Malam setelah Tante Rissa pergi, rumah terasa jauh lebih lengang. Tidak ada suara langkah tegas di lorong, tidak ada tatapan menguji dari balik kacamata mahal. Hanya ada Inggrid dan Seno, berdiri di dapur dengan lampu kuning temaram yang biasanya tak pernah mereka sadari keberadaannya. Seno masih memeluk Inggrid dari belakang, dagunya bertumpu ringan di puncak kepala istrinya. Pelukan itu tidak kuat, tapi penuh. Seolah ia ingin memastikan Inggrid benar-benar ada di sana. “Kamu capek ya, sayang?” tanyanya pelan. Inggrid menggeleng, meski tubuhnya sebenarnya lelah. “Capeknya di hati, Mas. Tapi sekarang rasanya… lumayan lega.” Seno tersenyum, lalu memutar tubuh Inggrid hingga mereka saling berhadapan. Tangannya naik, menyibakkan rambut Inggrid yang terurai, jemarinya menyentuh pipinya den

