Malam semakin larut ketika kafe itu kembali sepi. Seno masih duduk di kursinya, menatap cangkir kopi yang sudah dingin. Percakapan dengan Inggrid terus berputar di kepalanya, setiap kalimat terasa seperti gema yang enggan menghilang. Untuk pertama kalinya sejak badai ini datang, ia tidak lagi berusaha menyangkal. Ia sadar, ada terlalu banyak celah dalam kisah yang menyeret namanya ke titik ini. Ia mengeluarkan ponsel, membuka daftar kontak, lalu berhenti pada satu nama yang selama ini ia abaikan. Seorang pria yang dulu pernah menjadi mitra bisnisnya, kini bekerja sebagai konsultan keamanan digital. Jari Seno sempat ragu, namun akhirnya ia menekan tombol panggil. Jika benar ada jebakan, maka jejaknya pasti tertinggal di dunia yang selama ini ia anggap aman. Di sisi lain kota, Isabella ber

