“Buat mamamu merestui hubungan kita.” Tangan Shaka mengepal di sisi tubuh setiap kali perkataan Elvira terngiang jelas di telinganya. Kalimat itu seperti diputar berulang-ulang, seolah tanpa jeda di kepalanya. Pria itu menyusuri koridor rumah sakit menuju ruang perawatan anaknya. Bau antiseptik menusuk hidung, bercampur suara langkah kaki perawat dan derit roda brankar yang berlalu-lalang. Lampu-lampu putih menyala terang, tapi tak satu pun dari lampu itu mampu menerangi benaknya yang gelap dan penuh kegelisahan. Permintaan itu bukan sekedar permintaan, melainkan sebuah syarat. Syarat yang diajukan Elvira untuk kembali padanya. Shaka memijat pelipisnya pelan saat rasa pening melanda. Untuk pertama kalinya dalam hidup, ia dihadapkan pada pilihan yang tak bisa ia hindari. Selama ini

