Bab 2: Ayo, Menikah

2060 Words
“Kamu gila atau apa, Chi? Serius kamu bilang begitu sama bibi dan kakakmu?” “Mau bagaimana lagi. Aku enggak mau membuat mereka kepikiran.” “Tapi, sekarang kamu yang harus cari jalan keluarnya. Memangnya di mana kamu bisa menemukan orang yang siap menikahi kamu secepat itu?” Apa yang dikatakan oleh Melly benar sekali. Dia harusnya tidak mencari masalah baru dengan berkata sudah memiliki calon pendamping. Mau bagaimana lagi, dia tidak mau bibinya terus mendesak. Dia juga tidak mau Falisha mengkhawatirkan masa depannya. Lihat saja sisi baiknya. Kedua orang yang disayanginya itu bisa tenang sekarang. Mengenai bagaimana Achiera menyelesaikan permasalahan yang ditimbulkan, akan dia pikirkan nanti. Mungkin membutuhkan waktu yang lama. Dia tidak peduli. Selama Nila dan Falisha bahagia, dia bisa melakukan apa pun. Mereka sudah menjaga dirinya sejak kecil. Perkara kecil seperti ini tidak berarti apa-apa. Achiera mulai mengingat-ingat siapa pria yang bisa dia dekati untuk dijadikan target. Ini memang terdengar aneh, tetapi dia tidak punya cara yang lebih baik selain mencoba mengenal kaum Adam. Dia harus lebih memperhatikan pria yang mendekatinya agar bisa memberi penilaian. Dengan begitu, dia bisa keluar dari masalah yang menderanya. Tidak perlu tampan atau kaya. Achiera hanya butuh pria yang pengertian. Adakah orang yang mau menikahinya padahal belum terlalu saling kenal. Mereka bisa mengenal setelah mengucapkan janji suci pernikahan. Memang prosesnya sedikit berbeda, tetapi mereka tetap bisa hidup bersama dengan damai, bukan? “Apa yang kamu pikirkan?” tanya Melly, penasaran melihat Achiera yang terdiam lama. “Apa kamu pernah melihat ada orang yang mungkin suka sama aku?” Melly membelalakkan mata. Seorang Achiera menanyakan mengenai makhluk bernama laki-laki? Ini kejadian yang sangat langka. Mungkin Melly harus merekam pertanyaan Achiera barusan. “Serius, Chi? Kamu tanya soal cowok yang suka sama kamu?” “Serius banget. Gimana? Ada yang cocok sama aku?” “Aku pikir pertanyaan harus diganti. Kamu bisa mencocokkan diri dengan mereka?” “Aku orang yang pintar beradaptasi. Kamu tahu itu, kan?” “Oke. Aku tahu kamu mudah sekali bergaul. Tapi ini berbeda. Kamu bukan sekadar mencari sahabat. Kamu mencari pasangan seumur hidup, Chi. Kamu sadar itu?” “Justru karena aku sangat sadar, Mel. Makanya aku tanya sama kamu.” Melly menghela napas. Sejak dulu, dia sudah sering menyarankan Achiera untuk, setidaknya, mencoba mendekati pria. Achiera terus menolak setiap pria yang ingin menjalin kasih dengannya. Apa lagi alasannya kalau bukan demi mengusahakan kebahagiaan Nila dan Falisha. Di dunia ini, tidak ada yang lebih penting bagi Achiera melebihi mereka berdua. Dulu, Achiera menghindari semua pria untuk membuat bahagia keluarganya itu. Sekarang, dia juga ingin mendekati pria demi kebahagiaan mereka. Melly benar-benar tidak bisa mengerti jalan pikiran Achiera. Dia tahu kalau Falisha dan Nila adalah penyelamat dalam hidup sang sahabat, tetapi bukan berarti Achiera harus menuruti semua keinginan mereka, bukan? Bagaimana bisa Achiera menyerahkan masa depan sepenting itu hanya demi keinginan Nila? Ini masalah pernikahan. Yang diinginkan terjadi sekali seumur hidup. Mana bisa hal seperti ini dilakukan dengan terburu-buru. Menikah dengan perencanaan matang saja masih mendatangkan banyak masalah. Bagaimana dengan pernikahan yang diinginkan oleh Achiera? Rasanya keputusan Achiera kali ini terlalu sembrono. Kalau Nila memang ingin dia menikah, seharusnya dia mengatakan untuk memberikan waktu. Butuh kehati-hatian dalam mencari pasangan hidup. Mana bisa asal pilih di antara ribuan, bahkan jutaan pria di luar sana. Memangnya mudah mendapatkan pasangan yang cocok dengan kita? “Kamu sadar enggak kalau kita dari tadi saling melempar pertanyaan?” tanya Achiera tidak jelas. Melly memutar bola mata. “Bisa enggak kamu mengatakan sesuatu yang lebih penting?” “Aku mengatakan hal penting dari tadi,” ujar Achiera. “Jadi, apa ada pria yang suka sama aku?” “Entahlah. Aku sudah lama enggak memperhatikan. Tapi, manajer marketing kita sering melirik kamu. Asisten si bos juga kadang-kadang lihat kamu.” “Kamu yakin kalau mereka melakukan itu karena suka sama aku? Bukan karena aku melakukan kesalahan atau semacamnya?” “Halo! Kamu itu Achiera, si manajer keuangan super teliti. Memangnya kamu pernah melakukan kesalahan selama bekerja di sini?” Tentu saja tidak pernah. Achiera selalu bekerja keras agar pekerjaan sempurna. Sejak dulu juga begitu. Dia berusaha menjadi yang terbaik di antara teman-temannya agar tidak mengecewakan sang bibi. Itu sebabnya dia nyaris tidak pernah melakukan kesalahan dalam hal apa pun. Dia selalu tegas pada dirinya sendiri untuk memastikan tidak ada kesalahan. Mengenal Achiera sejak lama membuat Melly memahami hal itu. Bintang kelas yang penuh martabat seperti Achiera memang banyak diidolakan. Ditambah dengan segudang kebaikan dan wajah cantik. Achiera seakan tidak memiliki kekurangan. Namun, itu hanya yang tampak di luar. Sebenarnya Achiera penuh dengan beban. Hanya Melly yang mengetahui bagaimana Achiera hidup selama ini. Meski sangat ramah pada semua orang, Achiera tidak pernah benar-benar dekat dengan mereka. Dia tidak mau ada yang mengetahui tujuan hidupnya yang dianggap aneh. Cukup Melly. Dia tidak butuh banyak teman yang bisa memahami dirinya seperti Melly. “Oke, oke. Jadi, kemungkinan mereka suka sama aku. Tunggu dulu! Asisten bos, kan, lebih muda dari kita, Mel. Kamu mau aku menikah sama berondong?” “Aku, kan, cuma menyebutkan orang yang memperhatikan kamu.” Melly menyenggol lengan Achiera yang tengah meminum latte-nya. “Omong-omong, anak baru itu juga sering melirik kamu. Dia lumayan ganteng, kan? Anak HRD.” Mata Achiera mengamati pria yang tengah sibuk memakan makan siangnya itu. Dia pernah berpapasan dua atau tiga kali, tetapi tidak tahu siapa namanya. Meski sedang duduk, dia yakin kalau pria itu tinggi. Rambutnya agak ikal. Pakaiannya rapi dan terlihat bermerek. Achiera menebak kalau dia berasal dari keluarga yang cukup mampu. Wajah tampan pria itu lumayan memesona. Meski begitu, Achiera merasa kalau dia tidak begitu tertarik. Dia tidak begitu suka dengan pria yang makan sambil tertawa-tawa seperti itu. Setidaknya tunggu sampai dia menghabiskan makanan. Baru setelah itu mengobrol dengan santai. Satu sifat yang membuatnya langsung ilfill. “Gimana? Mau aku kenalkan?” tanya Melly penuh semangat. Akan tetapi, dia memberengut begitu melihat kepala Achiera yang menggeleng keras. “Lihatlah cara makannya. Dia kayak enggak punya sopan santun. Masa makan sambil ketawa haha hihi begitu. Dia itu laki-laki. Harusnya menjaga harga diri.” “Ya, ampun, Chi. Kamu memang enggak ada duanya. Maunya banyak, padahal pengin cepat nikah. Kalau kamu begini terus, aku jamin, kamu enggak akan dapat pria mana pun dalam waktu dekat. Kamu juga harus belajar menerima kekurangan orang lain.” “Iya. Tapi enggak yang kayak dia juga, kan?” “Oke. Kalau begitu, bilang sama aku. Kamu mau laki-laki seperti apa? “Enggak perlu yang aneh-aneh. Aku cuma mau laki-laki yang memahami tujuanku buat menikah cepat. Aku mau yang pengertian dan menerima alasanku itu.” “Kamu mau bilang sama laki-laki itu kalau kamu menikah demi keluarga kamu?” “Memangnya salah? Kami harus jujur dan terbuka, kan?” Helaan napas lolos dari mulut Melly. Dia menatap Achiera, lalu meletakkan punggung tangannya di kening sang kawan. Setelah cukup lama, dia menggeleng berulang kali. Achiera membalas tatapannya dengan ragu, tidak mengerti. Tidak memedulikan reaksi Achiera, dia justru beranjak dan meninggalkan Achiera. “Eh, Mel. Kok, malah pergi? Kita belum selesai bicara.” “Bicara saja sama tembok. Aku lagi malas menanggapi omongan kamu.” “Kenapa? Aku buat salah, ya?” Tidak ada jawaban dari Melly. Wanita itu terus berjalan. Sementara di belakangnya, Achiera setia mengekor. Achiera melontarkan pertanyaan demi pertanyaan tanpa mendapat balasan. Namun, dia tidak menyerah. Dia masih mengikuti Melly, bahkan ketika sampai di ruangan sang sahabat. Di sana, dia terpaksa melepas Melly yang harus kembali bekerja. Jika Melly tidak bisa memberikan jalan keluar, Achiera akan berusaha sendiri. Dia yang menimbulkan masalah ini, dia juga yang akan menyelesaikan. Memecahkan persoalan adalah keahliannya. Bukankah karena itu dia selalu mencapai tujuan yang diinginkan. Dia pantang menyerah dan pekerja keras. Dia akan mendapatkan keinginannya. Dengan atau tanpa bantuan Melly tidak jadi perkara. Achiera sudah biasa menghadapi apa pun sendirian. Jadi, kenapa dia harus mengkhawatirkan hal ini. Dia hanya perlu membuka mata lebih lebar untuk melihat sekeliling. Pasti akan ada satu pria yang bisa mengerti keadaannya sekarang. Dia tidak ingin memulai hubungan dengan sebuah kebohongan. Lebih baik jujur sejak awal dari pada hidup dalam kegelisahan. Begitulah yang selalu Achiera pegang. Sayang, dia sudah mulai kebohongannya pada Nila dan Falisha. Sesuatu yang dia sesali sekarang. Dia terbiasa memendam apa pun. Walaupun demikian, dia tidak pernah bertindak sejauh ini. Apa yang sebaiknya dia lakukan untuk keluar dari masalah ini? *** “Hai. Sore ini cukup melelahkan, ya?” Achiera melambaikan tangan pada gambar besar yang menghiasi gedung di seberang kantornya. Ini sudah jam pulang kerja dan dia pergi ke atap untuk menenangkan pikiran. Setelah berpikir seharian, dia mulai menyadari kebodohannya. Benar kata Melly dia terlalu penurut pada Nila. Dia bahkan tidak berpikir panjang saat menyetujui usulan Nila. Sekarang, Achiera tenggelam dalam pemikirannya sendiri. Mana ada pria yang bisa menerima alasannya. Lagi-lagi, dia harus mengakui kalau Melly benar. Namun, dia bisa apa? Mundur dari peperangan bukanlah gaya seorang Achiera. Dia tidak bisa lari setelah membuat keputusan sepenting itu dalam hidup. Dia harus bertanggung jawab. Mata Achiera menyipit saat merasakan silaunya mentari sore. Dia menutupi wajah dengan telapak tangan, lalu mengintip semburat cahaya melalui celah tangan. Senyumnya mengembang. Suasana tenang ini membuat wanita itu merasa sedikit terhibur. Dia berusaha menenangkan hati dan melupakan pembicaraannya dengan Melly. Gagal. Achiera tidak bisa melupakan satu kalimat pun yang dia katakan pada Melly. Semua terekam jelas di kepala. Ini adalah kerugian memiliki daya ingat yang kuat. Dia jadi sulit melupakan sesuatu yang ingin dibuang. Padahal dia terkadang menginginkan ruangan kosong di hatinya, agar bisa menikmati kehidupan yang menyenangkan. “Apa kamu tersenyum karena kamu bahagia?” tanya Achiera pada gambar wanita di billboard. Dia mengenal artis cantik itu. Sudah tiga bulan terakhir ini fotonya terpampang di sana. “Kamu menikmati hidup sebagai seorang selebriti? Atau senyum itu hanya senyum palsu demi mencari ketenaran?” Achiera kembali bertanya. Berbicara seperti ini cukup meringankan beban dalam hati Achiera. Dia sering melakukannya saat pikirannya sedang buntu. Memiliki sahabat yang sangat pengertian dan perhatian seperti Melly adalah anugerah luar biasa bagi Achiera. Namun, dia tidak mau membebankan semua permasalahannya pada sang sahabat. Melly juga memiliki masalah sendiri. Mereka juga sudah sama-sama dewasa. Achiera tidak bisa terus mengandalkan Melly. Persahabatan antara Achiera dan Melly selalu mempunyai semboyan andalan. Mereka tidak pernah menutupi apa pun. Semua permasalahan selalu mereka bicarakan bersama. Namun, Achiera merasa kalau dia tidak bisa membebani Melly. Wanita sebaik Melly harusnya bisa mendapatkan teman yang lebih baik dari pada dirinya, tetapi Melly memilih tetap bersahabat. “Apa kamu tahu, aku melakukan kesalahan besar kemarin,” gumam Achiera. Dia tertawa miris. “Bagaimana bisa aku berkata seperti itu pada Bibi dan Kak Falisha? Aku pasti sedang kerasukan saat mengatakan semua itu.” Achiera menghela napas. “Apa arti pernikahan sebenarnya? Bukankah itu hanya sebuah ikatan yang harus kita jalani seumur hidup?” ujarnya sambil tersenyum. “Harus dijalani seumur hidup? Kenapa kedengarannya sedikit mengerikan, ya?” “Sayangnya, aku terlalu sombong. Aku seakan menentang takdir. Coba katakan, di mana aku bisa menemukan pria yang siap menikah denganku dalam waktu dekat?” “Siapa yang mau mengajakku menikah?” “Ayo, menikah.” Itu bukan suara Achiera. Begitu mendengar ada yang menimpali omongannya, dia membalikkan badan. Bola matanya nyaris melompat keluar ketika menyadari siapa yang kini berdiri di sana. Pria itu berjalan pasti ke arahnya. Setelan jas yang digunakan masih terkancing rapi. Achiera menelan ludah. Kenapa dia tidak tahu kalau ada orang lain di sini? Mata Achiera melirik ke sana sini. Dia tidak siap berhadapan dengan siapa pun sekarang. Tidak setelah dia mengatakan semua omong kosong pada sebuah billboard. Apa yang akan dipikirkan oleh pria yang kini sudah semakin dekat dengannya itu? Apa dia mendengar semua ucapannya? Sejak kapan pria itu ada di sana? Semua pertanyaan itu tidak menemukan jawaban. Achiera berharap ditelan oleh bumi detik ini juga. Wajahnya sudah sangat panas. Pasti warnanya sudah merah sekali. Di mana dia bisa bersembunyi dari rasa malu? Belum genap setahun dia pindah ke perusahaan ini dan sudah mempermalukan diri begini? Dia mau melompat dari atap saja. Itu pun jika dia berani. “Ayo, menikah,” ulang pria itu. Mata Achiera mengerjap. Ternyata tadi dia tidak salah dengar, tetapi apa maksud ucapan itu. “Saya bilang, ayo, kita menikah.” Dan dunia seakan berhenti berputar. Bagaimana bisa ada pria yang mengucapkan kalimat itu dengan mudah? Achiera benar-benar ingin melompat sekarang. Apa pria di hadapannya itu sedang menggoda dia? Apa dia sedang membuat lelucon untuk mengejek kegelisahannya? Achiera sungguh tidak mengerti.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD