Alexia membanting pelan pintu kamar, dia menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang empuk yang nyaman, matanya memandangi langit langit rumah dengan tatapan kosong. Lelah, dia sudah lelah bekerja seharian dan berharap kembali kerumah tanpa ada satupun orang yang menganggunya.
Tak sengaja dia menatap figura yang sudah lama terpajang di dinding kamarnya, Alexia bangkit lalu berjalan mendekat kearah figura itu. Tangannya terulur menyentuh potret dirinya dan sang ibu semasa dia kecil dulu, senyum tipis muncul.
Sejauh apapun mereka di masa dulu tetap saja mereka adalah dua orang anak dan ibu yang saling menyayangi, meskipun tak pernah terucap secara langsung. Kejadian 7 tahun lalu masih menjadi kilasan rutin tiap harinya untuk Alexia, melihat sang ibu meregang nyawa dengan cara yang tidak pernah dia bayangkan.
"Aku rindu pertengkaran kita dulu." lirih dia menyuarakan kerinduannya.
Bukan hanya sebuah omong kosong belaka, sejahat apapun seorang ibu pada putra putrinya tetap mereka adalah sosok paling hangat yang pernah hadir di hidup anak itu sendiri, pelukan hangat seorang ibu ketika anaknya tengah cemas ataupun sakit menjadi obat paling manjur sepanjang masa.
Alexia mendudukan diri di ranjangnya lagi, diusapnya potret wajah sang ibu.
"Kau tau bu, meskipun kau jahat padaku tapi kau adalah tempat diriku mengeluh dan bersandar. Sekarang, ayah sudah menemukan kebahagiaannya sendiri tanpa aku."
Bulir bening putih basah itu sudah mengalir dari pelupuk mata Alexia, Alexia tertawa perih setelahnya.
"Bahkan dia masih bersikap baik padaku karena dia takut aku akan mengusir mereka dari rumah mewah ini, hanya sekedar itu bu." tawanya semakin menunjukkan betapa kesepiannya seorang Alexia Maurellin.
Alexia mengusap pipinya, dia kemudian tersenyum.
"Tak apa, anggap saja mereka mainan dengan begitu kehadiran mereka tak telalu terlihat seperti sampah. Iya kan, bu?."
Di balik pintu kamar, seseorang mendengarkan dengan seksama. Dadanya nyeri ketika gadis itu tidak pernah mengakui bahwa dia kesepian, bahwa dia butuh seseorang, dan dia butuh sandaran.
Pribadinya yang terlihat begitu kuat dan dingin membuat siapapun tak ingin berdekatan dengannya, dia membuang nafas pelan.
Tanagnnya yang sedari tadi sudah hampir mengetuk pintu kamar itu akhirnya dia turunkan, tidak ingin mengganggu untuk sementara waktu.
"Len." tubuh Galen terperanjat kaget.
Sang ibu tersenyum simpul, melihat wajah kaget putranya.
"Kenapa lama sekali?." tanya Gema yang sudah menunggu agak lama di meja makan bersama Leon.
Galen menggeleng, dia kemudian menatap pintu kamar Alexia sebentar.
"Sepertinya dia kelelahan bu, aku sudah memanggilnya beberapa kali tapi tidak ada sahutan seperti biasanya, mungkin dia sudah tidur." Gema mengangguk paham.
"Ya sudah ayo kita turun, ayahmu sudah terlalu lama menunggu." Galen mengangguk, dia kemudian berjalan beriringan menuruni tangga bersama Gema.
~
~
~
Keseharian Alexia tidak pernah jauh jauh dari kata bekerja dan bekerja, dia gila uang meskipun sudah terlahir dari keluarga kaya raya. Begitulah sifat asli manusia, tamak dan tidak pernah merasa cukup tak jarang pula mereka menyombongkan kekayaan yang mereka miliki.
Seperti Alexia misalnya, kapan dia tidak pernah menyombongkan diri?
Hari ini Alexia kedatangan tamu yang cukup dekat dengannya dalam urutan keluarga, yaitu sang tante yang sejak lama tinggal di luar negeri karena mengikuti sang suami.
Meja makan yang biasanya hening kini sedikit bersuara, Alexia tersenyum lebar ketika auntynya yang begitu mirip dengan sang ibu datang mengunjunginya.
"Makan makananmu sayang, jangan terlalu banyak tersenyum sambil memandangiku." Alexia terkekeh pelan.
"Aku suka wajahmu, sangat mirip dengan ibu."
Lauren tau, keponakannya merindukan sang ibu. Tujuh tahun lamanya, tidak akan pernah bisa menghilangkan sosok ibu di dalam hati anaknya sendiri.
"Mau berkunjung ke makamnya?." tawar Lauren, Alexia menggeleng.
"Aku banyak sekali pekerjaan aunty, mungkin lain kali." jawab Alexia pelan.
"Bukankah kau tidak pernah mau mengunjungi makam ibumu sendiri, Xia."
Satu kalimat itu sukses membuat Alexia menoleh dan menghujam ayahnya dengan tatapan mengerikan. Bibirnya menyunggingkan senyuman tipis.
"Kau tau apa memangnya? Kau bahkan hanya duduk santai dengan istrimu yang sama sama tidak tahu diri ini dirumahku, jangan karena kau adalah ayahku lalu kau pikir bisa bicara seenaknya."
Gema yang tenang kini mulai terlihat panik, perdebatan keduanya tidak akan pernah dimenangkan oleh Leon. Putrinya sangatlah pintar menjatuhkan seseorang dengan fakta yang nyata.
Lauren melirik ke arah Galen, dia tampak tidak mau tahu dan perduli dengan perdebatan Alexia dan ayahnya.
"Kadang kadang aku sering memikirkan, apa perlu kalian ku usir dari sini?."
"Xia." ucapan Xia barusan langsung di sahut oleh Galen.
"Dia itu ayahmu."
Alexia mengangguk angguk, dia sadar 100% bahwa orang yang tidak pernah menganggapnya anak itu adalah ayah kandungnya.
"Kalau begitu, kau dan ibumu saja yang keluar dari rumah ini. Kalian hanya pelayanku, kan?." lagi lagi Alexia berbicara menohok mereka berdua, Leon menggebrak meja emosi.
"Jaga mulutmu Xia!."
Dengan santai Alexia melemparkan gelas beserta airnya ke tengah meja makan, tatapannya berubah dingin.
"Jaga sikapmu, kau pikir siapa yang membiayai semua ini? Makanan dan baju baju kalian ini memang siapa yang memberi kalian tumpangan?."
Dalam, sindirian Alexia terlalu jelas.
Lauren tersenyum kecil, keponakannya benar benar tidak ada duanya.
"Aku berangkat, bicarakan pertemuan keluarga dengan mereka aunty keputusannya bisa kau beri tahu aku nanti ya." Lauren mengangguk, Alexia mencium pipi Lauren sebelum pergi.
"Hati hati di meja banyak sampah." imbuh Alexia lagi.
Jahat memang tapi mau bagaimana lagi, Leon sudah melampau keterlaluan.
~
~
~
~
"Pagi Niel."
Daniel meringis sambil menjawab salam Bima, anak sulung pemilik rumah sewa yang dia tempati itu.
"Pagi Bim."
Bima mengangkat gelas kopinya, bicara menggunakan bahasa tubuh menawari secangkir kopi pada Daniel.
"Kopi." Daniel menggeleng, dia harus segera berangkat kerja karena ini adalah hari pertamanya, lagi pula siapa yang mau di tawari kopi mengingat sang ibu pemilik rumah sewa yang begitu mengerikan saat memandang orang yang belum membayar sewa bulanan.
"Aku harus berangkat kerja, lain kali Bim."
Bima mengangguk angguk saja.
"Jangan tawari dia kopi Bim, dia belum bayar sewa 2 bulan!."
Baru saja Daniel membatin, sudah keluar raja hutannya. Bisa di bilang ibu pemilik rumah sewa lebih menakutkan di banding hewan buas ataupun hantu mana saja.
Bima terkekeh, dia sangat jauh berbeda dengan sang ibu, benar benar baik dan sopan.
Daniel menunggu bus di halte jalan raya dekat rumahnya, seperti biasanya karena ini hari senin maka banyak sekali kendaraan berlalu lalang entah mereka akan berangkat bekerja ataupun sekolah.
Di pinggir kanannya Daniel melihat segerombolan gadis SMA yang sibuk membicarakan ulangan hari ini, ada yang mengeluh karena tidak belajar, ada yang mengeluh karena terlalu banyak nonton drama hingga ketiduran, bahkan ada yang dengan santainya mengatakan jangan belajar kita nyontek saja.
Daniel menggelengkan kepala, anak jaman sekaranh benar benar sulit di mengerti, tidak seperti di jamannya dulu.
Selang lima menit bus datang, Daniel menaiki bus itu bersama bocah bocah ingusan tadi.
Lima belas menit berlalu, akhirnya Daniel sampai di depan gedung pencakar langit yang menjulang tinggi. Terpampang tulisan besar di depan gedung tersebut 'AM coorporation', mulut Daniel menganga tidak percaya gadis angkuh dan sombong itu ternyata benar benar sekaya ini.
Daniel merapi rapikan bajunya, dia masuk dan langsung menuju ke resepsionis.
"Ada yang bisa saya bantu?." tanya si resepsionis sambil menelisik karena Daniel tidak memiliki kartu karyawan seperti yang lain.
"Saya ingin menemui nona Alexia." jawab Daniel to the point.
"Sudah membuat janji sebelumnya?." Daniel mengangguk, dia kemudian menunjukkan kartu nama Alexia.
"Saya di minta menemui nona Xia hari ini."
Sang resepsionis meminta Daniel untuk menunggu sebentar, dia menghubungi sekertaris Alexia.
"Mari saya antar."
~
~
~
"Wow."
Alexia tersenyum simpul, kali ini penampilan Daniel terlihat lebih rapi dan juga seksi. Menggunakan celana kain serta kemeja yang sedikit mengetat memperlihatkan otot d**a dan juga lengannya, pikiran Alexia mulai berandai andai.
"Aku kira kau akan menggunakan kaos berbalut kemeja seperti saat di pantai." ejek Alexia, Daniel hanya mengedipkan matanya beberapa kali.
"Aku harus rapi, ini hari pertamaku bekerja nona."
Benar juga, Alexia duduk kembali di kursinya.
"Tidak salah sih, duduk Niel anggap saja tempat ini rumahmu." canda Xia, Daniel tak menyangka ternyata Alexia tak seangkuh yang dia pikirkan.
Dia cenderung lebih ramah ketika sudah kenal.
"Baiklah, tugasmu hanya menjaga aku membantu jika aku memerlukan sesuatu, dan jangan sampai ada orang lain yang tau kalau kau itu bodyguard pribadiku."
Daniel menangguk, dia tahu alasan mengapa orang lain jangan sampai tahu karena Alexia tidak mau terlalu ketara melindungi dirinya sendiri.
"Ku rasa kita harus saling bercerita agar bisa saling mengenal lebih dalam."
Tidak terlalu buruk, Daniel mengangguk setuju. Ingin sekali Alexia memenggal kepala itu, dia seperti tidak memiliki mulut, dia hanya menjawab pertanyaan dengan anggukan atau gelengan.
"Apa aku perlu membuka segel di bibirmu agar kau bisa bicara Niel?."
Daniel gelagapan, dia menggeleng lagi.
"Tidak nona." jawabnya gugup.
"Aku rasa itu ide bagus, kenapa tidak kita coba?."
Di hadapkan dengan wanita secantik Alexia, siapa pria yang tidak gugup? Bahkan mereka pasti tidak akan menolak jika Alexia menawari hal serupa pada Daniel.
"Saya tidak bisa melakukan hal itu dengan anda nona."
Alexia menggendikkan bahu, bertanya pada dirinya sendiri memangnya kenapa tidak bisa?
"Gunakan aku jangan saya, kenapa? Apa karena aku bukan tipemu?."
Tidak tidak tidak, batin Daniel berteriak histeris bukan seperti itu, Alexia jelas adalah tipe idaman seluruh pria di belahan bumi ini. Dia cantik, pintar, kaya, mandiri, dan juga bodygoals.
"Aku bawahanmu nona, tidak pantas mendapat hal seperti itu."
Dia merendah rupanya, Alexia paham memang siapa yang tidak menginginkannya? Dia sempurna sejak lahir.
"Benar juga." Daniel mendadak menyesal sudah merendah, jelas Alexia menyadari siapa dirinya di mata Daniel.
"Maksudku jangan sekarang, kau pasti masih sangat canggung. Lain kali kita harus mencobanya."
Jantung Daniel berdegup tak karuan, keringat dingin membanjiri tubuhnya, dia tidak menyangka Alexia malah berkata seperti itu.
"Nikmati waktumu Daniel, aku harus menandatangani beberapa dokumen, tetap diam di kursimu oke."
Daniel meng'iya'kan, dia memperhatikan seorang Alexia yang begitu angkuh dan juga sombong di depan orang lain ternyata adalah seorang pekerja keras, dia benar benar sosok yang sempurna.
Selang satu jam, Alexia melepas kaca matanya kemudian meregangkan tubuh.
"Apa kau membutuhkan sesuatu nona?." tanya Daniel sopan, Alexia mengangguk.
"Buatkan aku kopi Daniel, tanyakan bagaimana kopi kesukaanku pada Windi sekertarisku." Daniel mengangguk, dia langsung keluar dari ruangan Alexia menuju pantri.
~
~
~
Galen duduk di sofa sebuah butik ternama di pusat perbelanjaan keluarga besar Gilbert, melihat gadisnya yang tengah memilih beberapa baju dengan wajah girang. Memang benar menyenangkan hati perempuan bukan soal yang rumit, cukup ajak mereka belanja sepuas mereka. Dengan catatan hal ini hanya berlaku bagi rich man.
"Sayang, bagaimana kalau yang ini? Untuk makan malam di rumahmu."
Galen mengangguk angguk, gadisnya yang bernama Bianca itu memilih gaun berwarna hitam dengan garis d**a yang rendah, gaun selutut itu benar benar terlihat cocok untuknya yang berkulit putih cerah.
Malam ini Gema mengajak kekasih putranya untuk ikut makan malam dirumah mereka, meskipun awalnya ide itu di tolak oleh Daniel mengingat Alexia tidak akan menyukai keberadaan orang asing namun Gema dan Leon tetap ingin Bianca hadir. Akhirnya Galen mengalah, dia hanya bisa berharap semoga Alexia bisa di ajak kompromi untuk malam ini saja.
"Sudah selesai?." tanya Daniel pada kekasihnya, Bianca mengangguk.
Galen mengeluarkan kartu kreditnya untuk membayar belanjaan kekasihnya, kemudian mereka langsung keluar dari butik itu menuju parkiran.
Di dalam perjalanan kerumah, Galen mencoba memperingati Bianca soal bicaranya.
"Kau tau kan, Xia tidak suka dengan orang asing. Jangan banyak bicara nanti, aku hanya tidak ingin kau mendapat masalah."
Sedikit tersentil, Galen tidak segan segan mengatakan hal itu, apa karena rumor yang beredar bahwa Galen menyukai adik tirinya itu benar?
"Aku tau." jawab Bianca lesu, Galen menyadari nada bicara Bianca yang berubah dia langsung mengusap puncak kepala Bianca lembut.
"Aku hanya tidak ingin kau mendapatkan perkataan buruk dari adik tiriku sayang."
Hati Bianca menghangat, pikirkannya tentang rumor itu menghilang seketika.
Sampai di depan pintu utama rumah megah milik keluarga Gilbert, Galen membukakan pintu mobil untuk kekasihnya.
Mereka di sambut oleh beberapa pelayan, lalu di persilahkan masuk ke dalam ruang utama.
Gema dan Leon sudah menunggu mereka, Gema langsung menyambut kekasih putranya hangat.
"Ah sayang, aunty sangat merindukanmu. Bagaimana kabarmu sayang?." tanya Gema ramah.
"Aku baik aunty, bagaimana malam ini apa aku terlihat cantik?." tanya Bianca balik, Gema mengacungkan kedua jempolnya.
"Sangat cantik sayang." wajah Bianca memerah malu.
"Om apa kabar?." Leon tersenyum ramah.
"Aku baik Bianca, ayah ibumu mereka baik baik saja kan?." Bianca mengangguk.
Di tengah perbingangan mereka, beberapa pelayan dari dalam berlari menuju pintu utama, Bianca tampak sedikit kebingungan. Wajah Galen tiba tiba berubah tidak tenang, seperti akan ada bencana yang datang.
Suara mobil audy terdengar samar, para pelayan mengucapkan selamat malam pada nona besar mereka. Jantung Bianca berdebar, dia belum pernah bertemu Alexia sebelumnya.
Beberapa pelayan langsung mengambil alih tas, dan juga barang bawaan Alexia lainnya.
Gadis itu berjalan dengan sangat elegan, tatapannya bahkan sudah menghunus ke arah Bianca.
"Kami sudah menyiapkan air hangat dan juga perlengkapan lainnya untuk nona mandi."
Alexia hanya menjawab degan deheman, dia berhenti tepat di depan mereka berempat.
Tatapan Alexia mengarah pada Gema, kemudian beralih kearah ayahnya dan juga Galen.
"Tidak ada sambutan untukku ternyata." sindir Alexia karena mereka sama sekali tidak mengucapkan apapun.
"Padahal aku pemilik rumahnya, tapi aku seperti seorang yang menumpang di sini." kekehnya membuat mereka tersindir sangat dalam.
"Maaf Xia, apa kau lelah? Segeralah mandi dan turun untuk makan malam bersama, hari ini kekasih Galen ikut bergabung bersama kita." kata Gema mencoba mencairkan suasana.
"Tidak ada pelayan yang memerintah atasannya Gema, jangan lupakan posisimu."
"Xia!." teriak Leon tanpa berfikir.
"Kenapa? Kalau ayah keberatan dengan kata kataku, maka jadilah pelayan untukku juga. Bukankah itu ide bagus?."
Galen sudah menduga akan seperti ini, dia tidak bisa lagi berharap pada Alexia untuk bersikap baik, karena begitulah Alexia dari dulu.
"Galen, mobilmu baru?." tanya Alexia.
"Em ya, aku baru membelinya tadi pagi." jawab Galen.
Alexia meringis, perasaan Galen sedikit tidak enak.
"Kupecahkan kacanya, sebagai ucapan selamat." mata Bianca membulat, begitu juga dengan Gema dan Leon.
Galen hanya membuang nafas kasar, dia sudah terbiasa dengan kelakuan Alexia, dia benar benar sudah tidak terkejut lagi.
"Mobilmu tidak semahal milikku, jadi jangan menangis akan ku ganti tenang saja."
Selalu saja seperti itu, merusak milik Galen dengan alasan bersenang senang, andai saja Galen tidak bisa menahan amarahnya mungkin dia sudah menajdi gembel sejak lama dengan Gema.
"Parasit." ucap Alexia tertawa, dia kemudian berjalan menaiki tangga di ikuti beberapa pelayannya menuju kamar.
Bianca tidak habis pikir, bisa bisanya Galen masih bersikap tenang setelah mobil barunya di buat kacau oleh adik tirinya.
"Maafkan Xia sayang, dia memang seperti itu. Dia aslinya baik, hanya saja tidak bisa ramah pada orang lain." jelas Gema.
Bianca menangguk meskipun dia masih kaget dengan Alexia, rumor tentang dia yang sangat cantik bak dewi Yunani bukanlah sebuah kebohongan, mata Bianca bahkan tidak ingin mengedip karena melihat kecantikan putri tunggal kelaurga Gilbert itu. Sama seperti rumor kecantikannya, rumor soal kelakuan buruknya juga bukanlah hoax belaka, dia benar benar sangat buruk dalam memperlakukan siapapun bahkan pada ayahnya sendiri.
Gadis itu cantik, tapi menakutkan.