Inggrid selesai memandikan Delon dengan bantuan Seno, atau lebih tepatnya, Seno yang sibuk ingin membantu dan Inggrid yang beberapa kali tertawa lirih melihat kebingungan manis pria itu saat mencoba memegang handuk, sabun, hingga ember kecil. Setelah semuanya selesai, Seno pamit menuju kantornya.
"Aku ke kantor dulu ya. Kamu di sini dulu ya, nanti maleman aja pulangnya, aku mau ada meeting pagi soalnya, nggak apa - apa kan?"
Inggrid mengangguk pelan."Ya Mas...Nggak apa - apa."
Dua jam kemudian, Seno sudah berada di depan gedung kantornya.
Pagi itu terasa berbeda.
Bukan cuma karena matahari cerah setelah hujan semalaman, tapi juga karena ada sesuatu yang menghangat di d**a Seno. Hati yang biasanya dingin, penuh beban, mendadak seperti ditaburi cahaya.
Ia bahkan tak sadar senyumnya muncul beberapa kali tanpa alasan tertentu. Begitu masuk ke dalam ruangan, beberapa staff yang lewat sempat menoleh dua kali. Biasanya ekspresi Seno datar, fokus, sedikit tegang tiap pagi. Tapi hari ini… auranya jauh lebih ringan.
Dan Sigit, sahabat yang sekaligus rekan kerjanya, langsung memperhatikan itu.
“Wihh…” Sigit berdiri sambil menyilangkan tangan, memandangi Seno dari atas ke bawah. “Gila, Sen. Kayaknya ada yang beda nih aura lu.”
Seno menggantung jas kerjanya di kursi, menoleh dengan tatapan datarnya yang khas.
“Lu tuh ya, bisa nggak jangan gosip pagi - pagi?” gumamnya.
“Gosip gimana, lihat itu Lu senyum - senyum, jangan - jangan…” Sigit mengangkat alis nakal. “Lu habis ngapa-ngapain ya semalem?”
Seno menghela napas, berusaha tak tersenyum tapi gagal. Sudut bibirnya tetap naik beberapa milimeter.
Sigit makin mencibir. “Nah loh, itu senyum apaan? Biasanya lu cuma senyum kalau proyek goal atau pas makan bakso kesukaan lu. Ini sih… beda banget.”
Seno mengambil tumpukan dokumen di mejanya, berusaha fokus tapi wajahnya tetap terlihat lebih segar.
“One day gue cerita,” katanya sambil membuka map coklat. “Tapi nggak sekarang.”
“Plis lah, bro… jangan pelit info.”
“Intinya…” Seno menatap Sigit dan suaranya merendah sedikit, “…Tuhan dengerin doa-doa gue.”
Sigit langsung membelalak, kemudian maju satu langkah dengan ekspresi sok serius. “Jangan bilang… ini tentang Inggrid.”
Seno menghentikan tangannya membuka dokumen. Ia mendongak.
Sigit buru-buru menambahkan, “Inggrid… adik dari mendiang istri Lu itu?”
Untuk sesaat, ruangan terasa lebih sunyi. Seno tak langsung menjawab. Ia malah merapikan berkas, menutup map, lalu menepuk meja dua kali.
“Ya…” katanya akhirnya sambil menatap Sigit. “Ya udah, kerja dulu. Kita mau meeting sama PT Dermala, kan? Jangan sampai ada yang miss.”
Sigit menatapnya lekat-lekat, mencari jawaban lebih, tapi Seno memalingkan wajah ke layar laptop.
“Gue tadi udah pesen ke Sinta buat siapin semua dokumennya,” jawab Sigit menyerah. “Tapi lu jangan kira gue udah puas dengan jawaban lu yang tadi.”
“Bagus,” sahut Seno tanpa menoleh. “Artinya lu masih punya semangat gosip.”
Sigit mendengus. “Ih beneran, Sen. Dari dulu gue tau Lu orangnya kuat nahan apa pun. Tapi entah kenapa gue ngerasa hari ini Lu kayak... apa yah?”
“Cerah?” potong Seno.
Sigit mengerjap. “Iya! CERAH! Nah itu dia! Biasanya aura Lu kayak lampu bohlam 5 watt, sekarang kayak lampu stadion!”
Seno mendesah panjang, menyandarkan punggungnya ke kursi sambil menatap langit-langit. “Sigit…”
“Ya, kenapa?”
“Gue bahagia, mungkin.”
Sigit refleks duduk. “Seriusan?”
Seno tidak menjawab. Tapi senyum tenang di wajahnya cukup menjelaskan segalanya.
Beberapa jam sebelumnya.
Sebelum berangkat kerja, Seno sempat duduk di meja makan, menghabiskan roti tawar seadanya. Inggrid duduk di seberangnya sambil mengguncang-guncang dot kecil Delon.
“Mas yakin nggak mau sarapan yang bener?”
“Ini bener,” jawab Seno datar.
“Roti dingin itu bener?”
Seno mengangkat bahu. “Yang penting masuk perut.”
Inggrid menggeleng sambil tersenyum. Ia memperhatikan Seno yang pagi itu terlihat jauh lebih rapi dari biasanya. Ia bahkan menyisir rambut dua kali, sesuatu yang jarang ia lakukan.
“Auranya beda, Mas,” tegur Inggrid sambil terkekeh. “Kok kayak… cerah banget?”
Seno menatapnya sejenak, lalu tersenyum kecil. “Grid.”
“Hm?”
“Thanks… buat malam kemarin.”
Inggrid langsung menunduk, pipinya memanas. “Mas… jangan diinget-inget…”
“Susah,” jawab Seno ringan. “Soalnya itu malam paling… aku rindukan, setelah sekian lama.”
Inggrid terdiam. Ia memeluk Delon lebih erat, berusaha menyembunyikan wajahnya yang memerah habis-habisan.
“Aku pulang ya, Mas,” katanya lirih.
“Nanti aja, tunggu aku pulang, begitu sampe kantor, aku kabarin,” balas Seno. “Kamu juga kalau butuh apa-apa… bilang.”
Inggrid mengangguk. Tapi sebelum ia membuka pintu, Seno sempat memanggilnya.
“Grid.”
Inggrid menoleh.
Seno menatapnya lama… kemudian berkata pelan,
“Jangan mikir terlalu banyak, ya. Kita jalanin pelan-pelan aja.”
Inggrid hanya mampu tersenyum kecil.
Dan saat ia melangkah keluar, Seno sadar… dadanya terasa hangat dengan cara yang sudah lama ia lupa rasanya.
Kembali ke kantor,10 menit sebelum meeting.
Seno duduk di ruang meeting, menelusuri ulang dokumen presentasi. Sigit duduk di seberangnya, memandanginya dengan tatapan menyelidik yang menyebalkan.
“Lu beneran suka sama Inggrid?” tanya Sigit tiba-tiba.
Seno tidak langsung menjawab. Ia hanya menutup map perlahan.
“Gue nggak mau bahas sekarang,” katanya kalem. “Tapi Lu kenal gue, Git. Gue nggak pernah main-main.”
Sigit mengangguk. “Gue tau. Lu terlalu lurus buat itu.”
“Kita cuma… sama-sama pernah kehilangan,” lanjut Seno pelan. “Dan entah kenapa… dia bikin gue pengen hidup agak lebih bener.”
Sigit menghela napas, lalu tersenyum. “Gue dukung, bro. Serius. Gue tau lu orang baik. Dan Inggrid… dia butuh sosok kayak lu. Pelan-pelan juga nggak apa.”
Seno mengangguk sekali. “Thanks.”
“Eh tapi…” Sigit menyeringai, “kalau kalian jadi, gue minta jadi om baptis Delon.”
Seno langsung melempar pulpen ke arahnya.
“Ngawur, Lu ahh.”
Suasana pun mencair, berubah jadi tawa kecil sebelum meeting dimulai.
Sementara itu, di rumah Inggrid.
Setelah pukul 10.30, setelah menyusui Delon, Inggrid menidurkan Delon dan duduk di sofa. Ia memeluk bantal, menatap kosong ke arah jendela.
Tapi bukan hampa, melainkan penuh sesuatu yang menghangatkan.
Ia memikirkan Seno. Cara Seno memandangnya. Cara Seno mendekapnya. Cara pria itu bicara jujur, tanpa dramatisasi, tanpa janji muluk.
Dan sesuatu dalam inggrid bergetar lembut.
“Mas Seno…” bisiknya.
Ia mengetuk pelan pipinya sendiri. “Jangan jatuh dalam lagi, Grid… pelan-pelan…”
Tapi jantungnya tak mau diajak kompromi. Ia memejamkan mata, membiarkan perasaan itu tumbuh sedikit saja. Inggrid masih mengingat sentuhan semalam, yang begitu memabukkannya, masih seolah - olah terasa getarannya. Cukup untuk membuat pagi ini terasa beda.
Kembali ke kantor, setelah meeting selesai. Presentasi berjalan lancar. Bahkan jauh lebih lancar dari meeting - meeting sebelumnya.
Seno tampil percaya diri, suara stabil, bahasa tubuh tenang. Tim PT Dermala terlihat puas, beberapa bahkan memberi pujian langsung.
Begitu perwakilan mereka keluar ruangan, Sigit langsung menepuk bahu Seno.
“Tuh kan!” serunya. “Gue bilang apa? Mood Lu hari ini bagus banget!”
Seno hanya menghela napas sambil merapikan berkas.
“Lu tau nggak, Sen?” lanjut Sigit. “Orang yang jatuh cinta tuh biasanya performanya naik, apalagi udah tersalurkan.”
Seno berhenti merapikan kertas. Perlahan, ia menatap Sigit. Tersenyum kecil.
“Gue bilang apa tadi?” ujar Seno pelan. “One day… gue cerita.”
Sigit makin meringis. “Tapi gue tau, Sen. Gue tau banget… ini gara-gara Inggrid.”
Seno tertawa kecil, hal langka yang membuat seluruh ruangan seolah ikut cerah.
“Mungkin,” jawabnya.
Lalu ia berjalan keluar, menuju ruangannya. Tapi sebelum masuk, Seno berdiri sejenak di depan kaca besar di lorong.
Ia melihat pantulannya sendiri. Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama. Seno melihat dirinya tampak hidup. Hidup dengan cara yang tidak membuatnya takut. Dan sudah tidak kosong lagi hari - harinya sudah terisi nama Inggrid, dan bahkan tanpa sadar, Inggird berhasil menerangi bagian gelap Seno.
Inggrid. Seno tersenyum pada bayangannya.
“Pelan-pelan, Sen,” gumamnya. “Jangan bikin dia takut.”
Tapi hatinya sudah lebih jujur. Ia sudah jatuh cinta pada adik iparnya sendiri. Dan kali ini… ia nggak berniat bangun terlalu cepat.