Bayu segera menarik tangannya dari genggaman ibunya dan Nindi. Dadanya terasa semakin sesak, seolah ada beban tak kasat mata yang menghimpit dari dalam. Tatapannya beralih pada Nindi—wanita yang pernah menjadi bagian dalam hidupnya, juga menjadi sumber luka yang tak pernah sembuh.
Pria itu menghela napas berat, sebelum akhirnya berucap, “Bu, aku masih belum memikirkan untuk menjalin hubungan baru. Aku mau sendiri dulu.”
Widya berdecak pelan mendengar tanggapan putranya. “Kamu terlalu pakai perasaan, Yu. Padahal yang dibutuhkan dalam hidup itu gak cuma perasaan, tapi logika juga.”
“Bu, ini bukan soal logika, tapi ini soal hati. Harusnya ibu bisa ngertiin perasaanku bukan maksain kehendak kayak gini.” Bayu menyahut kekesalan tergambar jelas di wajahnya.
"Aku baru kehilangan anak, aku juga baru pisah dari istrku, dan sekarang ibu maksa aku untuk menjalin hubungan baru. Apa kata orang nanti, Bu? Mereka pasti akan memandangku buruk."
Widya seketika geram mendengar tanggapan putranya. Dia berniat membalas, tetapi Nindi lebih dulu angkat bicara.
“Tante, biar aku bicara berdua sama Bayu.”
Widya menoleh, tampak ragu sesaat, sebelum akhirnya mengangguk kecil.
“Oke, tante tinggal dulu. Akan lebih baik kalau kalian bicara berdua, dari hati ke hati.”
Namun, sebelum pergi, wanita itu sempat melirik Nindi seolah memberi isyarat yang hanya mereka berdua pahami.
Begitu Widya menjauh, suasana ruang tamu kembali sunyi.
"Yu, sebaiknya kita bicara di luar, sambil nyari udara segar," kata Nindi.
Bayu hanya mengangguk. Dia mulai bangkit dari tempat duduknya, lalu berjalan mendahului, yang langsung diikuti Nindi.
Langkah mereka terhenti di halaman depan yang lumayan asri karena ada pohon mangga yang tinggi menjulang dan beberapa bunga hias yang terawat dan berjajar rapi.
“Apa yang sebenarnya kamu inginkan, Nin?” tanya Bayu datar tanpa menoleh.
Nindi melangkah mendekat, kemudian dengan lancangnya dia memegang mesra lengan kekar Bayu menggunakan kedua tangannya.
“Aku minta maaf,” ucapnya lirih dengan kepala tertunduk.
Bayu menoleh cepat, menatap tajam wanita itu. “Minta maaf?”
“Iya.” Mata Nindi mulai berkaca-kaca. “Aku tahu kehadiranku ini udah buat kamu gak nyaman. Aku sadar sama kesalahanku dulu. Tapi aku sungguh menyesal atas semua yang terjadi di masa lalu.”
Bayu tersenyum getir. Bayangan empat tahun lalu kembali berkelebat dalam ingatan, saat Nindi mengatakan dengan terang-terangan telah memiliki penggantinya seraya menggenggam mesra lengan pria berjas rapi. Dia bahkan tak segan merendahkannya secara terang-terangan di depan umum, hanya karena posisinya saat itu masih karyawan biasa di tempatnya bekerja saat ini. Tapi, kenapa ketika hidupnya sudah mapan dan memiliki posis bagus di perusahaan, wanita justru kembali hadir membawa serta sebuah penyesalan?
Pria itu tampak menggeleng pelan.
“Penyesalanmu terlambat, Nin. Aku terlanjur sakit hati, luka yang kamu torehkan terlalu dalam.”
Nindi menggigit bibir bawahnya. Air mata perlahan luruh membasahi pipi. “Aku bodoh waktu itu, Yu. Aku egois. Aku terlalu fokus sama karier, sampai gak sadar kalau aku udah nyakitin orang yang paling tulus sama aku. Tolong, maafin aku, Yu ...."
Wanita itu memggoyang pelan lengan kekar yang masih berada dalam genggamannya. Namun, Bayu masih bungkam.
"Izinkan aku menebus kesalahanku empat tahun lalu ...." Air mata Nindi berderai semakin deras membasahi pipi.
Bayu menarik lengan yang sejak tadi berada dalam genggaman Nindi. Dia menatap lekat wanita itu. Wajah sedih Nindi memang selalu meyakinkan. Jika dulu, mungkin dia akan luluh dengan mudahnya ... setiap kali melihat air mata itu. Tapi sekarang, dia justru merasa muak.
“Kalau kamu memang benar-benar menyesal ... harusnya kamu gak muncul lagi di hadapanku," ujar Bayi datar.
“Aku datang karena aku peduli sama kamu, Yu.” Nindi menatap Bayu dengan mata memerah. “Aku udah dengar kabar tentang bayimu. Aku udah dengar tentang masalah rumah tanggamu. Aku kesini cuma ingin menghiburmu.”
Bayu mengernyit, menatap mantan kekasihnya dengan sorot penuh kebingungan. “Tahu dari siapa kamu?” tanyanya ketus.
“Tante Widya. Kami masih sering berkabar. Tante Widya yang memintaku kemari untuk menghiburmu. Dia sedih melihatmu terus-terusan murung."
Bayu mengepalkan tangan mendengar hal itu. Dia tak pernah menyangka jika selama ini, ibunya masih berhubungan dengan Nindi secara diam-diam di belakangnya.
“Aku gak butuh dikasihani.”
“Aku gak mengasihani kamu, Yu. Aku cuma ingin ada di sampingmu.”
Nindi kembali meraih tangan Bayu dan menggenggamnya dengan lembut.
Bayu memejamkan mata sesaat. Kepalanya terasa pening mengingat semua terjadi. Kemalangan yang menimpanya secara bertubi-tubi–mulai dari kehilangan anak, perceraian, tekanan ibunya, dan kini kehadiran Nindi yang tiba-tiba–seolah membawa solusi, tetapi kenyataannya semakin menambah beban di hatinya.
“Aku sudah memaafkanmu, Nin. Tapi untuk menerimamu kembali ... maaf aku gak bisa. Dihatiku masih ada Elvira.”
Nindi seketika merasa tertampar mendengar ucapan itu. Namun, dia tetap menunjukkan senyum manisnya di depan Bayu, meski menyimpan kekesalan mendalam.
“Aku gak minta kamu melupakan dia. Tapi tolong, beri aku satu kesempatan untuk membuktikan diri ... kalau aku memang pantas untukmu.”
Bayu memalingkan wajah, enggan menatap wanita itu. Dia juga segera menarik tangannya yang berada dalam genggaman Nindi.
“Aku cuma minta satu kesempatan. Kesempatan buat menemanimu bangkit dari keterpurukan. Apa permintaanku ini terlalu berlebihan?”
Sebelum Bayu sempat menjawab, suara Widya kembali terdengar dari arah teras. “Yu, apa salahnya kasih kesempatan untuk Nindi? Di dunia ini gak ada manusia yang sempurna ... kalau dia punya salah, maafkanlah, Yu!”
“Bu ... ibu gak ngerti semua yang terjadi. Aku gak bisa—”
“Cukup.” Widya segera memotong ucapan putranya. “Ibu gak mau dengerin alasan apapun yang keluar dari mulutmu. Dulu ibu udah dengerin kamu, sekarang giliran kamu yang dengerin ibu. Kamu sudah terlalu lama salah pilih. Sekarang kasih Nindi kesempatan untuk membuktikan diri kalau dia memang layak untukmu.”
Nindi mengembangkan senyum mendengar pembelaan Widya. Namun, sesegera mungkin dia mengubah ekspresi wajahnya menjadi pura-pura panik mendengar perdebatan ibu dan anak itu.
"Tante, udah ya, Tan ... jangan ribut sama Bayu gara-gara aku. Kalau Bayu gak bisa nerima aku lagi ... aku gak apa-apa kok, Tan. Aku gak mau memaksakan kehendak, gak baik."
Tatapan tajam yang semula dilayangkan Widya, dalam sekejap berubah menjadi tatapan penuh kelembutan ke arah Nindi. “Nindi, kamu gak usah merasa bersalah seperti itu. Anak ini memang kadang perlu dikerasin biar ngerti.”
Bayu merasa muak menatap adegan itu. Dia merasa ada yang janggal. Interaksi ibunya dan Nindi terlalu kompak, seolah memang sudah terencana. Namun, dia tidak ingin berpikir panjang. Rasa lelah lebih mendominasi daripada kecurigaan.
"Yu, tolong ... kali ini turuti keinginan ibu! Sudah empat tahun ibu mengalah. Kembalilah sama Nindi. Ibu cuma ingin kamu bahagia."
Bayu menarik napas panjang, lalu menatap lurus ke arah ibunya. Rahangnya mengeras diiringi suara berat tegas.
“Bu, jawabanku tetap sama. Aku gak mau balikan sama Nindi. Aku gak mau membohongi diriku sendiri.”
Widya menatap putranya tanpa berkedip. Tak ada lagi kelembutan dalam tatapannya, yang tersisa hanya keteguhan dingin seorang ibu yang tidak ingin ditolak.
“Jadi, kamu tetap mempertahankan keras kepalamu, Yu?” tanyanya disertai geraman tertahan menahan emosi.
Bayu hanya diam, tak ada niatan untuk menjawab.
Dan kebungkaman itu telah diartikan sebagai pembenaran atas dugaannya. Sudut bibir Widya terangkat tipis, bukan senyuman yang ditunjukkan, tetapi lebih mirip sebuah peringatan.
“Oke, pertahankan sifat keras kepalamu itu. Berarti kamu siap menanggung akibatnya.”
Bayu mengernyi menatap ibunya. “Apa maksud ibu?”
“Mulai hari ini, kamu bukan anakku lagi. Kemasi barang-barangmu dan angkat kaki dari rumah ini! Ibu lebih memilih kehilangan anak pembangkang sepertimu."
Bayu menegang, jantungnya berpacu lebih cepat dari sebelumnya dengan d**a naik turun. “Bu … jangan kayak gini.”
“Kenapa tidak boleh? Aku wanita yang sudah melahirkanmu. Aku membesarkanmu sendirian tanpa bantuan ayahmu, dan sekarang kamu mau berlaku seperti ayahmu yang ingin menyakiti ibu. Cukup sekali saja ibu merasakan rasa sakit itu. Sebelum rasa sakitnya semakin dalam, lebih baik ibu buang sumber rasa sakitnya.
Napas Bayu tercekat. Matanya bergetar, bukan takut—lebih ke tak percaya.
Terjadi keheningan bercampur ketegangan di antara mereka. Bayu mengepalkan tangan disertai tubuh yang kaku. Dia ingin berteriak, ingin menolak, Tapi ancaman itu bukan gertakan kosong. Dia tahu betul, bagaimana penderitaan ibunya selama ini dalam membesarkannya.
Ayahnya pergi entah kemana saat dia masih berusia 6 tahun, dan sama sekali tak memedulikan dirinya dan ibunya. Ibunya harus kerja banting tulang, bekerja sebagai pembantu serabutan dari rumah ke rumah orang kaya, sampai kadang puang larut. Mengingat semua ibu membuat hatinya serasa diremas dari dalam. Dia bukan ayahnya. Dia tidak setega itu untuk menyakiti ibunya.
"Yu, kalau kamu masih menganggap aku ini ibumu ... turuti keinginan ibu!" Widya kembali bersuara kali ini lebih pelan, tapi mampu menusuk hati Bayu.
“Sebenarnya, aku gak rela kehilangan anak satu-satunya, tapi aku juga gak butuh anak membangkang. Kembalilah sama Nindi. Kalau masih bersikeras tidak mau, anggap saja ibumu ini sudah mati.”
Bayu memejamkan mata. Tangannya mengepal semakin kuat menekan emosi telah bergumul dalam d**a. Pria itu menghirup nafas panjang, lalu membuangnya secara perlahan.
Setelah dirasa tenang, dia kembali membuka mata, menatap sang ibu dengan sorot penuh keseriusan.
"Baik, aku akan turuti keinginan ibu. Aku mau kembali bersama Nindi."