Bab.5 Takut Kehilangan

1120 Words
Inggrid memandangi wajah Seno yang tertidur pulas di sampingnya. Cahaya kuning redup dari lampu kecil kamar Delon jatuh lembut di wajah pria itu, menegaskan garis tegas rahangnya, alisnya yang sedikit mengernyit meski sedang tidur, dan nafasnya yang teratur, tenang, seperti ombak kecil yang menyentuh bibir pantai. Ia tak pernah membayangkan akan melihat Seno sedekat ini. Bukan sebagai tetangga, bukan sebagai teman, tapi sebagai seseorang yang membuat dadanya terasa penuh sekaligus ringan. Jari Inggrid terulur pelan, hampir ragu, menyentuh helai rambut di pelipis Seno yang sedikit basah oleh sisa lembap udara malam. “Mas…” bisiknya, meski ia tidak berniat membangunkan. Tapi Seno membuka mata perlahan, seolah inderanya terbiasa waspada bila Inggrid ada di dekatnya. “Hm?” suaranya serak. “Grid… kamu belum tidur?” Inggrid menggeleng pelan. “Nggak… aku kebangun.” Seno menatapnya dengan mata setengah terbuka, lalu mengangkat tubuhnya sedikit, bersandar pada siku. “Kamu sakit? Atau kedinginan?” “Enggak,” Inggrid tersenyum kecil. “Cuma… aku belum terbiasa lihat Mas Seno tidur di sebelah aku.” Wajah Seno melembut, lebih lembut daripada yang pernah Inggrid lihat sebelumnya. “Aku juga belum,” katanya jujur. “Tapi rasanya nggak salah.” Inggrid menggigit bibir bawahnya, tidak tahu harus menjawab apa. Di luar, hujan sudah berubah menjadi rintik-rintik pelan, seperti suara tepukan jari pada kaca jendela. Delon masih tertidur di ranjang kecilnya, tubuh mungilnya bergerak naik turun dengan ritme yang menenangkan. Seno memandang bayi itu sejenak, lalu kembali memandang Inggrid. “Tadi malam…,” Inggrid membuka suara, agak malu. “Aku kayak… kebawa suasana, Mas. Hujan, takut, panik, semuanya campur.” Seno menutup jarak, menangkup pipi Inggrid dengan satu tangan. “Grid, nggak ada yang salah sama apa pun yang kamu rasain. Aku nggak anggap itu hal buruk.” Inggrid menunduk, pipinya memanas. “Aku takutnya… Mas nyesel.” “Nggak.” Seno menjawab cepat, tegas, tanpa keraguan sedikit pun. “Nggak ada yang harus diseselin.” Ia mengusap pipi Inggrid pelan. “Yang kamu lakuin malam ini… itu kamu. Kamu yang capek, kamu yang butuh tempat buat berhenti pura-pura kuat. Dan aku…” ia berhenti sejenak, menelan napas. “Aku seneng kamu pilih aku buat jadi tempat itu.” Inggrid memejamkan mata, meresapi kata-kata itu. Begitu lama ia berjuang sendirian sampai ia lupa rasanya disandari tanpa takut dijatuhkan. “Aku cuma takut,” katanya lirih, “aku ini cuma nyusahin Mas.” Seno tersenyum tipis, lalu mengetuk dahi Inggrid dengan telunjuknya lembut. “Kamu tuh kenapa hobi banget mikir negatif tentang diri sendiri?” “Aku realistis,” bantah Inggrid. “Kamu trauma,” balas Seno, tak kalah lembut. Inggrid terdiam. Ia tak bisa menyangkal itu. Seno meraih tangannya, menggenggam. “Lihat aku.” Inggrid mengangkat wajah. “Aku nggak lihat kamu sebagai beban. Nggak pernah. Kamu itu…” Seno menarik napas panjang, seolah mencari kata yang tepat. “…orang yang aku pengen jaga. Bukan karena kamu lemah. Tapi karena kamu layak dijagain.” Inggrid merasakan sesuatu menegang di d**a, sesuatu yang hangat dan menenangkan sekaligus membuat matanya panas. “Mas… jangan bikin aku terbiasa sama omongan begitu,” ujarnya pelan. “Takutnya nanti Mas pergi.” Seno tersenyum kecil, menggeleng. “Kamu bener-bener nggak percaya sama aku, ya?” Inggrid menunduk. “Aku cuma takut.” Seno mendekat dan menyentuhkan bibirnya ke kening Inggrid. Lama. Tenang. Penuh makna. Inggrid menutup mata, menikmati setiap detik sentuhan itu, bukan karena romantis, tapi karena rasanya aman, sangat aman, untuk pertama kalinya setelah sekian lama. “Kalo aku mau pergi,” Seno berbisik di keningnya, “aku udah pergi dari dulu, Grid.” Inggrid menarik napas dalam. “Kamu tau nggak,” tambah Seno, “waktu kamu datang tadi malam, basah kuyup, panik… aku tuh justru seneng.” “Seneng?” Inggrid memekik kecil. “Mas apaan sih kamu?” “Ssst.” Seno menempelkan jari ke bibir Inggrid. “Bukan seneng lihat kamu kesusahan. Tapi seneng karena kamu datang ke aku duluan.” Inggrid nyaris tak bisa berkata-kata. “Grid…” Seno menatapnya lekat-lekat. “Aku nggak mau kamu pikir kamu sendirian lagi. Aku ada. Aku beneran ada.” Inggrid menatapnya lama, sebelum akhirnya bersandar lagi di d**a Seno. Tubuhnya seperti otomatis mencari pria itu, seperti sudah menemukan tempat yang seharusnya sejak lama. Seno mengusap punggungnya perlahan. “Kamu mengantuk?” “Dikit,” gumam Inggrid. “Tidur sini aja. Aku nggak kemana-mana.” Inggrid tersenyum kecil. “Mas, besok ke kantor?” “Iya. Tapi aku bangun pagi. Kamu sama Delon tidur dulu. Kalo kamu mau pulang nanti pagi, aku antar.” Inggrid mendongak. “Mas nggak keberatan?” “Grid, kapan sih aku keberatan sama kamu?” Seno mencubit ujung hidungnya pelan. Inggrid mendesah, lalu memejamkan mata, membiarkan tubuhnya rileks dalam pelukan pria itu. Kehangatan Seno membuat dingin yang menempel di kulit akibat hujan perlahan hilang. Napas Seno yang teratur membuat kepalanya ringan. Beberapa menit kemudian, Seno sadar Inggrid benar-benar tertidur. Ia membenarkan selimut Inggrid, memastikan tubuhnya nyaman, lalu memandangi wajah Inggrid, wajah yang sekalipun kelelahan, tetap terasa kuat. “Aku nggak akan tinggalin kamu,” gumamnya, entah pada Inggrid, pada dirinya sendiri, atau pada semesta. Pagi datang dengan cahaya lembut yang menyelinap lewat tirai. Hujan sudah berhenti total. Aroma tanah basah memenuhi udara. Inggrid membuka mata perlahan. Seno masih ada di sampingnya, meski sudah duduk, sedang memakaikan selimut pada Delon yang sempat bergerak. “Pagi,” sapa Seno tanpa menoleh, seolah ia tahu Inggrid sudah bangun. “Pagi, Mas…” suara Inggrid masih serak. Seno berdiri dan mendekat. “Tidurmu nyenyak?” Inggrid tersenyum malu. “Luman nyenyak… mungkin karena Mas ada.” Seno ikut tersenyum, tapi matanya menyimpan sesuatu yang dalam, sesuatu yang ingin ia katakan tapi masih mencari waktu. “Aku bikin teh hangat. Mau?” Inggrid mengangguk. “Mau… tapi aku mau mandiin Delon dulu.” “Tunggu lima menit, ya,” katanya sambil mengusap rambut Inggrid pelan. “Aku siapin air hangat.” Inggrid terpana. “Mas… nggak usah. Aku bisa.” “Biar aku bantu.” “Mas nggak sibuk?” “Sibuk nanti. Gampang, toh kantorku sendiri ini. Sekarang mau bantu kamu dulu.” Inggrid menunduk, tersenyum kecil tanpa bisa menahannya. Ada sesuatu tentang Seno pagi ini yang membuat hatinya bergetar. Bukan karena apa yang terjadi malam tadi, tapi karena caranya tetap sama, tetap lembut, tetap hadir, tetap peduli, tanpa berubah sedikit pun. Saat Seno melangkah keluar kamar, Inggrid memeluk Delon yang baru bangun dan menggeliat kecil. “Delon…” bisiknya, mencium dahi anaknya. “Papa kamu itu orang baik, ya.” Delon bergumam pelan, seolah mengerti. Inggrid menghela napas panjang, tetapi sangat ringan. Untuk pertama kalinya sejak ia kehilangan begitu banyak hal, masa depan terasa tidak sesuram kemarin. Dan semuanya dimulai dari malam saat hujan turun paling deras.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD