Bab 7.

1082 Words
“Letakkan Nirvana ke tempatnya. Jangan dibiasakan gendong terlalu lama.” Suara Hera terdengar lembut, tapi lumayan ketus. Wanita paruh baya itu tidak menunjukkan emosi, bahkan tidak melirik ke arah Elvira, justru sikap itulah yang membuat Elvira refleks menghentikan gerakannya. Elvira yang semula masih menimang tubuh mungil Nirvana seketika terdiam di tempat. Bayi itu baru saja selesai menyusu dan belum sepenuhnya terlelap. Matanya masih terkatup dengan nafas teratur, tubuhnya masih menempel di d**a Elvira. Biasanya jika langsung ditidurkan, bayi itu akan langsung terbangun. “Dia belum tidur nyenyak, Bu,” jawab Elvira pelan. “Takut langsung kebangun dan nangis kalau langsung ditidurkan.” Hera sontak mendekat dengan kedua tangan terlipat di d**a. Tatapannya lurus, dingin, tanpa ekspresi. “Makanya kebiasaan itu yang harus diubah. Aku gak mau cucuku tuman krasan dalam gendongan. Aku gak mau cucuku jadi manja. Ingat, dia bukan anakmu, Elvira!” Kalimat itu seperti pisau tajam yang menggores tepat hati Elvira hingga meninggalkan perih tanpa ampun. Wanita itu menelan ludah kelat. Matanya mulai berkaca-kaca, tapi sekuat tenaga menahan agar air matanya tidak jatuh. Rasa sesak menjalar ke seluruh rongga d**a, seolah ada sesuatu yang menekan dari dalam. Elvira tak lagi mendebat. Dengan gerakan perlahan penuh kehati-hatian, ia menuruti keinginan Hera. Ia melangkah ke arah boks bayi dan membaringkan Nirvana di sana. Bayi itu meringis kecil, tapi tak sampai menangis. Hera masih memperhatikan setiap gerak-gerik Elvira, seolah takut jika Elvira akan menyakiti cucunya. "Kamu di sini cuma pengasuh. Di rumah ini, semua ada aturannya. Jadi, jangan bertindak seenaknya." Hera kembali berucap ketus disertai mimik wajah penuh kesinisan, tepat setelah Elvira membaringkan cucunya dengan nyaman. Elvira mengangguk mengiyakan ucapan itu. “Saya mengerti, Bu.” Padahal Hera sering berkata pedas padanya, tapi kenapa rasanya masih menyakitkan seperti beberapa tahun lalu saat Hera menghinanya. Telinganya seolah masih belum terbiasa dengan kalimat-kalimat menyakitkan yang keluar dari mulut wanita paruh baya itu. Tanpa terasa satu minggu telah berlalu, Elvira tinggal di rumah Shaka. Hari-hari yang dilaluinya terasa jauh lebih berat daripada hari-harinya di ruang NICU. Rumah itu besar, mewah, bersih, dan tertata rapi. Tidak ada satu sudut pun yang terlihat berantakan atau berisik. Namun, suasana itu justru membuat Elvira terasa asing dan jauh dari rasa nyaman, sebab tidak ada kehangatan yang ia rasakan. Ia justru ingin pulang ke rumahnya yang sederhana. Seandainya, tidak terikat dengan kontrak pekerjaan, mungkin ia sudah mengundurkan diri sejak hari pertama. Ya, setelah Nirvana diperbolehkan pulang, Shaka langsung menyodorkan sebuah kontrak padanya–kontrak sebagai ibu s**u Nirvana selama dua tahun. Selama itu pula, Elvira diharuskan selalu berada di sisi Nirvana setiap kali bayi itu membutuhkan ASI. Seandainya, Elvira melanggar kontrak sebelum waktu dua tahun, ia harus membayar sejumlah uang bernilai fantastis. Selama berada di rumah itu, Hera semakin terang-terangan menunjukkan ketidaksukaan terhadap dirinya. Tidak jarang, Hera berkata pedas seperti tadi dan selalu berusaha mencari-cari kesalahannya. Sikap yang ditunjukkan Hera seolah sengaja, ingin membuatnya tidak betah di rumah itu. "Setelah menyelesaikan tugasmu, segeralah kembali ke kamarmu! Jangan terlalu lama dekat-dekat dengan cucuku. Aku gak mau cucuku terlalu bergantung padamu." Suara ketus Hera berhasil membuyarkan lamunan Elvira. Tanpa mengucap banyak kata lagi, wanita itu bergegas keluar dari kamar bayi untuk menuju kamarnya yang terletak di bagian belakang rumah, bersebelahan dengan dapur kering. Sebuah ruangan yang tidak terlalu luas, berisi ranjang single, lemari kecil dan meja rias sederhana. Ciri khas kamar pembantu. Elvira merebahkan tubuhnya ke kasur spons dengan mata menatap lurus langit-langit kamar. Tatapannya kosong. Ingatan sikap Hera yang selalu ketus kembali berkelebat, yang membuat dirinya seolah ingin lekas pergi dari rumah ini, tapi dirinya telah terikat dengan kontrak. Entah apa maksud Shaka memberikan kontrak seperti itu pada dirinya. Seandainya, mencari pekerjaan mudah, mungkin ia tidak akan menerima kontrak itu. Semenjak bercerai dari Bayu, ia memang hanya bisa mengandalkan diri sendiri untuk memenuhi semua kebutuhan hidupnya. Selain itu, ia harus membayar utangnya pada Susan untuk biaya rumah sakit yang jumlahnya tidak sedikit. Meski Susan tidak pernah membahas atau pun menagihnya, tapi ia cukup sadar diri sebab Susan juga bukanlah orang berada. Susan memiliki tanggung jawab pada putrinya yang sudah memasuki usia sekolah. Terlebih, Susan juga seperti dirinya yang seorang janda karena suaminya meninggal dua tahun lalu karena kecelakaan kerja. Lamunan Vira membuyar saat mendengar suara ketukan pintu dari luar, yang disusul dengan suara seorang wanita paruh baya. "Vira, makananmu sudah siap. Sebelum istirahat, makan dulu biar ASI-mu ada isinya." Elvira langsung bangkit dan membukakan pintu. Mbok Marni–pembantu yang sudah puluhan tahun mengabdi di rumah ini tampak tersenyum lembut saat ia membuka pintu. "Mbok, aku makan nanti aja, aku ngantuk banget pengen tidur dulu. Semalam Vana rewel sampai pagi." "Ya sudah, kalau gitu mbok simpan dulu makanannya ke tempat biasa. Nanti setelah bangun, cepat makan. Perut ibu menyusui gak boleh kosong," tutur lembut Mbok Marni berhasil menerbitkan segaris senyum tipis di bibir Elvira. Ia teramat bersyukur, setidaknya meskipun Hera tidak pernah menyukainya, tapi masih ada seseorang yang berlaku baik padanya. "Ya sudah, kamu istirahat. Nanti kalau bayinya rewel mbok panggil. Jangan terlalu pikirkan sikap ibu." Nasehat Mbok Marni lagi sebelum pergi. "Iya, Mbok. Lagian aku udah biasa kok," jawab Elvira masih dengan senyum yang sama. Elvira segera menutup pintu, setelah wanita paruh baya itu pergi. Ia segera merebahkan tubuhnya ke ranjang, dan mulai memejamkan mata karena memang sudah mengantuk. *** Entah sudah pukul berapa lama Elvira tertidur. Ia terbangun saat merasakan perih pada perutnya karena cacing yang minta asupan, terlebih sebelum tidur tadi ASI-nya telah banyak dikeluarkan untuk Nirvana. Setelah mencuci muka di kamar mandi, ia bergegas menuju dapur berniat untuk menghangatkan makanan yang sudah disiapkan Mbok Marni sebelum menyantapnya. Namun, ketika baru sampai di ambang pintu, langkahnya harus terhenti saat melihat punggung kekar yang sangat dia kenal. Shaka tampak berdiri di depan kompor dengan menggendong Nirvana yang tampak merengek kecil. Elvira segera mengalihkan pandangan pada jam dinding yang ternyata sudah pukul 8 malam, pantas pria itu sudah pulang kantor, pikirnya. Rupanya ia tertidur lumayan lama, terhitung dari pukul 4 sore. "Ssstt, sebentar ya, Sayang ... susunya masih dihangatkan. Susunya baru keluar dari freezer, gak mungkin papa berikan dalam keadaan dingin," kata Shaka sambil menimang pelan bayinya. Elvira terus memerhatikan gerak-gerik pria itu dari ambang pintu. Shaka terlihat sangat kerepotan, sebab caranya menggendong masih terlihat kaku. Tapi untuk mendekat, ia merasa ragu. Ia selalu merasa canggung setiap kali berdekatan dengan Shaka. Meski dulu pernah mereka pernah dekat, bahkan menjalin kasih. Elvira menghela nafas panjang. Pada akhirnya, dia memilih mengurungkan niatnya dan hendak kembali ke kamar. Namun, baru saja berbalik langkahnya harus terhenti karena mendengar suara Shaka. "Vira, kamu mau kemana?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD