Waktu seperti berjalan lebih lambat sejak Seno tiba. Entah karena kehangatan suasana, atau karena sejak beberapa menit lalu ia merasakan sesuatu yang sudah terlalu lama hilang: rasa memiliki… atau setidaknya, keinginan kuat untuk memiliki.
Inggrid masih bersandar di bahunya, meski kini ia sudah mulai terjaga dari keharuan yang sempat membelit dadanya. Delon tertidur di pangkuan Seno, dengan tangan mungil yang sesekali bergerak seolah mencari kenyamanan tambahan.
Ada momen-momen tertentu yang tak perlu kata-kata untuk menjelaskannya, dan bagi Seno, inilah salah satunya.
Ia mengusap punggung Delon perlahan dengan ritme lembut yang seakan sudah ia kuasai bertahun-tahun, padahal ia bahkan belum lama mengenal bayi itu. Setiap gerakan kecil bayi tersebut, setiap helaan napasnya, seakan menambah kedalaman sesuatu yang tumbuh di d**a Seno yang selama ini ia pendam dalam diam.
Inggrid menelan napas pelan. “Mas nyaman?” tanyanya, tanpa menoleh.
Seno tersenyum kecil. “Lebih dari nyaman.”
“Delon lumayan berat kalau lama-lama.”
“Berat? Dia? Nggak… Dia justru bikin aku punya alasan buat diem, Grid.”
Ada jeda kecil. Inggrid mengangguk pelan, tak berani melihat wajahnya karena ia tahu, mata Seno terlalu jujur. Dan kejujuran itu terlalu mudah untuk ia percayai.
Ia bangkit perlahan, merapikan rambut yang jatuh di bahunya. “Mas, aku buatin teh dulu ya.”
Seno menahan lengannya sebentar, tidak kuat, tidak memaksa, hanya menyentuh.
“Bentar.” Suaranya dalam dan rendah. “Grid… aku boleh ngomong sesuatu?”
Inggrid menahan napas. “Apa?”
“Boleh nggak… kamu lihat aku.”
Kalimat itu sederhana, tapi cara Seno mengucapkannya membuat jantungnya berdebar dengan cara yang tidak pernah ia rasakan sejak lama. Pelan, Inggrid menoleh. Dan ketika mata mereka bertemu, dunia seolah mengecil menjadi ruang kecil itu, Seno, Inggrid, dan Delon yang tertidur damai di pangkuan pria itu.
“Sampai kapan kamu mau terus pura-pura kuat di depan aku, Grid?”
Inggrid tertegun. Ia membuka mulut, tapi tak ada kata yang keluar.
“Kamu nggak harus nutupin semuanya. Bukan di depan aku.”
Inggrid memalingkan wajah. “Aku… aku lagi belajar, Mas. Belajar napas lagi. Belajar percaya lagi…”
“Aku tahu.”
Dan entah kenapa, saat Seno berkata begitu, Inggrid percaya.
“Aku nggak mau gantiin siapa pun,” lanjut Seno. “Baik orang yang kamu kehilangan… atau masa lalu kamu. Tapi aku… aku pengen ada di hidup kamu. Beneran ada. Dengan cara yang kamu butuh, bukan yang kamu takutin.”
Inggrid menunduk. Ia meremas ujung cardigan yang ia kenakan, mencoba menstabilkan emosi yang naik turun seperti gelombang tak menentu.
“Mas Seno…”
“Aku udah lama hidup sendirian,” ujar Seno pelan. “Dan lama banget nggak ngerasain detak jantung yang… berubah karena seseorang.”
Inggrid membisu.
“Tiap aku lihat kamu sama Delon… ada sesuatu dalam diri aku yang bilang: kamu harus jaga mereka berdua.”
Inggrid mengerjap cepat. “Mas, jangan ngomong kayak gitu. Aku takut…”
“Takut sama aku?”
“Takut sama perasaannya.”
Seno menatapnya lebih dalam, lebih lembut. “Perasaan yang mana?”
Inggrid menggeleng. “Yang pelan-pelan muncul tanpa izin. Yang bikin aku lupa kalau aku masih retak.”
Seno mengangguk. “Kalau kamu retak… aku nggak keberatan. Aku bisa nunggu kamu sampai kamu utuh lagi.”
Inggrid memejamkan mata. Kata-kata itu seperti pelukan lain yang jatuh tanpa menyentuh tubuh.
“Tapi Mas…” bisiknya, “aku takut kamu cuma kasihan sama aku.”
Seno segera menggeleng. “Grid. Kalau aku cuma kasihan… aku nggak bakal ngerasa begini.”
Ia menunduk sedikit, keningnya hampir menyentuh kening Inggrid. Nafas mereka saling bertemu, hangat namun menahan jarak.
“Kamu bikin aku pengen pulang,” ucap Seno pelan. “Dan aku udah lama banget nggak punya tempat buat pulang.”
Inggrid menahan napas. Ada getaran halus di dadanya, seperti tali tak kasat mata yang ditarik perlahan menuju laki-laki ini. Ia ingin mundur, tapi keinginannya untuk tetap di sana lebih besar.
“Mas…” suaranya pecah, “aku belum siap dekat sama siapa pun.”
Seno tersenyum sendu. “Ya udah. Aku yang deketin kamu.”
Inggrid memejamkan mata, menyerah pada perasaan yang terus ia tolak tapi tidak pernah benar-benar pergi.
Malam mulai turun perlahan.
Inggrid membawa teh hangat ke meja, lalu duduk di sofa, menyandarkan tubuhnya yang lelah. Seno menidurkan Delon di kasur bayi, menutupinya dengan selimut kecil bergambar awan. Setelah itu ia kembali duduk di samping Inggrid.
Lebih dekat daripada sebelumnya.
Inggrid pura-pura sibuk mengaduk teh, padahal ia tahu persis tangan Seno berada terlalu dekat dengan pahanya. Dan itu membuat jantungnya tidak karuan.
“Grid,” panggil Seno pelan, nadanya terlalu lembut untuk ditolak.
Inggrid menghela napas. “Iya, Mas?”
“Aku nggak mau buru-buru. Tapi aku nggak bisa pura-pura diem juga.”
Inggrid menelan ludah. “Tentang… kita?”
Seno mengangguk. “Tentang kamu.”
Inggrid menatap ke arah lain. “Aku takut kehilangan lagi, Mas.”
“Kamu nggak bakal kehilangan aku.”
“Semua orang bisa hilang.”
“Tapi aku nggak pergi,” tegas Seno. “Bukan sekarang. Bukan besok. Sampai kamu minta aku pergi.”
Inggrid memejamkan mata, menahan gejolak di dadanya. “Kenapa Mas pengen terus dekat sama aku?”
Seno butuh beberapa detik untuk menjawab. Ketika ia akhirnya bicara, suaranya serak.
“Karena aku pengen kamu ada di hidup aku, Grid. Bukan cuma sebagai orang yang aku lindungin. Tapi sebagai Ibunya Delon juga.”
Ia berhenti. Menatap Inggrid lama.
“Aku nyaman sama kamu, Grid.”
Inggrid membeku.
Seno melanjutkan, lebih pelan, lebih dalam. “Aku pengen ada buat kamu. Setiap hari. Setiap pagi. Setiap kamu takut. Setiap kamu senyum. Aku pengen jadi laki-laki yang bikin kamu ngerasa aman.”
Inggrid menggigit bibir bawahnya, menahan tremor. “Jangan ngomong gitu, Mas…”
“Apa yang salah, Grid?”
“Bukan salah…” suaranya merendah, “tapi aku belum kuat.”
“Kamu nggak harus kuat,” jawab Seno cepat. “Cukup izinin aku ada.”
Inggrid akhirnya menoleh. Matanya berkaca. “Mas beneran mau sedekat itu?”
“Lebih,” jawab Seno tanpa ragu.
Ia mengangkat tangan perlahan, memberi waktu Inggrid untuk menolak. Tapi Inggrid tidak bergerak. Dan ketika jemari Seno menyentuh pipinya dengan lembut , sentuhan itu hangat, pelan, Inggrid merasa seluruh tubuhnya meleleh menjadi sesuatu yang rapuh dan mudah pecah.
“Mas…” bisiknya, hampir tak terdengar.
Seno menyapu pipinya dengan ibu jari. “Grid. Aku ingin kamu. Bukan karena rasa kasihan. Bukan karena luka kita sama. Tapi karena aku… jatuh.”
Inggrid membeku. “…jatuh?”
Seno mengangguk. “Jatuh hati sama kamu.”
Inggrid menahan air mata. Ia menggeleng pelan, tapi tangannya justru menggapai lengan Seno, seolah ia tahu bahwa menolak hanya akan melukai dirinya sendiri.
“Mas, aku… aku nggak mau kasih harapan dulu ke kamu.”
“Aku nggak minta,” jawab Seno lembut. “Aku cuma minta kesempatan.”
Inggrid menggigit bibirnya, menahan sesuatu yang menghangat di d**a. “Kesempatan buat apa?”
Seno mendekat sedikit lagi.
"Untuk selalu ada di hati kamu.”
Inggrid kehilangan kata-kata.
Ia ingin berkata bahwa perasaan itu terlalu cepat, terlalu rumit, terlalu berbahaya. Tapi ketika ia melihat mata Seno, mata yang tulus, yang haus akan kedekatan, yang jelas-jelas menyimpan niat untuk memiliki dirinya, Inggrid tidak mampu menolak.
Tanpa sadar, ia bersandar pelan pada bahu Seno. Hanya beberapa sentimeter. Tapi cukup untuk memberi jawaban.
Seno menahan napas. “Grid…”
“Mas jangan apa-apa dulu,” bisik Inggrid. “Cuma… jangan pergi.”
Seno tersenyum kecil, senyum yang penuh kemenangan halus.
“Aku nggak bakal pergi,” katanya. “Sampai kamu siap aku genggam.”
Inggrid memejamkan mata.
Dan untuk pertama kalinya sejak lama, ia tidak takut pada kedekatan itu. Sebaliknya, ia menginginkannya.
Seno menatap perempuan itu lama, begitu lama hingga ia yakin satu hal: ia tidak akan membiarkan Inggrid jatuh sendiri lagi.
Hari itu berakhir dengan keheningan tenang. Tapi di balik hening itu, satu hal menjadi jelas:
Seno tidak sekadar ingin dekat. Ia ingin memiliki Inggrid. Dan ia akan melakukan apa pun untuk mewujudkan keinginannya itu.