Siang itu, setelah meeting selesai dan beberapa dokumen pekerjaan rampung, Seno mengambil waktu lima menit untuk duduk bersandar di kursinya. Ia membuka pesan di ponselnya, menatap layar yang masih kosong dari notifikasi apa pun. Sesaat ia mendadak ingin menghubungi Inggrid, sekadar memastikan perempuan itu baik-baik saja di rumah.
Dia mengetik:
“Grid, Delon udah tidur? Kamu udah makan?”
Tapi sebelum dikirim, ia menghapusnya lagi.
Terlalu cepat. Terlalu terlihat… khawatir.
Padahal ia memang khawatir. Dan memang ingin menanyakan itu. Namun ia menahan diri. “Pelan-pelan, Sen. Jangan bikin dia mundur,” gumamnya pada diri sendiri.
Ia meletakkan ponselnya, kembali fokus pada layar laptop. Tapi beberapa menit kemudian, ponselnya justru berbunyi sendiri.
Inggrid.
Seno refleks meraihnya. Notifikasi berupa pesan singkat.
“Mas, Delon tidur. Aku juga udah makan. Mas jangan lupa makan siang ya.”
Seno menatap kalimat itu lama. Lalu, entah kenapa, dadanya langsung terasa hangat seperti bara kecil yang baru diberi oksigen.
Ia mengetik cepat:
“Iya. Kamu juga istirahat. Jangan kecapekan.”
Inggrid membalas hampir seketika, seakan memang sedang memegang ponsel.
“Mas lagi sibuk? Maaf ya, aku cuma kasih kabar.”
“Nggak sibuk. Kamu nggak ganggu.”
Kemudian ia menambahkan, meskipun sempat ragu, “Aku seneng kamu kabarin.”
Pesan terkirim. Tak sampai satu menit, sudah dibalas.
“Oh…”
Hanya itu jawabannya. Tapi Seno bisa membayangkan pipi Inggrid yang memerah saat menuliskannya. Perempuan itu memang begitu, tidak pandai membalas pesan yang terlalu personal. Seno tersenyum tipis, lalu menutup ponselnya lagi.
Namun pikirannya sudah tak sepenuhnya berada di kantor.
Sementara itu, di rumah Seno, suasana lebih tenang dari pagi tadi. Delon tertidur dengan tangan mungilnya menggenggam ujung selimut, bibirnya sedikit terbuka. Inggrid duduk di sampingnya, membelai kepala bayi itu perlahan.
Setiap kali menatap Delon, jantungnya terasa bergetar halus. Ada rasa syukur, ada rasa takut, ada rasa lega. Semua bercampur jadi satu.
Tapi sejak tadi pikirannya bukan tentang dirinya, bukan tentang masa lalunya, bukan tentang mantan suaminya yang telah mengkhianatinya habis-habisan.
Hari ini, pikirannya hanya pada Seno.
Pria yang selalu terlihat tangguh. Yang selama ini ia kira dingin dan berjarak, ternyata menyimpan begitu banyak retakan di dadanya. Retakan yang diam-diam ia lihat semalam, saat tubuh mereka saling terhubung dan emosi mereka tak lagi bersembunyi di balik jarak.
Inggrid meremas ujung bantal. Ia menutup wajah dengan lengannya, menahan degup jantung yang terlalu keras.
“Aduh, Mas… bikin aku susah napas,” keluhnya kecil.
Ia bangkit, berjalan ke dapur untuk mengambil segelas air. Tapi setiap langkahnya justru makin membuatnya teringat pada Seno: suara beratnya, tatapannya yang lembut semalam, cara pria itu memeluknya seolah ia akan hilang jika dilepas sedetik saja.
Inggrid menggigit bibir bawahnya. Ia tidak boleh terlalu cepat jatuh lagi. Dia sudah pernah patah. Sudah pernah ditinggalkan. Sudah pernah dianggap tidak cukup.
Dia takut merasakan itu lagi. Tapi dia berpikir sejenak, apa salahnya memberi diri kesempatan?
Ia memejamkan mata. Yang muncul justru wajah Seno, di pagi hari, yang merapikan rambutnya dua kali, yang bahkan berusaha membantu memandikan Delon meski canggung sekali.
Tiba-tiba bibirnya kembali tersenyum.
“Mas Seno… kamu bikin aku lucu sendiri.”
Ia kembali ke ruang tengah, duduk, mengambil napas panjang, mencoba menenangkan hati yang terlalu cepat tumbuh.
“Pelan-pelan ya, Grid… pelan-pelan…”
Seno kembali larut dalam pekerjaannya, hingga waktu menunjukkan pukul tiga sore. Ia menandatangani dokumen terakhir, lalu berdiri sambil menggeliat pelan. Kepalanya terasa agak berat karena banyak berpikir, bukan karena stres, melainkan karena ingatan semalam yang terus menggema.
Ia meraih ponsel lagi. Sebentar. Hanya sebentar. Sekadar mengecek apakah Inggrid tidur siang juga atau tidak.
Belum sempat ia mengetik apa pun, pintu ruangannya diketuk.
“Mas Seno,” suara Sinta, sekretarisnya, terdengar. “Ini laporan revisi dari tim legal.”
“Taruh aja di meja,” jawab Seno.
Sinta masuk, meletakkan berkas, lalu memandangi Seno dengan tatapan ragu.
“Mas… maaf ya kalau saya lancang. Tapi hari ini Mas kelihatan beda banget.”
Seno menoleh. “Beda gimana?”
“Lebih… adem? Biasanya kan Mas agak tegang kalau urusan laporan-laporan gini.”
Seno hanya mengangkat alis. “Mungkin tidur gue cukup.”
Sinta tersenyum. “Kalau istirahat cukup bisa bikin orang glow up gitu, saya juga mau, Mas.”
Sigit yang tiba-tiba lewat di depan pintu mendengar itu dan langsung nyeletuk, “Itu bukan efek tidur, Sin. Itu efek jatuh cinta.”
Sinta langsung menutup mulut, matanya melebar. “Ya ampun, Mas Seno pacaran?!”
Seno menatap Sigit tajam. “Git…”
Sigit menaruh tangan di d**a. “Eh gue nggak bilang sama siapa. Lagian Seno juga belum ngaku.”
Sinta pura-pura memegang jantung. “Duh… finally Mas Seno punya kehidupan pribadi selain kerja.”
Seno hanya menggeleng pelan, menyuruh mereka keluar. Pintu tertutup lagi. Tapi entah kenapa, untuk pertama kalinya ia tidak kesal sama ocehan kantor. Memang benar. Ia punya kehidupan pribadi. Dan kali ini, isinya Inggrid.
Ia mengambil ponsel lagi. Tangan besarnya berhenti tepat di atas layar keyboard.
Lalu ia mengetik:
“Grid, jam berapa kamu mau pulang, biar aku anterin?”
Tidak pakai basa-basi. Tidak pakai putar-putar. Pesan terkirim.
Inggrid membalas cukup lama, membuat Seno beberapa kali membuka-tutup ponsel menunggu notifikasi berikutnya.
Akhirnya muncul juga.
“Mas nggak capek? Aku bisa pulang sendiri nanti…”
Seno mengernyit. Ia lagi-lagi mengetik cepat.
“Aku otw pulang ya, tunggu di rumah. Jangan kemana-mana.”
Kali ini balasannya lebih cepat.
“Iya Mas.”
Walau hanya dua kata, tapi cukup untuk membuat seluruh otot bahu Seno mengendur lega.
Cukup untuk membuatnya ingin segera pulang.
Menjelang jam lima sore, Seno mengemasi barang-barangnya. Sigit yang melihat itu dari bilik kerjanya langsung menggoda lagi.
“Wuih, pulang cepat?”
Seno meraih tas. “Ada yang harus gue anterin pulang.”
Sigit langsung bersiul. “Hahaha. Asik.”
Seno memberi tatapan datar, tapi sudut bibirnya tetap naik. “Gue pulang dulu.”
“Titip salam buat Inggrid,” sahut Sigit.
Seno tidak menjawab. Ia hanya melambaikan tangan lalu berjalan keluar gedung, memasuki mobilnya.
Begitu menyalakan mesin, jantungnya langsung berdegup lebih cepat.
Rasanya gila. Rasanya seperti anak SMA yang ingin menjemput gebetan.
Tapi Seno tidak peduli. Untuk pertama kalinya, setelah bertahun-tahun kehilangan, ia merasa hidup kembali. Merasa ada arah. Merasa ada tujuan yang tidak membuatnya tersesat.
Ia menyetir pelan, dengan senyum samar yang masih menempel di wajahnya.
Di rumah, Inggrid sedang berdiri di depan cermin kecil. Ia menatap pantulan dirinya: wajah polos tanpa makeup, rambut diikat sederhana, kaus longgar dan celana santai.
Tiba-tiba ia panik.
“Astaga… Mas Seno sebentar lagi datang.”
Ia meletakkan pipi di kedua telapak tangannya. Pipinya panas. Ia memandang ke seluruh tubuhnya dan menghela napas. “Kenapa aku deg-degan begini…”
Ia turun ke ruang tengah, memastikan rumah tidak berantakan, memastikan Delon nyaman, memastikan semua tampak rapi. Padahal Seno sama sekali bukan tipe yang ribet soal kerapihan rumah.
Tapi ia ingin terlihat… lebih baik. Entah untuk apa. Entah untuk siapa, mungkin untuk pria yang membuatnya merasa dihargai lagi.
Untuk pria yang menyentuhnya bukan karena nafsu semata, tetapi karena rindu dan kasih yang sudah lama ia pendam sendiri.
Ketika suara mobil berhenti di depan rumah, jantung Inggrid serasa jatuh ke dasar perut. Ia membuka pintu.
Dan di sana, berdiri Seno. Dengan kemeja masih rapi, wajah sedikit lelah tapi mata hangatnya langsung menangkap sosoknya.
Dan saat mata mereka bertemu, hanya satu detik, semua kecanggungan pagi tadi menghilang begitu saja.
“Aku pulang,” ujar Seno pelan.
Inggrid mengangguk kecil. “Ya… Mas.”
Seno menatapnya lama. Lalu, tanpa berpikir panjang, tangannya terangkat dan menyentuh puncak kepala Inggrid, mengusap lembut.
Gerakan sederhana. Tapi cukup membuat Inggrid menahan napas.
“Mas…” bisiknya.
“Pelan-pelan, Grid…” suara Seno rendah, mengalir lembut. “Tapi jangan pergi dari aku.”
Inggrid menutup mata. Tidak ada yang perlu ia jawab.
Karena ia pun… tidak ingin pergi.
Dan di antara pintu rumah yang belum sepenuhnya tertutup, senja yang merembes masuk ke ruang tamu, dan aroma tubuh Seno yang masih hangat oleh sinar matahari, hati mereka sama-sama tahu.
Mereka sudah jatuh. Pelan-pelan. Tapi pasti. Dan kali ini, mereka tak berniat bangun terlalu cepat.