Bab 6.

1387 Words
Tanpa terasa enam minggu berlalu sejak Elvira pertama kali menyusui Nirvana. Waktu berjalan terasa lambat di ruang NICU. Setiap detiknya dipenuhi suara mesin monitor, langkah suster yang keluar masuk, dan nafas bayi-bayi mungil yang sedang berjuang hidup. Bagi Elvira, tempat itu bukan sekadar ruang perawatan. Di sanalah dia kembali belajar bertahan di tengah duka yang menyelimuti. Tubuhnya telah pulih sepenuhnya pasca melahirkan. Dia sudah bisa berjalan. Raut wajahnya pun sudah terlihat berseri tidak sepucat sebelumnya. Dia bahkan sudah diperbolehkan untuk pulang oleh dokter. Hanya saja, dia masih rutin menyambangi rumah sakit setiap pagi dan akan pulang ketika sore hari, demi melakukan tugasnya sebagai ibu s**u sekaligus pengasuh untuk anak mantannya. ASI yang terus mengalir menjadi pengingat pahit bahwa tubuhnya masih menjalankan peran sebagai seorang ibu, meski bayi yang dia susui bukan miliknya sendiri. Nirvana tumbuh perlahan, tapi pasti. Berat badannya berangsur naik dengan nafas yang semakin stabil, dan tangisnya kini terdengar lebih kuat dibanding minggu-minggu awal. Setiap kali, Elvira mendekapnya untuk menyusui langsung, bayi itu selalu tenang seolah mengenali aroma tubuhnya. “Dia nyaman sama kamu, Vir,” kata salah satu suster yang pagi itu menemani Elvira. Elvira hanya tersenyum tipis. Tangannya mengusap lembut puncak kepala Nirvana dan meniupnya pelan saat bayi mungil itu tampak akan tersedak saat menyusu. Ada perasaan hangat yang sulit dia jelaskan, sekaligus perih yang menusuk diam-diam. Setiap menatap wajah mungil itu, bayangan bayinya sendiri selalu menyelinap tanpa izin. Bagaimana rupa bayinya? Apakah mirip dengannya atau mirip dengan Bayu? Bagaimana jika bayinya masih hidup? Bagaimana jika bayinya yang ada di ruangan itu? Pertanyaan-pertanyaan itu selalu berhasil membuat dadanya sesak. Shaka hampir selalu menyempatkan hadir setiap kali Elvira datang untuk menyusui bayinya, seperti saat ini. Tak jarang pula, dia menawarkan tumpangan pada Elvira saat hendak pulang. Terkadang juga menjemput Elvira ke rumahnya saat jam menyusui Nirvana telah tiba dengan alasan "sekalian berangkat ke kantor". Dia berdiri di sudut ruangan. Perhatian Shaka tak pernah lepas dari gerak-gerik Elvira saat menyusui anaknya. Segaris senyum tipis tersemat di bibirnya. Pemandangan seperti inilah yang dia idamkan sejak dulu–saat masih berpacaran. Akan tetapi, senyum yang sempat tersemat di bibirnya telah memudar kala mengingat sebuah kenyataan–jika yang ada dalam bayangannya hanya masa lalu. Namun, dia telah bertekad akan memperjuangkan Elvira kali ini. Bila perlu dia akan menentang ibunya sendiri, seandainya sang ibu masih keras kepala menentang hubungan mereka. Elvira bukan tidak tahu jika Shaka tengah memperhatikannya. Dia sangat tahu, tetapi dia hanya membiarkan, dan bersikap seolah tidak tahu. Sebab ada jarak yang sengaja dia jaga. Ada masa lalu yang berdiri di antara mereka, terlebih tatapan Hera selalu tertuju padanya dan selalu mengawasi gerak-geriknya Ya, tidak ada bedanya dengan Shaka, Hera juga selalu hadir setiap kali Elvira datang untuk melakukan tugasnya. Namun, raut wajah yang ditunjukkan sangat kontras dengan raut wajah sang putra yang selalu tampak antusias. Wanita itu selalu menunjukkan sikap dingin dan menunjukkan rasa tidak sukanya secara terang-terangan. Setiap berbicara dengan Elvira nadanya selalu ketus. Akan tetapi, Elvira tak terlalu ambil pusing sikap Hera. Dia sudah terbiasa. Yang terpenting dia berusaha menjalankan tugasnya dengan baik, tanpa memiliki niat apapun apalagi sampai ingin kembali pada Shaka. Kehadirannya di sini, sepenuhnya hanya untuk Nirvana. "Sus, dia sudah tidur ... bisa dipindah kembali ke inkubator." Suara Elvira memecah keheningan ruangan. Tangan wanita itu dengan sigap membenahi baju bagian depannya, ketika mulut mungil Nirvana telah terlepas sempurna dari sumber nutrisinya. Suster yang sejak tadi menemani Elvira dengan sigap mengangkat bayi mungil itu, dan meletakkannya kembali ke inkubator. Elvira mengulas senyum melihat Nirvana yang tampak pulas di dalam box kaca tersebut. "Makin hari pipi Nirvana makin gemoy aja ... berat badannya naik signifikan lho, Vir, udah hampir tiga kilo," celetuk suster yang ikut memerhatikan Nirvana yang terlelap. Ya, kondisi bayi mungil itu semakin hari memang menunjukkan respon positif. Dia sudah terlihat seperti bayi normal dan sudah tidak menggunakan selang untuk alat bantu pernafasan. "Iya, gemes liatnya." Elvira menanggapi celetukan itu dengan nada riang sekaligus gemas. Shaka yang mendengar percakapan dua wanita itu hanya mengulas senyum lembut. Berbeda dengan Hera yang tampak jengah. Dia merasa jengah mendengar pujian-pujian suster terhadap cucunya yang seolah turut memuji andil Elvira dalam perkembangan cucunya. Namun, untuk menyangkal dia tidak bisa. Langkah kaki terdengar mendekat dari arah pintu NICU, disusul suara ketukan ringan sebelum daun pintu terbuka. Seorang dokter wanita masuk bersama dua orang perawat, membawa map tipis berwarna biru. Kehadirannya langsung menyedot perhatian semua orang di ruangan itu. “Selamat pagi,” sapa dokter tersebut ramah. “Pagi, Dok,” jawab Shaka cepat, refleks melangkah mendekat. Dokter berhenti di samping inkubator Nirvana. Tangannya cekatan memeriksa monitor, mencatat angka-angka yang tertera, lalu membuka penutup inkubator sebentar untuk mengecek kondisi bayi mungil itu secara langsung. Elvira berdiri tak jauh, jemarinya saling bertaut tanpa sadar. Debaran di dalam dadanya terasa kencang, seolah ikut menunggu vonis. Beberapa detik berlalu dalam keheningan yang menegangkan. “Kondisi Nirvana sangat baik,” ujar dokter akhirnya, “Berat badan naik stabil, pernapasan normal, refleks menyusu juga sudah kuat. Kalau hari ini tidak ada kendala, bayi sudah diperbolehkan pulang.” Sejenak, waktu seperti berhenti. Hera adalah orang pertama yang bereaksi. Wajahnya yang sejak tadi kaku perlahan melunak, meski hanya sebentar. "Syukurlah, akhirnya cucuku bisa dibawa pulang," ucapnya penuh kelegaan. Shaka menghembuskan napas panjang. Senyum lebar langsung mengembang di wajahnya. “Terima kasih, Dok. Terima kasih banyak.” Dokter tersenyum, lalu melanjutkan penjelasan tentang perawatan lanjutan, jadwal kontrol, serta pentingnya ASI langsung untuk beberapa waktu ke depan. Hera menyimak dengan saksama, sesekali mengangguk, sementara Shaka mendengarkan dengan penuh perhatian. Elvira ikut tersenyum, tetapi senyum itu terlihat kaku. Ada rasa bahagia melihat Nirvana akhirnya cukup kuat untuk pulang. Namun, di balik itu, ada perasaan asing yang tiba-tiba menyelinap, perasaan takut kehilangan. Kehilangan rutinitas untuk menyusui. Kehilangan alasan untuk mendekap bayi itu setiap hari. Kehilangan keterikatan yang tanpa sadar telah tumbuh di hatinya. Nirvana sudah diperbolehkan pulang, itu artinya hubungannya dengan bayi itu hanya cukup sampai di sini. Setidaknya, itulah kalimat yang sering diucapkan Hera di depannya. “ASI langsung masih sangat dianjurkan,” kata dokter menutup penjelasannya. “Terutama beberapa minggu pertama di rumah.” Perkataan dokter seketika mengalihkan perhatian Elvira. Wanita itu menatap lekat ke arah dokter dengan mata berbinar dan berkaca-kaca, kemudian beralih ke arah Nirvana yang masih terlelap di tempatnya. Tanpa sadar, segaris senyum mengembang di bibirnya. Kalimat itu membuat Hera menoleh cepat ke arah Elvira. Tatapannya tajam, penuh perhitungan. Elvira yang menyadari tatapan itu, sontak menundukkan kepala. Dia sadar reaksinya telah berlebihan, dan membuat Hera tidak suka. Setelah selesai memberikan arahan, dokter dan perawat berpamitan. Sepeninggalnya dokter, Hera segera melangkah mendekati Elvira. Sikapnya kembali tegak dan dingin, seolah emosi kegembiraan tadi tak pernah ada. “Kamu ikut pulang ke rumah,” katanya tiba-tiba. Elvira sontak mendongak, kalimat itu berhasil membuatnya terkejut. Dia tak pernah menyangka jika Hera akan berkata seperti itu. Akan tetapi reaksi berbeda justru ditunjukkan oleh Shaka yang terlihat antusias. "Ma-maksudnya?" tanya Elvira memastikan. “Kamu ikut pulang ke rumah untuk menjadi ibu s**u cucuku,” ulang Hera dengan nada datar, "Untuk sementara–” Shaka menoleh cepat ke arah ibunya saat mendengar perkataan terakhirnya “Ma—” Hera seger mengangkat tangan, memberi isyarat agar putranya diam. Pandangannya tetap tertuju pada Elvira. " Sampai aku menemukan pengganti yang tepat. Nirvana masih butuh ASI langsung, dan kamu sudah terbiasa.” Elvira menelan ludah kelat. Jantungnya berdegup lebih cepat. Nyatanya harapan untuk selalu bersama bayi itu hanya tinggal harapan. Namun, dia patut bersyukur, setidaknya dia masih diberi kesempatan untuk bersama Nirvana. "Baik, Bu ... saya akan ikut kalian pulang. Tapi izinkan saya mengambil barang-barang pribadi saya di rumah." "Aku antar," jawab Shaka cepat, yang langsung menarik perhatian Hera. Wanita paruh baya itu menatap tajam putranya disertai mata memicing. Raut wajahnya menunjukkan ketidaksukaan atas reapon putranya. "Tuan, tidak usah. Saya bisa–" "Aku gak terima penolakan, Vir!" potong Shaka tegas. "Pak Shaka, harap ke ruang administrasi untuk mengurus administrasi kepulangan baby Nirvana." Suara suster berhasil memecah ketegangan di antara mereka. Shaka mengangguk, dan tanpa banyak bicara lagi dia bergegas mengikuti langkah suster tersebut. Kini, di ruangan itu hanya ada Hera dan Elvira. Keduanya saling diam, tetapi atmosfer ketegangan menyelimuti ruangan itu. Hera melangkah mendekat dan berhenti tepat di depan Elvira. Suaranya terdengar pelan, dingin dan tegas tapi mampu menusuk relung hati Elvira. “Jangan pernah berharap apapun, Elvira. Ingat selalu identitasmi. Posisimu di sini hanya sebagai pengasuh cucuku. Tidak lebih!”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD