah akur sama sekali, mereka selalu menjadi topik utama ketika ada perkumpulan keluarga. Tapi Alexia tidak pernah keberatan, dia juga senang melihat Galen di permalukan oleh keluarga besarnya sendiri, Galen itu hanya parasit bagi Alexia.
"Dia baru saja mendapat hadiah atas kepulangnya." Clay tersenyum penuh arti.
"Dan kau merusaknya?." Alexia mengangguk, sudah Clayton duga adiknya memang tidak pernah sayang dengan barang barang milik Galen. Kalau bisa mungkin bukan hanya barang barang milik Galen yang dia rusak, namun mental Galen juga ingin dia rusak.
"Kalian kakak adik yang begitu mengesankan, aku rasa tinggal satu hari di rumahmu akan menyenangkan." imbuh Calyton sambil tertawa.
"Tidak masalah, bisa kau coba." tawar Alexia.
"Lebih menyenangkan lagi jika kau bisa membuat Gema menangis, sejauh ini aku belum pernah melihat tangisan b*****h tua itu."
Clay mengangguk angguk, meskipun sulit untuk membuat mantan kepala pelayan adiknya itu menangis karena Clay sangat jarang berkunjung kerumah Xia, dia belum mengerti banyak seluk beluk seorang Gema.
"Lain kali kita harus mencobanya." sahut Zea bersemangat, Zea ini termasuk gadis bermulut tajam dia tidak segan segan menghina orang lain dengan kata kata yang menyakitkan kalau memang itulah fakta yang ada.
"Pintu rumahku selalu terbuka untuk kalian, silahkan datang kalau memang kalian mau." jawab Xia, dia menghabiskan wine di dalam gelasnya satu kali tenggak.
~
~
~
~
"Mau sampai kapan anak itu tidak menganggap dirimu sebagai ibunya, sudah tujuh tahun. Aku rasa itu waktu yang lebih dari cukup untuk dirinya melepas semua dendam tak bergunanya itu." Leon menggerutu tidak habis pikir pada putri semata wayangnya.
Gema mendudukan diri di pinggiran ranjang kamar mereka, sebenarnya dia juga sudah lelah meyakinkan Alexia bahwa dia bukan sosok ibu tiri yang jahat, namun mau bagaimana lagi anak itu lebih keras dari batu wataknya.
"Dia sangat mirip dengan ibunya, tidak ada satu pun sifat atau wajahmu yang menurun kepadanya. Percayalah dia anak yang baik meski kasar padaku dan Galen." bela Gema pada anak tirinya.
Leon sudah muak dengan sikap egois Alexia, dia benar benar muak tapi dia butuh.
Entahlah Alexia yang begitu keterlaluan atau Leon sendiri yang tidak menyadari betapa angkuh dan tamaknya dirinya sendiri.
Kala itu Alexia sudah melarangnya untuk tidak menikah dengan Gema tapi Leon tidak mendengarkannya sama sekali, dengan baik hati Alexia tidak mengusir mereka dari rumah mewah nan megahnya itu tapi lagi lagi Leon tidak tahu terimakasih. Dia bukan apa apa kalau Hellen tidak menikahinya, dia hanya manager kantor kalau tidak diajak berumah tagga dengan Hellen.
Namun setelah kematian istrinya Leon lupa diri, dia seakan akan adalah pewaris harta yang di tinggalkan Hellen, pada kenyataannya Alexia adalah pewaris seluruh kekayaan itu.
"Setidaknya dia harus menghormatimu!." nada bicara Leon meninggi.
Gema diam mematung, ucapan Leon tadi lebih dari jelas untuk di dengar.
"Kau membicarakan aku sebenci itu seakan akan aku ini bukan anakmu." Alexia tersenyum miring, Leon hanya diam tanpa suara.
"Sial, aku benar benar sudah muak dengan semua pengemis dirumah ini."
Xia berlalu, Gema hanya menghela nafas. Suaminya terkadang memang sangat sulit untuk mengontrol emosinya, hal itu membuat putri semata wayangnya tersakiti berkali kali.
"Kau harus menjaga ucapanmu sayang, dia putrimu, darah dagingmu."
~
~
~
~
Seperti biasa rutinitas seorang Alexia Maurellin adalah menjadi wanita karir, pagi pagi buta dia sudah berangkat ke bandara untuk melakukan penerbangan ke Surabaya, menyambangi proyek pembangunan hotel mewah bintang lima miliknya. Dia tidak lupa membawa Daniel untuk ikut serta, dia tidak akan menginap di Surabaya, jadwal kepulangnya ke Jakarta sekitar pukul 7 malam.
Daniel duduk berdampingan dengan Alexia, jelas saja wanita kaya raya itu mengambil kelas bisnis untuk kenyamanan penerbangannya.
Sejak mereka berangkat Alexia tidak menyapa Daniel sama sekali, dia sepertinya dalam mood yang buruk batin Daniel.
Setelah sampai Alexia memutuskan untuk makan terlebih dahulu, dia tidak punya selera makan dirumah satu meja dengan para manusia yang di anggapnya pengemis tidak tahu diri itu.
"Makan." perintah Alexia pada Daniel yang sedari tadi hanya memandangi makanannya tanpa di sentuh.
"Nona,, apa kau baik baik saja?."
Tanya Daniel hati hati, Alexia memasukkan potongan daging ke dalam mulutnya sambil mengangguk beberapa kali.
"Ya seperti yang terlihat, aku akan baik baik saja selama di tempat yang tepat." Daniel meringis, nonanya tidak pernah terlihat bahagia sama sekali, Daiel hanya penasaran ada apa dengan hari hari sang majikan. Apa dia tetap kesepian meski memiliki uang berlimpah?
"Aku tidak menjamin uang bisa membuatmu bahagia, namun setidaknya kau bisa menghibur dirimu menggunakan uang jika kau kesepian."
Seperti tahu apa yang tengah di pikirkan oleh Daniel, Xia menjelaskan tanpa di minta.
"Aku tau apa yang sedang kau pikirkan, terlalu mudah di tebak."
Daniel menemukan sisi baru dalam diri Alexia, wanita itu benar benar sering memberi kejutan.
"Apa kau punya teman nona? Maaf kalau aku lancang." tanya Daniel penasaran.
Alexia membersihkan bibirnya menggunakan tisu.
"Aku tidak butuh teman." jawab Alexia jujur, baginya keluarga pun bisa menyakitinya begitu dalam lalu untuk apa mencari teman? Semua manusia bisa menyakiti dirinya kapanpun, dia hanya mengantisipasi agar tidak terluka lagi di kemudian hari.
"Siapapun bisa melukaimu, bahkan keluarga. Jangan mudah percaya pada seseorang yang baik padamu Daniel."
Daniel tersenyum lembut, benar. Ayah Daniel adalah contoh nyatanya, dia mampu menyakiti anak dan istrinya sendiri.
Acara makan mereka akhirnya selesai, Alexia berangkat untuk melihat proses pembangunan proyeknya. Seharian sudah mereka habiskan waktu untuk bekerja, seharian pula Daniel tidak ada habisnya mengagumi Alexia.
"Permisi nona." sekertaris Alexia membisikkan sesuatu pada Alexia sebelum penerbangan mereka berangkat.
Wajah Alexia berubah girang.
"Aku tidak percaya mereka membuat pesta tanpaku." canda Alexia tanpa minat.
"Kita harus memberinya hadiah, siapkan hadiah yang cocok untuknya Windi." Windi mengangguk dia permisi pada bosnya itu.
"Hari ini kau harus lembur Daniel, aku akan menunjukkan betapa hangatnya keluargaku."
Daniel mengiyakan perintah Alexia.
~
~
~
~
Rumah megah itu di sulap menjadi sebuah aula pesta yang sangat mewah, tak cukup hanya di dalam mereka bahkan menyediakan tempat pesta outdoor juga. Beberapa tamu sudah datang memberi selamat dan juga hadiah pada penyelenggara pesta itu, siapa lagi kalau bukan Galendra Georgi putra dari Gema dan entah siapa.
"Panjang umur untuk calon menantuku." ucap Isabell ibu dari Bianca kekasih Galen.
"Terimakasih aunty, aku sangat senang melihatmu hadir di sini." balas Galen sambil memeluk ibu sang kekasih.
"Tentu saja aku akan hadir, bagaimana mungkin aku bisa mengabaikan calon menantuku yang sangat tampan ini." Gema, Leon dan juga David ayah Bianca tertawa.
Gadis yang menjadi kekasih Galen itu hanya tersenyum malu, setelah sang ibu mengucapkan selamat pada Galen kini gilirannya, dia mengecup pelan pipi kekasihnya.
"Happy birthday baby, aku mencintaimu." Galen memeluk Bianca hangat.
Bianca memberikan hadiah pada Galen, sebuah jam tangan bermerk.
Acara berlanjut, Gema mengajak Isabell menikmati hidangan yang telah di sajikan.
Pesta ulang tahun Galen tak hanya di hadiri oleh keluarga besar dari pihak Gema namun juga kolega bisnis mereka, semua di undang tanpa terkecuali.
Suara deruan mobil terdengar, sesegera mungkin para pelayan berlari menuju pintu utama, beberapa tamu kebingungan. Leon yang melihat para pelayan berlari ke arah pintu utama sedikit panik, setahunya sang putri akan menginap di Surabaya karena urusan pekerjaan.
Pintu utama terbuka lebar, seorang wanita cantik keluar dari dalam mobil, dia memberikan tasnya pada para pelayan. Sejenak dia memandang rumahnya yang sudah di penuhi orang orang dengan tatapan tidak suka.
Dia berjalan dengan anggun memasuki rumah di ikuti oleh Daniel di belakangnya.
Leon segera berlari ke pintu utama bersama Gema, Galen menyusul mereka. Perasaan Galen sudah tidak enak.
Alexia berhenti tepat di ruang utama, dia menyilangkan kedua tangannya di depan d**a.
"Kau sudah pulang, ku kira kau akan bermalam di Surabaya." ucap Leon, Xia tersenyum miring.
"Aku pulang karena aku memiliki rumah, dan saat ini dirumahku tengah diadakan pesta meriah."
Alexia membuang nafas kesal, dia sengaja melakukannya.
"Bukankah tidak sopan jika kalian tidak mengundang sang pemilik rumah? Padahal kalian mengadakan pesta dirumahnya." beberapa tamu mulai berbisik.
"Tapi tidak masalah, aku sudah biasa di perlakukan seperti itu dirumahku sendiri."
Alexia mengangkat tangannya memberi kode pada Daniel untuk memberikan hadiah yang sudah Alexia siapkan untuk Galen.
"Hadiah dariku." Galen menerimanya.
"Bukalah." titah Alexia.
Setelah membuka dan melihat isinya Galen hanya terdiam, tampak wajah Leon menahan emosi.
"Kau benar benar keterlaluan Xia." kata Leon bernada tinggi.
Alexia berpura pura tidak paham.
"Aku tidak sempat melihatnya tadi, karena aku baru mendengar kalian mengadakan pesta saat aku akan kembali kemari. Aku hanya meminta bawahanku menyiapka hadiah yang sesuai untuknya, memang apa isinya?." tanya Alexia balik.
Leon melempar kotak hadiah itu tepat kedepan Alexia, terdengar bunyi nyaring dari perkakas untuk membersihkan kebun.
Alexia menganga, tidak lama dia tertawa.
"Hadiah apa ini!." teriak Leon.
"Aku hanya minta mereka menyiapkan yang sesuai, kurasa mereka belum tau kalau Galen sudah bukan tukang kebun dirumahku lagi." para tamu benar benar di kejutkan oleh drama yang disajikan Alexia.
"Kau keterlaluan!." Leon dikuasai emosi.
"Kau harus paham Tuan Leon Georgi, pertama ini rumahku kedua ini rumahku ketiga ini rumahku, siapa yang lancang mengadakan pesta semewah ini tanpa izin padaku." hampir saja Leon menampar putrinya, untung saja Daniel dengan cekatan menahan tangan Leon sambil meminta maaf.
"Maaf tuan."
"Ah sialan." umpat Alexia.
"Setidaknya sewa hotel untuk putra kesayanganmu itu, jangan menggunakan rumahku." Leon menarik paksa tangannya.
Alexia meninggalkan ruang utama menuju tangga, Daniel mengikuti di belakangnya.
Para tamu sibuk membicarakan kejadian tadi, kali ini Leon dipandang buruk oleh para tamunya sendiri.
Begitulah Alexia, dia tidak akan membiarkan Gema dan Galen bertindak seenaknya dirumahnya sendiri.