Pagi itu datang tanpa kompromi. Matahari Jakarta naik perlahan, memantulkan cahaya pucat ke jendela ruang kerja Seno, seolah tak peduli bahwa semalam kebenaran baru saja merobek lapisan luka lama. Seno masih duduk di kursinya ketika azan subuh bergema dari kejauhan. Jas yang dikenakannya sejak malam belum ia lepaskan. Di hadapannya, layar laptop telah gelap, tetapi bayangan rekaman itu masih terputar jelas di kepalanya, tangan yang menabur bubuk, pintu hotel yang tertutup, dan wajah Isabella yang tenang, terlalu tenang untuk seseorang yang sedang menghancurkan hidup orang lain. Sigit berdiri di dekat jendela, menyilangkan tangan. Ia tahu, sahabat sekaligus rekan kerjanya itu bukan tipe pria yang akan meledak-ledak. Seno selalu memproses segalanya dalam diam, membiarkan amarahnya mengendap

