Dua jam setelah meninggalkan rumah Seno, langkah Inggrid memasuki area perkantoran Nusantara Tech, sebuah gedung kaca berlantai delapan yang tampak terlalu modern dibandingkan kenangan masa lalu yang masih tersisa di kepalanya. Udara AC yang menusuk membuat bulu kuduknya meremang. Sudah lama ia tidak berada di lingkungan kerja semegah ini, apalagi bekerja di bawah seseorang yang dulu pernah sangat dicintainya… dan yang masih menyisakan jejak luka dalam hidupnya. Inggrid menarik napas panjang, lalu melangkah menuju ruangan terbesar di ujung lorong. Tulisan “CEO - Kendy Maheswara” terpampang jelas di depan pintu, membuat jantungnya berdetak sedikit tidak stabil. Ia mengetuk. “Masuk.” Suara itu. Dalam, maskulin, dan masih menggetarkan sesuatu yang seharusnya sudah mati dalam dirinya. Saa

