Pagi itu seperti enggan datang. Cahaya tipis dari sela jendela kamar jatuh di atas dua tubuh yang masih saling melekat. Udara masih membawa kehangatan yang tersisa dari malam penuh bisikan, tawa kecil, dan tarikan napas yang tak teratur di antara mereka. Seno tidur begitu dekat, wajahnya tenggelam di lekuk leher Inggrid, seolah enggan melepaskan apa pun dari perempuan itu. Begitu jam beker berbunyi, suasana hening perlahan pecah. Inggrid membuka mata terlebih dahulu. Kepalanya masih terasa ringan, tubuhnya hangat, dan setiap bagian dirinya terasa seperti baru saja diberi kehidupan ulang. Dengan hati-hati, ia melepaskan pelukan Seno tanpa membangunkannya, lalu bangkit menuju kamar mandi. Suara air mengalir lembut, berbaur dengan aroma sabun yang manis. Setelah selesai, ia berdiri di depan

