"Jadi wanita ini yang kamu maksud, San?”
Suara Hera memecah keheningan ruang NICU. Suaranya terdengar tajam, dingin, dan penuh amarah. Tangannya terangkat menunjuk sosok wanita yang ada di kursi roda yang didorong oleh Susan.
Elvira refleks menegang.
Wajahnya pucat. Bibirnya mengatup rapat, menahan gejolak perasaan yang bersarang dalam d**a. Matanya menyapu seluruh ruangan, lalu berhenti pada satu sosok pria yang berdiri membeku di samping inkubator yang berisi yang seorang bayi mungil yang tengah terlelap.
Shaka.
Arshaka Jiwandaru.
Pria yang lima tahun lalu pernah mengisi hatinya. Pria yang lima tahun lalu pernah menjadi kekasihnya. Namun, harus berpisah karena terhalang restu.
Detik itu juga, dunianya seakan berhenti berputar.
Shaka menatap Elvira tanpa berkedip. Tatapan itu terlalu dalam. Ada keterkejutan, ada kerinduan yang terpendam, dan ada luka lama yang mendadak terkelupas begitu saja.
“El … Elvira?” Suara Shaka terdengar parau, serasa tercekat di tenggorokan.
Hera mendengus kesal melihat reaksi putranya. “Jadi, wanita ini yang akan jadi ibu s**u cucuku, San?"
Susan refleks mengangguk pasrah. “Iya, Bu ...."
“Bawa dia keluar dari sini sekarang juga, San! Aku gak mau melihat wanita ini!” bentak Hera seraya menunjuk ke arah pintu.
Tangisan Nirvana kembali melengking sesaat setelah mendengar teriakan Hera, seolah ikut merespons ketegangan yang ada di ruangan itu. Suster yang berjaga di ruangan dengan sigap menenangkan bayi mungil itu.
Elvira menelan ludah. Tangannya refleks mencengkeram kuat sandaran kursi roda. “San, bawa aku keluar. Aku gak mau di sini," katanya pelan.
Akan tetapi, Susan seolah enggan bergerak. Dia menatap sang sahabat dengan sorot penuh permohonan.
"Tapi, Vir–"
"Bawa aku keluar, San! Aku gak mau di sini," kata Elvira lagi dengan nada meninggi.
Matanya tampak berkaca-kaca menatap ke arah pria yang lima tahun lalu pernah bertahta di hatinya. Rasa sakit itu masih terasa nyata, meski sudah lima tahun berlalu.
Dia masih mengingat jelas, bagaimana sikap Shaka yang enggan memperjuangkannya, dan hanya pasrah saat dirinya dihina habis-habisan oleh Hera, hanya karena status yang tak sepadan.
Tidak ada lagi yang bisa dilakukan Susan, selain menuruti keinginan sahabatnya. Kini, harapannya untuk menyatukan kedua sahabatnya kembali telah pupus.
Wanita berpakaian modis itu segera menggerakkan kursi roda sahabatnya untuk keluar ruangan. Suara tangisan bayi mungil yang memenuhi ruangan mereka abaikan begitu saja.
Namun, sebelum mereka benar-benar keluar mencapai pintu, suara berat Shaka berhasil menghentikan pergerakan kursi roda itu.
“Berhenti, San. Elvira akan jadi ibu s**u anakku.”
Sebuah perkataan yang berhasil membuat Hera naik pitam.
“Apa katamu?!”
“Elvira akan jadi ibu s**u Nirvana.” Shaka berucap lagi dengan nada yang terdengar lebih tegas dan mantap.
Tatapan nyalang dia layangkan untuk membalas tatapan tajam sang ibu.
Hera menggeleng pelan menatap tak percaya pada sang putra. "Mama gak mau wanita miskin itu menyusui cucu mama, Shaka. Tarik kembali perkataanmu! Mama yang akan cari ibu s**u yang tepat untuk Nirvana."
Elvira memejamkan mata saat rasa sakit kembali menghimpit d**a hingga membuatnya sesak. Sudah bertahun-tahun berlalu, tetapi rasa sakit setiap mendengar hinaan itu tetaplah sama. Setiap kata yang keluar dari bibir Hera seperti pisau tajam yang tepat sasaran menggores hati.
"Anda tenang saja! Saya akan menolak permintaan itu, Nyonya. Lebih baik ASI saya ini ... saya sumbangkan pada orang yang lebih membutuhkan."
"Baguslah kalau kamu sadar diri!" sahut Hera dengan angkuh.
Elvira kembali meminta Susan untuk mendorongnya keluar dari ruangan itu. Dia tidak mau membuat keributan yang akan mengganggu ketenangan bayi-bayi yang ada di ruangan itu.
Akan tetapi, Shaka tak bisa tinggal diam melihat kepergian Elvira. Dia menginginkan Elvira menjadi ibu s**u untuk bayinya.
"Ma, turunkan ego mama ... demi cucu. Anakku butuh ASI sekarang," katanya disertai raut frustrasi.
Hera seketika melayangkan tatapan tajam ke arah putranya. “Kamu bela dia, Ka?”
“Aku bela anakku!” Shaka menunjuk inkubator. “Nirvana butuh ASI sekarang. Turunkan ego mama!”
Hera seketika terbungkam mendengar bentakan putranya. Pandangannya beralih pada sang cucu yang tengah ditenangkan suster karena histeris.
Suasana mendadak hening.
Shaka menoleh ke arah Elvira. Tatapan mereka bertemu lagi. Ada ribuan kata yang ingin keluar, tapi tertahan di tenggorokan masing-masing.
Pria itu melangkah pelan mendekati Elvira yang masih terdiam menyaksikan pertengkaran ibu dan anak itu.
“Setelah lima tahun, akhirnya aku bisa bertemu lagi denganmu," ucapnya dengan tatapan penuh kerinduan.
Elvira hanya tersenyum pahit mendengar kalimat itu. “Aku juga gak nyangka akan bertemu lagi denganmu … dengan kondisi yang masih sama.”
Elvira mengalihkan pandangan dari wajah Shaka. Dadanya terasa sesak oleh kenangan yang kembali menyeruak dalam ingatan.
"Vir, aku mohon terima tawaranku. Aku gak minta kamu kembali ke hidupku. Aku cuma minta kamu menolong anakku ... anakku butuh ASI." Tanpa pernah dia duga, Shaka berlutut di depan Elvira seraya menggenggam lembut tangan wanita itu.
Tindakan pria itu sontak mengejutkan Elvira. Tidak hanya Elvira, melainkan semua orang yang ada di ruangan itu.
Hera yang melihat tindakan putranya hanya bisa mengepalkan tangan kuat menahan amarah.
Elvira tertegun sejenak, tidak tahu harus mengiyakan atau menolak permintaan itu. Satu sisi dalam dirinya memintanya untuk menerima demi bayi mungil yang tak berdosa, tapi di sisi lain, dia masih belum siap kembali menjalani hari dengan pria masa lalunya, terlebih sikap Hera masih sama seperti dulu–belum bisa menerimanya.
Lamunannya membuyar saat Susan mengusap lembut pundaknya. “Vir, aku tahu ini berat buatmu. Tolong turunkan egomu! Lupakan sejenak rasa sakit masa lalumu. Ada bayi tak berdosa yang butuh kamu.”
Elvira menatap nanar sahabatnya. Kaca-kaca bening tertampak jelas di kedua matanya. Seandainya, dibuat berkedip sekali saja bisa dipastikan jika buliran kristal bening itu akan luruh membasahi pipi.
“Aku baru kehilangan anakku. Aku bahkan belum sempat memeluknya atau pun menyusuinya. Sekarang kalian malah minta aku menyusui anak orang lain ... di mana hati nurani kalian?" Elvira bersuara dengan nada bergetar.
Susan menelan ludah. Matanya ikut berkaca-kaca. Bibirnya terbungkam tidak tahu harus menjawab apa. Begitu pun dengan Shaka. Dia paham dengan yang dirasakan Elvira, pasti semua ini sangat berat untuknya.
Hera yang sejak tadi hanya diam akhirnya bersuara. Nada bicaranya tidak setajam tadi, meski masih terdengar datar.
“Aku bersedia menurunkan egoku demi cucuku. Tolong, susui cucuku! Dia butuh kamu."
Elvira seketika mengalihkan pandangan. Tatapannya bertemu dengan sepasang manik hitam Hera. Untuk pertama kalinya, dia merasa tidak terintimidasi saat menatap mata wanita itu, yang dia temukan justru sorot penuh permohonan di balik tatapan datarnya.
Namun, sebelum Elvira memberi jawaban, Hera kembali melanjutkan ucapannya, "Tapi kamu jangan pernah berharap lebih, apalagi mengharapkan kembali dengan putraku. Posisimu di sini, hanya sebagai pengasuh cucuku, tidak lebih!"
Hera mengakhiri ucapannya dengan nada penuh penekanan.
Shaka mengepalkan tangan kuat mendengar kalimat terakhir ibunya, ada rasa tidak terima di hati. Pasalnya, yang masih mengharapkan untuk kembali bukan Elvira, melainkan dirinya. Dan kali ini, dia sudah bertekad tidak akan melepaskan Elvira untuk yang kedua kalinya meskipun harus menentang ibunya sendiri. Dia tidak ingin jatuh ke lubang penyesalan yang sama.
“El, Aku mohon ... terima tawaranku! Bayangkan kalau bayimu yang ada di posisi anakku. Bagaimana perasaanmu?"
Kalimat itu berhasil menyerang tepat titik lemah Elvira. Buliran kristal bening yang sejak tadi tertahan di pelupuk mata, akhirnya luruh juga membasahi pipi. Tapi dia segera menghapusnya.
Dia mengalihkan pandangan bayi mungil yang terlelap di dalam inkubator. Melihat bayi itu, dia seolah seperti melihat bayinya sendiri. Tubuh kecil yang tak sempat dia susui. Tangis yang tak pernah dia dengar.
Elvira menghirup nafas panjang, lalu menghembuskannya perlahan, seolah mengurai sesak yang bersarang dalam d**a.
“Baik, aku bersedia menerima tawaranmu," ucapnya akhirnya dengan nada lemah.
Shaka terpaku dengan mata berkaca-kaca. Reaksi pria itu sungguh berada di luar dugaan. Dia segera memeluk Elvira dengan erat disertai ungkapan terima kasih yang tak pernah berhenti dari bibirnya.
Elvira yang masih terkejut hanya bisa mematung di tempat, tanpa membalas pelukan itu. Jantungnya berdetak lebih cepat, ingatan masa lalu kembali menyeruak. Pelukan Shaka masih sama hangatnya seperti dulu. Matanya kembali memanas, tapi dia berusaha keras menahan air matanya agar tidak jatuh.
Hera segera memalingkan wajah melihat pemandangan itu. Tangannya terkepal kuat menahan amarah saat melihat reaksi putranya. Jika boleh jujur, dia masih belum sepenuhnya menerima Elvira masuk kembali dalam keluarganya. Namun kali ini, dia tidak bisa berbuat apa-apa. Dia harus menurunkan egonya demi sang cucu.
"Tuan Shaka, bayi Anda harus segera disusui. Kondisi tubuhnya semakin melemah, takutnya nanti dehidrasi." Suara perawat yang ada di ruangan itu berhasil memecah suasana.
Shaka seketika tersadar, dan segera melepas pelukannya pada Elvira.
Susan membantu mendorong kursi roda Elvira mendekati inkubator.
Ketika sudah berada di dekat bayi itu, suster segera menggendong tubuh mungil bayi itu, lalu diletakkannya ke d**a Elvira.
Elvira menatap lekat bayi mungil itu. Air matanya tanpa diminta luruh membasahi pipi. Ada kehangatan yang menjalar dalam hatinya. Segaris senyuman tanpa sadar terbit di bibirnya.
Elvira segera menyodorkan putingnya ke mulut mungil bayi itu, yang langsung disambut dengan sesapan kuat. Rasa nyeri pada dadanya berangsur mereda seiring dengan ASI yang tersalurkan.
"Siapa namanya?" tanya Elvira tanpa mengalihkan pandangan dari wajah bayi kemerahan itu.
"Nirvana Jiwandaru," jawab Shaka dengan sorot penuh haru menatap punggung Elvira yang tengah menyusui bayinya.
"Nama yang bagus. Vana, aku akan memanggilmu Vana." Elvira membalas ucapan itu dengan penuh kelembutan. Kesedihan yang sempat bersarang di hatinya berangsur menghilang. Ternyata bayi itu mampu memberinya ketenangan dalam duka yang dialaminya.
Dia tidak tahu, apakah ini keputusan yang tepat atau justru menjerumuskan. Dia hanya ingin mengikuti kata hati yang memintanya menyusui bayi itu.