Rumah kecil itu perlahan berubah warna sejak kedatangan Delon. Seperti ada nyawa baru yang menghangatkan ruangan-ruangan yang sebelumnya dingin dan mati. Dan setiap kali Seno datang, rasanya suasana itu semakin lengkap.
Pagi itu, cahaya matahari jatuh lembut dari celah tirai, membuat wajah mungil Delon tampak berpendar. Inggrid duduk di kursi goyang dekat jendela, tubuhnya condong sedikit ke depan, menopang Delon yang sedang menyusu dengan tenang. Nafas kecil bayi itu berirama, membuat d**a Inggrid terasa bergetar halus setiap kali kulit mungil itu menyentuhnya.
Ia belum terbiasa dengan kehadiran bayi ini dalam hidupnya, tetapi setiap hari nalurinya seperti kembali hidup. Bukan naluri yang dipaksakan oleh kesedihan, tapi yang tumbuh karena kebutuhan kecil dari manusia mungil ini.
Dan setiap kali ia menyusui, Seno akan selalu berdiri di dekat pintu, seolah ragu untuk mendekat tapi juga tak mampu berpaling.
Seperti pagi ini.
Seno berdiri diam beberapa langkah dari mereka. Tatapannya mengambang pada pemandangan yang mungkin hanya akan dimengerti seseorang yang pernah kehilangan dan mendapati bahwa dunia ternyata masih bisa memberinya keajaiban.
Inggrid menyadari kehadirannya, tapi ia tak menoleh. Hanya suaranya yang pelan, hampir berbisik.
“Mas udah dateng?” tanyanya, sambil mengusap kepala Delon yang tertidur di dadanya.
“Hmm…” suara Seno terdengar berat. “Sudah dari tadi… Aku cuma… nggak mau ganggu.”
Inggrid tersenyum tipis tanpa menoleh. “Mas cuma berdiri begitu, malah kelihatan seperti sedang menahan napas.”
Seno mengembuskan napas panjang, seolah ketahuan. Ia melangkah mendekat, tapi masih menjaga jarak. “Aku cuma… masih nggak percaya kamu bisa segini kuat, Grid.”
Inggrid terdiam sesaat, menatap bayi itu. “Aku nggak sekuat itu, Mas. Aku masih takut. Tapi Delon… dia membuatku merasa… dibutuhkan.”
Hening turun perlahan. Seno mendekat satu langkah lagi.
Pandangan pria itu turun, menatap Delon yang tertidur damai di pelukan Inggrid. Dan tanpa ia maksudkan, pandangannya turun ke tangan Inggrid yang memeluk bayi itu, tangan yang dulu pernah ia lihat gemetar saat memeluk peti kecil putih di pemakaman.
Tapi kini tangan itu tampak hidup lagi.
“Grid…” suara Seno hampir pecah. Ia mengusap wajahnya sendiri, mencoba menstabilkan diri. “Setiap lihat kamu kayak gini… aku ngerasa… entah apa… ada sesuatu di dalam diri aku yang…”
Ia berhenti sebelum kalimat itu jatuh terlalu jauh. Inggrid menoleh pelan, menatapnya. Dan tatapan itu membuat Seno merasakan sesuatu yang sudah lama mati dalam dirinya perlahan bangkit.
Inggrid sadar perubahan itu.
Ia berdeham pelan. “Mas Seno… jangan natap aku kayak begitu.”
“Begitu gimana?”
“Begitu…” Inggrid menunduk, pipinya memerah. “Seolah… seolah aku… membuat Mas ingat sesuatu yang pernah Mas punya.”
Seno menjawab pelan. “Wajar kan kalau Mas kangen dengan kehangatan.”
Inggrid tercekat. Tangannya sedikit gemetar. Ia mendekap Delon lebih kuat agar tidak terlihat betapa napasnya mulai tidak teratur.
Setiap kali Seno menatapnya seperti itu… rasanya seperti ia diseret dari tepi gelap dan ditarik masuk ke pelukan yang hangat. Dan ia benci mengakui bahwa dirinya merindukan perasaan itu.
Siang menjelang ketika Delon selesai menyusu. Inggrid perlahan melepaskan bayi itu, mengusap pundaknya, menimang hingga ia bersendawa kecil. Seno memperhatikan dengan senyum samar, namun di balik senyum itu ada badai yang berputar hebat.
Begitu Inggrid bangkit untuk membawa Delon ke kamar bayi, Seno bergerak cepat.
“Grid… biar aku.”
Tangannya terulur, menyentuh lengan Inggrid. Sentuhan ringan itu saja membuat tubuh perempuan itu terhenti seketika.
Ia menoleh. Mata mereka bertemu. Dan untuk sesaat dunia menahan napas.
Inggrid merasakan sesuatu mengalir dari sentuhan itu, sesuatu yang hangat, menenangkan, tapi juga membakar pelan dari ujung jarinya sampai ke d**a.
“Mas…” bisiknya.
Seno tidak melepas lengannya. Sebaliknya, jemarinya justru meremas lembut, menarik Inggrid sedikit lebih dekat.
“Setiap kali aku lihat kamu gendong Delon,” ujar Seno dengan suara rendah, “setiap kali lihat kamu tenangin dia, nyusuin dia… ada bagian dalam diri aku yang… hidup lagi.”
Inggrid menelan ludah. Nafasnya tercekat.
“Mas, jangan becanda deh.”
“Aku nggak becanda, Grid.”
Seno mendekat satu langkah. Sangat dekat. Hanya beberapa senti memisahkan tubuh mereka.
Inggrid tahu ia harus mundur. Ia tahu ia harus menepis tangan Seno. Tapi tubuhnya tak bergerak. Entah mengapa, pelukan laki-laki itu, yang hanya menggenggam lengan, terasa jauh lebih nyaman daripada yang seharusnya.
“Grid…” Suara Seno turun, nyaris bergetar. “Setiap kali kamu dekap Delon… aku lihat harapan. Dan aku… aku kangen ngerasain hangat itu.”
Inggrid menutup mata. Ia tahu perasaan itu tidak boleh tumbuh. Ia tahu mereka berdua masih patah.
Tapi ketika Seno menariknya perlahan… ketika d**a lelaki itu menyentuh pundaknya… dan lengannya terangkat untuk melingkari punggung Inggrid…
Ia tak kuasa menolak.
Pelukan itu jatuh begitu hangat, penuh, dan benar - benar memabukkan.
Inggrid terisak pelan, bukan karena sedih, tapi karena untuk pertama kalinya dalam sekian lama ia merasa aman dalam pelukan seseorang.
Seno menahan napas ketika Inggrid menyandarkan kepalanya di dadanya. Ia memejamkan mata, membiarkan aroma lembut perempuan itu memenuhi inderanya.
“Grid…” Suaranya parau. “Kamu nggak tahu betapa aku… butuh ini.”
Inggrid menggeleng pelan di dadanya. “Mas bukan satu-satunya.”
Pelukan Seno menguat, tapi tetap lembut, seolah ia tahu Inggrid rapuh dan bisa pecah kapan saja.
Beberapa detik, beberapa menit, mereka tidak memisahkan diri.
Delon tertidur di antara mereka, namun justru kehadiran bayi itu membuat pelukan itu terasa semakin berarti. Bukan erotis, bukan gairah yang liar, melainkan kedekatan yang menyayat dalam, yang hanya bisa muncul dari dua jiwa yang sama-sama kehilangan.
Hasrat bukan sekadar keinginan tubuh.
Hasrat, bagi mereka, adalah keinginan untuk hidup lagi.
Dan saat Inggrid akhirnya mengangkat wajahnya, matanya yang sembap itu bertemu pandangan Seno, pandangan yang begitu dalam, begitu jujur, begitu menggetarkan d**a. Dunia rasanya runtuh di sekitar mereka.
Seno mengusap pipinya, lembut. “Kamu nggak sendirian lagi, Grid. Ada Mas sekarang.”
Inggrid menatapnya lama sekali, seolah mencari alasan untuk menjauh. Ia tidak menemukannya.
“Aku masih trauma, Mas. Trauma kehilangan,” bisiknya.
Seno merunduk sedikit, kening mereka hampir bersentuhan. “Aku juga.”
Tapi tidak ada yang mundur.
Dan untuk pertama kalinya, yang mereka takutkan bukan lagi kesendirian. Tapi betapa mudahnya mereka menemukan satu sama lain dalam luka yang sama.
Hari itu, ketika matahari tenggelam perlahan, rumah Inggrid tak lagi terasa dingin.
Seno masih duduk di sana. Delon tertidur di dadanya. Inggrid bersandar di pundaknya, dengan tatapan yang jauh lebih hidup daripada hari-hari sebelumnya.
Dan walau tidak ada janji di antara mereka… sesuatu telah berubah. Sesuatu telah bangkit, yang mungkin tak bisa lagi mereka ingkari.