Elvira berdiri kaku di ambang pintu. Tangannya refleks mengepal di sisi tubuh. Ada dorongan kuat untuk berbalik ingin mendekat—membantu, mengambil alih, dan memastikan Nirvana nyaman. Tapi ada juga rasa sungkan yang menahan langkahnya mati-matian.
Shaka telah lebih dulu menyadari keberadaannya.
“Vira, kamu mau kemana?” ulangnya lagi dengan nada antusias. Wajah lelahnya seketika berubah cerah. “Kamu udah bangun?”
Elvira akhirnya memutuskan untuk berbalik disertai segaris senyum paksa. “I-iya … saya lapar,” jawabnya terdengar canggung, bahkan di telinganya sendiri.
Shaka tersenyum kecil. “Kebetulan sekali. Nirvana juga lagi rewel. Sepertinya, dia nyari kamu. Aku gak enak mau bangunin kamu, karena semalam kamu begadang."
Kalimat itu sukses membuat Elvira salah tingkah. Ia tampak ingin mendekat, tetapi langkahnya tetap mematung di ambang pintu. Peringatan Hera selalu melekat di kepalanya untuk tidak terlalu dekat dengan Shaka. Jangan bertindak seenaknya. Jangan merasa punya hak untuk Nirvana, meski sekedar menjalankan tugas sebagai pengasuh.
“Berhubung kamu sudah di sini, lebih baik Nirvana langsung menyusu sama kamu aja. Lagian dia kurang suka nyusu pakai dot."
Shaka bergegas mendekat setelah mematikan kompor, kemudian memangkas jarak di antara mereka. Kini, jarak mereka terlalu dekat untuk ukuran pengasuh dan majikan. Aroma parfum maskulin bercampur aroma minyak telon bayi menyergap indra penciuman Elvira, yang membuatnya refleks menahan napas.
“Sekarang sama Mama Vira, ya, Sayang ... jangan rewel lagi," kata Shaka yang berhasil membuat Elvira terkesiap.
Wanita itu sontak menatap lekat pria di depannya. Bibirnya bergetar kecil seolah ingin memprotes. Namun, sebelum kalimat protes itu keluar dari bibirnya, Shaka telah lebih dulu menyodorkan tubuh mungil Nirvana ke arahnya.
Dengan hati-hati, Elvira menerima Nirvana. Begitu berada di pelukannya, tangisan kecil bayi itu mereda perlahan dan berangsur tenang.
Tanpa mengucap banyak kata, Vira segera membawa Nirvana ke kamar bayi untuk disusui, meski harus menahan rasa perih yang menjalar karena lapar.
Shaka memerhatikan kepergian wanita itu tanpa berkedip. Ada rasa hangat yang menjalar ke dalam dadanya dan bersamaan dengan itu, ada rasa bersalah yang menekan setiap kali teringat dengan masa lalu yang gagal memperjuangkan wanita itu.
Seandainya, dulu ia bisa memperjuangkan Elvira, mungkin kini yang sedang dirawat Elvira adalah anaknya dengan wanita itu.
Sedetik kemudian, kesadaran berhasil menariknya kembali dari bayangan masa lalu. Ia tidak ingin mengingat masa pahit itu, karena dengan mengingatnya sama saja ia menyesali kehadiran putrinya. Sekarang, yang perlu ia pikirkan hanyalah masa kini. Elvira telah kembali ke hidupnya, meski hanya menjadi pengasuh anaknya, dan ia tidak akan membiarkan Elvira pergi lagi.
Tekadnya sudah bulat, ia akan pastikan kalau Elvira akan menjadi miliknya lagi. Ia akan menjadikan Elvira sebagai ibu untuk putri kecilnya. Apapun akan ia lakukan demi menebus rasa bersalah di masa lalu, meski harus menentang mamanya sendiri.
Bayangan punggung Elvira telah menghilang sempurna di balik pintu kamar. Shaka ingin menyusul, tapi ia teringat sesuatu, sehingga langkahnya menjadi berbelok ke dapur.
***
Ketika Elvira tengah terduduk tenang menyusui Nirvana di sebuah sofa single, tiba-tiba dikejutkan dengan kehadiran Shaka yang masuk membawa nampan berisi sepiring makanan dan segelas air.
Elvira yang terkejut sontak menutupi satu buah dadanya dengan selimut kecil milik Nirvana.
Shaka mendekat diiringi senyum lembutnya, meletakkan nampan tersebut di meja kecil yang ada di samping Elvira.
"Katanya lapar, ini aku bawain makanan," katanya penuh kelembutan.
Elvira hanya tersenyum canggung menanggapi. "Terima kasih, maaf sudah merepotkan bapak."
Senyum yang semula tersemat di bibir Shaka perlahan memudar. Ia tidak suka mendengar kalimat formal yang keluar dari bibir Elvira. Namun, ia tidak menunjukkan sikap berlebihan sebab ia tahu kalau Elvira sengaja menjaga jarak darinya.
"Vir, buka mulutmu! Aku suapin," kata Shaka seraya menyodorkan sesendok nasi beserta lauknya ke hadapan Elvira.
Tindakan pria itu sontak membuat Elvira terkejut. Ia ingin menolak tapi tak kuasa sebab sendok tersebut sudah berada tepat di depan mulutnya, yang membuatnya mau tak mau menerima suapan itu.
"Enak? Tadi sempat aku angetin dulu makanannya," tanya Shaka seraya menyendokkan kembali nasi beserta lauknya.
Elvira hanya memberikan anggukan pelan. Matanya tak lepas dari gerak-gerik Shaka yang terus menyuapinya, hingga nasi di piring hampir tandas. Dan yang membuat wanita itu merasa tidak nyaman adalah tatapan pria itu.
Tatapan yang ditunjukkan Shaka masih sama seperti dulu. Tatapan lembut penuh perhatian. Tanpa diminta, sebuah asumsi liar tiba-tiba bersarang benaknya. Mungkinkah Shaka memperlakukan istrinya dulu seperti ini? Kalau memang iya, kenapa ia juga berlaku demikian padanya?
Dari dulu Shaka memang sosok pria romantis yang selalu berhasil membuat pasangannya jatuh hati. Entah kenapa rasa cemburu menelusup tanpa izin ke hatinya saat membayangkan hal itu.
Pandangannya kemudian beralih pada bayi mungil yang masih menyusu padanya. Di pernikahan Shaka, telah hadir putri kecil dengan mendiang istrinya. Tidak mungkin mereka bisa memiliki anak jika tidak ada rasa cinta di antara mereka, sama seperti dirinya dengan Bayu dulu.
“Kamu capek?” Pertanyaan Shaka berhasil membuyarkan lamunan Elvira
Elvira seketika tergagap kemudian menggeleng cepat. “Tidak, Pak.”
“Vir, stop panggil aku 'Pak'! Aku gak suka,” ucap Shaka diiringi tatapan seriusnya, “Panggil aku seperti biasanya.”
”Maaf, aku gak bisa. Panggilan itu terkesan tidak sopan. Sekarang kamu jadi majikanku," jawab Elvira lirih.
Shaka berdecak pelan. Hening singkat tercipta. Canggung. Terasa ganjil, seperti dua orang asing yang tak punya masa lalu.
"Tapi, Vir ... aku gak nyaman jadi formal begini." Shaka berusaha protes.
"Aku juga gak nyaman dengan sikapmu ini. Masa lalu kita sudah berakhir lima tahun lalu. Hubungan kita sekarang tak lebih dari sekedar pengasuh dan majikan. Jadi, tolong ... jangan berlebihan! Jangan semakin mempersulit aku di rumah ini." Elvira segera menyahut disertai tatapan memohon.
Bibir Shaka terkatup rapat. Tatapan Elvira berhasil membuatnya luluh tak lagi memaksakan kehendak, meski sebenarnya sangat ingin.
Oke, ia sadar. Waktu lima tahun bukan waktu yang sebentar.
Wajar jika Elvira bersikap seperti itu. Wajar jika Elvira merasa asing, terlebih setelah berpisah, mereka sama-sama berpaling dengan orang baru hingga memiliki anak.
Mungkin perasaan Elvira masih tersisa untuk mantan suaminya.
Terjadi keheningan selama beberapa menit di antara mereka. Keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing, hingga beberapa saat berselang terdengar suara Shaka yang memecah keheningan.
“Vir, makasih ...." Pria itu menjeda ucapannya, menatap Elvira lekat-lekat.
Elvira membalas tatapan tak kalah lekat seolah menanti kelanjutan ucapan pria itu. Namun, bukan kelanjutan yang didapat justru genggaman tangan Shaka yabg berhasil membuatnya terkejut.
"Makasih udah mau bertahan jadi ibu s**u anakku. Makasih udah sabar menghadapi sikap mama yang keterlaluan. Berkat kamu anakku bisa mendapatkan asupan nutrisi yang dia butuhkan."
Elvira segera menarik cepat tangannya yang ada di genggaman Shaka. "Gak perlu terima kasih. Ini pekerjaanku," jawabnya singkat, terkesan ketus.
Shaka menghela nafas panjang. “Vira, aku gak ngomong soal kontrak.”
"Tapi memang itu kenyataannya, Ka ... aku bertahan juga karena kontrak. Aku bersedia jadi pengasuh anakmu karena memang butuh pekerjaan." Elvira menekan kata "pengasuh" disertai sorot berkaca-kaca.
"Aku mau bertahan dari sikap mamamu yang keterlaluan karena memang butuh uang. Demi uang, aku rela merendahkan harga diriku untuk kembali diinjak-injak oleh mamamu, bahkan kamu pun ikut menginjak harga diriku dengan memberikan kontrak dua tahun itu," sambung Elvira dengan air mata yang mulai menganak sungai, tapi ia segera menyeka kasar air mata yang membasahi pipinya. Ia tidak ingin terlihat lemah dan dikira mencari perhatian mantan kekasihnya.
Shaka menggeleng pelan saat mengetahui jika Elvira telah salah paham padanya. Tujuannya memberikan kontrak itu semata-mata hanya ingin Elvira selalu berada di sisinya, selalu berada dalam pengawasannya. Kontrak itu hanya kedok, ia tidak kehilangan Elvira untuk yang kedua kalinya.
Shaka menghela nafas panjang demi mengurai sesak yang mulai memenuhi rongga d**a.
"Kamu salah paham, Vir ... tujuanku membuat kontrak itu bukan untuk menginjak harga dirimu, tapi karena aku ingin kamu selalu ada didekatku. Aku ingin kita seperti dulu lagi."
Kalimat itu berhasil membuat Elvira menegang. Ia memilih menunduk fokus pada Nirvana yang mulai terlelap, demi menghindari tatapan Shaka.
Tanpa mereka sadari, dari balik pintu, ada sepasang mata mengamati dengan dingin. Hera berdiri tegak dengan tangan terkepal kuat. Tatapannya tajam memindai interaksi putranya dengan Elvira.
Tak ada yang luput.
Beberapa menit berlalu dalam keheningan, suasana canggung kembali tercipta di kamar yang berhiaskan ornamen kartun lucu ciri khas kamar anak. Elvira tidak tahu harus menjawab apa. Bersamaan dengan itu, sesapan bibir mungil Nirvana pada putingnya mulai terlepas. Ia segera merapikan pakaian depannya, lalu menyerahkan Nirvana kembali pada Shaka dan buru-buru keluar kamar tanpa mengucap sepatah kata pun. Ia memilih pergi sebelum suasana semakin makin tak terkendali.
Namun, nahas ketika baru membuka pintu, langkahnya harus terhenti saat mendapati Hera ada di depannya. Wanita paruh baya itu menatapnya dengan dingin, tenang dan mematikan.
“Elvira, ikut aku ke ruang tamu,” titah Hera tanpa ekspresi, yang langsung berjalan mendahului Elvira.
Elvira menurut dengan mengekori langkah wanita angkuh itu.
Sesampainya di ruang tamu, Hera segera mendudukkan tubuh di sebuah sofa single. Ia duduk dengan angkuh sambil menelisik penampilan Elvira yang tengah berdiri di depannya.
Sungguh, Elvira merasa tidak nyaman ditatap demikian. Tatapan Hera seolah ingin mengulitinya hidup-hidup. Wanita itu hanya bisa menunduk sambil memilin ujung bajunya demi melampiaskan rasa gugup yang mendera.
“Aku sudah menemukan ibu s**u pengganti untuk cucuku.”
Dunia Elvira seolah berhenti berputar mendengar ucapan itu. Wanita itu seketika mendongak menatap Hera dengan sorot penuh keterkejutan.
“Kamu saya pecat. Mulai besok kamu gak diperlukan lagi di rumah ini,” lanjut Hera datar. “Segera kemasi barang-barangmu! Dan lekaslah pergi malam ini juga, usahakan pergi tanpa sepengetahuan Shaka."