Di lain tempat, di sebuah apartemen mewah yang menjulang di pusat kota, Isabella baru saja selesai meneguk anggur merahnya. Ruangan itu dipenuhi aroma lavender lembut, lampu kristal memantulkan kilau dingin di dinding kaca. Malam merayap pelan, membawa rasa puas yang nyaris tak ia sembunyikan. Pintu apartemen terbuka setelah kode akses dimasukkan, dan seorang wanita melangkah masuk dengan langkah percaya diri. Tanpa basa-basi, wanita itu langsung duduk di sofa berwarna abu gelap, menyilangkan kaki, tatapannya tajam namun sarat kemenangan. “Gimana, apa Seno udah berhasil lo runtuhkan kesetiaannya?” tanyanya, nada suaranya rendah, seolah takut rahasia itu bocor lewat dinding. Isabella tersenyum tipis. Senyum yang tak pernah muncul di hadapan publik. Ia meraih tablet di atas meja marmer, me

