Hujan mulai turun sesaat setelah matahari hilang di balik bukit. Pada awalnya hanya gerimis, lalu berubah menjadi deras yang memukul genteng rumah Seno seperti ribuan jarum kecil yang jatuh bersamaan. Malam itu terasa lebih gelap dibanding malam-malam sebelumnya, seolah dunia ingin menyembunyikan sesuatu di balik hujan yang menghapus batas suara.
Inggrid tiba di rumah Seno dengan payung yang sudah kalah oleh badai. Rambutnya setengah basah, jaketnya lembap, dan pipinya memerah karena udara dingin. Seno yang membuka pintu hanya sempat terbelalak sepersekian detik sebelum jemarinya refleks menariknya masuk.
“Grid… kamu kehujanan banget. Astaga.”
Inggrid menghela napas panjang, menunduk. “Maaf, Mas… Delon rewel. Rumahku pada bocor. Aku takut dia kedinginan. Aku… nggak tahu harus ke mana dulu, jadi aku ke sini.”
Seno tidak menjawab. Bukan karena tak ingin, tapi karena hatinya seketika dipenuhi sesuatu yang terlalu padat untuk dijelaskan.
“Kamu lakuin yang bener,” katanya akhirnya. “Kesini.”
Inggrid mengangguk pelan, dan tanpa banyak bicara, ia langsung menuju kamar Delon. Seno mengikuti langkahnya, bukan karena perlu, tapi karena ia tak sanggup membiarkan Inggrid berjalan sendirian, bahkan hanya lima langkah jauhnya.
Di kamar itu, Inggrid duduk di kursi sofa kecil yang menghadap ke ranjang bayi. Delon yang sejak tadi merajuk langsung tenang ketika Inggrid mengangkatnya, melekat di dadanya seperti magnet yang menemukan arah kembali.
Seno berdiri di ambang pintu, mengamati.
Cara Inggrid memeluk Delon…
cara ia mengusap rambut bayinya…
cara tubuhnya sedikit merunduk agar Delon merasa aman…
Ada sesuatu yang begitu kuat, begitu lembut, begitu patah sekaligus begitu tegar, sampai-sampai membuat napas Seno tertahan.
Delon mencari dan akhirnya menemukan. Inggrid memejamkan mata, membiarkan proses itu berjalan alami hingga tangis kecil itu perlahan mereda.
Hening.
Hanya suara hujan.
Dan di sela hening itu, Seno merasa sesuatu yang tak pernah ia rasakan sejak bertahun-tahun: ketenangan yang tidak ia ciptakan sendiri.
Beberapa menit kemudian, Delon tertidur pulas. Inggrid menatapnya lama, memastikan napas kecil itu stabil.
“Mas,” panggil Inggrid lirih.
Seno mendekat. “Ya?”
“Boleh duduk di sini sebentar?”
Ia duduk. Tanpa banyak jarak. Tanpa banyak jeda.
Inggrid menatap tangannya yang gemetar, bukan karena dingin, tapi karena lelah. “Aku… tadi panik banget. Rasanya semua kenangan buruk itu balik lagi.”
Seno mengangguk. “Wajar. Kamu masih berjuang sendiri.”
“Mas…”
“Hmm?”
“Kamu nggak keberatan aku datang malam begini?”
Pertanyaan itu terdengar rapuh. Seperti seseorang yang bertahun-tahun belajar menahan diri, dan malam ini akhirnya menyerah.
Seno tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya menyentuh punggung tangan Inggrid, pelan sekali, hampir ragu, memberi kesempatan bagi Inggrid untuk menarik diri.
Tapi Inggrid tidak bergerak.
Ia justru meremas balik jemari Seno, seolah pegangan itu adalah jangkar terakhir yang ia miliki.
Inggrid menunduk. “Mas Seno… aku capek.”
“Aku tahu.”
“Capek sendirian.”
“Aku tahu.”
“Capek ngerasa harus kuat terus.”
Seno menutup matanya sebentar. Ada rasa pedih aneh yang naik, rasa ingin melindungi yang begitu besar sampai membuat dadanya sesak.
“Kamu nggak sendiri sekarang,” katanya pelan. “Kalau kamu izinin, aku ikut capek sama kamu.”
Inggrid menatapnya. Dalam. Lelah. Labil. Nyata.
“Mas…”
“Ya?”
“Aku boleh… deket sedikit?”
Seno tidak menjawab. Ia hanya membuka kedua lengannya perlahan.
Dan Inggrid masuk ke sana tanpa ragu.
Pelukan itu bukan pertama kalinya. Tapi malam ini, intensitasnya berbeda. Tidak ada kehati-hatian seperti sebelumnya. Tidak ada keraguan. Tidak ada dinding.
Inggrid menempel di d**a Seno, tubuhnya bergetar halus, bukan karena dingin, tapi karena ia akhirnya berhenti menahan semuanya sendirian.
Seno menunduk pada rambut Inggrid, menghirup aroma hujan yang menempel. “Grid… baju kamu lepek kena hujan tadi, ganti ya, apa perlu aku keluar dulu, biar kamu bisa ganti pakaian.”
Inggrid memejamkan mata. Napasnya berat. “Nggak usah Mas, aku cuma...takut nggak mau lepas, gimana?”
“Ya jangan lepas.”
“Kalau aku minta lebih deket lagi?”
Seno menelan ludah. “Aku ikut. Sampai kamu bilang berhenti.”
Inggrid menarik napas panjang, lalu bersandar pada bahu Seno. Dekat. Terlalu dekat. Hening di antara mereka bukan hening canggung, itu hening yang membuat seluruh tubuh bergetar.
Di luar, hujan semakin keras, menampar kaca jendela. Tapi di sini, di kamar kecil yang diterangi cahaya temaram, dunia mengecil menjadi dua orang yang sama-sama pernah kehilangan dan tiba-tiba menemukan sesuatu yang tak pernah mereka harapkan.
Seno memegang wajah Inggrid dengan kedua tangan. Bukan untuk memaksa. Bukan untuk mengambil kesempatan. Tapi untuk memastikan Inggrid melihatnya tanpa takut.
“Grid…” suaranya rendah, berat, nyaris pecah.
“Hmm…?”
“Kalau kamu jatuh… aku ada di bawah buat nangkep.”
Inggrid menatapnya lama. Sangat lama. Dan saat ia akhirnya bersandar lagi, tidak ada lagi yang menjauh.
Tidak ada lagi dinding. Tidak ada lagi jarak. Pelukan itu yang selama ini jadi candu diam-diam sudah menelan mereka berdua.
Napas mereka saling bertemu. Tubuh mereka saling mencari. Bahu Seno menjadi tempat Inggrid melepas semua yang ia tahan. Tangan Inggrid menggenggam baju Seno begitu erat, seolah dunia bisa runtuh dan ia tetap ingin berada di sana.
Hujan menutupi semua suara. Malam menutupi semua keraguan.
Dan di kamar itu, di samping bayi yang tidur damai, dua hati yang pernah pecah perlahan menemukan bentuk baru, bukan utuh, tapi saling mengisi retakan.
Seno menempelkan keningnya ke kening Inggrid.
“Grid…”
“Ya, Mas…”
“Aku nggak akan kemana - mana.”
Inggrid memejamkan mata, membiarkan kalimat itu tenggelam jauh ke d**a.
“Jangan pergi,” bisiknya.
“Tidak malam ini. Tidak besok. Tidak sampai kamu dorong aku pergi.”
Inggrid menggenggam tangannya lebih kuat. Dan malam itu, tanpa perlu kata-kata lain, mereka tahu. Ini bukan sekadar dekat. Ini adalah dua jiwa yang akhirnya menemukan seseorang yang bisa mereka rangkul tanpa takut kehilangan lagi. Mereka pun akhirnya berpeluh asmara, di kamar Delon. Dengan penuh hasrat yang sudah lama tertahan, dan dengan napas yang terus memburu, membuat Inggrid begitu liar memanjakan Seno yang sudah lama rindu akan kehangatan.
Setelah dua jam berlalu, Inggrid yang terbangun lebih dulu, menatap wajah Seno, hal yang nggak pernah dia bayangkan sebelumnya. Kalau Seno begitu menginginkannya, Inggrid pun sudah merindukan sosok pelindung yang selama ini sudah hilang dari nya.