“Sha-Shaka, sejak kapan kamu di sini?” Pertanyaan Elvira menggantung di udara. Tubuhnya membeku di tempat. Detak jantungnya berdentum lebih keras, tidak karuan, sementara pandangannya terpaku pada sosok pria yang berdiri di ambang pintu rumahnya. Shaka menatapnya dengan segaris senyum lembut. Wajah itu tampak lebih tirus dibanding terakhir kali mereka bertemu. Matanya cekung seperti seseorang yang kurang tidur. “Aku di sini sejak tadi, Vir. Aku ke sini bareng Susan. Hanya saja, aku tadi nunggu di mobil,” jawabnya dengan nada lembut. “Tapi akhirnya aku penasaran, jadi menguping pembicaraan kalian.” Bibir Elvira terkatup rapat mendengar pengakuan itu. Tatapannya kemudian beralih pada Susan dengan tatapan menuntut seolah meminta penjelasan. Susan menelan ludah kelat. Ia merutuki sikap Sh

