Mobil Inggrid melaju membelah malam dengan lampu kota yang berpendar samar di kaca depan. Tangisnya pecah tanpa bisa ia tahan lagi. Bukan tangis yang histeris, melainkan lirih, tertahan, seolah setiap isak harus melewati lapisan harga diri yang selama ini ia jaga rapat. Tangannya gemetar di setir, dadanya sesak oleh satu kesadaran pahit: ia telah melakukan hal paling berani dan paling menakutkan dalam hidupnya pergi. Rumah lamanya menyambut dengan keheningan yang asing sekaligus akrab. Pagar besi berderit saat ia mendorongnya, suara yang dulu selalu ia dengar sepulang kerja bersama mendiang suami pertamanya. Lampu teras ia nyalakan. Cahaya kuning redup menyingkap ruang tamu yang sederhana, penuh kenangan. Inggrid meletakkan tas, melepas sepatu, lalu duduk di sofa. Di sanalah ia akhirnya m

