Bab 2.

1584 Words
Suara tangisan bayi menggema di ruang NICU sebuah rumah sakit ternama pusat kota. Shaka berusaha menimang bayinya yang baru lahir disertai kepanikan yang tergambar jelas di wajahnya. Bagaimana tidak, hampir 30 menit berlalu, tetapi tangis Nirvana–bayinya tidak kunjung reda karena haus dan lapar. Sebuah botol bayi yang berisi s**u formula sejak tadi hanya menggantung di atas bibir bayi mungil itu. Nirvana selalu menggeliat seolah menolak setiap kali ujung botol itu disodorkan ke mulutnya. "Ssst, diam ya, Sayang ... papa di sini. Jangan nangis lagi. Ini susunya ...," ucap pria bernama lengkap Arshaka Jiwandaru itu sembari terus menimang bayinya. Raut wajah pria berusia 32 tahun itu terlihat kusut dengan kelelahan tergambar jelas di wajahnya. Dia baru pulang dari luar kota dan langsung menuju rumah sakit saat mendapat kabar dari ibunya jika Ayara–istrinya telah melahirkan. Meski sudah berusaha secepat mungkin untuk menemani sang istri, tetapi dia tetap saja terlambat. Ayara menghembuskan nafas terakhirnya beberapa jam setelah melahirkan, dikarenakan penyakit lupus eritematosus sistemik (SLE)—penyakit autoimun yang seharusnya tak membolehkan Ayara untuk hamil. Akan tetapi, Ayara bersikeras mempertahankan kehamilannya, meski sudah diperingatkan dokter mengenai resikonya. Alhasil, sang istri harus melahirkan secara prematur tepat di usia 7 bulan kehamilan, saat tubuhnya tidak bisa bertahan lagi. "Ka, gimana? Masih gak mau?" tanya Hera–sang ibu disertai raut penuh kekhawatiran. Dia segera mendekat membantu sang anak untuk menenangkan cucunya, dengan mengusap lembut punggung mungil yang berbalut selimut tebal itu. "Masih gak mau, Ma," jawab Shaka disertai raut frustrasi. "Sini, biar sama mama ... kali aja mau diam dan mau susunya." Hera segera mengambil alih sang cucu, yang sejak tadi berada dalam dekapan putranya, beserta botol susunya. Wanita berusia 45 tahun itu terus menimang seraya menyodorkan ujung dot ke mulut mungil itu, tetapi respon bayi itu tetap sama–menggeliat disertai jeritan tangis yang melengking. Hera kembali menatap putranya sembari menggeleng pelan. Sorot mata wanita paruh baya itu berubah menjadi berkaca-kaca saat teringat kembali dengan sang menantu. Bahkan sebelum menghembuskan nafas terakhirnya, Ayara masih sempat menyusui anaknya untuk yang terakhir kalinya. "Andai Yara bisa bertahan, anak ini gak akan kayak gini." Shaka mendesah panjang, menatap sang ibu dengan tatapan menahan emosi. "Ma, udahlah ... ini bukan waktunya untuk berkabung. Nirvana lebih penting! Kita tunggu sebentar lagi. Aku udah minta Susan untuk ke bank ASI rumah sakit buat ngambilin ASI untuk Nirvana." Tatapan pria itu kembali teralih pada bayi mungil yang masih menangis dalam dekapan sang ibu. Meski tangisnya tidak sekencang tadi, tetapi dia tetap merasa iba melihat tubuh sang anak yang terlihat lemas. Rintihan dari bibir mungil itu justru terdengar menyayat hati. Pintu ruang NICU mendadak terbuka, menampilkan seorang wanita berpenampilan rapi ala pegawai kantoran disertai wajah cemasnya. Dia masuk dengan langkah tergesa-gesa. “Pak Shaka!” panggil Susan–sekretaris pribadinya dengan nafas tersengal. "Mana ASI-nya, San?" tanya Shaka cepat begitu melihat wanita itu memasuki ruangan. "Pak, stok ASI di rumah sakit habis–" Bahkan belum sempat wanita itu menyelesaikan ucapannya, Shaka telah lebih dulu menyela. “Apa? Habis?!" Pria itu spontan berteriak. "Di rumah sakit sebesar ini ... masa gak ada sebotol pun untuk anakku." Susan menghela napas panjang. Dia sudah menduga akan menerima reaksi seperti ini dari atasannya. Dia tampak menggeleng pelan sebagai tanggapan. “Rumah sakit sedang krisis stok ASI, Pak. Minggu ini ada banyak bayi prematur yang masuk. Mereka baru buka antrean tiga hari lagi." Shaka terpaku, kemudian menatap bayinya yang masih menangis. “Tiga hari? Bayiku nggak bisa nunggu selama itu, San. Dia butuh ASI sekarang!" Karena amarah yang memuncak, membuat Shaka tidak bisa berpikir jernih. Dia menatap sekretaris pribadinya dengan tajam seolah menuntut jalan keluar atas masalah yang menimpanya saat ini. Akan tetapi, Susan hanya bisa terdiam pasrah menghadapi kemarahan atasannya. Di balik wajah tenangnya, pikirannya bekerja keras. Dia tahu satu-satunya solusi yang masuk akal dan juga mengetahui siapa orang yang tepat yang bisa menyelesaikan masalah ini. Hanya saja, menyebut nama itu di depan Hera bukan perkara mudah. Hera yang melihat kemarahan putranya pun segera mendekat untuk menenangkan. “Shaka, tenang dulu! Masih ada cara lain." “Cara apa lagi, Ma?” Shaka membalas dengan nada berteriak. Dia menatap tajam sang ibu dengan wajah merah padam. Pria itu memejamkan mata, mencoba berpikir jernih di tengah rasa cemas yang mendera. Hera mengusap lembut lengan kekar putranya. “Cari ibu s**u. Tadi dokter sempat menyarankan itu ke mama." Shaka menatap ibunya lekat-lekat, menimbang saran itu. Hera memberikan anggukan pelan disertai segaris senyuman. "Dengan adanya ibu s**u, kita gak perlu pusing lagi memikirkan asupan ASI untuk Nirvana. Kapan pun dia membutuhkan, akan selalu ada." Keheningan seketika menyelimuti ruangan, hanya terdengar suara mesin inkubator dan tangis lemah Nirvana. Helaan nafas kasar terdengar dari bibir Shaka. "Masalahnya sekarang, kemana kita mencari wanita yang mau menyusui anakku, Ma? Wanita yang bisa menyusui hanya wanita yang baru melahirkan. Sekali pun ada ... apa suaminya atau keluarganya akan setuju?" Bibir Hera terkatup rapat mendengar hal itu, sebab dia sendiri tidak tahu jawabannya. Susan yang sejak tadi menyaksikan perdebatan itu pun memberanikan diri untuk bersuara. Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat dari biasanya. “Pak, maaf kalau saya lancang. Sepertinya saya punya solusi untuk masalah bapak," ucapnya ragu-ragu. Shaka segera mengalihkan perhatian ke arah wanita itu. “Apa, San?” Susan tampak gusar sebelum mengatakan hal itu. Dia merasa ragu untuk mengatakannya, sampai akhirnya dia memantapkan hati untuk menyampaikan solusi yang dia punya—tentu dengan versi yang masih aman untuk didengar semua orang di ruangan itu. “Saya punya sahabat yang baru melahirkan. Tapi bayinya tidak bisa diselamatkan. Produksi ASI-nya melimpah. Kalau bapak berkenan, saya bisa bantu bicarakan masalah ini sama sahabat saya." Shaka tidak langsung menjawab. Dia tampak berpikir seperti menimbang sesuatu. "Lalu suaminya gimana, San? Apa dia akan setuju." Hera segera menimpali. "Dia baru diceraikan suaminya, Bu," jawab Susan pelan. Segaris senyuman merekah di bibir Hera. Wanita itu kemudian menatap putranya dengan mata berbinar. "Ini kesempatan emas, Ka ... rekrut dia sebagai ibu s**u bayimu," katanya penuh semangat, pandangannya kemudian beralih pada Susan. "San, tolong bicarakan pada sahabatmu. Bujuk dia sampai mau, kalau bisa bawa kesini secepatnya." Susan mengangguk menuruti perintah ibu atasannya. Dia memerhatikan respon wanita paruh baya itu yang terlalu antusias. Dalam hati, ada kegamangan yang tak bisa dia tepis begitu saja. Antusiasme itu bisa saja berubah menjadi penolakan, terutama jika Hera tahu siapa sebenarnya sahabat yang dia maksud. Akan tetapi, gelagat aneh Susan telah lebih dulu disadari oleh Shaka. Kedua mata pria itu memicing menatap Susan penuh curiga saat menyadari jika wanita itu tengah menyembunyikan sesuatu. "San, dia wanita sehat 'kan? Aku gak mau merekrut orang sembarangan. Nanti bawakan orangnya beserta berkas riwayat kesehatannya." Susan mengangguk sopan sebagai tanggapan. Biarlah mereka bertemu dulu. Biarlah takdir yang bicara. Soal masa lalu, biar waktu yang membuka pelan-pelan. "Baik, Pak ... nanti saya bawakan," kata Susan seraya keluar dari ruangan itu. Begitu pintu tertutup, Susan berhenti sejenak di lorong rumah sakit. Dia menghembuskan napas panjang, tangannya mengepal lemah. Menyatukan dua sahabatnya kembali bukan niat yang tiba-tiba muncul. Dia hanya berharap, kali ini takdir berpihak pada mereka—meski harus dimulai dengan kebohongan kecil. *** "Vir, atasanku lagi butuh ibu s**u untuk bayinya. Anaknya nangis terus karena gak mau s**u formula. Tolong bantu dia, ya ...." Perkataan Susan berhasil membuat Elvira tertegun di ranjang pesakitannya. Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi Susan mengucapkannya dengan hati-hati, seolah setiap kata sudah diseleksi agar tak membuka pintu ke masa lalu yang sengaja dia tutup rapat. "Memang istrinya kemana? Kenapa gak disusui sama ibunya sendiri?" Pertanyaan itu lolos begitu saja di bibir Elvira. Susan menelan ludah. Detik itu juga, dadanya terasa sesak. Dia sudah menduga pertanyaan itu akan muncul, dan dia pun sudah menyiapkan jawaban yang aman. "Ibunya meninggal setelah melahirkan," kata Susan pelan seraya memerhatikan perubahan raut muka sahabatnya. Elvira terdiam tidak tahu harus menjawab apa. Bukan tidak ingin membantu, dia hanya tidak siap. Dia masih dalam masa berkabung pasca kehilangan bayinya, apa dia siap untuk melihat bayi lain, terlebih ini untuk disusui. Susan bisa melihat kesedihan itu dari sorot mata Elvira. Tangannya refleks mengepal kecil di sisi tubuhnya, menahan rasa bersalah yang mulai merayap. Sentuhan lembut tangan Susan berhasil mengalihkan perhatiannya. Dia menatap sahabatnya penuh kehangatan, meski di balik tatapan itu tersimpan niat yang tak sepenuhnya jujur. "Aku paham ... gimana perasaanmu sekarang. Aku paham kesedihanmu. Tapi apa kamu gak kasihan sama bayi mungil itu? Dia juga lahir prematur." Susan sengaja mengucapkan kalimat itu untuk menarik empati Elvira. Ada denyutan nyeri yang dirasakan Elvira mendengar perkataan terakhir sahabatnya. Bahkan nasib bayi itu sama seperti bayinya. Bedanya, bayi itu berhasil selamat, sementara bayinya tidak. Elvira memejamkan mata sejenak, berusaha memantapkan hati untuk mengambil keputusan. Sementara Susan tampak harap-harap cemas menanti keputusan sahabatnya, jantungnya berdegup lebih cepat dari biasanya. "Vir ...," panggil Susan pelan saat tak kunjung mendapat jawaban. "Kapan aku bisa mulai menyusui bayi itu?" Susan tertegun sepersekian detik. Ada rasa lega yang langsung menyeruak, bercampur dengan ketakutan akan konsekuensi dari keputusan ini. "Sekarang, Vir. Atasanku butuh kamu sekarang." Susan menanggapi pertanyaan itu dengan antusias. Segaris senyuman merekah di bibirnya disertai mata yang berbinar, meski senyum itu tak sepenuhnya sampai ke hatinya. "Tolong, bantu aku ke sana. Tapi aku masih belum bisa jalan. Perutku masih nyeri." "Oke bentar ... aku carikan kursi roda dulu. Kamu tunggu sini." Susan segera keluar ruang rawat sahabatnya, mencari suster untuk meminta kursi roda seraya meminta fotokopi riwayat kesehatan sang sahabat yang diminta atasannya. Begitu semua keperluan itu didapat, langkah Susan justru terhenti di depan kamar rawat Elvira. Dia mematung sejenak, menatap pintu yang tertutup itu. "Maafin aku, Vir ... aku gak bermaksud menipumu."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD