Bayu duduk terpaku di kursi ruang tamu dengan pandangan kosong ke depan. Tatapannya tertuju pada lantai marmer mengilap yang dinginnya terasa menusuk, seperti perasaannya sekarang.
Kata talak yang dia ucapkan beberapa hari yang lalu masih terngiang jelas di telinganya. Wajah Elvira yang penuh kekecewaan sesaat mendengar kata keramat itu masih terekam jelas dalam ingatan
Dia yang telah mengucapkan kata itu, kini dia juga yang menyesal.
Bayu mengusap wajahnya kasar. Rasa sesak memenuhi rongga dadanya. Ada rasa kehilangan yang tak bisa dia jelaskan. Perasaannya campur aduk antara marah, kecewa, dan penyesalan yang datang terlambat.
Anak yang dia nanti-nantikan telah tiada, dan istri yang masih sangat dia cintai dia ceraikan begitu saja, hanya karena rasa kecewa dan tidak bisa menerima kenyataan.
Dalam satu hari, rumah tangga yang telah dia bina selama empat tahun telah hancur, dan dia sendiri yang menghancurkannya.
“Yu.” Suara Widya dari arah dapur berhasil menyentak lamunannya.
Wanita itu keluar sambil membawa secangkir teh hangat, lalu meletakkannya di meja yang ada di depan putranya. Raut wajah wanita itu terlihat jauh lebih cerah dibandingkan raut wajah sang putra yang terlihat muram.
"Jangan melamun terus! Nanti kesambet. Sudahlah gak usah dipikirkan terus. Yang sudah terjadi biarlah terjadi,” ucap Widya ringan, seolah kehancuran rumah tangga putranya bukan masalah besar.
Bayu menatap sendu ibunya. “Bu, apa aku terlalu kejam?”
Widya mendengus pelan mendengar pertanyaan itu. Tidak hanya sekali dua kali Bayi menanyakan pertanyaan yang sama karena dirundung penyesalan setelah menjatuhkan talak pada Elvira.
“Kamu gak kejam, tapi tegas. Kejam sama tegas itu beda. Keputusanmu kemarin sudah tepat," sahut Widya ketus dengan menahan kesal.
Bayu terdiam mendengar tanggapan sang ibu. Kalimat itu tidak berhasil memberinya ketenangan, justru semakin mengusik hatinya.
Wajah pucat Elvira yang penuh air mata, bercampur raut wajah menahan nyeri pasca operasi masih terekam jelas dalam ingatan, dan dia dengan teganya menambah rasa sakit itu dengan menjatuhkan kata "talak". Bayu mengatupkan bibir rapat-rapat, disertai tangan yang mengepal kuat. Ingin rasanya dia marah saat itu juga. Marah pada dirinya sendiri yang telah mengambil keputusan fatal hanya karena emosi sesaat.
"Bu, dia juga kehilangan anak kami. Ini gak adil untuk Vira. Harusnya, aku gak ngambil keputusan itu cuma karena kecewa."
“Mau sampai kapan kamu akan seperti ini, Bayu? Wanita itu sudah membunuh cucu yang ibu nanti-nantikan selama empat tahun ini. Kalau saja dia gak ceroboh, cucu ibu masih hidup! Dan sekarang ... ibu sudah menggendongnya.” Nada tinggi yang dilontarkan sang ibu semakin mempersempit ruang pada Bayu untuk ragu.
Bayu menghela nafas panjang. Entah kenapa, keyakinan yang terus dipaksakan sang ibu semakin hari semakin terasa rapuh, dan keraguan dalam dirinya justru semakin menguat–jika Elvira tidak bersalah dalam hal ini.
Terjadi keheningan panjang di ruang tamu itu. Bayu sibuk dengan pikirannya sendiri, sementara Widya sibuk dengan kekesalannya pada sang putra.
Sampai akhirnya suara bel dari pintu depan memecah keheningan di antara mereka.
Senyum merekah mengembang sempurna di bibir Widya seolah mengetahui siapa yang berkunjung.
“Ibu bukain pintu dulu,” kata Widya dengan nada yang terdengar riang.
Raut wajah yang ditunjukkan juga sangat kontras dengan raut wajah saat membahas tentang Elvira tadi. Widya terlihat antusias, yang berhasil membuat Bayu mengernyit curiga.
“Siapa yang datang, Bu? Kok ibu kelihatan seneng banget.”
Widya memilih tidak menanggapi, justru melenggang cepat menuju pintu seolah takut jika orang itu akan menunggu lama.
Begitu pintu terbuka, terlihatlah sosok wanita dengan tinggi semampai tengah tersenyum manis ke arah Widya. Rambut panjangnya tergerai rapi, wajahnya cantik dengan riasan natural yang terlihat elegan. Busana kasual mahal melekat sempurna di tubuhnya.
"Hai, Tan ... apa kabar?" sapa wanita itu dengan senyum manisnya.
Widya langsung membalasnya dengan dekapan hangat. "Baik, tante sangat baik ... apalagi setelah lihat kamu. Makin hari makin cantik aja, sih kamu ini," balasnya dengan ramah.
"Ah, tante bisa aja ... aku dari dulu juga kayak gini." Wanita itu berucap merendah.
"Yuk, masuk ... Bayu di dalam." Widya menarik lembut tangan wanita itu seraya memberikan tatapan penuh arti, yang langsung dibalas dengan senyum mengembang di bibir wanita itu.
"Yu, coba lihat siapa yang datang ...." Suara Widya menggema riang memenuhi ruang tamu, yang berhasil mengalihkan perhatian Bayu yang semula fokus pada layar gawai.
“Nindi?” Bayu refleks berdiri, menatap wanita itu penuh keterkejutan.
Wanita itu tersenyum malu-malu.
“Hai, Yu, apa kabar?” sapa Nindi ramah.
Bayu terpaku sepersekian detik melihat kehadiran wanita masa lalunya. Tatapan Bayu yang terus tertuju padanya berhasil membuat Nindi salah tingkah.
Pria itu terus menatap Nindi yang masih tersenyum manis ke arahnya. Senyum itu masih sama manisnya seperti dulu. Tapi, sayang tak lagi menggetarkan.
“Duduk dulu, Nin. Kamu mau minum apa?” Suara Widya berhasil memutus kontak mata di antara mereka.
Nindi mengalihkan pandangan pada wanita di sampingnya. “Apa aja, Tan.”
"Oke, kalau gitu tante buatkan dulu, ya," balas Widya masih dengan keramahan yang sama. Dia kemudian mengalihkan pandangan pada sang putra.
"Yu, ajak Nindi ngobrol ... jangan dicuekin. Dia tamu ibu," ujarnya seraya melenggang ke dapur.
Bayu hanya mengangguk tanpa mengucap banyak kata. Dia kemudian mempersilahkan Nindi untuk duduk.
Sesaat setelah kepergian Widya, suasana menjadi canggung.
Keduanya sama-sama bungkam, tidak tahu bagaimana harus memulai pembicaraan. Padahal dulu pernah dekat, bahkan menjalin kasih. Nindi adalah masa lalu Bayu, tepatnya cinta pertama. Sampai akhirnya, hubungan mereka kandas empat tahun lalu karena sebuah pengakhianatan, disaat mereka hampir menikah.
Nindi—seorang model profesional yang kini kariernya tengah bersinar—pernah berselingkuh dengan bos agency-nya. Hubungan mereka berakhir pahit. Bayu pergi tanpa pernah memberi kesempatan kedua.
Dan mirisnya lagi, Widya tidak pernah tahu mengenai pengkhianatan itu. Yang dia tahu hubungan putranya dengan Nindi telah berakhir tanpa alasan yang jelas.
Tak lama setelahnya, Bayu kembali mengenalkan seorang wanita yang diakuinya sebagai calon istri, yang tidak lain adalah Elvira. Widya sempat menentang keras hubungan mereka, karena menganggap jika Elvira-lah yang menyebabkan hubungan Bayu dan Nindi berakhir. Jika Elvira yang sudah membuat menantu idamannya pergi.
Akan tetapi, Bayu yang keras kepala tetap menentang ibunya dan bersikeras menikahi Elvira. Widya yang merasa tak berdaya, akhirnya terpaksa merestui pernikahan itu. Meski dalam hati menyimpan kebencian mendalam terhadap Elvira, hingga memikirkan berbagai cara untuk memisahkan mereka.
“Yu, aku dengar dari tante … anakmu gak bisa diselamatkan, ya?" Nindi akhirnya membuka suara.
Pertanyaan itu langsung ditanggapi hanya dengan sebuah anggukan oleh Bayu.
"Aku turut berbela sungkawa, ya," lanjut wanita itu. Suaranya terdengar lembut, wajahnya dipenuhi kesedihan yang dibuat-buat.
“Terima kasih atas perhatiannya, ya, Nin ...." Widya menimpali dari arah dapur sambil membawakan nampan berisi segelas jus jeruk dan stoples cookies buatannya.
"Tapi untung saja sekarang Bayu sudah bebas dari wanita itu," lanjut wanita paruh baya seraya meletakkan setoples cookies di atas meja.
Bayu seketika melayangkan tatapan tajam saat mendengar perkataan terakhir ibunya. “Bu!” serunya penuh peringatan.
Akan tetapi, peringatan itu seolah diabaikan oleh Widya. Wanita itu justru semakin getol menjelekkan mantan menantunya di depan Nindi.
"Mantan istrinya Bayu itu memang bukan wanita baik-baik. Buktinya, dia gak bisa menjaga anak yang dikandungnya sendiri. Buat apa mempertahankan wanita seperti itu? Harusnya wanita seperti itu dibuang saja sejak dulu." Ucapan Widya terdengar lembut, bahkan nyaris tanpa emosi. Namun, tajamnya ucapan itu berhasil menusuk telinga Bayu.
Pria itu mengepalkan tangan kuat, tidak tahan mendengar perkataan ibunya yang terus menjelekkan Elvira. Ada rasa marah di hati dan rasa tidak terima.
"Bu, cukup!" Bayu berucap dengan nada menggeram tertahan. Tatapan tajam dia layangkan ke arah sang ibu.
Namun, bukannya takut atau pun segan, Widya justru membalas tatapan itu penuh tantangan.
"Kenapa? Kamu gak terima ibu menjelekkan mantan istrimu itu? Kamu mau marah? Mau belain dia? Bela aja terus, bela! Mau kamu membelanya sampai mulut berbusa pun gak akan merubah keadaan, Yu. Kamu dan Vira sudah berpisah. Tanda tangan kalian sudah tertera di surat cerai itu."
Perkataan sang ibu berhasil membungkam rapat mulut Bayu. Rasa sesak kembali menjalar–memenuhi rongga d**a, disaat penyesalan kembali menghantam kuat dirinya.
Tanpa mereka sadari, Nindi yang sejak tadi mendengar perdebatan ibu dan anak itu diam-diam menyunggingkan senyum sinis, segaris senyum yang menyiratkan sebuah kepuasan.
"Yu, daripada kamu kayak gini terus ... mending bangkit. Move on! Buka lembaran baru bersama Nindi. Kalau sama Nindi ... ibu akan langsung merestui hubungan kalian. Biar si Vira itu kena karmanya, salah sendiri dulu rebut kamu dari Nindi."
Perkataan terakhir Widya berhasil membuat Bayu terperangah.
Pria itu mengepalkan tangan kuat, disertai rahang mengeras. Bibirnya tampak bergetar, ingin sekali mengatakan kejadian yang sebenarnya. Jika Elvira tak pernah merebut siapa pun. Ingin sekali mengatakan jika penyebab kandasnya hubungannya dengan Nindi bukan karena kehadiran Elvira, melainkan karena pengkhianatan Nindi.
Pria itu segera mengalihkan tatapan ke arah Nindi, yang hanya diam. Tidak ada niatan sedikit pun untuk memberi penjelasan. Raut wajahnya tampak menikmati kesalahpahaman yang sudah mengakar itu.
Sentuhan lembut tangan sang ibu berhasil mengalihkan perhatiannya. Widya menggenggam lembut tangan putranya, lalu disatukan dengan tangan Nindi yang ada di sampingnya.
"Yu, kembalilah sama Nindi! Nindi masih mencintaimu. Tebus kesalahan masa lalu di masa kini."