Enam bulan setelah palu sidang perceraian Inggrid dan Seno diketuk, hidup berjalan dengan cara yang terasa ganjil, seperti jam dinding yang terus berdetak, tetapi jarumnya terasa tertahan. Inggrid memilih diam, menata ulang dirinya dari puing-puing kepercayaan yang runtuh. Seno, di sisi lain, menenggelamkan diri dalam pekerjaan, menguatkan perusahaan seolah-olah kesibukan mampu menutup lubang yang ditinggalkan kegagalan rumah tangga. Namun, bagi Sigit, adik sepupu Seno yang selama ini menyimpan kecurigaan, waktu justru menjadi sekutu. Enam bulan cukup untuk menimbang, menelusuri, dan akhirnya mengambil keputusan. Keputusan itu bernama Singapura. Sigit tahu, skandal panas yang pernah menyeret nama Seno dan Isabella bukanlah kebetulan. Terlalu banyak kejanggalan, terlalu rapi untuk disebut

